Reunian di Pulau Bukit

Tuesday, April 07, 2015

pulau bukit batam

Malam sudah turun ketika kami sampai di pelabuhan pompong Jembatan Nara Singa, atau yang lebih dikenal dengan nama Jembatan 2 Barelang. Sebuah jembatan yang berada di lintas jalan Trans Barelang dan menjadi penghubung antara Pulau Tonton dan Pulau Nipah.

Pak Karim, tekong pompong langganan saya sudah menunggu sejak sore tadi. Begitu melihat kedatangan kami, senyumnya langsung merekah. Saya dan suami sudah beberapa kali menggunakan jasa beliau kalau ingin menyeberang ke Pulau Bali, jadi kami sudah cukup akrab dengan beliau.

"Mau langsung ke Pulau Bali, mbak?" tanya Pak Karim sambil menyalami kami semua.
"Iya, Pak.. langsung aja. Sudah mulai gelap ini.." jawab saya.
"Tak mau coba ke Pulau Bukit?" tanya Pak Karim lagi.
"Pulau Bukit? Di mana itu, Pak? Ada apa di sana?" tanya saya penasaran.
"Tak jauh dari sini. Pulaunya kosong.. Tapi pasirnya putih, bukan batu seperti di Pulau Bali."

Saya menoleh ke arah teman-teman seperjalanan saya, meminta pendapat mereka. Keempatnya kompak mengangguk tanda setuju.

Rombongan kecil kami ini terdiri dari saya, suami, Deddy, Nanang, dan Dofy. Kami semua, kecuali Dofy, merupakan teman sekelas waktu kuliah di Teknik Perkapalan ITATS dulu. Anggap saja ini adalah perjalanan reuni buat kami, sekaligus menyambut kedatangan Deddy yang hanya mampir beberapa hari di Batam untuk urusan pekerjaan.

"Boleh, Pak. Kita ke Pulau Bukit aja..."

And here were are, di dalam pompong menuju ke Pulau Bukit. Sebuah pulau kosong yang bahkan keberadaannya tidak tercantum dalam peta. Ini nih serunya tinggal di daerah kepulauan. Selalu ada aja pulau-pulau yang menarik untuk disinggahi.

Pompong bergerak perlahan meninggalkan pelabuhan. Ini bukan kali pertama bagi saya melakukan perjalanan malam dengan pompong, demikian juga dengan suami saya. Tapi tidak dengan ketiga teman saya yang lain. Ini merupakan pengalaman pertama bagi mereka naik pompong, malam-malam pula. Saya sempat membaca sedikit gurat keraguan di wajah mereka, tapi itu tak berlangsung lama. Karena ketika pompong sudah bergerak menjauhi dermaga dan perlahan menembus gelapnya malam, gurat-gurat keraguan yang sebelumnya menghiasi wajah teman-teman saya, perlahan hilang dan berganti senyum penuh semangat.

pulau bukit batam
 Naik pompong malem-malem. Seru!

Lampu-lampu di Jembatan 1 Barelang sudah menyala. Setiap malam Minggu maupun hari libur, Jembatan 1 Barelang selalu ramai dipadati pengunjung yang sekadar menghabiskan waktu sambil menikmati jagung bakar ataupun udang goreng tepung yang memang banyak dijajakan di sana. Jembatan ini memang merupakan icon Kota Batam, sebagaimana Jembatan Mahakam di Samarinda, maupun Jembatan Ampera di Palembang.

Sekitar 10 menit kemudian Pak Karim melambatkan laju pompongnya. Terlihat di depan kami sebuah pulau dengan gundukan serupa bukit kecil. Pasir putihnya terlihat menggoda.

"Ini Pulau Bukit..." ujar Pak Karim seraya menghentikan pompongnya agak jauh dari pulau.

Saat itu sedang surut, sehingga pompong tidak bisa merapat ke pulau. Jadi kami harus sedikit berbasah-basah untuk menuju Pulau Bukit. Welcome to the jungle!

Kami segera mencari tempat untuk mendirikan tenda. Kami sengaja tidak mendirikan tenda di atas pasir putihnya dan memilih agak masuk ke dalam pulau. Karena menurut Pak Karim Pulau Bukit ini merupakan pulau kosong, jadi kami tak perlu meminta ijin pada siapa pun. Anggap saja kami sudah meminta ijin pada Pak Karim :)

Tak berapa lama, kedua tenda kami pun telah berdiri. Terlindung di balik pepohonan Pulau Bukit. Setelah beres urusan tenda, kami pun segera mempersiapkan ikan-ikan yang akan kami bakar malam itu. Sambil bakar-bakar ikan, gak lupa donk kita foto-foto. Ini mah wajib hukumnya...

pulau bukit batam
pulau bukit batam
pulau bukit batam
 thanks to tripod

Suami sengaja membawa tripod, supaya kami berlima bisa masuk semua dalam foto. Jaman itu, tahun 2010 yang namanya tongsis belum ada. Jadi kemana-mana, saya dan suami lebih sering bawa-bawa tripod.

10 tahun lalu, saya, suami, dan Deddy pernah bakar-bakar ikan di Wonosobo. Dan malam ini, siapa sangka kami bisa mengulang kebersamaan itu di sebuah pulau kosong tak jauh dari Jembatan 1 Barelang.

Sungguh! Gak ada yang bisa ngalahin nikmatnya makan rame-rame bersama sahabat di tengah alam terbuka, di bawah langit bertabur bintang-bintang. Walau cuma makan dengan lauk ikan yang dibakar seadanya plus nasi putih yang tadi sempat kami beli dalam perjalanan menuju Jembatan 2, tapi rasanya nikmaaaaaat banget!

pulau bukit batam, bakar ikan
Bakar ikan selar

pulau bukit batam
Ikan bakar plus sepanci kopi

pulau bukit batam
Indahnya kebersamaan

Malam itu benar-benar reuni bagi kami. Hingga larut malam, kami masih asik bercerita tentang kekonyolan-kekonyolan kami masa kuliah dulu, tentang dosen-dosen kami, tentang kampus kami, juga tentang Surabaya yang sama-sama kami rindukan.

***

Awan tebal memupuskan harapan kami untuk menikmati sunrise di Pulau Bukit. Sepagian itu kami asik bermain air. Setelah sarapan plus ngopi-ngopi cantik, kami langsung membongkar tenda dan mengemasi barang bawaan, biar nanti kalau Pak Karim datang menjemput kami gak repot lagi. Soalnya kami ingin lanjut main air sampe puas.

pulau bukit batam
pulau bukit batam
 Selamat pagi, Pulau Bukiiit....

Saking asiknya main air, kami tidak menyadari kalau air mulai pasang. Nyadarnya tuh gara-gara ada satu orang yang mau ngambil suatu barang di dalam tasnya. Dari situ baru kami tau, kalau ransel-ransel kami sudah basah terkena air pasang.

Untung tenda sudah kami bongkar, dan ransel kami masih bisa dibilang aman karena terlindung rain cover. Gak nyangka, ternyata pasangnya tinggi juga. Kami bergegas memindahkan ransel-ransel besar kami lebih ke atas lagi, ke tempat yang sekiranya aman dari air pasang. Kami masih terus bermain air sampai Pak Karim datang menjemput kami beberapa jam kemudian.

pulau bukit batam
pulau bukit batam
pulau bukit batam
pulau bukit batam
pulau bukit batam
pulau bukit batam
pulau bukit batam
pulau bukit batam
Meninggalkan cerita di Pulau Bukit

pulau bukit batam, pompong
Time to going home...

Bye Pulau Bukit..., terima kasih telah menjadi 'rumah' yang menyenangkan bagi kami.

You Might Also Like

27 komentar

  1. iya yaa biar tongsis meraja, tripod tetap penting yaa...asik banget itu makan ramai2 yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, dulu kami kemana-mana pergi berdua selalu bawa-bawa tripod.. Kalo pake tripod kita masih bisa ngatur angle sesuai keinginan kita, hal yang bakal susah kita dapat kalo kita minta tolong orang buat motoin.. :D

      Delete
  2. pernah ngerasain juga serunya makan ikan bakar saat kemping, kapan ya bisa kayak gitu lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo kempiiiing... Bikin acara kemping ceria yuuuk.... :D

      Delete
  3. Ngiri banget, bisa camping sama keluarga huhuhu. Bawa tripod lagi buat foto keluarga.
    Memang mbak ya, dalam perjalanan sering ada destinasi "spontan" yang lebih wowo. Apalgi kalau destinasi itu dari penduduk lokal. Lebih keren dan asyik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget, mbak.. locals know the best!
      Ayo kita kemping mbaaaak kalo pas mudik ke Jawa :)

      Delete
    2. Ayo kamping kemana? mau sambil bakar ikan dan makan bareng gitu :) uhuk kangen banget. panderman juga boleh, nggak pakai ngoyo :) (baca : pensiun nanjak) tapi cinta gunung hahaha

      Delete
    3. Ayooooo... kemping dimana kita? ntar ujung-ujungnya kemping di rumah makan, hahahaha...

      Delete
  4. uwaaa,,bener2 petualang ya,cewek sendiri hahahaha...seru ya,tapi deg2an juga rasanya kalau nginap di pulau yang sepi hehehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi.. itu juga karena ada suami di situ, mbak :D

      Delete
  5. wiiiih bidadari di sarang penyamun :)))


    Seru banget mbak kempingnya. Itu liat posenya pada lucu2 amat sih :)) Makannya rame2 ya.

    Untung ada tripod, bisa kefoto semua ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, seru.. jadi kangen pengen kemping-kemping seru kayak gitu lagi...
      Tripodnya emang bener-bener berguna, mbak.. :)

      Delete
    2. Tripod nih udah barang wajib photographer ya. Buat moto malem sangat berguna.

      Delete
  6. mba dian, temenku malah jadiin tripod buat tongsis dooong... abis pengen selfie sama dslr! hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaaah iyaaa..., aku juga penah jadiin tripod sebagai tongsis, tapi bukan pake kamera DSLR, pake kamera poket biasa...

      Delete
  7. Pulau bali?? ini gimana bisa namanya gitu mbak? kan di batam? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo masalah dari mana namanya, saya juga gak tau mas... Saya pernah tanya ke penunggu pulaunya, kata beliau entah siapa yang pertama kasih nama begitu, tiba-tiba udah nyebar aja namanya Pulau Bali. Jadi kalo dari pelabuhan sekitar, kita bilang mau ke Pulau Bali, tekongnya udah pada tau...

      Delete
  8. Seruuu banget, Mbak Dee An. Kami juga sampai sekarang selalu sedia tripod, Mbak. Belum tertarik beli tongsis. hihihi. Btw, itu ikannya apa mancing dulu, Mbak? hehe. ira

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ikannya mancing di pasar, mbak Ira.. hehehehe....
      Toss untuk selalu sedia tripod kemana-mana.. lebih praktis daripada harus bolak-balik minta tolong dipotoin ama orang ya mbak :)

      Delete
  9. perjalanan yang seru, ikutan bakar ikan dong, hehehe :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha.. ayo sini.. bakar ikan rame-rame :)

      Delete
  10. Itu makannya kembulan yak, seneng banget....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener, kembulan :) Udah lama banget rasanya gak denger istilah ini.. kembulan :)

      Delete
  11. Asik banget pasti kemah di tempat terbuka alami seperti itu.

    ReplyDelete
  12. jadi ingat cerita ke pulau moyo kemarin :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kemping di pulau pasti meninggalkan cerita tersendiri ya, Lu.. :)

      Delete