Rumah-Rumah Terakhir Gajah Sumatra

Tuesday, August 10, 2021


Gajah, binatang yang amat besar, matanya kecil, telinganya lebar… 

Masih ingat penggalan syair tentang gajah yang pastinya populer di masa kanak-kanak dulu? Syair yang membuat image seekor gajah sebagai seekor binatang amat besar dan kuat di mata anak-anak. Ya, gajah. Satu dari sekian banyak hewan yang memperkaya keanekaragaman fauna Indonesia.

Namun, realita kehidupan gajah sebenarnya tak sebesar dan tak sekuat badannya. Keluarga gajah pun sedang dalam perjuangan kerasnya. Dengan jumlah yang boleh dibilang nyaris habis, mereka berjuang untuk mempertahankan eksistensi serta regenerasinya agar bisa tetap hidup di habitat aslinya yang kian sempit dan menghimpit. 'Rumah nyaman' yang selama ini jadi tempat mereka hidup, bernaung, makan dan minum bersama keluarganya nyaris habis 'dirampok' oleh makhluk paling rakus di muka bumi, yaitu manusia. 

Lebih miris lagi, tak jarang konflik pertumpahan darah melawan manusia pun harus dihadapi keluarga gajah dalam perjuangannya mempertahankan wilayah yang telah diklaim kepemilikannya oleh manusia. Gajah telah dianggap sebagai penyusup, hama, atau perusak di rumahnya sendiri yang kini telah berstatus 'lahan sengketa'. Ironisnya, dari sekian milyar umat manusia di muka bumi ini, hanya ada segelintir orang yang mau mendukung perjuangan gajah untuk memperoleh hak-haknya, agar mereka bisa tetap ada, hidup damai tanpa konflik, makan minum, menghirup udara segar, serta berkembang biak di rumah asli mereka. 

Tak Kenal Maka Tak Sayang. Yuk, Kenal Lebih Dekat Dengan Gajah! 

Gajah adalah mamalia besar dari famili Elephantidae dan ordo Proboscidea. Secara tradisional berdasarkan benua asalnya, terdapat dua spesies gajah yang diakui, yaitu Gajah Afrika (Loxodonta africana) dan Gajah Asia (Elephas maximus). Selain bertubuh besar dengan berat 3.000-7.000 Kg dan tinggi antara 2-4 meter, gajah juga memiliki ciri-ciri khusus. Yang paling mencolok adalah belalai yang digunakan untuk banyak hal, terutama untuk bernapas, menghisap air, dan mengambil benda. 

Gigi serinya tumbuh menjadi taring/gading yang dapat digunakan sebagai senjata bertarung dan alat untuk memindahkan benda atau menggali tanah. Daun telinganya yang besar membantu mengatur suhu tubuh mereka. 

Gajah Afrika memiliki tubuh lebih besar dibanding Gajah Asia. Telinganya juga lebih besar dengan bentuk hampir menyerupai Pulau Afrika dan bentuk punggung yang cekung, sementara telinga Gajah Asia lebih kecil dengan bentuk menyerupai bentuk pulau daratan India dan punggungnya cembung.

Perbedaan Gajah Asia dan Gajah Afrika

Gajah betina cenderung hidup dalam kelompok keluarga, yang terdiri dari satu betina dengan anak-anaknya atau beberapa betina yang berkerabat beserta anak-anak mereka. Kelompok ini dipimpin oleh individu gajah yang disebut matriark, yang biasanya merupakan betina tertua. Yang menarik, meski membentuk kelompok-kelompok sendiri, namun tidak menutup kemungkinan gajah-gajah tersebut melakukan sosialisasi antar kelompok. Waah udah kayak emak-emak arisan aja ya?! 😁😁

Gajah jantan meninggalkan kelompok keluarganya ketika telah mencapai masa pubertas, dan akan tinggal sendiri atau bersama jantan lainnya. Jantan dewasa biasanya berinteraksi dengan kelompok keluarga ketika sedang mencari pasangan dan memasuki tahap peningkatan testosteron dan agresi yang disebut 'masa musth', yang membantu mereka mencapai dominasi dan keberhasilan reproduktif.

Anak gajah merupakan pusat perhatian kelompok keluarga dan bergantung pada induknya selama kurang lebih tiga tahun. Selama masa ini seekor anak gajah yang masih lemah akan mendapat proteksi maksimal dari kelompoknya untuk melindunginya dari pemangsa. Jadi jangan coba-coba menculik anak gajah kalau nggak mau di keroyok sama induk dan tante-tantenya 😁🤭. 

Gajah dapat hidup selama 70 tahun di alam bebas. Mereka berkomunikasi satu sama lain melalui sentuhan, penglihatan, penciuman, dan suara. Selain itu gajah juga menggunakan infrasonik dan komunikasi seismik untuk jarak jauh. 

Dengan volume otak yang sangat besar, menjadikan gajah termasuk hewan dengan tingkat kecerdasan tinggi. Bahkan gajah mampu memiliki kesadaran diri dan empati apabila melihat gajah lain sakit, terluka atau mati. Tingkat kecerdasan tinggi inilah yang kemudian menjadikan gajah sebagai satwa yang bisa dilatih manusia. Sejak jaman manusia kuno hingga kini gajah sudah sering dijadikan tunggangan, hewan pekerja, kendaraan perang, artis sirkus, hingga bagian tim rescue penyelamatan korban bencana.

Gajah-gajah dan para pawang di Suaka Margasatwa Padang Sugihan

Gajah adalah satwa herbivora yang senang memakan rumput, daun dan ranting pepohonan, buah-buahan hingga kulit kayu. Mereka dapat mengonsumsi 150 kg makanan dan 40 liter air dalam satu hari. Gajah cenderung hidup di dekat sumber air. Periode makan biasanya berlangsung pada pagi, siang, dan malam hari. Pada pertengahan hari, gajah beristirahat di bawah pohon dan mungkin tertidur saat berdiri. Gajah baru berbaring tidur pada malam hari. Rata-rata waktu tidur gajah adalah 3–4 jam per hari. Selebihnya, waktu sehari-hari gajah akan dihabiskan untuk berjalan mencari makan dan sumber air untuk minum serta mandi. Baik jantan maupun kelompok keluarga gajah umumnya berjalan sejauh 10 hingga 20 km dalam satu hari.

Seperti mamalia lainnya, gajah bereproduksi dengan cara vivipar atau melahirkan. Gajah jantan dewasa yang telah berumur 30-40 tahun akan mendatangi kelompok betina dan menyeleksi gajah betina yang siap kawin. Dengan ukuran tubuh yang besar, menjadikan masa kehamilan gajah yang tidak sebentar. Rata-rata seekor induk gajah akan mengandung calon bayi gajah selama 18 hingga 22 bulan. Dan setelah tiba waktunya maka sang induk akan melahirkan seekor bayi gajah dengan berat hingga mencapai 125 Kilogram dan tinggi sekitar 90 sentimeter. Bayi gajah ini akan bergantung sepenuhnya pada induknya hingga usia 3 sampai 5 tahun. Dan setiap hari bayi gajah perlu minum susu induknya hingga 12 liter susu. Wow!!! 😍

Saat ini status populasi gajah dunia (Gajah Afrika dan Gajah Asia) terus menurun dan kian mendekati ancaman kepunahan. Ada beberapa faktor yang jadi pemicu kepunahan gajah, di antaranya perburuan liar yang dipicu perdagangan gading ilegal, pembalakan liar serta pembukaan hutan menjadi areal perkebunan yang semakin mengikis habitat gajah, serta ditambah lagi dengan pola pikir manusia perambah hutan yang menganggap gajah sebagai hama perusak tanaman perkebunan mereka, sehingga layak untuk dibasmi atau dimusnahkan. Bahkan tak jarang kasus yang menampilkan gajah-gajah yang mati sia-sia karena diracun dan bangkainya dibiarkan begitu saja. 

Seberapa Pentingkah Peranan Serta Manfaat Gajah Bagi Rantai Kehidupan di Alam? 

Mungkin tak banyak dari kita yang tahu seberapa pentingkah peran kehidupan dan manfaat satwa gajah ini dalam memelihara keseimbangan alam. Seperti kita ketahui gajah hidup berkelompok dan merupakan hewan nocturnal yang aktif pada malam hari. Setiap harinya dalam sehari semalam gajah terus aktif bergerak hingga bisa mencapai 20 Km. Dari sini bisa kita bayangkan pergerakan rombongan gajah tentunya mampu melakukan perjalanan tiap hari. Hal ini dapat membuka ruang bagi sinar matahari hingga mampu tembus ke lantai hutan sehingga proses fotosintesis tumbuhan hutan bisa berjalan dan seperti halnya kita bercocok tanam maka tumbuhan akan tumbuh dengan baik.

Sistem pencernaan gajah yang buruk mengakibatkan gajah buang kotoran tiap 1 jam sekali sehingga hutan kita akan terpupuk dengan jumlah pupuk yang cukup yaitu ±5 % dari bobot tubuhnya yang mencapai 3-4 ton. Tak hanya itu, buruknya sistem pencernaan gajah ternyata juga berperan penting dalam menyebarkan biji tumbuhan. Hal ini dikarenakan gajah dapat menelan dan mengeluarkan biji tanpa berdampak kerusakan biji tersebut, bahkan memberikan pengaruh positif bagi proses pematangan serta terhadap proses perkecambahan biji. Hingga akhirnya biji-biji tersebut disebarkan dalam jumlah besar di jarak yang jauh sesuai dengan mobilitas si gajah.

Kotoran gajah

Selain itu, dengan ukuran tubuh yang besar, gajah berdampak besar terhadap lingkungan dan dianggap sebagai spesies kunci. Perilaku gajah yang sering menumbangkan pohon dan semak dapat mengubah sabana menjadi padang rumput. Saat mereka menggali untuk mencari air selama musim kemarau, mereka menemukan sumber air yang juga dapat digunakan oleh hewan lain. Mereka dapat memperbesar sumber air ketika mereka sedang mandi.

Hmm.. Benar-benar kuasa Allah yang menciptakan semua makhluknya dengan peran yang sudah ditentukan bagi keseimbangan alam. Tinggal kita sebagai makhluk berpredikat 'makhluk sempurna' yang seyogyanya menjaga kelestarian serta kelangsungan alam, bukan malah merusaknya hanya untuk mengenyangkan perut kita. 


Tak berbeda dengan kerabatnya di belahan bumi lain, nasib Gajah Sumatra juga terancam oleh ulah tangan manusia. Jumlahnya di alam liar kini tak lebih dari 2.000 ekor saja dan kian menyusut. Proses reproduksi serta pertumbuhan hidup gajah yang memerlukan waktu relatif lama menjadi kendala tersendiri dalam usaha rehabilitasi populasi gajah Sumatera. Berdasarkan survei, baik yang dilakukan WCS (Wildlife Conservation Society) maupun WWF (World Wildlife Fund) pada tahun 2000, sebanyak 65% populasi Gajah Sumatra lenyap akibat dibunuh manusia, dan 30% kemungkinan dibunuh dengan cara diracuni oleh manusia. Sekitar 83% habitat gajah Sumatra telah menjadi wilayah perkebunan akibat perambahan hutan yang cukup agresif. Hingga sejak tahun 2002 Gajah Sumatera menyandang status 'terancam punah' (critical endangered). 

Berbagai cara ditempuh pemerintah Republik Indonesia serta berbagai lembaga konservasi untuk melestarikan Gajah Sumatra. Mulai dari penetapan Taman Nasional pada beberapa area hutan Sumatra yang masih belum rusak untuk dijadikan 'rumah-rumah terakhir' bagi Gajah Sumatra, serta penertiban pembalakan hutan dan perburuan liar melalui undang-undang. 

Mengunjungi Rumah-Rumah Terakhir Gajah Sumatra, Salah Satu Keanekaragaman Fauna Indonesia yang Hampir Punah

Berawal dari kekaguman dan rasa ingin tau yang teramat besar tentang kehidupan gajah, saya pun mulai tertarik untuk mengunjungi mereka di habitatnya. Yang mungkin merupakan rumah-rumah terakhir bagi mereka untuk bertahan hidup. Dan semakin saya mengenal hewan berbelalai panjang yang satu ini, semakin saya jatuh hati. 

Ini beberapa rangkuman singkat perjalanan saya mengunjungi rumah-rumah terakhir gajah Sumatra. Saya cuma bisa berharap, semoga rumah-rumah terakhir ini jadi rumah yang nyaman bagi mereka untuk melangsungkan hidup. 


Taman Nasional Tesso Nilo dan Pusat Latihan Gajah Minas, Rumah Terakhir Gajah Sumatra di Riau

Jarum jam masih menunjuk pukul 3 dinihari, kala itu udara malam yang dingin masih menyelimuti kota Pekanbaru, Riau. Saya dan beberapa teman-teman dari WWF Riau sudah selesai mempersiapkan mobil dan semua keperluan logistik. Tak lama berselang kami pun beranjak meninggalkan kantor WWF menuju hutan Taman Nasional Tesso Nilo yang terletak di wilayah Indragiri Hulu, Kabupaten Pelalawan, Riau. Kami menempuh perjalanan darat selama kurang lebih 3 jam sambil sesekali saya terkantuk dan tertidur kecil. Maklum sejak berangkat dari Jakarta sehari sebelumnya saya nyaris belum istirahat sama sekali. Mungkin karena saking antusiasnya saya melakukan persiapan, maklum ini adalah kali pertama saya akan berkesempatan untuk menjadi tamu di rumah gajah Sumatra, jadi gak kebayang perasaan saya campur aduk antara nervous, excited bercampur deg-degan. 

Hingga saat matahari mulai menampakkan sinarnya saya merasa mobil yang saya naiki sedang berjalan di atas air. Saya pun segera membuka mata dan terlihat bahwa mobil ini benar-benar sedang berjalan di atas air yang ternyata adalah luapan Sungai Tesso yang menutup seluruh badan jalanan tanah berbatu yang kami lalui. Sontak semua rasa kantuk dan lelah yang saya rasakan pun sirna karena ini artinya saya sudah sampai di pintu gerbang masuk rumah gajah Sumatra. 

Jantung saya kian berdebar manakala kaki ini mulai menjejak tanah di hutan Tesso Nilo. Kali ini saya harus berjalan kaki menapaki hutan yang banyak ditumbuhi pohon akasia dan pohon sialang yang tinggi menjulang ini. Dalam hati ada rasa harap-harap cemas, mungkinkah saya bisa bertemu dan melihat langsung gajah Sumatra liar yang jadi tujuan saya. Saya terus mengikuti kemana langkah teman-teman tim WWF berjalan kian masuk ke dalam hutan. Sesekali mereka mematahkan ranting pohon yang digunakan sebagai petunjuk arah jalan untuk kembali. Aktifitas seperti ini rutin mereka lakukan untuk memonitor keadaan serta perkembangan satwa-satwa di hutan ini, termasuk gajah. 

Oh iya, buat kalian yang belum tahu, Taman Nasional Tesso Nilo ini adalah sebuah kawasan hutan konservasi yang diresmikan pemerintah pada tahun 2004 dengan luas kurang lebih 38 ribu hektar. Di dalamnya terdapat setidaknya 360-an jenis flora serta lebih dari 300 jenis satwa dari mulai serangga, burung, reptil, amfibi, primata dan mamalia. Fokus utama taman nasional ini adalah sebagai tempat konservasi bagi gajah Sumatra dan harimau Sumatra. Terdapat setidaknya 60-80 ekor gajah Sumatra liar yang mendiami kawasan ini, beberapa diantaranya merupakan gajah yang berhasil direlokasi setelah konflik dengan manusia di kawasan perkebunan kelapa sawit.

Pohonnya enak buat main petak umpet 😁

Tak terasa saya sudah jauh berjalan masuk ke dalam hutan, matahari pun kian tinggi menyeruakkan sinarnya dari celah pepohonan. Tiba-tiba langkah kami terhenti di depan sebuah jejak tapak kaki gajah di atas tanah yang basah. Tampaknya ada kelompok gajah yang baru saja melintas di jalan yang kami lalui. Ini bisa dilihat dari barunya bekas kerusakan semak-semak yang dilewati gajah-gajah tersebut, dan sepertinya mereka menuju aliran sungai di dekat tempat ini karena kebiasaan gajah di siang hari mereka paling suka mandi bersama di sungai. 

Mejeng di sungai nungguin gajah lewat 😁

Kami pun segera beranjak menuju sungai, langkah kaki kami percepat agar tak ketinggalan momen bisa melihat gajah liar di sini. Tak berapa lama mulai terdengar suara gemuruh semburan air di sungai. Kini langkah kaki kami harus dibuat senyap dan mengendap. Seketika mata saya terbelalak, sekitar beberapa puluh meter di bawah saya tampak sekelompok gajah yang jumlahnya sekitar 8 ekor, terdiri dari gajah besar dan kecil sedang asik mandi di sungai. Mereka sesekali menyelam dan kemudian muncul sambil menyemprotkan air dari belalainya. Sayang sekali, untuk alasan keamanan kami hanya bisa melihat gajah-gajah tersebut dari kejauhan, karena sifat gajah yang cenderung menyerang apabila terusik. Meski tak bisa mendekat dan hanya bisa melihat dari kejauhan namun rasa puas campur bangga sudah cukup memenuhi jiwa saya. Akhirnya untuk pertama kalinya saya diterima sebagai 'tamu' sekaligus jadi 'pengintip kamar mandi' di rumah Gajah Sumatra. Hehe.. 

Sore hari, menjelang matahari tenggelam kami pun bertolak kembali ke kantor WWF Pekanbaru. Di perjalanan salah seorang dari tim WWF mengatakan "kalau mau bisa lihat Gajah Sumatra dari dekat, pegang-pegang langsung, bahkan merasakan naik ke atas punggungnya sambil keliling masuk hutan, lebih baik besok kita ke Pusat Latihan Gajah Minas aja, Mbak!" kontan ajakan tersebut langsung saya iyakan sambil berseri-seri. 

Keesokan harinya, seperti yang sudah dijanjikan, saya diajak mengunjungi PLG Minas yang terletak di Kecamatan Minas, Kabupaten Siak (sekitar 40 Km arah utara Pekanbaru). Berbeda dengan hari sebelumnya yang harus berjalan jauh menyusuri hutan untuk bisa ketemu gajah Sumatera, di tempat ini aroma khas gajah sudah bisa tercium begitu saya sampai di gerbang masuknya. 

Pusat Latihan Gajah yang dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Propinsi Riau ini dihuni oleh belasan gajah Sumatera. Gajah-gajah di sini adalah gajah yang diklaim sebagai 'pengganggu' perkebunan, lahan pertanian atau pemukiman transmigrasi yang berhasil diamankan dan diselamatkan dari konflik melawan manusia. Tak jarang dari gajah-gajah tersebut yang dibawa ke PLG ini dalam keadaan terluka setelah mengalami konflik. Di sini gajah-gajah tersebut dirawat dan diobati oleh para tenaga medis dan selanjutnya dijinakkan melalui tahapan proses pengerungan dan pelatihan. Tujuannya agar gajah-gajah tersebut bisa diberdayakan sebagai gajah yang mampu membantu kinerja manusia. Misalkan sebagai gajah patroli hutan, gajah angkut, gajah pekerja, hingga gajah atraksi. 

Singkat cerita, kepuasan tak ternilai saya peroleh karena saya diberi kesempatan untuk tinggal di Pusat Latihan Gajah Minas ini selama satu minggu. Selama itu pula saya menghabiskan hari bersama gajah-gajah Sumatra penghuni PLG ini, mulai dari bermain bersama bayi gajah, mengikuti pawang menggembalakan gajah ke dalam hutan, membantu paramedis merawat gajah yang sakit atau terluka, serta menyaksikan proses melatih gajah. Pokoknya disini saya bisa puas seminggu makan tidur bareng gajah Sumatra deh! Hingga banyak sekali seluk beluk pengetahuan tentang gajah Sumatra yang saya dapatkan di sini. 

Taman Nasional Way Kambas, Rumah Terakhir Gajah Sumatra di Lampung Timur

Taman nasional yang ada di Lampung Timur ini memang sudah sejak lama menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin melihat lebih dekat kehidupan hewan berbelalai panjang itu. Karena memang, TNWK merupakan Pusat Konservasi Gajah, yang tak hanya berperan untuk melindungi, tapi juga mengembangbiakkan dan melatih gajah-gajah yang ada di sana. 

Menikmati senja bersama Yekti, gajah kecil dari TNWK

Salah satu aksi gajah TNWK yang pernah saya lihat langsung adalah pada saat seekor gajah betina dengan luwesnya mengalungkan bunga di leher Gubernur Lampung, Bapak M Ridho Ficardo pada acara Parade Budaya yang merupakan rangkaian dari Lampung Krakatau Festival tahun 2016. Setiap tahunnya, gajah-gajah TNWK memang selalu ambil bagian unjuk kebolehan dalam parade yang menampilkan keanekaragaman budaya Lampung tersebut. 

Karina mengalungkan bunga di leher Bapak Gubernur Lampung

TNWK luasnya mencapai 1300 km². Dan di beberapa bagian terluarnya berbatasan langsung dengan perkebunan dan pemukiman penduduk. Dalam kondisi seperti ini, bukan tidak mungkin ada gajah yang masuk ke perkampungan. Apalagi, dari sekitar 300 gajah yang hidup di kawasan TNWK, tidak semuanya tergolong gajah jinak. Untuk mengatasi konflik yang terjadi antara gajah liar dengan penduduk yang tinggal di sekitar kawasan TNWK didirikanlah Camp ERU (Elephant Respon Unit).

Di suatu sore yang cerah, saya dan teman-teman blogger berkesempatan mengunjungi Camp ERU dan Taman Nasional Way Kambas. Sayang kami tak punya banyak waktu untuk mengenal lebih jauh kehidupan gajah-gajah yang ada di sana. Tapi setidaknya saya cukup senang, karena dalam kunjungan singkat itu, saya berkesempatan memandikan dua ekor gajah yang bernama Meli dan Amel. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan. 

Memandikan Meli dan Amel

Cerita lengkap kunjungan saya ke Camp ERU dan TNWK bisa dibaca di sini.

Suaka Margasatwa Padang Sugihan, Rumah Terakhir Gajah Sumatra di Sumatra Selatan

Pertengahan tahun 2019, kembali saya diberi kesempatan untuk menjadi tamu di rumah gajah Sumatra. Berawal dari ajakan salah seorang teman di Palembang yang akan membuat sebuah liputan dokumenter eksistensi gajah Sumatra di Suaka Margasatwa Padang Sugihan, Kabupaten Banyuasin, Sumatra Selatan. Tanpa pikir panjang, ajakan tersebut langsung saya sambut dan saya pun berangkat menuju kota pempek ini. 

Saya dan teman-teman di Padang Sugihan

Untuk menuju Padang Sugihan, tim kami menaiki perahu speedboat dari Dermaga Ampera menyusuri aliran Sungai Musi selama kurang lebih 2 jam. Sesaat setelah speedboat kami menurunkan kecepatan, mata saya disuguhkan pemandangan deretan gajah-gajah yang asik merumput di pinggir sungai. Seolah-olah mereka menyambut kedatangan kami dengan senyum dan kibasan telinganya. 


Suaka Margasatwa Padang Sugihan adalah kawasan padang gambut dan hutan terisolasi seluas kurang lebih 86 ribu hektar. Di sini juga terdapat Pusat Latihan Gajah yang sekaligus menjadi pusat konservasi. Kawasan Padang Sugihan dihuni sebanyak 50 ekor Gajah Sumatra. 31 ekor berada di pusat konservasi PLG Padang Sugihan dan sisanya adalah gajah liar. Adapun gajah-gajah tersebut adalah gajah konflik hasil relokasi dari wilayah Lahat, Sumatera Selatan. 

Naik gajah di Padang Sugihan

Selama beberapa hari di tempat ini, saya dan tim pembuat film dokumenter berkesempatan melakukan observasi langsung kehidupan Gajah Sumatra yang kemudian kami abadikan melalui rekaman lensa kamera. 

Mengabadikan lewat lensa kamera


Di sini saya dapat ilmu mengobati gajah. Kebetulan ada seekor gajah yang terluka karena diserang gajah lain yang sedang dalam masa birahi. Para pawang di Padang Sugihan dengan cekatan menyiapkan obat-obatan serta infus untuk gajah yang cedera. Saya baru tahu kalau gajah sakit dan harus diberikan infus, maka jarum infusnya akan dimasukkan ke dalam pembuluh darah yang ada di telinganya. Dan sang pawang harus berdiri pada posisi yang lebih tinggi dari tubuh gajah dan dengan sabar terus memegangi kantong infus hingga cairannya habis.

Mempersiapkan obat-obatan dan infus untuk gajah yang cedera

Pasang infus di telinga gajah

Kebayang gak, tengah hari bolong berdiri megangin botol infus kayak gitu?


Mari Lestarikan Gajah Sumatra Sebagai Perwujudan Rasa Bangga Akan Indonesia

Gajah Sumatra adalah salah satu bentuk keanekaragaman fauna yang dimiliki Indonesia dan tak dipunyai negara lain. Tidak semua ngara di dunia dipilih Tuhan sebagai tempat hidup gajah. Maka sudah seharusnya kita wujudkan rasa syukur itu dengan menjaga dan melindungi fauna Indonesia tersebut serta mempedulikan kelestarian hidup makhluk yang telah 'diamanahkan' pada bangsa ini, dan bukan merampas hak-hak hidup mereka. 

Jangan biarkan satwa kebanggaan bangsa itu punah hanya karena keserakahan manusia dalam memperkaya diri dan mengenyangkan perutnya sendiri. Karena kelak akan lahir anak-anak serta generasi-generasi penerus bangsa ini yang juga punya hak untuk menyaksikan dan menikmati keberadaan gajah Sumatra. Sehingga mereka tak sampai menganggap gajah Sumatra hanya sebagai sosok satwa imajinasi layaknya Dinosaurus. Agar jangan sampai kelak anak cucu kita membacakan syair tentang gajah tanpa pernah melihat wujud aslinya serta merasakan keberadaannya. Dan yang terpenting adalah agar kelak generasi penerus kita turut merasa bangga sebagai bangsa Indonesia. 

Sumber Referensi:


You Might Also Like

16 komentar

  1. Seumur-umur saya liat gajah ya di kebun binatang atau taman safari hehehe.

    Tapi bener ya, gajah itu pintar banget, mudah memahami perintah.

    Meski kadang ngeri juga membayangkan diamukin binatang super gede itu.

    Sedih ya membayangkan populasi gajah semakin sedikit :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mba.. Sedih kalo denger cerita tentang populasi gajah yang semakin sedikit. Kasihan..

      Delete
  2. Aku syukaaakkkk postingan ini!
    Gajak tuh salah satu hewan favoritku mbaa
    pokoke auto hepi kalo lihat gajah
    apalagi yg masih anak2, gemeshhh gemeshhh gimanaa gitu lho.
    Semogaaaa populasi gajah bisa aman ya
    Bisa beranak pinak lagiiii, supaya engga langka

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa.. Gajah kecil itu emang nggemesin banget. Kalo jaman kita kecil dulu mungkin gara-gara si Bona gajah kecil berbelalai panjnag ya 😄😄

      Delete
  3. Sedih bacanya, betapa kita manusia zalim terhadap hewan ya termasuk gajah ini

    ReplyDelete
  4. Kalo lihat gajah, saya selalu ingat Manfred di film ice age 😊. Semoga semakin banyak orang yang peduli pada gajah yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo lihat gajah, saya selalu ingat majalah Bobo 😁😁

      Delete
    2. Iya...baru mau komen ini..
      Gajah ini ikonik banget ya... Aku suka dengan ciri khas yang sekali sebut "Hewannya besar, memiliki belalai.."
      Anak-anak langsung bisa jawab.

      MashaAllah~
      Pentingnya menjaga kelestarian fauna di Indonesia.
      semoga gajah-gajah cantik di Indonesia tetap lestari hingga anak cucu cicit cicitnya cicit, dan seterusnya.

      Delete
  5. MasyaAllah... Jadi nambah pengetahuan tentang gajah. Selama ini lihat langsung gajah cuma di kebun binatang, meskipun sebenarnya sedih juga saat binatang-binatang itu harus pentas, tapi kalau nggak begitu, yang jauh dari populasi binatang2 gabisa belajar langsung ya.

    Menakjubkan banget Mbak, bisa melihat langsung kehidupan gajah di habibat aslinya. Semoga keberadaannya bisa dipertahankan, jangan sampai punah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.. Semoga jangan sampai punah ya.. Kasihan mereka

      Delete
  6. Subhanallah seru banget mbak bisa langsung melihat gajah dari tempat berkembangbiaknya. Saya belum pernah melihatnya. Dari cerita ini rasanya ikut sedih bila populasi gajah harus berkurang karena beberapa sebab. Semoga masyarakat makin sadar bahwa gajah termasuk binatang yang harus dilestarikan. Jadi jangan sampai ada pihak tertentu yang berusaha mengambil keuntungan sepihak, seperti berburu gading gajah yang menyebabkan makin punahnya populasi binatang ini.

    ReplyDelete
  7. Masyarakat mmg harus diberi edukasi lagi sih mbak menurutku. Selama ini kan mmg tayangan tentang satwa dinTV sudah sangat jarang. Apalagi jika melihat peranan gajah dalam ekosistem yang ternyata sangat banyak sekali manfaatnya. Berharapnya ga punah nih gajah sumatra.

    ReplyDelete
  8. Masya Alloh, aku terharu banget baca tulisan ini. Ikut senang karena pada akhirnya Mbak Dian bisa melihat langsung aktivitas Gajah sedang me time di sungai. :D Dan omong-omong, aku sedih banget pas baca perdagangan gading ilegal.

    Semoga populasi Gajah bisa membaik ya, Mbak. Buat "warisan" anak cucu. :)

    ReplyDelete
  9. pengalaman luar biasa yang tidak terlupakan ya Mba, aku ngakak lho tadi ada foto kotoran gajah astaga hahaha. Bebrapa waktu lalu aku liat ada gajah berantem di arena sirkus. Aku sedih semoga gajah0gajah bisa hidup sejahtera

    ReplyDelete
  10. makin lama makin sedikit yaaa mba rumah dan habitat alami gajah - gajah Sumatera ini. We really have to do something about it

    ReplyDelete