Memori Nasi Bungkus

Wednesday, January 10, 2018


21 September 2011

Pedagang makanan lalu lalang di hadapan kami. Suami saya memanggil seorang penjual nasi bungkus. Ini adalah bungkusan ketiga yang kami lahap sejak kami duduk di bangku kereta api ekonomi ini. Bukan tiga bungkus untuk masing-masing orang loh ya. Tapi satu bungkus untuk dimakan berdua. Jadi wajar donk kalau kami nambah sampai tiga bungkus.

Bukannya mau sok pamer kemesraan kalau kami makan satu bungkus nasi untuk berdua. Kami sengaja melakukannya karena beberapa alasan. Mau tau alasannya? Ini kereta api ekonomi. Dan di kereta api ekonomi, yang namanya penjual makanan itu lewat silih berganti. Buat orang yang suka njajan seperti kami berdua, penjual makanan itu adalah anugerah terindah. Apalagi kalau makanan yang dijual itu adalah makanan yang jarang kami temui di tanah rantau, kami berdua pasti tidak akan bisa menahan godaan. Mulai dari nasi gudeg, nasi pecel, wingko, brem, tahu Sumedang, getuk pisang dan masih banyak lagi.

Nasi bungkus 3ribu rupiah. Watermarknya masih jaman Multiply 😁😁

Bagi saya, menikmati makanan-makanan itu di dalam gerbong kereta api merupakan suatu kemewahan tersendiri. Sehingga kami tak peduli bila pengeluaran untuk jajanan di atas kereta lebih mahal daripada harga tiketnya. 

Satu jenis makanan dari masing-masing penjual. Dan setiap makanan kami makan berdua. Selain adil bagi para penjual makanan, kami berdua juga bisa romantis-romantisan, kan...

Alasan lainnya, karena kami berdua memang ingin bernostalgia. Ya, kereta api ekonomi ini menyimpan berjuta kenangan manis bagi kami berdua.

Baca juga: Romantika Kereta Api

Dua belas tahun yang lalu, dalam sebuah kereta api ekonomi tujuan Jogja Surabaya, kami juga makan satu bungkus nasi untuk berdua. Kalau dua belas tahun yang lalu sih alasannya cuman satu, karena kami berdua sudah sama-sama kehabisan uang.

Ah, kisah itu Siapa sangka jika hal kecil yang pernah terjadi di sebuah gerbong kereta api ekonomi belasan tahun yang lalu begitu meninggalkan kesan mendalam di hati kami berdua. Banyak cerita yang telah tercipta antara kami dan gerbong kereta. Tentang hidup, persahabatan, juga cinta. Hal itulah yang membuat kami berdua ingin memperkenalkan kereta api kepada dua bidadari mungil kami, Reva dan Lala.

29 Agustus 2012

Kami duduk manis di dalam gerbong kereta api Sancaka kelas bisnis tujuan Jogja. Alhamdulillah, kesampaian juga niat kami berdua memperkenalkan kereta api kepada dua bidadari mungil kami. Keduanya cukup menikmati perjalanan sore hari itu.

Naik kereta api ekonomi berempat. Ini tahun 2013 waktu mau ke Bandung

Si Reva asyik melihat pemandangan dari balik jendela, sementara mulutnya tak berhenti bertanya ini itu. Si Lala pun cukup anteng, tertidur lelap di pangkuan saya tanpa merasa terganggu dengan kebisingan yang terjadi di sekelilingnya. 

Tapi saya merasa, ada sesuatu yang kurang dalam perjalanan dengan kereta api kali ini. Saya merindukan penjual makanan yang biasa berlalu lalang di dalam gerbong kereta api ekonomi, bukannya petugas restorasi yang berkeliling menawarkan nasi goreng dan teh manis.

Hari sudah mulai gelap ketika kereta api Sancaka yang kami naiki berhenti di stasiun Madiun. Para pedagang berebut menawarkan dagangannya dari celah jendela kereta. Suami saya langsung membeli beberapa bungkus nasi pecel. Ahaa, rupanya dia pun merindukan para pedagang makanan itu. 

Sementara putri sulung kami lahap menghabiskan satu bungkus nasi pecel bagiannya, kami berdua tetap memilih memakan satu bungkus nasi untuk berdua. Ahh, tentu saja kami tak ingin kehilangan momen special seperti ini. Kami berdua sepakat, gak afdhol rasanya naik kereta api tanpa makan nasi bungkus berdua.

28 Desember 2017

Baru beberapa menit kereta api Gaya Baru Malam Selatan yang kami naiki meninggalkam stasiun Gubeng, Surabaya. Para penumpang mulai sibuk membuka bekal masing-masing. Termasuk kami. Maklum, sudah masuk jam makan siang. Saya sudah tau, bahwa kini pedagang tak lagi diijinkan berjualan di dalam gerbong kereta. Jadi kami memilih membawa bekal nasi dari rumah.

Bawa bekal nasi dari rumah

Kereta api ekonomi kini jauh lebih nyaman dan ber-AC. Sudah dilengkapi juga dengan colokan listrik. Jadi gak khawatir lagi kalau HP lowbatt selama perjalanan. Tapi tanpa pedagang yang berkeliling menjajakan makanan, saya merasa ada yang kurang. 

Sampai di stasiun Madiun, suasana tetap sepi. Tak ada lagi para penjual nasi pecel yang berebut menawarkan dagangannya lewat celah jendela maupun pintu kereta. Jujur saya merasa ada yang hilang. 

Beberapa komentar menanggapi postingan saya di instastory. Ada yang menyarankan saya beli nasi pecel di salah satu kios yang ada di stasiun. Tapi beberapa justru menanggapi dengan ungkapan kehilangan yang sama seperti yang saya rasa. Ahh... banyak yang merasa kehilangan juga rupanya. 

10 Januari 2018

Dalam perjalanan pulang dari Jogja, kami naik kereta api ekonomi Logawa. Tentu saja tak berbeda dengan kereta api ekonomi lainnya. Kereta api ekonomi ini pun tanpa pedagang yang seliweran di dalam gerbong, tentu saja..

Kereta api Logawa

Sewaktu kereta api berhenti di stasiun Madiun, suami saya turun dari kereta. Dari jendela kereta saya melihat dia celingukan mencari penjual pecel di sekitar stasiun. Akhirnya dia pun menuju ke salah satu kios. Sambil cengengesan dia menyodorkan bungkusan berisi nasi pecel pada saya. "16 ribu!"

Nasi pecel 16ribu di stasiun Madiun

Makanan dan minuman yang dijual di kios-kios yang ada di stasiun tentu tak bisa menandingi 'kenikmatan' nasi bungkus yang biasa dijual para pedagang di kereta api ekonomi. Baik dari segi rasa, terlebih dari segi harga. Begitu pun dengan yang dijual oleh pihak restorasi.

Ya, rupanya memang ada yang harus ditukar dengan segala kenyamanan dan fasilitas yang bisa kita nikmati di kereta api ekonomi saat ini.

Gak ada lagi nasi bungkus seharga 3 ribu rupiah yang selalu kami tunggu dan buru setiap naik kereta api ekonomi. Sebagai penggemar jajanan di dalam kereta, terutama nasi bungkus seharga 3 ribu rupiah, tentu saya merasa kehilangan. 

Ada yang merasa kehilangan seperti saya juga kah?

You Might Also Like

32 komentar

  1. Kalau yang namanya nasi bungkus di mana berdua pastinya enak aja sih. apalagi kalau di makan sama si dia. ha,, ha,, ha, Apa kabar mba ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mas Indra.. Alhamdulillah kabar baik, mas 😊
      Hehehe jadi intinya 'dia' yang bikin semua jadi enak ya 😁

      Delete
  2. Aku kehilangan banget, biasane 5 jam perjalanan sby-kalisat bisa nyicil banyak makanan, sekarang sepi. Makanan restorasi juga Udah ga asik, ga pake gelas, mangkok dan piring beneran lagi. Kangennnn...

    Fasilitas lainnya tambah sip tapi tetepppp kangen panganane 😋

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyo.. Beli kopi pun sekarang pake gelas kertas. Sekarang juga udah ga bisa pesen mi rebus di kereta. Kehilangan banget...

      Delete
  3. aq jarang banget naik kereta, yg paling terakhir itu 2016 ke jogja itupun cuma berangkat saja, pulangnya naik pesawat. nggak nemuin yang jualan sama sekali di dalam gerbong..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tahun 2016 pastinya emang udah gak ada yang jualan dalam gerbong, mbak..

      Delete
  4. Dan aku sama sekali belom pernah naik kereta api! Huhuhu...

    Next mudik HARUS NAIKKK!!!

    ReplyDelete
  5. Memang seru naik kereta, lebih santai daripada naik bus. Bisa lalu-lalang juga.

    Pengalaman beberapa tahun lalu pulang kampung dengan orang tua naik kereta, pulangnya naik bus.

    Kapok naik bus berjam-jam. hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.. Aku lebih seneng naik kereta daripada bus. Lebih seru..

      Delete
  6. duh jadi pengen mudik naik kereta sama ponakan dan bapak ibu. kayaknya enak buka bontot di kereta

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak.. Kalo sekarang lebih enak bawa bontotan.. Kalo dulu mah sengaja gak bawa bontotan biar bisa beli-beli sepanjang perjalanan, hehehe

      Delete
  7. ahhh.. ini impian pengen ngajak anak-anak naik kereta api mbak....

    dan makan nasi bungkus sama mereka.. aishh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insya Allah kesampaian someday ya.. 😊

      Delete
  8. Nasi bungkus murah meriah masi jaman old

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha iya, soalnya jaman now udah gak murah lagi 😁😁

      Delete
  9. Nasi bungkus memang top dah. Terlebih disaat dimakan ditempat terbuka, pasti lebih enak. Terakhir waktu aku gowes ke pantai juga gitu, bawa nasi bungkus dari kost. Jadi disana nggak beli, karena di daerah pantai biasanya lebih cenderung mahal..he

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe iya bener. Tapi kadang tetep pengen cobain makanan yang dijual di lokasi wisata yaa..

      Delete
  10. sejak sistem dibenahi, saya belum pernah naik kereta api lagi sih. cuma, cerita-cerita seperti ini sih yang sudah bisa diprediksi bikin kecewa kalau nanti naik kereta api. ramai pedagang, pengamen, dan orang-orang yang berlalu lalang udah nggak ada lagi di kereta ekonomi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Wen.. Rasanya seperti ada yang hilang

      Delete
  11. kangen dengan suara teriakan, cangcimen cangcimen,kacang kuaci permen, semenjak perbaikan sistem pedagang tidak boleh lagi keliling di kereta api hmmm

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha bener, Leh... Cangcimen cangcimen! Mijon.. Mijon.. 😂😂😂

      Delete
  12. aah mba din, cerita mu membuat ku melow karna gak pernah ngerasain nikmatnya makan nasi bungkus di atas kereta api sambil melihat lalu lalang penjual makanan di lorongnya. apalagi naik kereta apinya baru 1 kali doang :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sini main ke Jawa.. Puas-puasin naik kereta 😊

      Delete
  13. Saya belum pernah naik kereta di jawa mbak Dee, jadi gak ada kenangan apa-apa di atas KA. yang ada kenangan di warung bakso. hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cieeee kenangan ama papanya Queen di warung bakso ya? 😉

      Delete
  14. Nasi bungkus 3 ribu nikmatnya ya mbak.....

    ReplyDelete
  15. Waduhhh, jadi teringat perjalanan dengan kereta dari Surabaya ke Bandung. Seru banget kalo mengingat perjalanan dengan kereta. Apalagi kelas ekonomi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah perjalanan Surabaya-Bandung naik kereta api ekonomi puas banget tuuh 😁😁

      Delete
  16. duh ... kangen banget sama nasi bungkus di bandung, diiringi dengan udara sejuk, membuat hati terasa teduh dan ingin nambah lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Uhuk! Lagi nostalgia ya, mas? 😁😁

      Delete