Karena Buatku, Jogja Adalah Sebuah Kata Pulang

Sunday, May 31, 2020


"Ijinkanlah aku untuk selalu pulang lagi. Bila hati mulai sepi tanpa terobati" Yogyakarta - KLA Project

Jogja. Saya tidak dilahirkan di kota ini. Tidak juga tumbuh dan besar di sana. Tapi gak tau kenapa, setiap ke Jogja, saya selalu merasa sedang pulang ke kampung halaman, mengunjungi keluarga dan orang-orang yang saya rindukan.

Kalau kata teman saya, Jogja itu terbuat dari mantan dan kenangan. Saya sependapat. Ya, meskipun saya gak punya mantan orang Jogja, tapi saya punya ribuan kenangan bareng mantan di Jogja. Jadi gak usah heran kalau saya sering banget ke Jogja. Bisa sebulan sekali, bahkan lebih. Kalau ada yang tanya, "ngapain ke Jogja?" Biasanya saya jawab, "menuntaskan rindu."

Dan setelah hampir tiga bulan #dirumahaja menjalani masa karantina demi memutus rantai penyebaran Covid-19 ini, saya ngerasa rindu banget ama Jogja. Sampai-sampai, dalam deretan panjang wishlist yang ingin saya lakukan setelah masa pandemi Covid-19 ini berakhir, traveling ke Jogja berada di urutan pertama. Ya, saya ingin menuntaskan rindu pada Jogja.

Baca juga: 24 Jam di Jogja Mau Kemana?

Trus, kalau sudah di Jogja, mau ngapain aja sih? Banyak! Iya. Banyak yang ingin saya lakukan di Jogja untuk menuntaskan rindu. Di antaranya adalah: 

Menyapa Merapi dari Bukit Klangon

Satu hal yang selalu saya rindukan dari Jogja adalah bisa menikmati anggun dan angkuhnya Merapi dari jarak dekat. Dan menurut saya, Bukit Klangon merupakan tempat yang paling pas untuk itu. Bukit ini berada di kaki Gunung Merapi, di ketinggian 1100 meter di atas permukaan laut. Tepatnya di Kalitengah Lor, Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta.

Penampakan Merapi dari salah satu warung kopi di Cangkringan

Dengan sepeda motor pinjaman, biasanya pagi-pagi sekali saya sudah melaju ke arah Cangkringan. Demi bisa menikmati landscape Gunung Merapi dari Bukit Klangon tanpa terhalang kabut. Pagi hari memang waktu terbaik untuk mengunjungi Bukit Klangon. Karena kalau sudah agak siang, Puncak Merapi seringnya sudah tertutup kabut.

Sepeda motor pinjaman nampang di Bukit Klangon

Jalan menuju ke Bukit Klangon cukup menantang dan memacu adrenalin. Tapi pemandangan di sekitarnya luar biasa indah. Tempat yang cocok buat penggemar kegiatan ekstrim dan instagramer pemburu spot cantik. 

Untuk menikmati pemandangan dari Bukit Klangon, setiap pengunjung harus membayar tiket masuk sebesar Rp 5000. Murah meriah. Dengan biaya segitu, kita bisa puas menikmati keindahan sekitar bahkan hingga larut malam. Karena memang gak ada batasan jam operasional yang berlaku di sana. 

Melengkapi Kunjungan ke Candi-Candi yang Terlupakan di Sleman

Kalau saya mengibaratkan Jogja sebagai kampung halaman, maka Sleman adalah rumah buat saya. Selain Cangkringan dan Gunung Merapinya, candi-candi yang bertebaran di Sleman adalah godaan yang sulit untuk saya abaikan.

Saya memang menyukai dan selalu excited dengan hal-hal yang berbau sejarah. Tau kenapa? Karena di tempat-tempat yang menyimpan cerita-cerita bersejarah itu imajinasi saya bisa bebas berkelana. Menembus ruang dan waktu, membayangkan kira-kira apa yang terjadi di tempat itu pada masa lalu. 

Di Sleman, salah dua candi yang terkenal adalah Candi Prambanan dan Candi Ratu Boko. Tapi yang menjadi incaran saya bukanlah kedua candi tersebut. Yang menarik buat saya justru candi-candi yang kurang terkenal bahkan mungkin terlupakan.

Candi Gebang

Candi Kalasan

Candi Sambisari

Saya baru sempat mengunjungi Candi Ijo, Candi Sambisari, Candi Kalasan, dan Candi Gebang. Masih banyak candi di Sleman yang bikin saya penasaran. Sebut saja Candi Barong, Candi Abang, Candi Klodangan, Candi Kedulan, dan masih banyak lagi. Semua sudah masuk daftar antrian untuk saya kunjungi. Makanya kalau ada kesempatan kembali ke Jogja, saya ingin melengkapi tulisan tentang candi-candi menarik namun mulai terlupakan yang ada di Sleman.

Baca juga: Candi-Candi yang Terlupakan di Sleman

Menikmati Sego Godog Pak Pethel di Bantul

Sudah pernah mencoba Bakmii Godog Jogja? Saya yakin, 99% akan menjawab sudah. Bakmi godog memang merupakan salah satu kuliner yang sering diburu traveler yang berkunjung ke Jogja. Penjual bakmi godog pun tersebar di seantero kota yang berjuluk kota pelajar ini. Yang terkenal ada Bakmi Pele, Bakmi Kadin, dan Bakmi Mbah Gito.

Bakmi Kadin

Tapi kalau Sego Godog? Mungkin masih banyak yang asing dengan kuliner yang satu ini. Awal perkenalan saya dengan Sego Godog Pak Pethel yang berlokasi di Sewon, Bantul, adalah waktu liburan akhir tahun 2018 lalu. Tampilan sego godog sekilas mirip soto. Tapi ini unik sih. Karena nasinya itu digodog (direbus) bareng kuah kaldu, sayuran, telur, dan bahan pelengkap lainnya. Dimasaknya menggunakan tungku arang. Satu penggorengan untuk satu porsi sego godog. Dan di sana hanya ada 3 penggorengan. Jadi kudu sabar, soalnya yang ngantri banyak. Ngantrinya pakai nomor antrian. Bahkan ada yang antri lewat SMS.

Pembeli sego godog yang ngantri nunggu pesanan

Sego godog on progress

Sego Godog Pak Pethel ini porsinya jumbo. Kalau gak yakin bisa ngabisin satu porsi sendiri, mending beli satu porsi untuk berdua. Selain biar gak mubazir, juga biar lebih romantis.. #eaaa

Sego godog

Di warung Pak Pethel, kalau kita pesan teh panas, kita bakal dikasih 2 cangkir teh sekaligus. 1 cangkir berisi teh plus gula batu, dan 1 cangkir berisi teh tawar. Jadi kalau ngerasa tehnya terlalu manis, bisa dituang teh tawar. Atau kalau tidak suka manis, ya minum aja teh tawarnya. Karena saya peminum segala, ya saya minum aja keduanya. #ogahrugi

Teh manis & teh tawar

Satu porsi sego godog harganya Rp 12.000. Plus teh panas jadi Rp 15.000. Enak dan mengenyangkan. Cocok banget buat dinikmati malam-malam. Apalagi kalau pas musim hujan. Hmmm...

Hunting Foto di Taman Sari dan Warung Boto

Salah satu keinginan receh saya kalau ke Jogja lagi adalah hunting foto keceh di Taman Sari dan Situs Warung Boto atau Pesanggrahan Rejawinangun buat ngisi feed instagram. Hahaha receh banget ya alasannya. Maklum, dua kali kunjungan ke tempat itu hasil fotonya gak ada yang memuaskan. Pertama karena hujan, kedua karena saking ramainya.

Mau foto sepatu aja susah 😅

Ya, siapa sih yang gak pengen punya foto cakep waktu traveling. Apalagi kalau yang dikunjungi itu tempat menarik yang punya latar belakang sejarah yang juga menarik seperti Taman Sari dan Situs Warung Boto. 

Selain pengen hunting foto di Taman Sari dan Situs Warung Boto, saya juga tertarik dengan sejarah dari kedua bangunan yang instagramable ini. Pasti sudah pada tau kalau Taman Sari ini dulunya adalah tempat pemandian keluarga keraton. Selain sebagai tempat rekreasi keluarga keraton, taman yang dijuluki water castle ini juga difungsikan sebagai benteng pertahanan dan tempat beribadah.


Tembok tebal dan tinggi yang dibangun mengelilingi bangunan taman, gerbang yang dilengkapi tempat penjagaan, ruang tempat menaruh persenjataan, juga lorong bawah tanah yang menghubungkan satu tempat ke tempat lain, adalah bukti kalau Taman Sari ini dulu juga difungsikan sebagai benteng pertahanan. 

Taman Sari pada jaman dulu juga digunakan sebagai tempat beribadah dan meditasi bagi sultan. Bagian taman yang difungsikan sebagai tempat ibadah adalah Sumur Gumuling dan Pulo Panembung.


Tak beda jauh dengan Taman Sari, Situs Warung Boto dulunya juga merupakan pesanggrahan dan tempat pemandian bagi raja dan keluarganya. Saya penasaran dengan situs yang satu ini. Makanya saya pengen balik lagi ke sana. Saya ingin mengulik dan mempelajari lebih jauh tentang sejarahnya. Dan tentu saja, sekalian hunting foto keceh buat stok postingan instagram. #eaaateteeep



Menginap Nyaman, Kantong Aman

Hal lain yang selalu bikin saya ingin kembali ke Jogja adalah karena cukup banyaknya pilihan hotel di Jogja yang sesuai dengan keinginan dan budget saya. 

Untuk urusan penginapan, saya senang menggunakan RedDoorz. Karena selain banyak pilihan di hampir setiap sudut Jogja, harganya juga cukup ramah di kantong saya. RedDoorz menyediakan banyak pilihan hotel dengan harga di bawah Rp 100.000. Jadi, mencari hotel murah di Jogja yang sesuai keinginan saya bukan lagi masalah. Saya bisa liburan dengan nyaman, kantong tetap aman, dan rindu pun terbayarkan.


***

Jadi cuma itu yang saya rindukan dari Jogja? Ya enggaklah! Kalau mau dijembrengin semua hal yang saya rindukan dari Jogja, tulisan ini bisa jadi panjang banget, hehehe. Apalagi kalau ngebahas kerinduan saya akan hal-hal receh yang mungkin buat orang lain gak penting. Seperti kerinduan saya pada hujan rintik-rintik di Stasiun Lempuyangan, yang menurut saya merupakan kolaborasi sempurna untuk memutar ulang ribuan kenangan dalam folder memori. Saya juga rindu berboncengan keliling Jogja malam-malam naik sepeda motor pinjaman sambil menyanyikan lagu-lagu KLA Project. Bahkan saya pun rindu sekadar duduk di sudut dapur milik Manda, sahabat saya, sambil numpang makan ngobrol ngalor ngidul. 

Ternyata sereceh dan sesederhana itu yang saya rindukan dari Jogja. Tapi sereceh apapun itu, yang namanya rindu tetap saja menunggu untuk dituntaskan. Semoga badai Covid ini segera berlalu. Rasanya sudah gak sabar ingin segera pulang ke Jogja, untuk menuntaskan segala rindu.

You Might Also Like

20 komentar

  1. Asli deehh super kangen sama Jogja! Dan bagiku, Jogja juga udah jadi rumah kedua. Mau berkali-kali berkunjung ke kota ini juga hayookk. Nggak ada bosen-bosennya deh.

    ReplyDelete
  2. Saya juga tinggal di jogja baru sekitar 2 bulan nan mba, dan saya betah wkwk

    ReplyDelete
  3. Semua tentang jogja emang membuat rindu, kutunggu di jogja yaaa

    ReplyDelete
  4. Duuuh...jadi pingin pulang. Menjelajah kotabaru, terban, ke ugm, sagan, gramedia dan tentu saja ke rumah ibu.

    ReplyDelete
  5. Salam kenal dari Bunda. Wah! Baru tau nih ada hotel yang memiliki beragam kamar dengan tarip aduhai dibawah 100K. Nama hotel Reddoorz langsung nyantel di benak, hehe... Bunda kl ke Jogja selaku nginep divrmh famili. Maklum jarang ketemu jd gak boleh nginep di hotel. Tapiii...hunting by pho e temen2 blogger gak pernah lupa, bahkan sll pasang status "Jogja here I come" Semacan pemberitahuan tak langsung buat temen2 blogger Jogja. Yang dati Oursorejo juga lho janjian kopdar di Candi Borobudur. So sweet. Jd pengen lg ke Jogja. Kangeen.

    ReplyDelete
  6. Wah membaca ini aku jadi kange Jogja, dulu Bakmi Mbah Gito adalah favoritku. Selalu kesana sama temen-temen kuliah.

    ReplyDelete
  7. Dari dulu senangnya main ke Jogja mbak, apalagi aku belum pernah nih ke Merapi. Next trip pasti main ke Jojga lagi bareng keluarga btw aku penasaran sama Sego Godog mbak. Nginapnya di RedDoorz aja ya, aku juga suka nginap di sini mbak e.

    ReplyDelete
  8. Jadi makin kangen Jogja nih Mbak... Terakhir ke Jogja udah lama, 3 tahunan keknya. Itupun jalan-jalan sama rombongan RT.
    Emamg6 Jogja tuh ngangenin banget meskipun nggak lahir dan besar di sana.

    Btw galfok sama motor trail-nya. Hehe

    ReplyDelete
  9. Duh, jadi kangen Yogya nih, mbak.
    Semoga setelah pandemi covid-19 sudah mereda, saya dan suami bisa berkunjung ke yogya kembali.

    ReplyDelete
  10. Yogya kota yang ngangenin banget emang, berkali-kali ke sana juga tak pernah ada kata bosan.. hehe

    ReplyDelete
  11. Tambah rindu berat. Rencananya tahun depan bakal ke Yogya lagi semoga Allah mudahkan dan pandemi ini berakhir

    ReplyDelete
  12. Jogja memang selalu nganggenin ya :) saya baru satu kali kesana dan pengen lagi karena belum ke eksplor semuanya hehee Taman sari batal masuk krn antrian mengular dan di tengah2 antrian anaks aya ngadat hahahaa

    ReplyDelete
  13. Saya malah belum puas atau mungkin nggak akan pernah puas explore Jogja ya Dee. Ke sana cuma flash banget. Jadi belum kemana-kemana sebenarnya. Baru satu dua tempat doang dan itu tidak mewakili sama sekali.

    ReplyDelete
  14. Menyoal sego godog, pertama kali kenal ini malah di Pasar Sapi, yang di Salatiga itu loh. Setiap kali mau ke Merbabu kan nglewatin tuh, mampir deh di sana. Tapi apaaa ya sebutannya, masaknya kekgitu deh sama. Cuman itu nasi plus mie sih isinya. Kayak nasi goreng mix sama mie godog perasaanku. :)

    ReplyDelete
  15. Jogja emang spesial ya mbak, duh jd ikut2an rindu nih. Reddoorz btw emang andalan bgt kl pas pergi2 hemat tapi berkualitas

    ReplyDelete
  16. Wishlishku juga ke Jogjaa.. Padahal suami baru aja dapat SIM A dan rencana mau ke Jogja bareng keluarga, eh belum jadi hihi.. Saya pun kesana baru 3 kalian, tapi kangennya beda gitu, suasananya MasyaAllah.. ^^

    ReplyDelete
  17. Saking kangennya aku juga kembali menikmati wisata di Jogja, aku beli oleh oleh khas sana untuk kunikmati bersama keluarga
    Ah Jogjaaa

    ReplyDelete
  18. Ga sedikit yang bilang Jogja itu ngangenin, even dia sama sekali bukan orang yang lahir di sana dan besar di sana. Duh, penasaran, seberapa besar daya magisnya di saya yaa. Benarkah se-ngangenin itu Mba?

    ReplyDelete
  19. Sama kayak ibu dan suamiku...Yogya adalah pulang karena ibu lahir dan besar di Yogyakarta dan suami dari bayi hingga dewasa di Yogyakarta. Aku hanya sesekali berkunjung jika liburan dan buatku Yogya spesial. Banyak jejak di sana

    ReplyDelete
  20. Ngeliat postingan ini aku jadi kangen banget maen ke Jogja. Ternyata masih banyak tempat yang belum aku eksplore. Terima kasih untuk rekomendasi penginapannya ya :)

    ReplyDelete