Bali Sadhar, Little Bali di Way Kanan

Wednesday, May 03, 2017


adventurose.com - Penjor-penjor bekas perayaan Galungan masih terlihat menghiasi ruas jalan utama. Suasananya menggiring memori pada suatu tempat berjuluk Pulau Dewata. Suasana yang teramat khas. Nuansa Pulau Dewata. Nuansa ini memang langsung terasa sewaktu mobil yang kami naiki memasuki Bali Sadhar, sebuah desa di Kecamatan Banjit, Kabupaten Way Kanan, Lampung. Desa Bali Sadhar ini dihuni oleh para transmigran dari Bali, yang mengungsi ke Lampung pasca letusan Gunung Agung. Setelah puluhan tahun, akhirnya mereka memilih untuk menetap di Lampung. Berada di sini sejenak membuat saya lupa, bahwa saya masih berada di Lampung, bukan di Bali.

 Penjor-penjor bekas perayaan Galungan masih terlihat di ruas jalan utama

Bali Sadhar ini terbagi menjadi tiga wilayah, yaitu Bali Sadhar Utara, Bali Sadhar Tengah, dan Bali Sadhar Selatan. Masing-masih wilayah dipimpin oleh kepala kampung. Bali Sadhar ini bukanlah satu-satunya perkampungan Bali yang ada di Lampung, bahkan di Way Kanan. Selain Bali Sadhar, ada juga kampung Bali di Sopoyono, Kecamatan Negeri Agung, Kabupaten Way Kanan.

Baca juga tulisan saya tentang Warna-Warni Perjalanan Way Kanan

Ramik Ragom sepertinya bukan sekadar semboyan bagi Kabupayen Way Kanan. Berbagai suku, agama, dan budaya hidup rukun berdampingan di kabupaten ini. Salah satunya adalah komunitas Bali di Bali Sadhar ini. Tak hanya bangunan berarsitektur Bali yang bisa kita lihat di sini, tapi juga kehidupan sehari-hari mereka yang masih teguh memegang adat dan budaya warisan nenek moyang. 

Filosofi Kehidupan 

Pagi itu, Minggu 23 April 2017, saya bersama teman-teman blogger ditemani oleh K@WAN (Komunitas Wisata Way Kanan) berkunjung ke Desa Wisata Bali Sadhar. Kami berhenti di depan sebuah pura yang berukuran cukup besar. Pura Tangkas Kori Agung namanya. Seorang lelaki paruh baya berkain sarung dan mengenakan udheng di kepalanya menyambut kami di depan pura. I Ketut Puput, begitu beliau memperkenalkan diri. Pak Puput pun mengajak kami melihat-lihat ke dalam Pura Tangkas yang berada di wilayah Bali Sadhar Utara ini.

 I Ketut Puput

Pura Tangkas Kori Agung ini berdiri pada tanggal 10 Juli 1969. Pura ini merupakan pura keluarga yang hanya diperuntukkan sebagai tempat beribadah bagi keturunan Tangkas Kori Agung yang berpusat di Klungkung, Bali. Bersebelahan dengan Pura Tangkas Kori Agung terdapat Pura Batur.

 Pura Tangkas Kori Agung. Foto by: Rinto Macho

Pura Batur yang dibangun pada tanggal 21 Mei 1966 ini merupakan pura umum, siapa pun bisa beribadah di sini tanpa membedakan latar belakang keturunan, keluarga, profesi, maupun kasta. Pada tahun 1966 dulu, umat Hindu di Bali Sadhar hanya berjumlah 24 kepala keluarga. Seiring berjalannya waktu, jumlah umat Hindu di Bali Sadhar semakin bertambah. 

Ada filosofi menarik yang saya tangkap dari penjelasan Pak Puput tentang relief pada padmasana di Pura Tangkas Kori Agung. Filosofi tentang kehidupan. Bahwa manusia hidup di dunia ini untuk saling menghargai dan menghormati dengan makhluk hidup lain yang ada di semesta ini. Menghargai kepada yang lebih rendah, dan menghormati pada yang lebih tinggi.

 Padmasana di Pura Batur

Keberagaman dari Sebuah Dodol

Siapa yang tidak kenal dodol? Rasanya hampir di setiap daerah di Indonesia ini punya dodol khas masing-masing. Penganan yang umumnya bertekstur kenyal dan lengket ini sangat mudah dijumpai di manapun. Meskipun namanya sama-sama dodol, tapi lain daerah lain pula jenis dodolnya. 

Nah, di Bali Sadhar kami disuguhi dodol Bali sewaktu berkunjung ke kediaman Eyang Resi. Bukan cuma disuguhi dodol untuk diicip-icip, tapi kami juga diajak melihat langsung cara pembuatan dodolnya.

 Rsi Agung Brahma Eka Dhaksa Nata. Foto by: Rinto Macho

Dodol Bali ini berbahan dasar kelapa, tepung ketan, dan gula aren. Pembuatannya masih dengan cara tradisional. Kelapa diparut dan diambil santannya, lalu direbus sampai mendidih. Kemudian dicampur dengan tepung ketan, aduk sampai rata. Masak gula aren dalam api besar, kemudian dimasukkan adonan santan dan tepung ketan. Adonan yang sudah tercampur harud terus diaduk selama kurang lebih satu jam. Setelah masak dan dingin, barulah adonan dodol dibungkus menggunakan kulit jagung.

Memasak dodol. Foto by: Adesta Angga

Di Bali Sadhar, dodol ini merupakan perlambang keberagaman. Mengapa begitu? Karena bahan dasar pembuat dodol ini berasal dari berbagai suku yang ada di Way Kanan. Gula arennya didatangkan dari kampung suku Ogan, kelapanya dibeli dari pedagang suku Jawa, sementara ketannya berasal dari Bali Sadhar sendiri. Ketiga bahan utama ini diolah dan dilebur menjadi sebuah dodol yang nikmat. Rasanya perpaduan dari manis, gurih, dan legit. Seperti itulah sebuah keberagaman. Meski berbeda rupa, suku, maupun agama, tapi kalau ada kerukunan yang melingkupi, pasti akan terasa indah.

Dan yang terpenting lagi, dodol ini dijamin halal. Menurut Eyang Resi, ini adalah salah satu cara beliau menghormati tamunya yang berbeda keyakinan. Yaitu dengan menyuguhkan makanan yang tidak diragukan kehalalannya. Eyang Resi sendiri mengaku ia dan keluarganya sudah tidak lagi memakan segala sesuatu yang berasal dari hewan.

 Dodol Bali

Kalau kamu berkunjung ke Bali Sadhar, silakan beli dodol Bali untuk oleh-oleh. Harganya murah, cuma Rp 1000/buah. Dodol Bali ini tidak menggunakan pengawet. Tapi meskipun demikian, dodol ini bisa tahan hingga 3 minggu. 

Belajar dari Kampung Wisata Bali Sadhar

Mengutip apa yang disampaikan oleh bang Rinto Macho sewaktu kami berdialog dengan para tokoh masyarakat Bali Sadhar di Pura Khayangan, "Dari seluruh kampung wisata yang ada, Bali Sadhar-lah yang terbilang siap menjadi kampung wisata. Karena apa yang ditampilkan sehari-hari, ya seperti itulah adanya. Mulai dari kegiatan sehari-hari, kebudayaan, sampai ritual beribadah, semua yang terlihat bukan diada-adakan."

 Berdialog dengan tokoh masyarakat Bali Sadhar

Pantas saja, nuansa Pulau Dewata begitu terasa sewaktu kami berada di desa ini. Karena masyarakatnya masih tetap memegang teguh ajaran leluhur meski telah puluhan tahun menetap di Lampung. Namun demikian, mereka tetap hidup berdampingan dengan beragam suku lainnya yang ada di Way Kanan.

 Saya di Pura Khayangan. Foto by: Katerina

Ya, mereka tetap memegang teguh dan menjalankan ajaran leluhur tanpa merusak tatanan yang ada di tanah tempat mereka berpijak. Keberagaman itu indah, bila masing-masing bisa saling menghargai dan menghormati.

 Foto bareng tokoh masyarakat Bali Sadhar. Foto by: Sari Marlina

Bagaimana Menuju Kampung Wisata Bali Sadhar?
Bali Sadhar dapat ditempuh menggunakan kereta api maupun bus dari Bandar Lampung. Apabila memilih naik kereta api, bisa turun di Stasiun Blambangan Umpu. Ongkos kereta api dari Bandar Lampung ke Blambangan Umpu Rp 35.000. Dari stasiun Blambangan Umpu traveler bisa menggunakan jasa ojek menuju Simpang Empat Kampung Negeri. Baru kemudian dilanjutkan dengan naik bus jurusan Bandar Lampung dan turun di Baradatu tepatnya di jalan Soponyono. Dari situ traveler bisa menggunakan jasa ojek untuk ke Bali Sadhar melalui jalur Bukit Superli.

Apabila memilih naik bus, dari Rajabasa bisa langsung naik bus jurusan  Banjit, Kabupaten Way Kanan dan langsung turun di Bali Sadhar. Ongkosnya Rp 50.000.

Atau kalau mau lebih mudah, silakan kontak Wisata Way Kanan

Yuk ke Way Kanan! Buktikan sendiri kalau #WayKananAsyik

***

Tulisan tentang Bali Sadhar ini juga dimuat di Rubrik Hangout, harian Tribun Batam edisi Sabtu, 06 May 2017



You Might Also Like

38 komentar

  1. Way Kanan tempat yang nyaman untuk keberagaman :)

    Warna Pura nya cakep. Ga biasa...

    Lalu teringat Adjie saat di Pura Kayangan. Pasti kenangan banget itu haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Way Kanan selalu bikin kangen ya, mbak.. Banyak cerita tak terlupakan di sini. Apalagi di Bali Sadhar ini. Hahaha... Cukup kita saja yang tau :D

      Delete
  2. Saya selalu lewat sini mba Dian kalau mudik dari BL ke Muaradua, Oku.Selatan, tempat Oma. Tapi seumur2 kami ga pernah stop, ternyata cantik2 sekali pura2 di dalamnya ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah.. brati nanti kalo lewat lagi kudu mapir ya :)

      Delete
  3. Terimakasih berkenan berkunjung ke Bali Sadhar, Way Kanan..
    Untuk info bagi yg ingin ngetrip ke Bali Sadhar sila kontak akun FB Wisata Way Kanan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih kembali, bang Rinto yang sudah mengajak saya dan teman-teman ke Bali Sadhar. Berkesan banget bang. Oiya info kontak FB Wisata Way Kanan sudah saya tambahkan ya bang. Terima kasih...

      Delete
  4. waaah, luar biasa!!!lampung kereeen

    ReplyDelete
  5. Replies
    1. Cerah ceria ya mbak... Bikin suasana hati ikutan ceria :)

      Delete
  6. Hi Mba, salam kenal....begitu membaca artikel ini saya sendiri bingung sebenarnya ini diLampung atau di Bali??? Ternyata oh ternyata di Lampung. Persis seperti di Desa Panglipuran ya....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mbak.. Salam kenal juga. Terima kasih sudah berkenan mampir di sini. Iya, suasananya bikin kita gak ngerasa kalo lagi di Lampung :)

      Delete
  7. Persis seperti Desa Panglipuran di Bali ya Mba....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener mbak.. Mirip Desa Panglipuran :)

      Delete
  8. Yang aku kagum itu sama para arsitek bangunan dan pura-pura di Lampung. Imajinasi dan daya ingatnya luar biasa ya. Pasti mereka sendiri yang bangun bukan benar2 sengaja mendatangkan orang ahli dari Bali langsung.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya teh.. Luar biasa banget ya mereka. Saking cintanya pada tanah leluhur, mereka sampai 'memindahkan' Bali ke Lampung.

      Delete
  9. cakepppp budaya Bali emang selalu bikin terpana

    ReplyDelete
  10. My village .........Semoga selalu terjaga .......Semakin indah .......

    ReplyDelete
  11. Setuju.
    Berasa di Pulau Dewata saja, nih!
    So... unik dan eksotik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Next time kalo ke Way Kanan lagi singgah di sini ya kak :)

      Delete
  12. Kental banget suasana Balinya. Warna puranya keren

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, warna puranya cerah ceria ya.. :)

      Delete
  13. Ah ini di Banjit kan Mbak. Kalau di Banjit emang banyak orang Bali nya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener Fajrin.. Ini yang di Banjit. Katanya di Banjit ini komunitas Bali terbesar di Lampung ya?

      Delete
  14. Kalo cuma ngeliat foto tanpa baca ceritanya, emang berasa lg di Bali, ternyata Lampung, keceh banget. Dodolnya itu murah banget mba dan halal, salut deh sama masyarakat yang menjaga kerukunan beragama kayak di Way kanan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget, Eka.. Jadi belajar banyak tentang kerukunan dari desa wisata yang satu ini.

      Delete
  15. ini bali cita rasa lampung lho :D
    aku malah cuma lewat2 aja, dulu ini salah satu jalur patroli pipa di lampung

    ReplyDelete
    Replies
    1. Next time mampir kak.. Desanya asri banget

      Delete
  16. Benar-benar Bali di Lampung. Tata desanya yang teratur dan bersih seperti di Bali

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener banget bang. Masuk sini langsung terasa nuansa Balinya

      Delete
  17. Kampung tercinta nih. Makasi share infonya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waah dari Way Kanan ya? Sama-sama.. Makasih juga udah singgah :)

      Delete
  18. wahh nambah lagi daerah di Lampung yang harus segera dijelajahi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lampung gak akan pernah habis dijelajahi.. Nambah terus destinasi asiknya :D

      Delete
  19. Semakin penasaran dengan Lampung...Banyak yang bisa di explore..

    ReplyDelete