Mengenal Tenun Ikat Sumba di Indigo Artshop

Saturday, March 25, 2023

Tenun ikat sumba

Pesonanya Sumba itu emang tak terbantahkan. Alamnya cantik. Mau datang ke Sumba musim kemarau, ataupun musim penghujan, tetep bakal dapat pemandangan spektakuler. Destinasi wisatanya lengkap. Mulai bukit, pantai, danau, air terjun, sawah, sampai savanna. Budayanya menarik. Mulai dari kampung-kampung adatnya, kepercayaan marapu, hingga tradisi pasola. Kulinernya enak. Penduduknya pun ramah, dan senang bercerita. Pokoknya paket komplit deeh.. 

Dan ngomong-ngomong soal Sumba, rasanya gak afdal kalo gak bahas soal tenun ikat khas Sumba. Dan lebih gak afdal lagi kalo udah ke Sumba, tapi gak kenalan langsung ama kain tenun ikat Sumba, yang merupakan salah satu wastra kebanggaan Indonesia. 

Jadi, untuk melengkapi perjalanan kami di Sumba, di hari terakhir Kak Domi mengajak kami ke Indigo Art Shop. Kata beliau, Indigo Art Shop ini tempat yang paling pas buat kami kalo pengen tau lebih banyak tentang kain tenun ikat khas Sumba. Wow! Denger itu kami langsung excited 😍.

Indigo artshop sumba

Cuci Mata di Indigo Artshop

Masuk ke dalam Indigo Artshop, mata kami langsung seger. Gimana enggak? Siang itu kami sedang berada di dalam sebuah ruangan dan dikelilingi kain-kain tenun Sumba yang sumpah cakep-cakep banget! Dan yang gak kalah bikin seger adalah fakta bahwa kain-kain cantik itu harganya jutaan bahkan sampai puluhan juta per lembarnya. 

Warna-warninya bikin seger mata

Hari itu kami beruntung, bisa bertemu langsung dengan pemilik Indigo Artshop, yaitu Ibu Yuniati. Beliau bercerita banyak banget tentang kain tenun Sumba. Cerita yang bikin kami gak berhenti berdecak kagum.


Kenapa Harga Kain Tenun Sumba Mahal?

Mungkin banyak yang bertanya-tanya, kok bisa sih, selembar kain tenun Sumba harganya mencapai puluhan juta rupiah, bahkan lebih? 

kain tenun ini harganya 25 juta rupiah

Sebelum 'menuduh' bahwa harga kain tenun Sumba itu mahal, sebaiknya kita lihat dulu proses pembuatannya. 

tenun ikat sumba

Untuk membuat selembar kain tenun Sumba diperlukan waktu sekitar 8 bulan sampai 3 tahun. Itu untuk selembar kain looh.. Dan tau nggak, ternyata untuk membuat selembar kain tenun Sumba itu, ada sekitar puluhan tahapan proses yang harus dilewati. 

Menggunakan Pewarna dari Alam

Sebelum memulai proses panjang pembuatan kain tenun, yang pertama kali harus disiapkan adalah akar-akar, daun-daun dan rempah alami untuk dijadikan pewarna. 

Yup, warna dari kain tenun Sumba berasal dari bahan-bahan alami. Warna dasar tenun Sumba sebenarnya hanya warna merah dan biru. Warna merah berasal dari akar mengkudu. Warna biru berasal dari daun nila.


Tapi ada juga warna kuning, yang berasal dari kulit kayu. Juga warna putih yang berasal dari warna dasar kapas. Jadi kalo pengen dapat warna lain, ya diwarnai dulu pake warna dasar merah atau biru. Baru kemudian dicampur warna lain sampai mendapatkan warna yang diinginkan. 

tenun ikat sumba

Warna dari bahan alami ini yang bikin kain tenun Sumba jadi awet hingga ratusan tahun. 

Ada juga yang pewarnanya menggunakan lumpur. Tenun dengan pewarna lumpur ini sudah sangat langka di Sumba. Karena pengrajinnya cuma tinggal 1 orang. Kain tenun yang menggunakan pewarna lumpur ini harganya mencapai 7,5 juta sampai 15 juta per lembar. 

ini pewarnanya pake lumpur

Proses Panjang Selembar Kain Tenun Sumba

Tahapan pertama untuk membuat kain tenun Sumba adalah mengumpulkan bunga-bunga kapas kemudian memintalnya menjadi benang. Proses memintal benang dari kapas ini dikerjakan secara manual menggunakan tangan. Proses ini disebut pahudur.

Proses selanjutnya adalah memintal benang sehingga membentuk bola benang. Proses ini disebut kabukul

Selanjutnya bola-bola benang itu disusun pada sebuah frame kayu supaya mudah diikat berdasarkan motif yang diinginkan. Proses ini disebut pamening

Benang-benang yang sudah disusun pada frame kayu itu kemudian dibagi menjadi sekumpulan benang, untuk diikat. Proses pengikatan benang-benang ini disebut hondu. Benang-benang ini diikat menggunakan tali gewang. Tapi menurut Ibu Yuniati, sekarang sudah mulai banyak yang mengikat menggunakan tali rafia. 

proses ikat

Selanjutnya, sekumpulan benang yang sudah diikat tadi direndam dalam ramuan pewarna alami. Proses perendaman ini namanya ngiling

Untuk memperkuat warna, dalam ramuan pewarna itu biasanya ditambahkan campuran kemiri dan kapur sirih. Proses perendaman ini dilakukan semaleman. Lalu dijemur di bawah sinar matahari selama 2 sampai 3 hari. Untuk mendapatkan warna yang diinginkan, proses ini biasanya diulang sampai 10 kali. Jadi gak heran, kalo Ibu Yuniati bilang, bahwa proses pewarnaan tenun itu bisa memakan waktu sekitar 10 bulan sampai 1 tahun. Luar biasa ya.. 

Setelah proses perendaman warna selesai, selanjutnya ikatan tali gewang dilepas semua. Proses ini namanya katahu. Kemudian benang-benang itu diatur dan disusun sesuai motif. Proses ini disebut pameirang

ikatan sudah dilepas

Setelah susunannya dirasa benar, benang-benang itu kemudian dirangkai dirangkai di bingkai kayu lalu diikat. Baru kemudian ditenun. 

Kami yang cuma dengerin serangkaian tahapan proses yang diceritakan Ibu Yuniati itu cuma bisa melongo. Gila ya, tahapannya panjang bangeet! 


Sambil mencatat semua yang disampaikan Ibu Yuniati siang itu, aku berdoa semoga someday bisa balik lagi ke Sumba, untuk melihat langsung semua tahapan proses pembuatan tenun ikat Sumba. 


Tenun Ikat Sumba, Lebih dari Sekadar Kain

Kain tenun Sumba lahir dari kekayaan alam tanah Sumba. Dibuat melalui proses yang sangat panjang. Bagi masyarakat Sumba, tenun ikat Sumba nilainya lebih dari sekadar kain untuk bahan pakaian atau benda koleksi. 


Di Sumba, kain tenun ini juga merupakan simbol prestise yang menunjukkan golongan bagi pemiliknya. Kain tenun ini juga berperan penting dalam berbagai upacara keagamaan atau ritual adat lainnya di Sumba. Seperti peristiwa kelahiran, pernikahan, sampai kematian. 


Motif Bukan Sembarang Motif

Motif pada tenun ikat Sumba juga bukan asal aja looh. Motif-motif pada tenun ikat Sumba masing-masing ada filosofinya sendiri. Untuk menggambar sebuah motif pun gak sembarangan. Ada ritual khusus, dan biasanya gambaran motif itu datang lewat mimpi. Nah motif-motif yang seperti ini biasanya motif yang digunakan pada kain untuk ritual keagamaan atau khusus untuk para raja. 

Seperti motif kuda atau ayam. Kedua motif ini cuma boleh digunakan oleh raja dan kaum bangsawan. Karena menggambarkan kekuatan dan ketegasan.

motif kuda

Tapi sekarang, karena sudah banyak tenun yang dibuat untuk tujuan komersil dan menjawab kebutuhan pasar, jadi makna filosofis dari sebuah motif tenun ikat Sumba sudah tidak sekental dulu. Jadi sekarang, siapa pun bisa menggunakan kain tenun motif kuda atau ayam. 

Sumpah, bahasan tentang tenun ikat Sumba ini menarik banget kalo diulas lebih dalam. Waktu 2 jam rasanya kurang banget. Semoga ada kesempatan buat balik lagi ke Sumba. Aku pengen dapet cerita dan pengalaman lebih banyak tentang mahakarya kebanggaan masyarakat Sumba ini. 

Jaya selalu, Wastra Indonesia!

Tenun ikat sumba


You Might Also Like

0 komentar