Masjid Penyengat. Unik dan Bersejarah

Monday, June 29, 2015


Warnanya kuning. Terlihat mencolok dibanding bangunan lain yang ada di sekitarnya. Itulah Masjid Raya Sultan Riau. Atau yang lebih populer dengan nama Masjid Penyengat.

Masjid ini terletak di Pulau Penyengat. Sebuah nama yang mungkin masih terdengar asing di telinga. Wajar saja, karena Pulau Penyengat ini hanyalah sebuah pulau kecil seluas 2 km², dan merupakan satu dari ribuan pulau yang tersebar di wilayah Kepulauan Riau. Berjarak sekitar 6 km dari Tanjungpinang, ibukota Provinsi Kepulauan Riau. 

Masjid Raya Sultan Riau adalah salah satu bangunan yang tidak boleh dilewatkan kalau kita berkunjung ke Pulau Penyengat. Masjid dengan warna kuning yang khas ini menjadi salah satu bangunan istimewa di Pulau Penyengat. Keistimewaan itu terlatak pada bahan yang digunakan untuk membangun masjid tersebut. 

 Masjid Penyengat

Masjid ini dibangun dengan menggunakan campuran putih telur untuk memperkuat dinding kubah, menara dan bagian lainnya. Sedangkan kuning telurnya dipakai untuk mewarnai dinding dan kubah masjid. Konon, dibutuhkan telur berkapal-kapal untuk membangun masjid ini. 

Masjid yang berdiri pada 1 Syawal 1249 Hijriah atau pada tahun 1832 Masehi ini didirikan oleh Raja Abdul Rahman-Yang Dipertuan Muda VII. Masjid ini memiliki 17 buah kubah. Ini sesuai dengan jumlah rakaat shalat wajib dalam sehari semalam. 

Masid ini berukuran 54,4 x 32,2 meter. Bangunan induknya berukuran 29,3 x 19,5 meter, disangga oleh empat buah tiang. Di halaman masjid terdapat dua buah rumah sotoh, yang biasa digunakan sebagai tempat singgah bagi para musafir dan berfungsi juga sebagai tempat musyawarah.

 Rumah sotoh

Sayangnya kita tidak diijinkan untuk memotret bagian dalam masjid, padahal banyak yang menarik di dalam masjid ini. Salah satunya adalah sebuah mushaf Al Qur'an yang ditulis tangan oleh Abdurrahman Istambul, seorang putra Riau yang dikirim belajar ke Turki pada tahun 1867. Mushaf Al Qur'an ini diletakkan dalam sebuah kotak kaca. Selain mushaf Al Qur'an, juga terdapat kitab-kitab kuno yang merupakan koleksi dari perpustakaan yang didirikan oleh Raja Muhammad Yusuf al Ahmadi-Yang Dipertuan Muda Riau X.

Ruangan dalam masjid tidak terlalu luas. Dinding bagian dalam masjid berwarna putih, terlihat kontras dengan karpet yang berwarna hijau. Mimbarnya terbuat dari kayu jati dengan ukiran khas Jepara. Di salah satu bagian masjid juga terpasang lampu kristal yang merupakan hadiah dari Kerajaan Prusia di Jerman. 

Berkunjung ke Pulau Penyengat, selalu saja membuat imajinasi saya berkelana pada kejadian di awal abad 18 yang lalu. Ketika Sultan Mahmud menikahi Engku Putri Raja Hamidah, putri dari Raja Haji Fisabilillah-Yang Dipertuan Muda Riau IV. Pulau Penyengat ini adalah mahar pernikahan mereka. Subhanallah!

 Gapura masjid

Untuk menuju Pulau Penyengat, kita bisa menuju dermaga penyeberangan yang ada di sebelah kiri Pelabuhan Sri Bintan Pura. Dari sana kita bisa menyeberang menggunakan pompong, sejenis perahu motor kecil berbadan kayu yang menggunakan mesin tempel. Tidak jauh, hanya sekitar 10 menit perjalanan. Ongkosnya Rp 5.000 per orang. 

Dari dalam pompong, kita bisa melihat kemegahan Masjid Raya Sultan Riau. Keempat menaranya terlihat anggun menjulang. Seolah menyambut hangat para pengunjung yang datang. 

 Masjid Penyengat dilihat dari dalam pompong

Untuk berkeliling Pulau Penyengat, kita bisa naik bemor atau becak motor. Tarifnya Rp 25.000 per bemor. Dengan naik bemor, kita akan mendapat informasi dan cerita-cerita menarik tentang Pulau Penyengat dari supirnya, yang memang sekaligus merangkap sebagai tour guide. 

Pulau Penyengat, dengan Masjid Raya Sultan Riau-nya adalah saksi sejarah yang menggambarkan kebesaran Kerajaan Melayu Riau pada jaman dahulu. Peninggalan ini harusnya sama-sama kita jaga. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah bangsanya. 

Tertarik untuk menunaikan sholat teraweh di masjid Penyengat ini?

You Might Also Like

11 komentar

  1. bersejarah sekali masjidnya ya mbak....
    terawih disana kayaknya menyenangkan dan terasa syahdu mbak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo sini ke Batam, Lu... nanti kuajakin ke masjid Penyengat ini deh :)

      Delete
  2. Pulaunya kecil tapi punya masjid sebagus ini. Dari kejauhan, pucuk-pucuk menaranya terlihat indah berlatar warna hijau pepohonan. Cakep.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mbak... suka banget ngeliat penampakan masjid ini dari laut. Makanya saya selalu milih duduk di depan kalau naik pompong menuju Pulau Penyengat ini. Biar bisa puas menikmati 'sambutan' hangat dari Penyengat :)

      Delete
  3. Kalo ke Batam aku mau diajakin ke sini mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayoook ke Batam, mbak.. Nanti kuajakin island hopping deeh :)

      Delete
  4. Designya Khas orang Sumatra ya dengan ornamen kayu. Ada Karpet lagi... biar nyaman shalatnya.

    ReplyDelete
  5. kak, foto tampak depannya mirip kali sama masjid tua indrapuri aceh besar loh kak.. jangan2...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan-jangan... mereka masih bersaudara :D

      Delete
  6. waahh sampingnya laut pula, kebayang kl solat malam di sini dengernya suara air,, segeerrrrr

    ReplyDelete