Kemping Romantis di Pulau Bali

Monday, June 15, 2015


Hari sudah mulai sore ketika kami melintas di Jembatan Teuku Fisabilillah, atau yang lebih dikenal dengan nama jembatan 1 Barelang. Jembatan yang menjadi ikon kota Batam ini bukan hanya terdiri dari satu jembatan, melainkan ada enam jembatan yang menghubungkan pulau-pulau besar di wilayah Batam, yaitu Pulau Batam, Pulau Rempang dan Pulau Galang. Keenam jembatan tersebut masing-masing memiliki nama, walaupun masyarakat setempat lebih senang menyebutnya dengan nama jembatan satu, jembatan dua dan seterusnya. 
Jembatan Barelang setiap Sabtu sore maupun hari libur selalu ramai dipadati pengunjung. Sekedar menghabiskan waktu sambil menikmati jagung bakar ataupun udang goreng tepung yang memang banyak dijajakan di sana. Bagi wisatawan yang berkunjung ke Batam, rasanya belum afdhol kunjungannya kalau belum berfoto dengan latar jembatan Barelang. Sampai-sampai ada sebuah olok-olok seperti ini, “jangan ngaku pernah ke Batam kalau belum menginjakkan kaki di Jembatan Barelang.” Hal ini cukup wajar, karena Jembatan Barelang ini memang merupakan ikon kota Batam, seperti halnya Jembatan Ampera di Palembang ataupun Jembatan Mahakam di Samarinda.  

Tapi sore itu, kami berdua tak ingin menambah padatnya pengunjung di Jembatan 1 Barelang, jadi kami terus saja melaju sambil menikmati matahari senja yang semakin beranjak menuju peraduannya. Tujuan kami adalah pelabuhan pompong di Jembatan Nara Singa, atau yang lebih dikenal dengan sebutan jembatan 2 Barelang. Sebuah jembatan yang menjadi penghubung antara Pulau Tonton dan Pulau Nipah.

Sesampai di pelabuhan, pak Karim, tukang pompong langganan kami ternyata sudah menunggu. Sebelumnya aku memang telah mengabari beliau lewat sms, bahwa sore ini kami berdua akan menyeberang ke tempat biasa. Pak Karim sudah sangat paham dengan tempat biasa yang kami maksud. Karena ini bukan pertama kalinya beliau mengantar kami ke sana. 

Sore itu kami akan menyeberang ke pulau Bali. Haaa…?! Menyeberang dari Batam ke Pulau Bali menggunakan pompong…?! Yang benar saja, mau berapa bulan terombang-ambing di tengah laut..?! Pertanyaan-pertanyaan seperti itu pernah dilontarkan oleh kawan-kawan yang belum mengetahui tempat ini. Mereka pasti mengira, Pulau Bali yang akan kami tuju ini adalah Pulau Dewata yang kecantikannya sudah tersohor sampai ke manca negara itu. Padahal, Pulau Bali yang kami tuju sekarang ini lokasinya masih di Batam juga. 

Pasti banyak yang belum tau kan, kalau di Batam juga ada Pulau Bali..?! Bahkan warga Batam sendiri pun mungkin belum banyak yang tau tentang keberadaan pulau ini. Entah siapa yang memulai, memberi nama Pulau Bali pada pulau kecil ini. Yang jelas, tukang pompong yang ada di sekitar jembatan 1 maupun jembatan 2 Barelang pasti mafhum kalau kita bilang mau menyeberang ke Pulau Bali. Karena Pulau Bali yang ini memang sering menjadi tujuan warga Batam untuk sekedar bersantai melepas lelah. 

Perjalanan menuju Pulau Bali tidak lama. Setelah terombang-ambing di tengah lautan selama sekitar sepuluh menit maka sampailah kami di Pulau Bali. Berada di pulau ini aku jadi teringat kisah Robinson Crusoe yang terdampar di sebuah pulau kosong yang jauh dari peradaban. Sama seperti kami, tapi kami tidaklah jauh dari peradaban, karena gemerlap lampu di jembatan 1 Barelang masih tampak jelas terlihat dari sini. 

 Jembatan 1 Barelang terlihat jelas dari Pulau Bali

Selalu menyenangkan rasanya berada di tempat seperti ini. Suasana tenang, jauh dari hiruk pikuk keramaian kota, hanya ada suara ombak dan desah angin yang terdengar. Suasana itu terasa lebih sempurna, karena aku menikmatinya bersama dia, suamiku tercinta. 

Sambil menikmati suasana Pulau Bali, kami mencoba menghubungi pak Mahadi sang penjaga pulau. Beliau dan keluarganya tidak tinggal di pulau ini, tapi setiap hari selalu datang untuk membersihkan pulau. Tak heran, pulau ini walaupun kosong tak berpenghuni, tetapi selalu nampak bersih. Nomor telepon pak Mahadi terpampang di salah satu papan. Sengaja diletakkan di situ, agar pengunjung yang berniat menginap di pulau bisa menghubungi beliau. Tapi sore itu, kami tak berhasil menghubungi pak Mahadi. Ah biarlah, toh pak Mahadi juga sudah mengenal kami berdua.

 Tenda sudah beres

Karena hari juga sudah mulai gelap, maka saya pun menyalakan sebatang lilin. Setelah semua beres, kami mulai menyiapkan makan malam. Bukan menu yang istimewa, hanya dua bungkus nasi ayam penyet yang kami bawa dari Batam sebagai bekal untuk malam ini. Menu biasa yang kami nikmati dalam suasana yang tidak biasa. Candle light dinner di tengah alam terbuka.

 Candle light dinner

Sedang asyik menikmati makan malam, tiba-tiba kami mendengar suara langkah kaki yang berjalan menuju ke arah kami. Tekstur tanah di Pulau Bali memang berbatu, sehingga suara langkah sepelan apa pun pasti akan terdengar. Apalagi di heningnya suasana malam seperti itu. Kami berdua langsung menghentikan obrolan dan memasang telinga baik-baik. Serta reflek membawa tangan kami meraih pisau lipat masing-masing. Di pulau tak berpenghuni seperti ini, apa pun bisa saja terjadi, bukan?

Langkah  kaki itu memang menuju ke arah kami, dari suara langkahnya, sepertinya hanya ada satu orang yang datang. Ketika kami sudah siap menghadapi siapa pun tamu tak diundang itu, sorotan senter langsung menerangi wajah kami, dan kami menarik nafas lega setelah mengetahui siapa yang datang itu. Beliau adalah pak Mahadi, sang penjaga Pulau Bali. Rupanya cahaya senter kami tadi terlihat sampai ke Pulau Panjang, tempat beliau tinggal yang memang menghadap langsung ke Pulau Bali ini. Mungkin cahaya senter kami cukup mencurigakan bagi beliau, sehingga beliau terpaksa kembali lagi kemari dengan menaiki sampan dayung. Pantas saja kami tak medengar suara mesin pompong tadi. 

Kami pun memohon maaf karena dari tadi tak berhasil menghubungi beliau untuk mengabarkan kedatangan kami ke pulau ini. Salut pada pak Mahadi, beliau menjaga pulau ini dengan penuh tanggung jawab. Dan beliau tidak mau ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi di pulau ini. 

Begitu mengetahui siapa tamu di pulau ini, pak Mahadi langsung pamit setelah sebelumnya menyerahkan kunci pondok kepada kami, karena siapa tau nanti turun hujan dan kami ingin berteduh di dalam pondok. Di Pulau Bali ini ada sebuah pondok kayu yang memang disediakan untuk pengunjung yang ingin bermalam di sini. 

Malam semakin larut, kami berdua hanya menghabiskan waktu sambil berbaring menatap bintang dan mendengarkan debur ombak. Suasana seperti ini yang selalu kami cari. Tenang dan damai rasanya. Nyanyian alam malam itu membuat kami tertidur pulas. Cuaca malam hari itu sangat cerah sehingga kami tak merasa perlu untuk menginap di dalam pondok. Cukuplah tenda kami sebagai tempat berlindung malam ini.

***

Keesokan harinya kami memilih untuk berjalan-jalan saja mengelilingi Pulau Bali. Pulau Bali ini memang dijadikan tempat wisata. Selain pondok untuk tempat menginap, ada juga kano yang bisa disewa untuk mengelilingi pulau. Di sini kita hanya akan dikenai biaya 5ribu rupiah untuk biaya kebersihan pulau. 

Morning view from Pulau Bali

 Jembatan 1 Barelang terlihat dari Pulau Bali

Pulau Akar di seberang sana


Main ayunan. Yang kelihatan di belakang itu pondoknya

Air laut yang tampak jernih seolah memanggil-manggil kami untuk segera menceburkan diri. Dan karena tidak tahan godaan, kami segera menyambut panggilan itu. Segar sekali rasanya ketika dinginnya air laut menyentuh tubuh ini. Pagi itu kami serasa berada di pulau milik pribadi. Di tempat yang cantik dan tenang seperti ini, hanya ada kami berdua. Ahh… indahnya….

 Main air. Byuuur!

Terlalu lama bermain-main di air membuat perut kami terasa keroncongan. Kini saatnya untuk memanjakan lidah dan perut dengan menu andalan, indomi goreng dengan sarden dan susu coklat. Hehehe… Menu seperti ini akan terasa lebih nikmat kalau dimakan di alam terbuka sambil memandang lautan, apalagi kalau dinikmati berdua dengan orang tercinta. Gak percaya? Silahkan coba sendiri…

 Waktunya sarapan

Kucing penunggu pulau :D
Belum lagi habis sarapan kami, pak Mahadi dan istrinya sudah datang ke Pulau Bali untuk bersih-bersih. Beliau sudah sarapan sebelum berangkat ke pulau, sehingga menolak ketika kami ajak sarapan bersama. Jadi beliau hanya menemani kami mengobrol santai di bawah pohon kelapa. Tak lama istrinya ikut bergabung bersama kami, menikmati hari yang masih pagi sambil berbagi cerita. Kemudian pak Mahadi menawarkan gonggong hasil tangkapan anaknya semalam. Kami pun mengikuti beliau ke salah satu bangunan yang bisa digunakan sebagai dapur di pulau ini. 

 Foto bareng bu Mahadi


 Foto bareng pak Mahadi

Olala… mataku langsung berbinar menatap gonggong dalam ember itu. Gonggong adalah sejenis siput yang masuk dalam keluarga mollusca gastropoda. Gonggong biasa dijumpai di restoran-restoran seafood di Batam, Bintan dan pulau-pulau lain di wilayah Kepulauan Riau. Selain berprotein tinggi, cangkang (kulit) gonggong ini bisa menjadi souvenir khas dari Kepri. 

Selain gonggong, masih ada kijing alias kerang hijau dan juga kerang kapis, yaitu kerang yang cangkangnya berbentuk seperti kipas. Pak Mahadi menyuruh kami untuk membawa semua, dan menolak ketika kami ingin membayar. Kata beliau untuk oleh-oleh. Haa..?! sebanyak itu..?!

Kalau kami harus membeli di Batam, entah berapa rupiah yang harus kami keluarkan, untuk gonggong aja, harga sekilonya Rp 15.000 – Rp 20.000. Sedangkan gonggong dan kawan-kawannya yang ada di depan kami itu, kami taksir beratnya sekitar 5 kilo. Dengan sedikit memaksa kami memberi uang sebesar Rp 15.000 untuk ditukar dengan semua gonggong tersebut. Untunglah pak Mahadi akhirnya mau menerima uang kami tersebut. Aiiih… bakal pesta gonggong di rumah nanti malam… 

 Pohon kelapa di Pulau Bali

Setelah membongkar tenda dan packing semua perlengkapan, kami memilih duduk-duduk di bawah pohon sambil memperhatikan beberapa orang yang sedang memancing di sekitar situ. Pulau Bali ini setiap hari libur memang sering didatangi orang untuk memancing. Pemancing yang ingin memancing di sekitar pulau, bisa menyewa mini boat berkapasitas 4 orang. Atau kalau tidak ingin menyewa boat, bisa duduk-duduk saja di pantai, karena sudah tersedia bangku-bangku taman untuk bersantai di sekitar pulau. 

 Meja dan bangku tersedia

 Yeaaay.. dapet ikan!

Pak Karim sudah datang menjemput. Setelah berpamitan kepada pak Mahadi dan istrinya kamipun segera meninggalkan pulau Bali dan berjanji akan datang lagi di lain waktu. Sudah waktunya kami kembali pada hiruk-pikuknya kota Batam. 

 Bye Pulau Bali... see you next time...

You Might Also Like

14 komentar

  1. Aihhh.. pasti candle light campingnya romantis banget, Mbak... Sarapannya kempingnya khas baget, ya Mbak. Kami pun kalau kemping makannya gak jauh2 dari mie instan, sarden, kornet dan telor. hehehe. Kalau gak males, bikin roti bakar.. ira

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha... itu emang menu paling favorit kalo kemping ya mbak :D
      Itu sengaja nyalain lilin biar hemat batre senter, mbak... :D

      Delete
  2. aduh aku udah lama lho ngga camping gini, perlengkapan lenong yg masih tersisa cuma ransel dan tempat telur...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama.. peralatan lenongku juga udah pada ilangan kok.. Yuk abis lebaran kita kemping di pulau-pulau... :D

      Delete
  3. yudi kirain, tadinya ini beneran di bali, begitu baca, kok ada barelangnya? ternyataa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha.. asik banget kalo bisa kemping di Bali beneran ya :D

      Delete
  4. Aduh....lagi asyik-asyik liat foto yang romantis-romantisan eh ada foto kucing pasang tampang galak. Jadi degdegan hahaha

    Foto paling atas itu bagus banget mbak. Suka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, wajah kucingnya sangar banget ya.. :D
      Makasih mbak Rien, itu padahal aslinya kecewa gak dapet sunrise gara-gara mendung.. :)

      Delete
  5. ciee ciee mama lala lagi romantis niii.. jadi pingin kemping, hiks hiks hiks..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo kita kemping, mbak Ima... :)

      Delete
  6. Baru tahu ada pulau bali di batam :D
    Makan sederhana itu nikmatnya liar biasa. Cukup dengan nasi panas, ikan asin sama sayur asem, wah udah nikmat banget. Apalagi kalau makan jengkol/pete pake sambel terasi :D
    Lilin selalu menimbulkan efek romantis ya :)

    ReplyDelete
  7. Pingin juga camping di pulau terpencil gitu. Emang sampeyan bawa pisau berapa untuk bersiap kelai ? ihhh nggak ngebayangin candle light dinner di pulau tenang berteman bintang bintang. disitu saya merasa iri :)

    ReplyDelete
  8. nyesel baca postingan ini...
    pasangan mana pasangaaaaaaaaaaaaaaaaan!!!!!!

    ReplyDelete
  9. Selamat Siang!

    salam kenal! nama saya Gema, pendatang baru di batam ( belum 1 tahun) hahaha dan masih pingin cari2 spot2 buat kemping secara udah kebiasaan dari jaman kuliah :P atau sekedar mbolang2 menikmati alam

    beruntung banget nemu blog ini hehehe ctrl D dulu lah ya Mbak. bermanfaat bgt hahaha

    mungkin bisa dishare mbak harga untuk nyebrang dan kontaknya pak karim dan pak mahadi, kalau memungkin kan sih hehehe

    ReplyDelete