Romantika Mandalika

Monday, November 27, 2017


Matahari muncul dari balik bukit. Perlahan menyingkap kabut yang melingkupi bebukitan. Saya dan suami berjalan menikmati suasana pantai yang masih sunyi. Membiarkan kaki-kaki kami terbenam dalam butiran-butiran pasirnya yang seperti merica. Butiran pasir serupa merica ini merupakan keunikan yang menjadi salah satu daya tarik pantai ini.

Beberapa saat kemudian, geliat kehidupan mulai terlihat. Seorang lelaki dengan jala tersampir di pundak tersenyum ramah menyapa kami. Ibu-ibu penjual kain, dan anak-anak penjual gelang mulai berkeliling menawarkan dagangannya. Kami masih asik duduk di atas batu karang, menikmati pesona yang ditawarkan pantai ini, Pantai Mandalika.

Mencari ikan

Gadis penjual gelang

Pantai yang berada di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah ini memiliki pesona yang melenakan. Air lautnya jernih dengan ombaknya yang tenang, dikelilingi bebukitan hijau yang meneduhkan. Para penggemar fotografi pasti tak akan melewatkan setiap sudut pantai ini.

Baca juga: Gili Meno, Ada Pesona dalam Heningnya

Matahari sudah semakin tinggi sewaktu kami memutuskan untuk berjalan kaki menyusuri pantai ke arah timur. Ternyata tidak mudah berjalan di pantai ini. Butiran-butiran pasirnya yang seperti merica membenamkan kaki kami sampai sebatas betis. Berat.

Butiran pasirnya seperti merica

Semakin ke timur, semakin sepi pengunjung. Kami terus saja berjalan hingga akhirnya kami sampai di atas sebuah bukit di Pantai Seger. Pemandangan dari puncak bukit luar biasa indah. Air laut di bawah sana terlihat biru sempurna. Seolah hendak menyaingi birunya langit pagi itu. 

Pantai Seger ini lokasinya berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Sehingga tak heran kalau ombak di pantai ini cukup besar. Kawasan ini menjadi favorit para penggemar olah raga surfing. Melihat para wisatawan asing menenteng papan selancar adalah merupakan pemandangan lazim di sini. Sepeda motor yang disewakan di sini pun sudah banyak yang dimodifikasi dengan menyediakan cantolan untuk menyangga papan selancar. 

Tradisi Bau Nyale dan Legenda Sang Putri

Kami duduk di stas bukit, menikmati pemandangan dan hembusan angin yang sepoi-sepoi. Saya teringat percakapakan semalam dengan pak Hadi, pemilik sepeda motor yang kami sewa. Kami tengah asik menikmati kopi di barugak depan penginapan sewaktu beliau bercerita tentang tradisi Bau Nyale. Sebuah tradisi turun temurun masyarakat Sasak, khususnya di Lombok Tengah.

Menikmati pemandangan dari atas batu karang

Bau Nyale berasal dari bahasa Sasak. Dalam bahasa Sasak, bau artinya menangkap. Sedangkan nyale ini adalah sejenis cacing laut bernama Latin Eunice Fucata. Jadi Bau Nyale artinya adalah menangkap cacing laut. Uniknya, nyale ini hanya muncul ke permukaan laut dua kali dalam setahun, yaitu pada bulan ke-10 dan 11 dalam penanggalan Suku Sasak. Atau sekitar bulan Februari dan Maret.

"Sepanjang pantai ini penuh orang tangkap nyale. Sampai ke Pantai Seger sana." Pak Hadi menunjuk pantai di depan kami. 

"Bukan cuma bapak-bapak. Ibu-ibu dan anak-anak pun ikut tangkap nyale. Malah biasanya ibu-ibu yang ramai." Kami pun tertawa, membayangkan para ibu ribut menangkap cacing. 

"Sudah pernah dengar cerita Putri Mandalika?" Kami menjawab pertanyaan pak Hadi dengan gelengan kepala. Dan sedetik kemudian, kami berdua pun hanyut dalam legenda Putri Mandalika yang dikisahkan oleh pak Hadi. Tradisi Bau Nyale memang selalu dikaitkan dengan legenda Putri Mandalika. Karena konon katanya, nyale-nyale itu bukanlah cacing biasa, tapi jelmaan Putri Mandalika.

Baca juga: Jejak Lampau Sembalun di Desa Beleq

Ceritanya, pada jaman dahulu hiduplah seorang putri cantik dan baik budi pekertinya. Putri itu bernama Putri Mandalika. Karena kecantikan dan kebaikannya, banyak raja dan pangeran yang jatuh hati dan ingin menjadikannya permaisuri. Putri Mandalika bingung dan tidak bisa menentukan pilihan. Ia takut kalau memilih salah satunya, maka pihak yang tak terpilih akan marah dan bisa jadi menimbulkan peperangan. Putri Mandalika tidak ingin rakyat menjadi korban akibat peperangan itu.

Akhirnya Putri Mandalika memilih untuk menceburkan diri ke laut dan berubah menjadi nyale. Masyarakat Sasak mempercayai bahwa nyale dapat membawa kesejahteraan bagi yang menangkapnya. Karena itulah setiap tiba waktunya nyale-nyale itu muncul ke permukaan laut, para warga berlomba-lomba untuk menangkapnya. 

Hingga kini, tradisi menangkap nyale masih terus dilakukan bahkan dijadikan agenda tahunan oleh Pemerintah Daerah Lombok Tengah. 

Saya selalu suka dengan kisah-kisah yang menjadi latar belakang suatu tempat atau budaya. Terlepas dari benar atau tidaknya kisah itu, bagi saya, yang namanya legenda tetaplah menarik. Kisah-kisah legenda itu selalu bisa membawa imaji hayal saya berkelana. Membayangkan apa yang terjadi pada masa itu. 

Pagi itu, saya menyaksikan ombak bergulung-gulung dan pecah menghempas batu karang. Mendadak saya bergidik membayangkan sesosok putri yang melompat dari atas bukit dan hilang digulung ombak. Kisah legenda Putri Mandalika mungkin tak berakhir manis seperti kisah-kisah dongeng para putri dan pangeran yang berakhir di pelaminan. Tapi kisah pengorbanan sang putri yang mencintai rakyatnya, akan terus abadi.

***
Tulisan ini merupakan versi asli dari tulisan saya yang dimuat di Majalah Aviantara edisi bulan November 2017


You Might Also Like

20 komentar

  1. kalo ke lombok demen deh bawa pulang pasirnya yang seperti merica, krn gak ada di jakarta,, hehehe

    ReplyDelete
  2. Aku kangen Mandalika! Aku masih simpan pasir ladanya, sering aku lihat-lihat, bikin kangen Lombok. Selamat ya mbak Dian, tulisannya keren.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi sama mbak.. Pasirnya pun masih ada di rumah 😁😁😁
      Makasih ya mbak..

      Delete
  3. Ah udah ke sana aja mbak.. legenda putri Mandalika udah aq tau dr SD tp sampe skrg blom k sana.. huhu.. klo ditempatku pasir merica itu disebut jg pasir gotri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah iyaaa.. Aku ingat. Beberapa orang juga nyebutnya pasir gotri..

      Delete
  4. Aku belum pernah ke mandalika tapi sudah ke pantai kuta lombok yang pasirnya juga kayak merica

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pantai yang sama mbak.. 😊
      Sekarang namanya jadi Kuta Mandalika

      Delete
  5. wah masuk majalah lagi. Habis ini mau japri ah tanya-tanya, hehe. anyway ini pasirnya kayak di pantai Kuta Lombok ya, sampai sekarang masih kuingat karena seperti merica. Kisah Mandalikanya sedih banget hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak.. Pantai yang sama. Sekarang namanya jadi Kuta Mandalika.

      Delete
  6. Eh,kalau nggak salah pernah lihat iklan Mandalika yang dbintangi Pak Presiden, yah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener. Beliau yang meresmikan kawasan ini jadi KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) Mandalika

      Delete
  7. pernah baca tentang tradisi bau nyale, kalau bisa lihat langsung tradisi itu seru banget yah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.. Aku juga penasaran pengen liat langsung tradisi bau nyale. Cuma sampe sekarang belum kesampaian..

      Delete
  8. Aku ingat legenda Putri Mnadalika ini, menarik banget dan bikin penasaran
    Btw itu butiran pasirnya gede2 banget ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak.. Butiran pasirnya gede-gede. Persis butiran merica..

      Delete
  9. enak juga ya kalau jalan-jalan ke mandalika sambil lihat tradisi bau nyale...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak. Aku udah lama pengen liat. Tapi belum kesampaian..

      Delete
  10. Eh ini berarti dari pantai kuta terus ke timur ya??? Dulu cuma sampe kuta aja :D

    Bikin artikel tentang tips biar tulisan bisa dimuat di majalah gitu dong hihi..

    -Traveler Paruh Waktu

    ReplyDelete
  11. Mendengar legenda suatu tempat menjadikan kesan tersendiri yang selalu menarik untuk disimak. Jadi penasaran bentuk aslinya nyale kaya gimana.

    ReplyDelete