Karena Mereka Juga Berhak Bermimpi

Friday, September 18, 2015


Masa depan bukan hanya milik mereka yang tinggal di kota, 
anak-anak di pedalaman juga berhak bermimpi dan mempunyai cita-cita setinggi langit. 
Mereka juga berhak jadi orang hebat - adventurose

Sabtu, 12 September 2015. Menjadi hari yang akan selalu saya kenang dalam perjalanan hidup saya. Adakah sesuatu yang istimewa? Jawabnya bukan hanya ada, tapi banyak! Ya, terlalu banyak yang istimewa yang terjadi pada hari itu. Sampai-sampai saya bingung harus mulai bercerita dari mana.. hehehe... 

Tentang Pagi yang Berselimut Kabut

Pagi yang kelabu. Beberapa hari belakangan ini langit Batam memang selalu kelabu. Bukan karena mendung, tapi ini efek dari kabut asap kiriman dari Riau. Kabut asap yang bukan hanya mengotori langit Batam, tapi juga mengotori saluran pernapasan kita. Dan parahnya, kiriman asap seperti ini sudah menjadi seperti agenda tahunan saja. Rutin setiap tahun. 

Dan pagi itu, meski langit tampak kelabu, tapi hati saya rasanya penuh warna. Saya benar-benar excited menyambut Kelas Inspirasi Batam Hinterland yang pertama ini. Bukan hanya saya, tapi teman-teman relawan lain pun sangat antusias dengan KIB hinterland ini. Dari yang rencananya kegiatan hanya akan dilangsungkan di 1 sekolah membengkak menjadi 3 sekolah di 3 pulau yang berbeda. Para relawan pun dibagi menjadi 3 kelompok. Kelompok 1 di SDN 005 Galang di Pulau Panjang, kelompok 2 di SDN 003 Bulang di Pulau Akar, kelompok 3 di SDN 009 Bulang di Pulau Panjang. Dan kali ini saya bersama 16 relawan lain kebagian di kelompok 1.

***
 
Pukul 06.45 WIB rombongan kami berangkat dari meeting point di TOP 100. Sedikit terlambat dari waktu yang direncanakan. Kami bergegas menuju pelabuhan laut Sijantung yang lokasinya tak jauh dari Jembatan 5 Barelang. Iya, lokasi pelabuhannya memang tak jauh dari jembatan 5, tapi jarak dari tempat tinggal kami ke jembatan 5 itu adalah sekitar 1 jam perjalanan. Dan 1 jam perjalanan darat itu masih akan disambung dengan sekitar 30 menit perjalanan laut. Jadi mari kita nikmati bersama perjalanan panjang ini, kawan..

 Kapal yang menjadi angkutan kami menuju Pulau Panjang

Sebuah kapal kayu ukuran besar telah menunggu kami di dermaga. Kami semua bersyukur lega. Karena menurut laporan tim survey beberapa hari sebelumnya, mereka survey ke Pulau Panjang dengan menggunakan pompong. Dan nyaris saja pompong itu terbalik diterjang ombak dalam perjalanan pulang ke Batam. Pada bulan September, angin selatan yang membawa musim kemarau telah tiba. Pada musim ini, angin selatan bertiup kencang dan gelombang laut pun menjadi tinggi, sehingga biasanya para nelayan yang tidak memiliki kapal besar tidak akan turun melaut. Jadi pagi itu kami merasa lega karena tekong membawa kapal besar untuk mengantar kami ke Pulau Panjang. 

 Langit kelabu bukan karena mendung

Menuju Pulau Panjang

Tentang Sambutan yang Menghangatkan Hati

 Rumah-rumah di Pulau Panjang

Sekitar 30 menit kemudian kapal kami merapat ke salah satu pelantar di Pulau Panjang. Bukan pelantar beton, tapi ini pelantar kayu dengan tangga vertical yang jarak antar anak tangganya cukup bikin kami nyengir.. Tekong kapal sengaja memilih pelantar ini karena jaraknya lebih dekat dengan sekolah yang akan kami tuju. Untunglah. Karena barang bawaan kami pagi itu cukup banyak, dan pasti kami akan kewalahan kalau harus lewat pelantar beton yang jaraknya cukup jauh ke sekolah. 

Melihat rombongan kami sampai di pelantar, anak-anak SDN 005 Galang yang rupanya memang sudah menunggu kedatangan kami langsung berlarian menuju pelantar. Tanpa dikomando mereka langsung menyambut kami dengan tepuk semangat. Huaaaa... kakak terharu, deek!

 Wajah-wajah penuh rasa ingin tau

Wajah-wajah penuh rasa ingin tau itu telah menunggu kami di ujung pelantar. Kami pun berjalan beriringan menuju sekolah. 

 SDN 005 Galang di Pulau Panjang

Acara pagi itu dibuka dengan sambutan dari bapak kepala sekolah SDN 005 Galang. Beliau menyambut baik kedatangan kami ke sekolah mereka, begitu juga dengan para guru di sekolah ini. Setelah sesi perkenalan singkat para relawan, kami pun ber-senam pinguin bersama untuk pemanasan. Senangnya, para guru pun ikut turun ke lapangan. 

 Sambutan bapak kepala sekolah SDN 005 Galang

 Sesi perkenalan relawan

 Senam pinguin

Tentang Anak yang Tak Memiliki Cita-Cita

Saya kebagian masuk ke kelas 4, berdua dengan Vije. Ruang kelas 4 itu jadi terasa sangat luas bagi kami. Karena di dalam kelas itu hanya terisi 11 orang murid. Jumlah murid di sekolah ini hanya 76 siswa, dengan 9 orang guru. Jadi dalam setiap kelas memang hanya ada belasan murid. 

 Saya dan Vije bersama murid-murid kelas 4

Sesi pertama giliran Vije. Vije ini adalah seorang auditor. 

"Ada yang tau, apa itu auditor?" Tanya Vije.
"Auditor itu yang ngajar di kampus!" jawab salah seorang murid. 

Rupanya profesi auditor belum cukup dikenal oleh murid-murid kelas 4 ini. Jadi Vije mencoba menjelaskan secara sederhana seperti apa sih pekerjaan seorang auditor itu. Vije membuat contoh sederhana yaitu uang saku. Alhamdulillah, contoh sederhana ini cukup dimengerti oleh murid-murid kelas 4. 

30 menit kemudian giliran saya. Ya, kami cuma punya waktu 1 jam di dalam kelas. Dan 1 jam itu terpaksa kami bagi lagi menjadi 2 sesi untuk menjelaskan profesi kami masing-masing. 

Saya mengajak murid-murid kelas 4 untuk duduk lesehan di depan kelas. Dan sebelum mengenalkan profesi saya kepada mereka, saya lebih dulu bertanya tentang cita-cita mereka. 

 Bahagia berada di antara calon pemimpin bangsa

"Saya nak jadi polisi,"
"Saya tentara!"
"Saya guru matematika,"
"Pelaut!"
"Nak jadi guru ngaji!"
Seorang murid lelaki yang duduk persis di depan saya hanya menggeleng.  

"Cita-citanya apa?" saya coba mengulang pertanyaan saya yang tadi langsung disambut riuh oleh teman-temannya.
"Tak ada.." 

Deg!

"Kenapa tak ada?"
Pertanyaan saya hanya dijawab gelengan kepala.
"Resa sukanya apa?" tanya saya lagi.
"..."

"Kau kan suka pesawat.." celetuk teman yang duduk di sebelahnya.
"Resa suka pesawat?" tanya saya lagi, yang hanya dijawab anggukan oleh Resa.
"Resa tak mau jadi pilot?" pancing saya.
"Apa boleh?"

Deg! Entah kenapa jawaban polosnya itu membuat saya hampir tidak bisa menahan butiran bening yang sudah membuat mata saya berkaca-kaca sejak pertama kali mendengar ada anak yang tak mempunyai cita-cita. Lebih tepatnya, tidak berani bercita-cita. 

Seingat saya, sewaktu saya duduk di bangku kelas 4 SD, saya sudah memiliki cita-cita. Bukan hanya 1 cita-cita, tapi banyak cita-cita. Tapi anak ini...

"Kenapa tak boleh? Anak Indonesia harus punya cita-cita, setinggi langit." saya mencoba tersenyum, sambil berharap semoga butiran bening di mata saya tak jadi tumpah. 

Dari 30 menit waktu yang saya punya, saya hanya mengulas sedikit saja tentang profesi saya sebagai insinyur perkapalan. Selebihnya saya hanya memotivasi mereka agar berani bermimpi, dan berani bercita-cita setinggi langit. 

Kalian punya hak yang sama untuk bermimpi, nak! Jangan biarkan siapa pun merampas hak itu... Karena kalian pun berhak menjadi orang hebat!

Sebelum keluar kelas, mereka berjanji untuk mewujudkan cita-citanya. Agar tak hanya sekadar cita-cita di atas kertas penghias pohon impian. Aamiin.. Semoga Tuhan mendengar, dan mengabulkan semua cita-cita kalian.  

 Kalian semua berhak jadi orang hebat!

 Steffi bersama murid-murid kelas 3

Dzikra, Nadia, Anry, dan Yusuf bersama murid-murid kelas 1

 Nuri di antara murid-murid kelas 2

Devina dan Lia bersama murid-murid kelas 5

Bunda Lidya dan murid-murid kelas 6

Tentang Anak-Anak yang Tak Mengenal Kata Capek

 Anak-anak yang penuh semangat

Setelah sesi di dalam kelas selesai, waktunya bermain di lapangan. Atas permintaan bapak kepala sekolah, agar anak-anak di sekolah ini lebih banyak diajak berkegiatan fisik. Karena menurut beliau, energi yang dimiliki anak-anak pulau ini memang luar biasa. 

Karena itulah, kelompok kami sepakat untuk memberi hadiah alat-alat olahraga seperti bola, raket badminton, juga net untuk murid-murid SDN 005 Galang ini.  

Dan terbukti. Anak-anak itu begitu antusias dan semangat mengikuti semua games yang kami buat. Mulai dari senam pinguin, senam gemu famire, bermain kerang dan mutiara, bermain ular naga, permainan hulahoop, semua disambut dengan sukacita. Bayangin aja, senam pinguin sampe 4 kali, dan senam gemu famire sampai 3 kali, itu pun masih ditambah lari-larian keliling lapangan. Anak-anak itu luar biasa!

 Senam pinguin (lagi)

 Senam gemu famire

Bermain kerang dan mutiara

Bermain ular naga

Bermain hulahoop
 
Sewaktu kami sedang seru-seruan di lapangan, para bapak dan ibu guru ternyata sudah menyiapkan kelapa muda buat kami. Subhanallah! Tau banget kalau kami haus, hehehe... 

 Mereka adalah para guru hebat

Dan tau nggak, anak-anak itu sampe nggak ada yang mau pulang. Teruuus aja ngajak main di lapangan. Beda ama anak-anak di Batam, yang setelah sesi belajar langsung pada tanya facebook, twitter, dan minta pin BB. Anak-anak Pulau Panjang ini belum terkontaminasi dunia luar. Bagi mereka, hidup hanyalah bermain dan bermain. Teruslah bermain, nak.. Berbahagialah kalian karena masih memiliki lapangan luas untuk bermain dan berlarian seperti ini. Dunia kalian bukanlah kotak seukuran 5' bernama gadget. 

 Murid-murid kelas 4

Rasanya, baru kali itu saya merasa bersyukur melihat jaringan operator seluler tidak menjangkau daerah di mana saya berada. 

Tentang Hati yang Tertinggal di Pulau Panjang

Menikmati kelapa muda. Segeerrr....
 
Dengan berat hati kami berpamitan pada bapak kepala sekolah dan semua guru di SDN 005 Galang. Terima kasih adik-adik.. kami belajar banyak hari ini. Senyum kalian masih terbawa di hati sampai hari ini. Bisa jadi 20 tahun lagi, kalian pemilik senyum-senyum itulah yang akan menjadi pemimpin bangsa ini. Teruslah bermimpi, beranilah bercita-cita setinggi langit. Kalian semua berhak menjadi orang hebat!

Foto bareng

Terima kasih tak terhingga untuk saudara-saudaraku, Relawan Kelas Inspirasi Batam. Bangga mengenal kalian. Terima kasih tim kelompok 1: Kurnia, Nuri, Vije, Bunda Lidya, Danan, Anriany, Steffi, Devina, Tri Netti, Lia, Niken, Darwis, Yusuf, Dzikra, Huda, Nadia, dan Wilson. Kalian luar biasa, gaes! 

 Bangga mengenal kalian...

Tau nggak, menjadi relawan Kelas Inspirasi Batam adalah salah satu momen terbaik dalam perjalanan hidup saya. 

we love you too, adek-adek SDN 005 Galang...


You Might Also Like

10 komentar

  1. Pakai penyambutan segala ya mbak. Ramai pula. Liatnya aja terharu apalagi mbak yang merasakannya langsung.


    Pulaunya bersih. Tak nampak ada sampah. Sekolahnya terlihat bagus. Anak2 juga terlihat sangat antusias. Kegiatannya benar2 seru.

    Mbak Dee hebat. Salut 👍
    Selamat menikmati moment indah dalam hidupmu mbak :)


    ReplyDelete
  2. Kelapa muda emank andalan klu di pulau ya kk dian :) . Bikin kita ga bisa nolak hehe

    ReplyDelete
  3. Inspiratif mb deeee. Aku suka kegiatan beginian mbak karena bisa berbagi dengan anak-anak

    ReplyDelete
  4. kak, acaranya keren!!
    yudi bersyukur di aceh akhirnya juga ada kelas inspirasi. tinggal tunggu waktu launchingnya aja. kemarin soalnya sempet di tawarin jadi salah satu inspirasi. tapi ku jawab. aku ini bisa ngasih apa? kerjaanku cuma ayah panggilan saat ini :(

    ReplyDelete
  5. serunya mbaaa KI jelajah pulaunyaa...semoga makin menginspirasi anak2 buat maju dan berkarya, itu tampilan blognya anyarr,, kereeen

    ReplyDelete
  6. Semoga impian mereka tak sekelabu awan yang lagi mengepung ya mbak :)

    ReplyDelete
  7. Di situ Saudara saya Smua
    dan di situ Kampung saya #PulauPanjang
    smoga saudara sya mnjadi anak yg berguna
    SAya dari anak SDN 016 Sagulung sungailekop batam
    ^^dari saya untuk kelas inspirasi batam^^
    by : Imam Alfa Rozi

    ReplyDelete
  8. Reportasenya lengkap banget :D
    Great! :)

    ReplyDelete
  9. KI bakalan dimulai lagi nih di Palembang mbak Dee. Di satu sisi semangat pingin ikutan lagi (dan udah daftar) hanya di sisi lain jujur ngebayangin capeknya itu hahahahaha

    ReplyDelete