Malaysia Trip | 4. Welcome to Cameron Highlands

Friday, August 08, 2014





Menurut ibu penjual tiket bus Unititi tadi, lama perjalanan dari Kuala Lumpur ke Cameron Highlands normalnya sekitar 3 setengah jam. Jaraknya 209 km. Jadi kalau jalanan tidak macet, kemungkinan tengah hari nanti kami sudah bisa menginjakkan kaki di Cameron Highlands.

Bus yang kami naiki saat ini serupa dengan bus yang kami naiki dari Johor Bahru ke Kuala Lumpur semalam. Yang beda hanya warna kursinya. Kalau semalam kursinya berwarna biru, yang ini berwarna hijau. Selebihnya sama. Pembagian seatnya 1 kursi di kiri dan 2 di kanan, reclining seat dengan sandaran kaki, empuk, dan jarak antar kursi cukup jauh. Pada kantung jala di bagian belakang kursi tersedia kantong kresek, antisipasi buat yang tiba-tiba mabuk perjalanan. 

Kami mendapat tempat di sebelah kanan, dua baris dari belakang. Cukup nyaman. Teman seperjalanan kami kali ini berasal dari berbagai suku bangsa. Keluarga India dengan seorang putri yang sedikit lebih besar dari Lala duduk tepat di depan kami. Sementara di belakang kami adalah keluarga bule dengan 3 anaknya yag sudah remaja.

 

Saya tertidur. Dan ketika saya terbangun, rupanya suami dan Lala masih tertidur lelap. Lebih dari separuh penumpang bus ini juga tertidur lelap. Jam digital di depan sopir bus menunjukkan pukul 11 siang. Jalanan yang kami lewati sudah mulai berkelok-kelok. Tanjakannya memang tidak terlalu curam, dan tidak terlalu sempit juga. Masih cukuplah untuk 2 kendaraan apabila saling berpapasan. Tapi di beberapa titik ada jalur yang tidak memungkinkan untuk dilewati 2 kendaraan, jadi harus sabar bergantian. 

Sopir bus kami cukup menguasai medan. Wajar aja sih, karena jalur ini tentu sudah jadi makanan sehari-hari beliau. Saya tidak leluasa melihat keadaan di sekeliling. Karena kursi di samping jendela yang merupakan tempat favorit saya kali ini harus saya relakan untuk suami :) Jadi kali ini, saya harus cukup puas dengan memperhatikan tingkah laku para penumpang di dalam bus ini :D

Suara "huek-huek" mulai terdengar sahut-sahutan. Rupanya sudah ada beberapa penumpang yang mulai merasa mual dengan kondisi jalan yang berkelok-kelok seperti ini. Pantas saja kalau pihak Unititi sudah mempersiapkan hal ini dengan menyediakan kantong kresek di masing-masing sandaran kursi. 

Bus yang kami naiki sudah memasuki daerah Ringlet. Dari informasi yang saya dapat di internet, berarti tujuan kami sudah tidak jauh lagi. Sekitar 13 km lagi kami akan sampai di Tanah Rata. Kalau sepanjang perjalanan tadi saya hanya melihat pemandangan hutan yang rimbun, di Ringlet saya melihat pemandangan sebuah kota seperti pada umumnya.  Lebih tepatnya, sebuah kota tua. 

Setelah melewati Ringlet, di sepanjang jalan saya melihat banyak warga setempat yang menjual pete dan rebung. Rupanya daerah ini juga merupakan penghasil kedua tanaman ini. 

Love at the First Sight

Pukul 12:30 pm bus yang kami naiki akhirnya sampai di pemberhentian bus di Tanah Rata. Bukan sebuah terminal bus seperti yang saya bayangkan sebelumnya, meskipun di tempat ini ada beberapa bus yang sedang parkir.  


Jatuh cinta pada pandangan pertama. Itu yang saya rasakan ketika pertama kali menjejakkan kaki di tempat ini. Sebuah kota berhawa sejuk dengan bangunan berarsitertur ala Eropa yang dikelilingi oleh pegunungan. Sungguh! Saya suka tempat seperti ini. 

 
Tak jauh dari tempat kami turun, ada sebuah tour operator yang merupakan tiket counter dari bus Unititi. Titiwangsa Tour namanya. Sopir bus tadi memberitahu kami. Kami langsung menuju kesana untuk membeli tiket balik besok lusa. Mending beli sekarang, sebelum kehabisan :)

Kami membeli 2 tiket tujuan Kuala Lumpur untuk tanggal 29 July 2014. Harga tiketnya 35 RM per orang. Ini adalah harga normal untuk tiket tujuan Kuala Lumpur - Cameron Highlands. 

Titiwangsa Tour ini menyediakan paket-paket wisata di Cameron Highlands, juga hotel. Sambil memilih-milih paket tour buat besok, saya coba menanyakan apa ada kamar yang tersedia?

Hotel oh Hotel….

Meskipun saya sudah mengantongi dua nama penginapan, tapi saya tetap berusaha untuk mencari penginapan lain. Yaaah.., kalo ada yang lebih murah dan lebih baik, why not? Untungnya lagi, saya booking di Booking.com, yang mana proses booking bisa dilakukan tanpa kredit card. Jadi ya memang saya belum melakukan pembayaran apa-apa...  

Saya coba menanyakan ketersediaan kamar kepada mbak-mbak pegawai tour operator ini. Namanya kak Wati. Si mbak Wati langsung menelepon sana-sini mencarikan hotel buat kami. Semua penuh. Sampai dengan usahanya yang entah ke berapa, akhirnya kak Wati mengabarkan kalau ada kamar, tapi rate-nya agak tinggi. 160 RM per malam. Ini sih, lebih murah daripada rate yang saya dapat di BB Inn, 200 RM. 

Saya memutuskan untuk mengambil kamar ini, tapi sebelumnya saya ingin melihat dulu kondisinya seperti apa. Kak Wati mengajak saya untuk melihat hotelnya, sementara suami dan Lala dipersilakan menunggu di kantor Titiwangsa Tour. 

Kami berjalan melewati sebuah ruko yang penuh dengan kedai makan, hotel, dan tour operator. Rupanya daerah ini memang merupakan kawasan turis. Kak Wati masuk ke dalam sebuah hotel, yang membuat saya nyengir melihat nama yang tertulis di pintu hotelnya. BB inn.. :D Hahaha.. ini kan hotel yang sudah saya booking lewat Booking.com.. Apa ini artinya, kami memang berjodoh dengan hotel ini? :D

Saya ditunjukkan kamar nomor G13, letaknya paling belakang di deretan sebelah kanan. Kamar yang ditunjukkan itu cukup lumayan, walaupun rasanya terlalu mahal untuk harga 160 RM. Tapi ya mau gimana lagi? Kan hal ini sudah saya perkirakan sebelumnya, bahwa perpaduan antara weekend dan public holiday, pasti akan membuat budget melonjak. Terutama untuk hotel dan transportasi.


Akhirnya saya setuju untuk mengambil kamar itu. Ketika proses check-in, dan saya menunjukkan paspor, perempuan di meja resepsionis itu mengenali nama saya sebagai salah seorang yang sudah booking di sana. Dia menunjukkan bukti bookingnya, dengan kamar seharga 200 RM per malam. 


“Saya ambil kamar yang 160 RM aja, boleh kan?” tanya saya sambil nyengir. 

“Waah.. tak boleh, sebab you sudah booking, you mesti amik ini kamar yang 200 RM..” si mbak resepsionis menjawab dengan logat Melayu Singlish-nya.

Sumpah! Ini pertama kalinya saya booking online. Gak nyangka bakal dihadapin ama masalah kayak gini. Dodol banget :D Yang jelas karena sudah ada harga yang lebih murah, saya ogah bayar lebih mahal. Hehehe…

“Yaaa…, masa gak boleh sih? Yang 200 RM terlalu mahal lah, saya kan nginap 2 malam… Boleh ya, yang 200 RM saya cancel, saya ambil yang 160 RM aja..” saya mencoba ngerayu si resepsionis sambil pasang senyum semanis mungkin. 

“Gimana yaa…. Tak boleh looh…” si resepsionis mulai kelihatan ragu.
“Boleh yaa…?! Boleh kaaan?!” saya ngerayu lagi.

Si resepsionis keliatan mikir, “Oke lah, saya cancel-kan yang 200 RM. You boleh amik ini kamar yang 160 RM..”

Yess! Akhirnya… Lumayan selisihnya 80 RM. Saya menerima kunci kamar dan bergegas menuju kantor Titiwangsa Tour untuk menjemput suami dan Lala. Si kak Wati sudah ninggalin saya dari tadi, jadi saya jalan sendirian.

Memilih Paket Tour

Sampai di kantor Titiwangsa Tour, kami melihat-lihat paket tour buat besok. Rencananya, setelah sholat Ied, kami akan langsung ikut salah satu tour yang ada. Pilihan kami akhirnya jatuh pada Nature Discovery Tour seharga 60 RM per orang.

Nature Discovery Tour ini tujuannya adalah ke :
  • Gunung Brinchang, yang merupakan titik tertinggi kedua di Cameron Highlands (2032 mdpl/6666 ft above sea level),
  • Trekking di Mossy Forest, hutan berlumut yang kaya akan tanaman herbal dan anggrek liar,
  • BOH Tea Plantation, yang merupakan kebun teh terbesar di kawasan ini,
  • BOH Tea Factory, untuk melihat proses pembuatan teh, sambil menikmati teh dari atas bukit.
Oke, paket tour-nya sepertinya cukup menarik :) Semoga kami bisa menikmatinya besok. 

Karena waktu masih menunjukkan pukul 1 siang, mbak Wati menawarkan paket tour lain yang akan dimulai pukul 02:30 pm nanti. Agro Delight Tour, harganya 65 RM per orang. Isi tour-nya adalah mengunjungi kebun kaktus, kebun strawberry, taman bunga, kebun sayur, plus dinner. Saya sebenernya minat, tapi suami pengen istirahat dulu. Jadi ya.., baiklah… Mending kami istirahat aja dulu di kamar.

***

Lumayan. Komen suami waktu masuk ke dalam kamar. Si Lala langsung heboh loncat-loncat sambil lari-lari di kamar yang ukurannya gak bisa dibilang besar itu, “Ini kamar Lala, kan?”

Setelah meletakkan barang-barang, kami keluar lagi. Niatnya Cuma mau beli nasi buat Lala. Pilihan kami jatuh pada rumah makan India yang berada persis di sebelah kanan hotel kami. Gak banyak pilihan. Yaaa.. tau sendiri kan, masakan India itu kebanyakan berbumbu tajam dan pedas. Yang pastinya si Lala gak bakalan doyan. Akhirnya saya membeli nasi putih dengan lauk ikan goreng. Harganya 5 RM. Dan ternyata cuma dimakan gak lebih dari 5 sendok ama si Lala. Hadeeehh.. bocah ini, susah banget kalo disuruh makan :( Akhirnya saya minta sisa nasi dan ikan Lala dibungkus aja, karena kami berdua masih puasa.

Kami balik ke kamar untuk istirahat. Emang ya, senyaman-nyamannya kursi empuk yang bisa buat tidur, rasanya jauuuh lebih nyaman kalo bisa tidur sambil berbaring :D 

Ternyata, kamar yang kami tempati ini bersebelahan langsung dengan dapur rumah makan yang ada di sebelah hotel. Jadi setiap mereka masak, aromanya tercium sampai ke kamar kami. BB Inn Hotel ini memang diapit oleh rumah makan. Rumah makan India di sebelah kanan, dan rumah makan Chinese di sebelah kiri. *udah kaya perkenalan lomba cerdas cermat aja pake ngenalin siapa di sebelah kanan dan siapa di sebelah kiri :D 

Lama-lama suami ngerasa kurang nyaman dengan kondisi kamar yang berada persis di sebelah dapur rumah makan ini. Kalau saya sih, ngerasanya biasa aja… Tapi suami emang lebih sensitive sih ama hal-hal yang kaya gini… Jadi kami menemui resepsionis yang tadi untuk nego supaya kami bisa tukar kamar. 

Si resepsionis tidak keberatan kalau kami mau tukar kamar. Sayangnya semua kamar sudah terisi penuh. Baru besok ada tamu yang check out. Jadi ya, terpaksa kami harus menunggu sampai besok. Untungnya rumah makan Chinese yang ada di sebelah kamar kami itu tidak buka 24 jam :)

Kami berusaha melanjutkan tidur yang tertunda. Harus bersabar semalam lagi dengan aroma masakan plus suara srang-sreng-srang-sreng penggorengan dari dapur sebelah. Karena kecapekan, tanpa menunggu lama akhirnya kami bertiga tertidur juga.

Ngabuburit di Tanah Rata

Setelah merasa cukup segar, kami memutuskan untuk jalan-jalan sambil menikmati suasana sore di Tanah Rata. Sambil menunggu waktu berbuka puasa. Saya suka dengan atmosfer yang ditawarkan oleh tempat ini. 


Bus stop tempat kami turun siang tadi terlihat ramai. Rupanya rombongan yang berangkat pukul 01:30 tadi baru sampai. Pemandangan turis-turis asing yang memanggul carrier adalah lumrah di tempat ini. Rombongan turis itu terihat keluar masuk mencari hotel yang sepertinya sudah penuh semua. Mungkin nasib kami pun akan sama seperti mereka, kalau kami terpaksa kebagian bus yang berangkat pukul 01:30...

Sudah hampir waktu berbuka. Kami segera mencari tempat makan. Dari tadi saya perhatikan, tak ada satu pun warung Melayu yang berjualan. Hanya ada rumah makan India dan Chinese food. Pilihan kami akhirnya jatuh pada rumah makan India, Restoran Bunga Suria namanya.

Suami saya memesan mee goreng, sementara saya memesan cheese naan. Naan adalah roti tradisional India yang dimasak dalam oven tanah liat. Roti ini biasanya sebagai pengganti nasi. Bisa dimakan begitu saja dengan kuah kari, atau disajikan dengan chicken tandoori. Alhamdulillah... Nikmat...



Di sini kami bertemu dengan mbak-mbak yang dari Indonesia juga, dari Jember. Si mbak sudah setahun lebih bekerja di Cameron Highlands. Beliau tinggal di Ringlet, menyewa rumah di sana. Beliau mempersilakan kami untuk mampir ke rumah sewanya. Senangnya bisa ketemu saudara-saudara se tanah air di sini :)

JJM = Jalan-Jalan Malam

Kami menikmati malam pertama di Cameron Highlands dengan jalan-jalan menyusuri daerah Tanah Rata. Kami coba mencari keberadaan masjid, biar besok sewaktu sholat ied kami tidak kesulitan. Ternyata masjidnya tidak terlalu jauh, hanya saja lokasinya berada di atas bukit. Hmm... membayangkannya saja sudah membuat saya excited :)

Tanah Rata di malam hari tak ubahnya pusat-pusat turis di kota lain. Ramai. Wisatawan memadati ruas jalan. Rumah makan, kios souvenir, juga tour operator, semua ramai dipadati oleh wisatawan asing. 

Kami menuju ke sebuah toko yang menjual pakaian dan pernik-pernik berbentuk strawberry. Kami ingin mencari baju hangat untuk Lala. Jaket Lala basah, disiram air ama si Lala sendiri :D Untung di toko itu ada baju hangat yang ukurannya cocok buat Lala. Baju hangat berbahan polar, dengan 2 celana panjang berbahan sama. Harganya 15 RM. Lala memilih yang berwarna biru muda, dan langsung minta dipakai saat itu juga :)

Penjualnya, seorang lelaki Cina bernama uncle Chong, memberi Lala hadiah sebagai hadiah lebaran. Sebuah gantungan mungil berbentuk strawberry dengan tulisan Cameron Highlands. Ahh.. lagi-lagi si musafir cilik ini mendapat rejeki tak terduga. Thank you very much, Uncle Chong :)


Dari toko uncle Chong kami ingin langsung kembali ke kamar. Tetapi sewaktu melewati penjual buah yang ada di dekat hotel kami, kami pun tergoda. Kios buah itu juga menjual jus buah segar. Langsung suami memesan jus apel hijau, dan saya memesan jus kiwi mix with pineapple. Hmmm... seger banget.



Malam sudah larut. Kami pun sudah kenyang. Waktunya beristirahat. Menyiapkan nergi untuk besok. Good night, Cameron Highlands...

Pengeluaran hari pertama di Cameron Highlands :
  • Tiket bus Cameron Highlands - KL untuk pulang (2 adult) = 70 RM
  • Hotel 2 malam = 320 RM
  • Nature Discovery Tour (2 adult) = 120 RM
  • Makan siang Lala = 5 RM
  • Makan malam @ Resto Bunga Suria = 13 RM
  • Jaket Lala = 15 RM
  • Jus 2 gelas = 10 RM

Total = 553 RM 

Bersambung...

You Might Also Like

5 komentar

  1. heummm...asiknyaaa,smeoga bisa sampai sana ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin... saya pengen ke Siak masih belum bisa keturutan, mbak :)

      Delete
  2. malaysia kereennn,,, tempat yang sangat indah...

    ReplyDelete
  3. Mba, masih simpan kontak yang menyediakan paket tour ??

    ReplyDelete