Barongsai dan Kembang Api di Perayaan Imlek

Thursday, February 19, 2015


"Kalau malam ni tak hujan susah kita, kurang rejeki nanti..."

Kalimat yang diucapkan secara spontan oleh seorang ibu warga Tionghoa tepat ketika sang pengisi acara di atas panggung mengucapkan "Selamat tahun baru, semoga keberkahan menyertai kita semua" itu menarik perhatian saya.

"Kenapa, bu?" saya mencoba sok akrab pada beliau.

"Iyalah, kalau hujan tak turun di malam imlek, itu artinya rejeki untuk tahun ini akan kurang. Semakin deras hujan, semakin deras juga rejeki kita." Si ibu menjawab pertanyaan saya sambil sedikit berteriak, mencoba mengalahkan keriuhan di sekitar kami.
 
"Tapi sudah 2 bulan ini Batam tak ada hujan. Ini hari pun cerah." Lanjut beliau lagi.

Saya sudah sering mendengar hal ini, tentang korelasi antara rejeki dan hujan yang turun di malam tahun baru Imlek. Mitosnya, hujan yang turun di malam Imlek pertanda rejeki mereka akan berlimpah. Semakin lebat hujannya, maka akan semakin berlimpah pula rejekinya. Dan rupanya, si ibu termasuk salah seorang yang meyakini mitos tersebut.
  
Saya hanya tersenyum dan mengangguk sopan. Tak ada niatan untuk menyanggahnya. Ini urusan keyakinan. Dan saya pun meyakini satu hal, bahwa hujan yang turun, entah di malam imlek atau bukan, itu tetaplah berkah bagi semesta.

Saya pun kembali mencoba membidikkan kamera ke arah panggung yang didekor dengan warna merah meriah itu. Imlek memang identik dengan warna merah. Menjelang perayaan imlek, biasanya pernik-pernik berwarna merah sudah terlihat mendominasi. Baju-baju cheongsam yang dipajang di etalase-etalase toko, lampion yang tergantung hampir setiap sudut kota dan pusat pusat perbelanjaan, sampai amplop yang paling ditunggu-tunggu, yaitu si amplop angpao. Semua didominasi warna merah cerah.

 angpao-nya kakaaaaak... :D

"Kenapa Imlek identik dengan warna merah, bu?" tanya saya pada si ibu yang terlihat asik menikmati lagu-lagu berbahasa mandarin yang dibawakan pengisi acara.
"Warna merah itu lambang kekuatan, dan pembawa hoki." Jawab si ibu sambil terkekeh pelan.

***

Gara-gara si Lala yang pengen nonton atraksi barongsai, akhirnya malam ini kami ikut berdesakan dengan ratusan warga Batam lainnya yang juga ingin menonton atraksi barongsai di malam perayaan tahun baru imlek di kawasan Nagoya Newtoon.
Acara yang diselenggarakan oleh Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) malam itu meriah banget. Ratusan kursi yang disediakan di depan panggung penuh terisi. Sementara pengunjung yang gak kebagian kursi tetap asik berdiri di sisi kanan dan kiri panggung. Dan kami (saya, suami, adek, dan si Lala) termasuk dalam rombongan orang-orang yang gak kebagian kursi, dan berdiri menonton di sisi kanan panggung.

pada berdiri nunggu barongsai

Sebelum acara puncak yaitu atraksi barongsai dan pesta kembang api, pengunjung dihibur dengan lagu-lagu Mandarin dan sesekali lagu dangdut oleh artis-artis dari Tanjungpinang juga Surabaya. Gak ketinggalan lagu yang cukup ngehits dan paling banyak di request malam ini, Sakitnya tuh di sini... :D :D

barongsai menuju panggung

Tepat pukul 11 malam, atraksi barongsai dimulai. Pengunjung merangsek maju. Yang tadinya duduk pada berdiri, malah gak sedikit yang berdiri di atas kursi. Akibatnya yang kebagian tempat paling belakang gak bisa ngeliat apa-apa. Seseorang menepuk pundak saya. Rupanya si ibu yang tadi saya ajak ngobrol. Beliau menunjuk kursi yang tadi didudukinya, dan mempersilakan saya untuk naik ke atas kursi.

"Naik sini kalau mau amik gambar." Kata si ibu.
"Gakpapa nih, bu?" Saya ragu-ragu.
"Tak apa, naik aja. Biar nampak." Si ibu sedikit memaksa.

Dan tanpa menunggu ditawari lagi, saya pun naik ke atas kursi dan asik menonton atraksi barongsai dari balik kamera. Saya bisa leluasa menyaksikan 8 singa barong yang asik menari dan meliukkan tubuhnya di atas panggung menemani Cai Shen, sosok Dewa Rejeki dalam mitologi China.

hasilnya naik kursi :D

sosok Cai Shen, sang dewa rejeki

Setelah atraksi barongsai yang hanya 10 menit itu selesai, saya pun segera turun dari kursi sambil tak lupa mengucapkan terima kasih pada si ibu yang telah berbaik hati memberikan kursinya buat saya.
"Semoga malam ini turun hujan ya.." Ucap beliau sewaktu saya pamit pulang.

Saya tersenyum mengamini, dan segera beranjak pergi.

Kami baru sampai di Nagoya City Walk, ketika tiba-tiba suara kembang api terdengar bersahutan, disusul kemudian dengan pendar warna-warni di langit. Suami menepikan kendaraan, dan saya pun bergegas turun untuk mengabadikan si kembang api. Beberapa pengendara yang kebetulan melintas juga akhirnya menepikan kendaraannya dan ikut mengabadikan kembang api.

pesta kembang api

***
Saya sudah hampir memejamkan mata, ketika tiba-tiba terdengar suara hujan yang jatuh di atas genting. Semakin deras, dan bertambah deras. Saya tersenyum teringat obrolan beberapa jam yang lalu dengan si ibu di depan panggung perayaan imlek. Saat ini beliau pasti juga tersenyum bahagia.

Gong xi fa cai... Xin nian kuai le! Hong bao na lai :)

** Gong xi fa cai : selamat dan semoga beruntung
** Xin nian kuai le : selamat tahun baru
** Hong bao na lai : angpaonya mana?

You Might Also Like

22 komentar

  1. Waaah, merah dan meriah sekali ya mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Qy.., rame dan meriah banget...

      Delete
  2. "Warna merah itu lambang kekuatan"

    Ini mah aku banget. Merah membara dan penuh kekuatan *hercules kaleee* :))

    *salah fokus* :))

    ReplyDelete
  3. Acaranya meriah banget ya mbak. Ada kembang apinya juga.
    Jadi,......dapat angpao gak? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enggaaaaaaak... *sesenggukan di pojokan :'(

      Delete
  4. Di sana Imlek ramai merayakannya ya, Mbak. Pas di sini juga malam Imlek kering kerontang. Malah anget. ira

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rame, mbak.. terutama di daerah Nagoya.
      Di Batam kemaren hujannya cuma pas malem Imlek, besok paginya udah cerah lagi. Nih sampe sekarang cuacanya cerah ceria :)

      Delete
  5. Meriah sekali ya perayaannya. Di Malang adem ayem aja atau akunya yang nggak tahu. Kemarin di matos ada event imlek yaitu lomba model dengan tema baju chinese.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo di Batam perayaan imlek selalu rame, Wan.. Mungkin karena mayoritas penduduknya juga adalah warga Tionghoa ya :)

      Delete
  6. Kan kan katanya yang nikah harus ngasih angpao sama yang belom nikah... Mana angpao buat aku mba :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha.. Mintanya ama yang ngerayain, Zahraaa.. Tapi sini deh, kalo mau.. nih masih ada amplop merahnya :)

      Delete
  7. Iya ya pas malam imlek memang hujan. Eh Chila malah ngambek pengen lihat barongsai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Padahal kita janjian ya, kemaren ama Danan juga.. :D
      Si Danan gak tau jadi hunting di mana dia...

      Delete
  8. Mbak Dee haha mau ketawa geli, kemarin aku datang ke rumah temen yang rayain imlek. Eh pulang-pulang dikasih angpao yeaaay. Gak banyak sih, cuma seneng banget karena gak nyangka masih dikasih. "Soalnya kamu belom 17 Yan," gitu kayanya mbak. Alhamdulillah ya sesuatuuuh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pasti Yayan senengnya bukan gara-gara angpao-nya kan? Tapi gara-gara 'dituduh' belom 17 :D :D

      Delete
  9. ooh makanya orang chinese suka merah karena membawa hoki ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya begitu, Yo.. Ornamen-ornamen klenteng, hiasan rumah, memang kebanyakan warna merah ya...

      Delete
  10. ini di nagoya ya? tahun depan ke pulau buluh katanya rame di sana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya di Nagoya Newton... Di Pulau Buluh di klenteng yang aku bilang kapan hari itu ya? Kalo ke Pulau Buluh brati nginep doonk..

      Delete
  11. Replies
    1. Iya mbak, meriah banget.... penontonnya sampe bejibun...

      Delete