Tertawan Pesona Laut Cina Selatan

Saturday, September 26, 2015


Saya suka mencoba sesuatu yang baru. Apalagi kalau sesuatu itu berbau petualangan, saya tidak akan segan untuk mencobanya. Dan saya selalu menikmati setiap sensasi yang ditimbulkan oleh pengalaman baru itu. Seperti kali ini, pengalaman pertama saya bertualang di Laut Cina selatan. 

***
Ini adalah trip pertama saya bergabung dengan mereka, para pemancing dari negeri Singapura. Dan saya, adalah satu-satunya peserta perempuan dalam trip kali ini. Mereka semua adalah orang-orang yang baru saya kenal di dunia maya. Lewat sebuah grup bernama Kaki Pancing.

Banyak yang bilang saya nekat, atau mungkin juga bodoh. Karena mau saja ikut dengan orang-orang yang belum saya kenal ke suatu tempat yang bernama antah berantah. Apalagi saya adalah satu-satunya makhluk berjenis kelamin perempuan. Kalau sampai mereka berbuat jahat, siapa yang tau? Siapa pula yang akan menolong saya? Tapi sungguh, saat itu pikiran saya tidak sampai ke sana. Hasrat untuk bertualang dan menikmati sesuatu yang baru telah mengalahkan segalanya. Mengalahkan ketakutan terbesar saya selama ini. Karena sebenarnya, saya tidak bisa berenang. Selama ini, sudah cukup banyak kegiatan yang berhubungan dengan air saya lewatkan begitu saja cuma gara-gara saya tidak bisa berenang. Tapi tidak untuk kali ini. Saya harus mencoba.

Dan akhirnya, di sinilah saya berada. Di atas sebuah kapal kayu yang terombang-ambing di tengah hamparan Laut Cina Selatan. Bersama tujuh orang sahabat yang baru saya kenal. Mereka adalah Pak Arman, Pak Fendi, Pak Yazid, Pak Aziz, Pak Edy, Pak Din dan seorang tekong yang bernama Pak Badol. Jangan heran kalau saya menyebut mereka dengan panggilan ‘pak’. Karena usia mereka semua memang jauh di atas saya. Jadi, ini juga merupakan pengalaman pertama saya berpetualang dengan bapak-bapak. *grin… 

 Ini 'calon' rumah kami selama beberapa hari ke depan

Senja berganti malam. Kapal kami bergerak menuju Pulau Tinggi. Sebuah pulau yang masuk wilayah Johor Bahru, Malaysia. Sebagian hasil tangkapan kami hari itu dibawa turun ke Pulau Tinggi untuk diolah menjadi menu makan malam. Sambil menunggu makan malam siap, kami bergiliran menumpang mandi di salah satu rumah penduduk setempat. 

 Menuju Pulau Tinggi

Menu makan malam kami benar-benar terasa istimewa. Semua berbahan dasar ikan yang diolah dengan berbagai macam masakan. Ikan goreng, ikan asam manis dan ikan bumbu merah. Setelah seharian tadi perut kami hanya diisi dengan roti, tak heran kalau kali ini kami makan dengan lahap. Bahkan ketika nasinya habis, kami semua masih saja asyik menggado ikan-ikannya. Lapar apa doyan..?! Sampai-sampai berat rasanya untuk kembali lagi ke kapal. 

 Mari makaaan..!

***
Malam itu seekor ikan barracuda berukuran cukup besar tersangkut di kail saya, setelah sebelumnya beberapa kali putus digigit oleh sejenis ikan yang sama. Wiiih… giginya taring semua dan terlihat tajam. Pantas saja kalau sebelumnya, kail saya selalu dibuat putus olehnya. Dengan perasaan girang yang luar biasa saya ajak si barracuda untuk berpose narsis bersama. 

 Barracuda, tangkapan pertama

Keesokan harinya, hujan rintik-rintik menyambut kami. Setelah sarapan mi instan, kembali kami mempersiapkan joran dan bersiap untuk perburuan selanjutnya. Tapi hujan turun semakin deras. Dan ombak semakin bergulung-gulung. Tak mungkin kami memancing dalam kondisi seperti ini. Kapal kami hanya bagai sebuah titik kecil yang terombang-ambing di tengah luasnya Laut Cina selatan. Barang-barang yang tersusun rapi di bagian atas kapal jatuh menimpa kami. 

Saya hanya diam. Merapal doa dalam hati. Jujur sebenarnya saya takut. Saya takut kalau kapal ini sampai terbalik, sementara saya tidak bisa berenang. Mau mengandalkan pelampung? Atau mengandalkan orang-orang di sekitar saya? 

Saya memperhatikan orang-orang di sekitar saya yang sedikitpun tak terpengaruh dengan perubahan cuaca ini. Mungkin mereka sudah terbiasa berada dalam badai seperti ini. Tapi bagi saya, ini adalah pertama kalinya saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri, laut dan langit berkolaborasi menyajikan gelombang dan badai yang melihatnya saja sudah membuat jantung saya berdegup kencang.

Energi negatif itu bisa menular. Demikian juga dengan energi positif. Dan saya memilih untuk tertular energi positif dari mereka, orang-orang di sekitar saya. Saya berusaha membuang jauh perasaan takut, dan mencoba menikmati apa yang ada di sekitar saya. Perasaan takut itu mustahil bisa langsung hilang begitu saja. Tapi saya berusaha untuk mengalihkannya. Dengan apa? Dengan doa tentu saja. 

Perlahan tapi pasti, badai pun berlalu. Langit yang semula kelabu berangsur-angsur menjadi biru. Selengkung pelangi muncul di langit. Indah. Teman-teman seperjalanan saya mulai sibuk mengatur joran masing-masing, siap untuk tangkapan berikutnya. 

 Pelangi setelah badai

Matahari semakin tinggi. Pak Badol menghidangkan makan siang. Menunya ikan goreng, ikan masak kari dan tumis sawi putih. Mantap. Di tempat seperti ini memang membuat kami selalu merasa lapar. Tak heran kalau semua hidangan itu ludes tak tersisa. 

***
Malam itu saya, Pak Arman, Pak Yazid dan Pak Edy duduk di buritan sambil menunggui joran masing-masing. Berjam-jam kami duduk menunggu, tapi tak satu pun joran yang bergetar. Umpan-umpan yang kami pasang pun utuh tak tersentuh. Memancing itu benar-benar melatih kesabaran. Begitu pelajaran yang saya terima dari mereka.  

Merasa tak beruntung di tempat itu, akhirnya kami berlayar lagi mencari spot yang lain. Dan kali ini rupanya jauh lebih baik. Banyak sekali sotong yang berkeliaran di sekitar kapal kami. Saking dekatnya sotong-sotong itu dengan kapal kami, sehingga mudah untuk menjangkaunya dengan jaring. Yang membuat saya gak rela, sebagian sotong yang berhasil kami tangkap itu disayat-sayat untuk kemudian dijadikan umpan. Rasanya saya  baru saja membiarkan sepiring sotong goreng tepung melayang begitu saja di depan mata. Dan ternyata, sotong yang dijadikan umpan itu dapetnya ya sotong lagi. Jadilah malam itu kami memancing sotong dengan umpan sotong. Yang seru adalah ketika si sotong mulai menyembur-nyembur ke segala arah sehingga baju kami basah semua. 

 Sotong ini terlihat menggoda

Kami benar-benar pesta sotong di bawah sinar bulan purnama. Dan pesta pora kami malam itu seolah mematahkan teori yang selama ini berkembang di kalangan para pencari ikan. Katanya sih, kalau bulan sedang purnama, kita tak akan bisa mendapatkan sotong, karena sotong baru akan keluar kalau bulan mati. Pengalaman benar-benar merupakan guru yang terbaik. Karena kalau tidak mengalaminya langsung seperti saat ini, tentu saja akan sulit bagi kami untuk percaya. 

Malam itu ada satu kejadian yang tidak akan pernah saya lupa sampai kapan pun. Ketika saya sedang asyik memancing sotong, Pak Arman yang duduk di sebelah saya berhasil mendapat ikan yang kata mereka namanya ikan Batman. Karena bentuknya bagus, saya ingin mengajak si Batman untuk berfoto bersama. 

Pak Edy sudah bersiap-siap untuk mengabadikannya. Tapi tiba-tiba… Plaaaakkkk…!!!  Wajah saya ditampar oleh si Batman, dan dia lepas begitu saja setelah sukses menampar saya. Panas juga rasanya tamparan si Batman. Akhirnya semalaman itu saya jadi bahan ketawaan di kapal. Kata mereka, seumur-umur mereka mancing, baru kali ini ada yang ditampar sama ikan. Rupanya si Batman shock karena baru kali ini diajak foto bareng cewek manis. Hehehe… 

 Bersama si Batman yang sudah menampar saya :D

Setelah insiden penamparan itu, kami masih melanjutkan perburuan sotong sampai menjelang subuh. Rasanya gak rela membiarkan sotong-sotong itu lepas begitu saja di hadapan kami. 

Dan pagi harinya ketika hujan kembali turun, kami semua sedang asyik menikmati nasi goreng sotong yang disediakan oleh Pak Badol. Sedaaapp..

 Nasi goreng sotong

Dalam perjalanan pulang, kami mengumpulkan semua ikan hasil tangkapan kami selama tiga hari dua malam kemarin. Ternyata banyak juga. Tak mau melewatkan kesempatan, kami pun berfoto bersama dengan ikan-ikan hasil tangkapan kami. Setelah diajak berfoto, ikan-ikan itu pun dibagi rata. Langsung terbayang dalam beberapa hari ke depan, saya bakalan puas makan ikan dan sotong.  

 Pesta sotong

 Pesta ikan 

Foto bareng
Itulah pengalaman saya selama tiga hari dua malam terombang-ambing di Laut Cina selatan. Hidup memang adalah sebuah pilihan. Dan pilihannya selalu cuma ada dua. Berani mencoba atau tidak? Mau memulai atau tidak? Ketakutan terbesar itu berasal dari diri kita sendiri. Kalau tak pandai-pandai mengelola rasa takut, selamanya kita akan berkubang dalam ketakutan itu sendiri. 

Kalau saja saat itu saya tidak berani menerima ajakan mereka untuk bertualang di tengah laut, mungkin sampai saat ini saya hanya memendam rasa penasaran. Saya tidak akan pernah tau, bahwa bahayanya memancing di tengah laut itu cuma satu: ketagihan! 

Iya, saya ketagihan. Bukan ketagihan dan tiba-tiba ingin menjadi pemancing seperti mereka, bukan! Saya hanya ketagihan dengan petualangan baru yang mereka tawarkan, hanyut dalam indahnya persahabatan yang terjalin, dan tentu saja saya semakin terpesona dengan keindahan alam ini. Dan kalau saja waktu itu saya tak berani mencoba, pastinya saya gak akan bisa merasakan sensasi menggendong ikan-ikan segede ini. Berat euy!

 Pose ama kerapu bara

 Pose ama cobia alias haruan tasik

 Pose ama barracuda

Pose ama tengiri
 
Pose ama cobia aka haruan tasik

 Menuju pulang

Terbukti setelah perjalanan pertama itu, saya jadi ketagihan melaut. Berani mencoba atau tidak, keputusannya ada di tangan kita sendiri. How far will you go? You decide!  

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog CROSS|OVER
Untuk informasi lomba silakan kunjungi www.neversaymaybe.co.id


You Might Also Like

13 komentar

  1. wuaaaa semuanyaaaa kereeenn!!! lautnya, pelanginya dan tentunyaaaa ikan-ikannya pasti endes seger ya mba? wuiii mupeeenngg makan siang pake ikan nii...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak kereeeen.. Jadi kangen pengen mancing lagi, hehehehe...

      Delete
    2. Aku mabuk laut mba..mana berani apalagi di perahu kecil pasti kerasa banget ombaknya

      Delete
  2. Aku bacanya sampe deg-degan juga. Terombang ambing di atas kapal itu bener-bener bikin parno (soalnya aku ga bisa berenang juga :p )
    Sotooooongg, aku mauuu mau mauuuu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Yan.. Masalah terbesar itu karena aku sama sekali gak bisa berenang. Kata papaku, malu-maluin orang Bugis aja gak bisa berenang :D

      Delete
  3. Jadi kangen trip mancing, dulu suka ikut di banten :-(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah kereeen... Aku udah gak pernah mancing lagi sekarang, kangen juga...

      Delete
  4. kak, tiga hari di laut itu apa nggak bikin mabok laut? caranya biar nggak mabok laut? (jangan2 saya terskip bagian ini ya? :D )

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo mabok laut alhamdulillah enggak, Yud... Cuma jiper aja waktu badai gara-gara gak bisa berenang, hehehe...

      Delete
  5. Baru baca ceritanya, Mbak. Hehee.. banyaaak banget ya dapet ikannya. Aku penggemar sotong. Jadi ngiler lihat sootng2nya.. :D

    ReplyDelete
  6. wah ... tangkapan ikannya besar besar ya mbak ..............

    ReplyDelete