Zenbook DUO (UX8406), Satu Mimpi yang Terwujud Sepuluh Tahun Kemudian

Sunday, March 31, 2024


Technology, like art, is a soaring exercise of the human imagination - Daniel Bell

“Mbak, ada masalah di Block 10 ya?” Seorang rekan kerja dari Production Department menghampiri meja kerjaku.

“Iya. Ada pipa nabrak girder. Ini lagi dicarikan jalan lain. Di area itu space-nya memang sempit. Pusing itu nanti orang machinery gak kebagian tempat.” Jawabku sambil membuka AVEVA Ship Design, salah satu software yang kami gunakan untuk membuat desain kapal.

Software ini cukup lengkap. Gak cuma untuk mendesain bangunan utama kapal, tapi juga termasuk sistem yang ada di dalam kapal, seperti pipa, permesinan dan peralatan kapal, HVAC, juga kelistrikan kapal.

Buat Naval Architect sepertiku, software ini bisa diandalkan banget untuk membuat basic design hingga production drawing. Termasuk menghitung stabilitas kapal, membuat cutting plan, mempersiapkan bill of material. Dengan software ini, kita bisa membuat desain dengan tampilan 2 dimensi, dan bisa sekaligus melihat hasilnya dengan tampilan 3 dimensi. Cuma masalahnya, software ini lumayan berat. Apalagi kalau semua system dan equipment sudah mulai masuk. Jadi, software ini sangat tidak disarankan untuk diinstall di komputer yang spesifikasinya nanggung.

Aku membuka production drawing yang menunjukkan area yang sedang bermasalah. Untuk 1 masalah seperti ini, aku harus membuka banyak drawing. Karena memang saling berkaitan. Seperti plan view, transversal view, longitudinal view, juga gambar-gambar dari semua sistem yang ada di area tersebut. Gambar-gambar ini tampilannya 2 dimensi.

Untuk melihat detailnya, aku harus membuka tampilan 3 dimensi dari project ini. Dengan tampilan 3D begini, kami jadi bisa melihat dengan jelas bagian dalam kapal, termasuk pipa dan sistem-sistem lain yang sudah dibuat. Jadi kalo ada yang bermasalah, bisa langsung terlihat.

Membuka banyak gambar sekaligus seperti ini lumayan makan waktu dan sedikit ribet. Karena aku harus membuka tab baru untuk masing-masing gambar. Kebayang donk, berapa banyaknya tab yang aku buka ketika sedang bekerja seperti ini? Saking banyaknya, sampai judul-judulnya udah gak keliatan lagi.



Ribetnya itu, kalo pas lagi ngecek drawing kayak sekarang ini. Dari tab yang menampilkan gambar-gambar 2D, trus ganti ke tab yang menampilkan gambar 3D, trus ganti lagi ke tab lain. Kalau sedang buru-buru, kadang pas mau ganti tab, malah keliru ngeklik tanda silang. Jadi terpaksa harus mulai dari 0. Udah kayak ngisi bensin di pom aja kalo begini…

Kenapa gak split screen aja?

Gak semudah itu, Ferguso! Namanya juga mengerjakan desain, apalagi ini desain kapal. Kalo layarnya di-split, misal di satu sisi untuk mengerjakan desain, dan satu sisi lainnya untuk mengecek tampilan 3D, bakalan sulit untuk melihat setiap detailnya. Jadi sorry, split screen bukan solusi, Ferguso!

Trus apa solusinya?

“Sepertinya, aku butuh 1 monitor lagi deh..”



Ternyata 2 Monitor Aja Belum Cukup!

Beberapa hari kemudian, di atas meja kerjaku sudah nangkring 2 buah monitor. Kalo ditanya, emang ada bedanya kerja pakai 1 monitor dan 2 monitor? Jawabnya, tentu saja ada!

Dengan 2 monitor, pastinya aku gak perlu repot gonta-ganti tab untuk melihat detail dari gambar yang sudah kukerjakan. Jadi, di 1 monitor aku bisa leluasa mendesain atau mengedit gambar. Dan hasilnya otomatis terpampang di monitor ke-2 dengan tampilan 3 dimensi. Lebih praktis, dan lebih efisien tentu saja.

Tapi, mengerjakan sesuatu pakai software yang berat di komputer dengan 2 layar monitor ukuran besar ternyata repot juga. Kurang fleksibel. Ini baru terasa ketika aku harus meeting di luar dengan owner atau vendor.

Waktu meeting, biasanya aku membawa laptop yang hanya bisa menampilkan gambar 2D dari AutoCAD. Software ship design yang kami punya terlalu berat untuk diinstall di laptopku. Kalau aku ingin menunjukkan gambar yang ada di laptop, aku harus memutar atau menggeser laptopku supaya lawan bicaraku bisa ikut melihat gambar yang aku maksud. Kalau mereka menunjuk sesuatu dalam gambar, laptopnya harus diputar lagi. Begitu aja terus sampai meeting-nya selesai. Dalam sekali meeting, entah harus berapa kali si laptop diputar-putar. Hehehe.. kasian amat nasibnya laptop ๐Ÿ˜„.


Menggunakan 2 monitor memang sangat memudahkan pekerjaanku. Tapi ini hanya berlaku ketika aku sedang berada di depan komputer yang ada di meja kerjaku. Kalau aku meeting di luar kantor, atau harus mengecek ke lapangan, aku cuma bisa bawa laptop yang kemampuannya terbatas.

Aku jadi mikir. Kira-kira ada gak ya, perangkat komputer yang fleksibel. Bisa difungsikan sebagai desktop di meja kerja, tapi juga bisa buat dibawa-bawa meeting dan presentasi. Jadi harus powerful supaya bisa mengoperasikan software-software berat, tapi ukurannya ringkas biar gak berat kalo harus dibawa kemana-mana. Kalo bisa sih, punya 2 layar monitor supaya bisa memudahkan pekerjaan.



Jawabnya, ADA!

Tapi sayang, ADA-nya baru beberapa tahun kemudian. Dan sayangnya lagi, ADA-nya justru disaat aku sudah resign dari perusahaan shipyard tempatku bekerja dulu. ๐Ÿ˜ž

Zenbook DUO (UX8406), Satu Mimpi yang Terwujud Sepuluh Tahun Kemudian

7 Maret 2024. Aku menyaksikan acara launching laptop Zenbook DUO (UX8406) dengan perasaan nano-nano. Antara excited, senang, sedih, kesel, juga takjub, nyampur jadi satu. Aku excited bukan cuma karena melihat tampilan laptop yang canggih dan keren ini, tapi karena laptop seperti inilah yang pernah aku impikan dulu.

Siapa sangka, sepuluh tahun setelah aku memimpikan tentang perangkat kerja canggih yang fleksibel tapi powerful, ASUS menjawabnya dalam wujud Zenbook DUO (UX8406). Yang bahkan lebih canggih dan lebih keren dari yang dulu aku impikan.

Jadi kesel kaaan?? Kenapa laptop ini baru ada setelah aku resign? Coba dari dulu, pasti Pak Bos bakal dengan sukacita menyediakan laptop ini buat para engineer di kantor.

Apa aja sih keunggulan Zenbook DUO (UX8406) ini?

Laptop Revolusioner


Kenapa ASUS tiba-tiba kepikiran menciptakan sebuah laptop dengan dua layar? Yang pastinya sih ini bukan sesuatu yang tiba-tiba. Prosesnya sudah melewati riset panjang dan bertahun-tahun. Ya seperti cerita aku di atas. Aku ngerasain sendiri, bagaimana aku butuh sebuah monitor tambahan untuk memudahkan pekerjaan, gak cuma ketika di kantor. Tapi juga memudahkan ketika aku harus meeting di luar kantor. Tim desain ASUS pastinya juga merasakan hal ini. Makanya mereka memberikan solusi berupa laptop prototipe dengan dua layar di tahun 2018 bernama Project Precog.

Project Precog merupakan konsep awal Zenbook DUO (UX8406) yang dipamerkan di Computex 2018. Project Precog tetap menjadi laptop konsep pada saat itu karena ekosistem hardware, software, serta sistem operasi belum bisa memaksimalkan penggunaan layar ganda di laptop. ASUS kemudian mengembangkan sistem layar ganda di laptop bersama dengan software dan ekosistem lainnya di ZenBook Pro 15 (UX580) lewat ScreenPad™, serta ZenBook Duo (UX481) dan ZenBook Pro Duo (UX581) lewat layar tambahan ScreenPad™ Plus.

Perlu waktu setidaknya enam tahun bagi ASUS untuk terus menyempurnakan hardware dan software yang memudahkan interaksi pengguna laptop layar ganda sekaligus. Itulah mengapa Zenbook DUO (UX8406) bisa tampil sebagai laptop layar ganda terbaik di dunia, karena laptop ini tidak hanya revolusioner, tetapi juga telah melewati proses pengembangan secara konsisten selama bertahun-tahun.

Laptop dengan Desain Inovatif


Desainnya yang Inovatif menjadikan Zenbook DUO (UX8406) sebagai laptop dua layar terbaik di dunia. Zenbook DUO (UX8406) bukan sekadar laptop biasa karena dibekali dua layar 14-inci, keyboard yang bisa dilepas, dan penyangga khusus sehingga mudah untuk digunakan. Semua itu tergabung dalam satu desain yang sangat ringkas dan berfokus pada pengguna, serta mudah untuk dibawa bepergian.

Tampil sebagai laptop Intel® Evo™ Edition, Zenbook DUO (UX8406) menggabungkan kemampuan multitasking dengan mobilitas yang superior dalam bodi yang ringan, dengan bobot hanya 1,35 kg dan ringkas dengan ketebalan hanya 14,6 mm. Nah laptop yang kayak gini nih yang dari dulu aku impikan buat dibawa-bawa waktu meeting dengan owner atau vendor di luar kantor.

Kedua layar Zenbook DUO (UX8406) mengusung teknologi ASUS Lumina OLED yang telah tersertifikasi Dolby Vision®, Pantone® Validated, dan memiliki color gamut 100% DCI-P3 untuk memastikan reproduksi warna terbaik dan akurat. Layar tersebut juga telah mengantongi sertifikasi VESA DisplayHDR™ True Black 500 dan mendukung teknologi touchscreen sehingga bisa digunakan bersama dengan stylus ASUS Pen 2.0 yang dapat memberikan input secara presisi. Ini cocok banget buat menunjang pekerjaanku sebagai ship designer.

Desain keyboard yang dapat dilepas (detachable) pada Zenbook DUO (UX8406) juga memudahkan laptop ini untuk dibawa bepergian. Keyboard tersebut juga sangat mudah untuk digunakan karena pengisian dayanya dapat dilakukan secara otomatis saat Zenbook DUO (UX8406) digunakan pada Laptop Mode, yaitu ketika keyboard dipasangkan secara langsung ke bodi laptop. Tidak hanya itu, keyboard Zenbook DUO (UX8406) juga dirancang untuk digunakan seharian berkat sistem cerdas yang memungkinkan laptop untuk menggunakan koneksi langsung ke laptop saat digunakan di Laptop Mode, serta beralih menggunakan koneksi Bluetooth secara otomatis saat dilepas dari bodinya.

Fleksibel dengan Lima Mode Penggunaan


Memiliki perangkat kerja yang fleksibel adalah impianku sejak lama. Makanya begitu tau kalau Zenbook DUO (UX8506) ini memiliki 5 Mode Penggunaan yang bisa disesuaikan menurut kebutuhan penggunanya, aku excited banget.

Dual-Screen Mode

Mode seperti inilah yang paling aku butuhkan untuk mempermudah pekerjaanku sebagai Ship Designer. Mode ini juga yang bikin Zenbook DUO (UX8406) berbeda dari laptop-laptop lainnya. Kedua layarnya bisa dibuka penuh. Caranya dengan memposisikan laptop lebih tinggi menggunakan penyangga yang terintegrasi. Sehingga kita bisa melihat kedua layarnya dengan nyaman. Dalam mode ini, keyboardnya bisa dipasangkan langsung ke bodi laptop.

Desktop Mode

Buat kamu yang lebih nyaman dengan layar vertikal, Desktop Mode ini cocok banget. Kedua layar Zenbook DUO (UX8406) ini bisa diposisikan secara vertikal dan diletakkan berdampingan. Kalo aku sih ngebayanginnya, mode ini tuh bakal nyaman banget untuk browsing atau ngeblog.

Laptop Mode

Kalo dalam mode ini, tampilan Zenbook DUO (UX8406) gak beda dari laptop-laptop lainnya. Yang bikin beda adalah kenyataan bahwa yang ada di bawah keyboard adalah layar kedua dari laptop ini. Dengan mode ini, gak perlu repot lagi buka laptop di ruang terbatas, seperti di dalam pesawat misalnya.

Laptop Mode with Virtual Keyboard

Kalo kamu lagi gak pengen menggunakan keyboard fisik, copot aja. Gak usah kuatir, kamu tetap bisa mengetik melalui Screen Xpert yang bisa menghadirkan keyboard virtual. Menarik banget kan Zenbook DUO (UX8406) ini?

Sharing Mode

Naaah, mode ini nih yang aku perlukan ketika sedang meeting dengan owner atau klien. Dengan mode ini, gak perlu lagi muter-muter laptop ke segala arah supaya terbaca oleh lawan bicara kita. Cukup bentangkan layar Zenbook DUO (UX8406) hingga 180° sampai kedua layarnya bertolak belakang. Kemudian aktifkan sharing mode. Beres deh! Lagi-lagi aku cuman bisa gemes, kenapa gak dari dulu aja sih ada laptop yang kayak gini??

Performa Powerful Ditenagai AI


Zenbook DUO (UX8406) merupakan laptop AI dengan dua layar bersertifikasi Intel® Evo™ Edition yang dibekali prosesor bertenaga AI, Intel® Core™ Ultra 7 155H terbaru. Prosesor Intel® Core™ Ultra dilengkapi NPU atau Neural Processing Unit yang hadir secara spesifik untuk memproses aplikasi yang menggunakan AI. Semua aplikasi dan fitur yang bekerja menggunakan AI dapat dijalankan secara lebih baik tanpa menguras daya secara berlebihan.

Selain itu, prosesor Intel® Core™ Ultra 7 155H juga dibekali chip grafis Intel® Arc™ yang mampu menghadirkan performa hingga dua kali lipat dibandingkan dengan chip grafis terintegrasi di prosesor Intel® generasi sebelumnya. Chip grafis Intel® Arc™ juga sudah didukung berbagai teknologi grafis modern seperti real-time ray tracing, Xแต‰ Super Sampling, hingga DX 12 Ultimate dan Advanced Media Engine. Di Zenbook DUO (UX8406), Intel® Arc™ tidak hanya dapat mengakselerasi pemrosesan grafis, tetapi juga video encoding yang tentunya sangat penting untuk para pekerja kreatif.

Dengan performa yang powerful seperti ini, menginstal software ship design di laptop pastinya bakal gak ada masalah.

Ok well, meskipun sekarang aku sudah gak kerja di perusahaan shipyard lagi, tapi aku masih berharap Zenbook DUO (UX8406) ada di meja kerja di rumah. Yaah, pekerja kreatif mana sih yang gak tergiur dengan tampilan, fitur, dan performanya Zenbook DUO (UX8406) ini?

Dengan Zenbook DUO (UX8406) sepertinya acara mengedit video, bikin desain, nulis artikel, zoom meeting, sepertinya akan lebih menyenangkan. Bisa sat set was wus dalam satu kesempatan.



"Hadir dengan sistem operasi Windows 11, ASUS Zenbook DUO (UX8406) juga merupakan laptop berfitur Copilot untuk dukungan AI. Copilot di Windows 11 melengkapi keahlian dan kreativitas Anda dengan bantuan kecerdasan serta jawaban relevan.

Selain itu, sudah dilengkapi Office Pre-Installed, agar Anda bisa nikmati semua manfaat dengan PC yang lengkap – PC sudah termasuk Office Home & Student 2021. Aplikasi Office versi lengkap (Word, Excel dan PowerPoint) memberikan semua fungsi yang dibutuhkan dan diharapkan oleh penggunanya."



You Might Also Like

0 komentar