Senja Istimewa di Desa Braja Harjosari

Monday, April 16, 2018


Sore itu cerah. Setelah melewati perjalanan cukup panjang dengan medan yang lumayan aduhai ajrut-ajrutan, akhirnya kami sampai di padang savana Braja Harjosari. Lega rasanya. Sehabis bergelap-gelap dalam ruang sempit di Gua Pandan, berada di tempat terbuka dan luas seperti ini tuh rasanya anugerah banget!

Sebenarnya, Braja Harjosari ini tidak terlalu jauh. Jaraknya hanya sekitar 33 kilometer saja dari Sukadana, ibukota Lampung Timur. Tapi berhubung hari itu kami berangkatnya dari Desa Girimulyo, jarak tempuhnya jadi lebih panjang, sekitar 55 kilometer. Ditambah lagi dengan kondisi jalan yang gak seluruhnya mulus. Jadi yaa.. nikmatin aja kalau perjalanannya jadi terasa lebih panjang. 

Welcome to Wisata Desa Braja Harjosari

Braja harjosari
Welcome to Wisata Desa Braja Harjosari

Wan Yazid menepikan mobil tak jauh dari plang bertuliskan "Welcome to Wisata Desa Braja Harjosari". Kami pun bergegas turun. Tak ingin menyia-nyiakan sore yang sebentar lagi beranjak petang itu. Mbak Sari, yuk Annie dan Ika langsung berjalan ke arah panggung yang ada di sudut lain padang savana. Alih-alih menyusul mereka, saya, Rian dan mbak Rien malah asik foto-foto di atas dermaga kayu yang ada di tepi Sungai Way Penet. 

Di seberang sungai itu adalah TNWK

Bukan penjaga dermaga

Sungai yang ada di hadapan kami itu adalah pemisah antara kawasan Braja Harjosari dan Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Karena lokasinya yang berdekatan ini, sangat memungkinkan bagi kita untuk melihat langsung gajah-gajah liar, yang mungkin sedang asik jalan-jalan sore atau sedang mencari makan di sekitar perbatasan. 

Sungai Way Penet

Tapi yaa..., gajah-gajah itu kan bukan gebetan kamu yang bisa kamu hubungi untuk diajak janjian. Mereka adalah hewan liar yang hidup bebas di alamnya. Jadi jangan terlalu berharap bisa melihat mereka tiba-tiba melintas di hadapan kamu dan say hi sambil melambai-lambaikan belalainya ya.. 😁😁😁

Dan sore itu, kami termasuk yang tidak beruntung bertemu dengan rombongan gajah yang sedang jalan-jalan sore di sekitar Sungai Way Penet. 

Sesi pemotretan di dermaga

Setelah puas foto-foto aneka gaya di dermaga kayu, barulah kami menyusul teman-teman lain. Berjalan membelah padang ilalang menuju bangunan panggung tempat teman-teman lain menunggu. Di sana kami melihat ada seekor kuda berwarna coklat. Beberapa pengunjung bergantian menungganginya untuk diajak jalan-jalan melintasi padang savana. Saya suka pemandangan seperti ini. Dimana padang savana, seekor kuda, dan senja berada dalam satu frame. 

Si Boy

Sepertinya, kuda coklat bernama Boy itu memang bintang di padang savana Braja Harjosari ini. Dan sepertinya juga, ia memang sudah terlatih untuk itu. Gayanya bisa manis gitu melenggang anggun di tengah hamparan rumput. Seolah sengaja berpose di depan puluhan kamera yang memang terarah padanya. Pantes aja penggemarnya jadi pada baper sewaktu Boy digiring kembali ke kandang. 

Sampai ketemu lagi, Boy..

Senja dan Secangkir Kopi

Buat saya, menikmati senja itu cocoknya sambil ditemani secangkir kopi. Gak tau ya, rasanya kalo sore-sore lagi berada di sebuah tempat yang indah, yang pertama kali ada di pikiran saya adalah kopi. Rasanya gak ada yang bisa ngalahin nikmatnya duduk bengong menunggu detik-detik mentari kembali ke peraduannya sambil menikmati secangkir kopi. 

Gazebo untuk bersantai

Dan sewaktu sore itu saya melihat ada dua teko yang masing-masing berisi teh dan kopi, saya langsung merasa bahagia. Buru-buru saya tuang kopi ke dalam gelas, dan duduk diam-diam menikmati langit yang perlahan-lahan berganti warna. Karena sudah terlanjur pe-we, saya pun menolak sewaktu mbak Rien, Rian dan mbak Sari mengajak naik kapal menyusuri Sungai Way Penet. Ditemani kopi aja saya udah bahagia kok, apalagi kalo ditemani kamu.. #eaaa

Padang savana Braja Harjosari

Kuliner Istimewa Pelengkap Bahagia

Pihak pengelola Wisata Desa Braja Harjosari rupanya masih menyiapkan kejutan lain untuk kami. Yaitu makan malam dengan menu-menu khas yang bahan bakunya berasal dari hasil bumi dan komoditi unggulan Desa Braja Harjosari. Ada nasi putih, nasi tiwul, pindang baung, gulai ikan lais, dan lalapan segar. Semua makanan itu adalah hasil bumi Desa Braja Harjosari.

Kuliner istimewa ala Braja Harjosari

Katanya, kalau nasi putih cocoknya sama pindang baung. Kalau nasi tiwul cocoknya sama gulai ikan lais. Saya langsung memilih pasangan nasi tiwul dan gulai ikan lais. Eh, tau tiwul kan? Tiwul adalah makanan pokok pengganti beras yang terbuat dari singkong. 

Dulu, saya taunya tiwul itu sejenis jajan pasar temennya getuk, sawut, grontol, dll. Biasanya mama sering beli kalau ke pasar. Tiwulnya dicampur gula merah dan disajikan dengan parutan kelapa. Jadi selama ini saya taunya, tiwul itu penganan manis. Baru kali ini saya nyobain tiwul dimakan dengan lauk. Ternyata enak.

Nasi tiwul dan gulai ikan laisnya juara banget! Saya makan sampai nambah-nambah saking nikmatnya. Catet ya, nambah-nambah. Itu artinya, nambahnya lebih dari sekali. Hahaha, laper apa doyan, mbak? Etapi beneran loh. Ternyata nasi tiwul dimakan pakai gulai ikan lais itu cocok banget. Apalagi makannya rame-rame dalam suasana penuh kehangatan dan keakraban. 

Bersama warga Desa Braja Harjosari. Dok. Katerina

Sungguh, nasi tiwul dan gulai ikan lais itu menjadi penutup sempurna senja istimewa di Desa Braja Harjosari. Saking istimewanya, kami sampai lupa kalau masih harus gelap-gelapan jalan kaki melintasi padang savana karena wan Yazid memarkir mobilnya nun jauh di seberang sana. Hahaha.. 

***

Next time, kalau ke Braja Harjosari lagi saya maunya nginep di sana. Di rumah penduduk yang memang sudah disiapkan sebagai homestay. Pengen lebih lama menikmati suasana desanya. Pengen belajar langsung mengolah singkong menjadi tiwul. Pokoknya pengen merasakan kehidupan sehari-hari masyarakatnya. 

Foto bareng setelah kekenyangan. Dok. Katerina

Senja di Braja Harjosari hari itu memang bukan senja terindah yang pernah saya lewati. Tapi pasti akan jadi salah satu senja yang tak terlupakan dalam hidup saya. Senja yang mengenalkan saya pada kesederhanaan dan kebersahajaan hidup. Juga keramahan dan kebaikan hati yang tulus dari warga setempat. Datanglah langsung ke Desa Braja Harjosari. Kamu akan tau, kenapa saya jatuh cinta pada segala yang ada di sini.

Braja harjosari
Senja bersama Boy

Wisata Desa Braja Harjosari
Desa Braja Harjosari, Kecamatan Braja Selebah. Lampung Timur
Telp: 082282565706

You Might Also Like

29 komentar

  1. duh serunya mba main sama si Boy, dah akrab banget dia ya sama manusia si boy hehe. Senjanya keren banget tuh sambil nyeruput secanagkir kopi duhhh serunya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Sad.. Jinak banget si Boy. Jadi seneng main-main ama dia 😀😀😀😀

      Delete
  2. Wowww asri banget desanya.. segera hunting tiket buat kesana ah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cuuus buruan ke LamTim, mas.. Banyak yang keren2 di sana

      Delete
  3. Adem ya suasananya, kayak terpencil banget, suka deh tempat libur gini, dari pada yang kekinian

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak.. Suasana desanya nyenengin banget. Bikin betah. Udah gitu orang sana baik-baik. Pokoknya kita dibikin pantang pulang sebelum kenyang hahaha

      Delete
  4. Selalu ada yg menarik tentang Senja.
    Jatuh cinta banget sama tempatnya :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amel kudu kesini deh.. Asli tempatnya nyenengin banget

      Delete
  5. Lampung emang keren banget ya mbak. pengen ke Braja Harjosari juga jadinya. pengen main sama si Boy

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Zack.. Kalo ke sini ntar bisa sekalian jalan-jalan ke Taman Nasional Way Kambas

      Delete
  6. Tiap baca lagi cerita kita di sini, aku pasti inget nasi tiwulnya itu. Cocok banget ya sama masakan lauknya. Nambah2 sampe berapa kali hahaha

    Kuda boy bikin kangen.
    Itu sesi pemotretan di pinggir sungai boleh juga tuh buat dibully hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha serius itu boleh dibully? 😀😀😀

      Iya mbak, aku kangen nasi tiwulnya. Favorit banget itu..

      Delete
  7. Replies
    1. Halo mbak.. Salam kenal. Makasih ya udah singgah di sini 😊

      Delete
  8. saya galfoks dengan outernya
    bagus bingit
    pinjam donk mba dee hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe makasih uni... Sini sini kalo mau pinjam

      Delete
  9. Selalu suka dengan foto-foto hasil jepretan mbak Dian, keren-keren. Btw, nasi tiwul dan kawan-kawannya bikin kangen makanan zaman kecil yang hanya bisa dinikmati saat main ke rumah tetangga (karena ibuk jarang masak tiwul).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih mbak 😊

      Iya mbak. Dulu waktu kecil sering dibeliin mama tiwul. Tapi sekarang udah mulai jarang ada. Jadi surprise banget pas disuguhi tiwul di Lampung

      Delete
  10. Saya komen yang lain aja. Baju luaran dan dalaman hitam yang dipake mbak dian bikin kelihatan kurus :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaha.. Fixed! Komenmu aku nobatkan sebagai the best comment of the day, bang 😀😀😀

      Delete
  11. Foto sama kuda itu kece banget Dee, terlihat akrab. Udah kenal Boy sejak lama ya? Wkwkwk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwkwk... Maklum, temen lama teh 😀😀😀

      Delete
  12. wah ada kuda
    pengen banget naik kuda sama nuha
    di desa braja harjo sari

    kapan ya kita kesana sama keluarga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk diagendakan mas ke Lampung Timur. Banyak yang menarik di sana. Nuha pasti seneng

      Delete
  13. Damn!!!! keren banget mba Dee.. senja yg indah apalagi ada objek mba Dee dan kudaragawan (klo model cowo kan peragawan wkwk) si Boy.. pengalaman menarik banget, bacanya ampe pelan2 seolah Chaya ada di sana. Lalu terngakak baca si gajah bukan gebetan kamu.. wkwkwk

    Mahal ga sik kesana mba? transportasi publik dr Bandar Lampung ada?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwkwk kudaragawan 😀😀

      Transportasi publik dari Bandar Lampung ke Lampung Timur ada bus Trans Lampung, Chay. Tapi untuk ke Braja Harjosari ini gak ada angkutan umum. Kalo mau bisa sekalian sewa mobil dari Bandar Lampung, harganya Rp 250ribu

      Delete
  14. Kunantikan senja bersama kuda dan ditutup dengan kuliner lezat.. indah sekali menanti malam dengan aktivitas yang menawan

    ReplyDelete
  15. Suka deh tempat-tempat beginian jadi destinasi wisata... seperti di ladang-ladang masa kecil dulu... Aku langsung teringat lari-larian di ladangan begini bareng abang-abang aku... Itu ada "tali air" dan sampan yang bikin tambah caem ya mbak....

    ReplyDelete
  16. Kupikir ini nama desa di Jawa mba.. Ternyata di Lampung Timur ya.. :D Kapaan ya aku bisa ke sana.. Pingin ke Way Kambas juga.. :) Desa wisatanya asik banget ya.. Kalo di sana aku udah lari-larian kayaknya di savana.. Terus kepikiran juga main layangan di sana.. Hihi..

    ReplyDelete