Romantika Kereta Api

Saturday, October 07, 2017


Saya bersama keempat teman duduk di depan pintu kereta api. Kami bukannya sengaja memilih duduk di sini, walau pada akhirnya kami berlima justru sangat menikmati keadaan ini. Kami berlima memang tidak kebagian tempat duduk.

Saya duduk bersandarkan ransel yang seharian tadi telah membebani punggung. Keempat orang cowok yang menjadi teman seperjalanan saya selama seminggu ini masih asyik dengan kesibukannya masing-masing.

Saya, Deddy, Oscar, Anang, Ferry

Deddy, cowok berwajah baby face itu sudah lelap dalam tidurnya. Sama sekali tak terganggu dengan keramaian di sekitar kami. Oscar, cowok jangkung berkulit gelap itu masih saja sibuk tebar pesona kepada makhluk manis yang sedari tadi diincarnya. Sedangkan Ferry, nyong Ambon bersuara emas itu asyik menyanyikan lagu Jika-nya Ari Laso dan Melly Goeslow, yang tak bosan-bosannya dia nyanyikan sejak hari pertama keberangkatan kami. Sementara Anang, cowok berambut gondrong dan berwajah manis yang diam-diam telah mencuri hati saya itu mengiringi nyanyian Ferry dengan petikan gitarnya. 

Deddy, Ferry dan Anang adalah sahabat-sahabat saya di kampus. Sementara Oscar yang merupakan teman sekolah Deddy sewaktu SMP, baru kami kenal pada hari pertama keberangkatan kami seminggu yang lalu. Kami baru saja mengisi liburan semester dengan backpacking ke beberapa kota di Jawa Tengah. Purwokerto, Wonosobo dan Jogja

Jadul pisaaaan... Hahaha 

Pedagang makanan lalu-lalang di hadapan kami. Saya sedang asyik membayangkan sebungkus nasi pecel lengkap dengan peyek yang renyah ketika sebuah suara mengagetkan saya. 

“Lapar?” Cowok manis itu menghentikan petikan gitarnya. Saya hanya mengangguk. Cowok itu merogoh saku celana jeans-nya. 

“Tinggal segini…” Cowok itu tersenyum sambil memperlihatkan tiga lembar uang seribuan yang tersisa di saku celana jeans-nya.

Saya ikut-ikut merogoh saku celana dan tersenyum hambar mengeluarkan selembar uang seribuan yang tersisa. “Buat naik angkot…”

“Simpan aja uangmu. Buat naik angkot.” Kami tertawa bersama. Cowok itu memanggil seorang penjual nasi dan membeli sebungkus nasi pecel.

“Kita makan sama-sama, yuk!” ujarnya sambil menyodorkan sebungkus nasi pecel yang tadi dibelinya. Kami berdua makan dengan lahap. Kebetulan ketiga teman kami sudah terbang ke alam mimpi, jadi tidak ada yang mengganggu kami hingga suapan terakhir.

“Nggak minum?” tanya cowok itu setelah kami berdua menghabiskan nasi bungkus.

“Nggak ada yang bisa diminum. Duitnya kan buat naik angkot…” jawab saya sambil nyengir pasrah.

Cowok itu menoleh ke jendela. Saya pun mengikuti arah pandang matanya. Di luar, hujan turun semakin deras. Tiba-tiba cowok itu tersenyum lebar. 

“Ayo ikut…” ucapnya sambil menarik tangan saya. Dan saya pun cuma bisa pasrah mengikutinya, sambil bertanya-tanya dalam hati. Ulah apalagi yang akan dilakukan cowok satu ini?

Sampai di depan pintu kereta yang terbuka, kami berhenti. Cowok itu menatap saya sambil tersenyum penuh arti. Kemudian tangannya berpegangan erat pada pintu kereta, sementara kepalanya dijulurkan keluar dengan posisi menengadah. Mulutnya sengaja dibuka lebar-lebar untuk menampung air hujan yang menetes dari atap kereta.

Cukup lama dia bertahan dalam posisi seperti itu. Sampai akhirnya dia kembali berdiri di hadapan saya sambil mengibaskan rambut gondrongnya yang basah kena air hujan. 

“Seger…!!!” ucapnya seraya tersenyum lebar. 

Saya pun langsung mengikuti aksinya. Dengan berpegangan erat pada pintu kereta, saya menjulurkan kepala dan membuka mulut lebar-lebar. Membiarkan air hujan yang menetes dari atap kereta membasahi kerongkongan saya. Segar.

Kami saling pandang. Rambut gondrongnya basah kuyup, begitu pun jilbab saya. Tapi, kami tak peduli. Kami malah tertawa-tawa dengan riangnya seperti bocah kecil yang mendapatkan mainan baru. Kami bahkan tak peduli dengan tatapan orang-orang di sekitar, yang menatap kami dengan pandangan aneh yang sulit untuk diartikan.  
Itu hanya salah satu kisah kecil yang akhirnya membuat kami dekat dan diam-diam saling menyimpan rasa. Rasa yang tersimpan dalam hati itu mungkin hanya kami dan Tuhan yang tahu. 

***

Belasan tahun berlalu sejak perjalanan tak terlupakan itu. Sekarang cowok gondrong itu sudah menjadi ayah dari anak-anak saya.

You Might Also Like

23 komentar

  1. Manis banget Mba ceritanya, dan keren banget jadi suaminya. Hehe. Itu nggak mules Mba minum air dari cucuran atap kereta? Haha. Ada2 aja ya emang jaman muda :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha alhamdulillah waktu itu baik-baik aja.. Kalo diinget-inget lagi, rasanya emang parah banget yaa 😂😂

      Delete
  2. aku pertama naik kereta lampung prabumulih umur 5 tahun kayaknya ada foto2nya :D

    terus jaman sma pernah sekali lampung palembang

    terakhir kmrn ya ke cirebon

    ReplyDelete
    Replies
    1. terus, orang yg duduk di sebelahmu itu pasanganmu sekarang? *eh :p

      Delete
    2. Aku dari kecil udah sering diajak naik kereta ama ortu.. Selalu seneng kalo diajak naik kereta.

      Delete
    3. Deddy: kita tunggu saja kisahnya 😄

      Delete
  3. Hihihi jadul abis ya.... Saya juga paling suka makan nasi pecel kalau naik kereta api... Ntahlah rasanya beds bangets kalau makan nasi pecel di atas kereta... (Sugesti padahal ya)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha bener banget mbak.. Kalo makan di kereta, rasanya jd lebih nikmat yaa.. 😁😁😁

      Delete
  4. Mas Anang wajahnya gak berubaaaah.

    Ya ampun, manis banget sih kisahnya mbak Dee dan mas Anang ini. Gak kebayang ntar kalo Lala udah gede dan bisa baca blog dan baca tulisan ini hahahaha.

    omnduut.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwkwk.. Ntar bisa-bisa dia niru minum air hujan dari kereta, Yan.. 😂😂😂

      Delete
  5. wah aku perlu berjumpa sama suami nya mbak Dee nih :D

    ReplyDelete
  6. Langsung merasa terenyuh begitu membaca kisah ini Kak. Ga tahu harus komentar apalagi, speechless dah pokoknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ceritanya ala2 FTV jaman now ya, bang 😁😁😁

      Delete
  7. ini transportasi jarak jauh favorit saya. soalnya kalau pesawat mahal :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Toss! Cuma sayang, di Batam gak ada kereta api.. 😁😁

      Delete
  8. Hyaahh gk asin air ujan? hehe
    Ciyeeeeeee suwiwiitt haha.
    Dulu ternyata bajunya putih ya mbak? :D

    ReplyDelete
  9. Uwuwuw :3
    Jadi kereta yg mempertemukan dg mas bojo :D romantis mbak

    ReplyDelete
  10. Hahahahaha berani sekali dirimu :D. Tp masa2 dulu memang beda sih yaa.. Kita mah kbanyakan action dulu, mikirnya ntr, akupun begitu pas jaman sekolah :p. Kalo diinget2 sih, kok bisa yaaa dulu begitu hahahahahaha...

    ReplyDelete