Kegigihan Warga Kinahrejo Mengubah Musibah Menjadi Berkah

Wednesday, June 24, 2015


Patience and persistence are the keys to unlock doors of success. With these two virtues, you grow in reasoning and experience - Ogwo David Emenike

Sebaris Kenangan

Siang yang terik. Udara kering dan berdebu langsung menyambut ketika aku menjejakkan kaki di tempat ini, Dusun Kinahrejo. Sebuah dusun yang terletak 30 kilometer ke arah utara dari pusat kota Yogyakarta. Tepatnya berada di Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Provinsi Yogyakarta. 

Dusun Kinahrejo ini hanya berjarak sekitar 9 kilometer dari Puncak Merapi. Hal ini menjadikan Kinahrejo sebagai salah satu pintu gerbang favorit untuk mendaki Gunung Merapi. 

Aku mengedarkan pandang pada bukit-bukit hijau yang melingkupi desa ini. Terlihat teduh dan melindungi. Nun jauh di sana Merapi terlihat anggun berselimut awan. Bertahun lalu, tempat ini pernah menjadi tempat favoritku kalau berkunjung ke Jogja. Dengan sepeda motor pinjaman aku sering datang ke tempat ini. Bukan untuk mendaki Merapi tentu saja. Hanya sekadar mengagumi keangkuhan dan menikmati pesonanya dari jauh. 

 Merapi berselimut awan

Lima tahun yang lalu, tepatnya tanggal 26 Oktober 2010, dusun ini menjadi salah satu sasaran amukan Merapi. Tapi, meskipun Gunung Merapi menyimpan bahaya dahsyat yang sewaktu-waktu dapat mengancam kehidupan, namun Gunung Merapi juga memegang peranan penting bagi kelangsungan hidup masyarakat di sekitarnya. Kedua hal ini tidak bisa dipisahkan, karena merupakan bagian dari keseimbangan alam. 

Lihat saja kini, lima tahun pasca erupsi, daerah di sekitar sini sudah mulai menghijau kembali. Sungguh berbeda dengan apa yang pernah aku lihat baik di televisi maupun gambar-gambar di internet yang menayangkan kondisi dusun ini yang luluh lantak diselimuti abu vulkanik.  


Kinahrejo mulai berbenah

Selamat Datang di Kinahrejo

Aku sengaja memasukkan Kinahrejo ke dalam daftar kunjungan kali ini. Selain karena ingin sedikit bernostalgia dengan tempat penuh kenangan ini, aku juga penasaran dengan wajah dusun ini pasca erupsi tahun 2010 lalu. 

Dusun Kinahrejo kini mulai berbenah. Tempat ini telah berubah menjadi sebuah tempat wisata baru. Sebuah gapura bertuliskan “Selamat Datang di Agro Wisata Kinahrejo” menjadi penandanya. 

 Selamat datang di Kinahrejo

Area parkir dipenuhi kendaraan. Baik yang beroda empat, maupun beroda dua. Ini tentu menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat sekitar yang mengais rejeki dari banyaknya kendaraan yang diparkir di kawasan ini. 

Untuk berkeliling, pengunjung bisa trekking menuju Puncak Kinahrejo, atau sekedar melihat-lihat rumah peninggalan Mbah Maridjan, sang kuncen Merapi yang ikut menjadi korban dalam erupsi tahun 2010 yang lalu. 

Bagi pengunjung yang tidak ingin berlelah-lelah, bisa berkeliling dengan menumpang jeep Willys ataupun menyewa sepeda motor. Tarifnya 50 ribu rupiah untuk sepeda motor jenis trail, dan 20 ribu rupiah untuk sepeda motor biasa. Sedangkan untuk berkeliling menggunakan jeep Willys tarifnya 250 ribu rupiah. 

 Jeep willys 

 Motor trail

Aku memilih jasa ojek sepeda motor. Selain karena sedang tidak ingin berlelah-lelah, aku juga berharap bisa mendapat cerita menarik dari bapak tukang ojeknya. 

Angin sejuk langsung membelai wajah ketika sepeda motor melaju di antara bebukitan hijau. Segar. Tempat ini masih menawarkan kedamaian yang sama seperti bertahun lalu. Kondisi jalan yang dilewati kini juga cukup baik. 

“Selamat Datang di Kampung Kinahrejo – Welcome to Kinahrejo Village”. Begitu bunyi tulisan yang terpampang pada sebuah plang yang berada tak jauh dari monumen letusan Gunung Merapi. Pada monumen batu itu tertulis nama-nama mereka yang menjadi korban pada erupsi 26 Oktober 2010 yang lalu. Ada 39 nama yang tertulis di sana, termasuk nama mbah Maridjan sang kuncen Merapi. Juga Tutur Priyanto yang merupakan relawan PMI, dan Yuniawan yang merupakan wartawan Vivanews. 

 Papan selamat datang & monumen berisi nama-nama korban

Aku berdiri di atas sebuah bukit sambil menyimak cerita bapak tukang ojek yang mengantarku. Tiba-tiba tangannya menunjuk satu titik tak jauh dari tempat kami berdiri.

“Di situ dulu rumah saya.” ucapnya lirih, nyaris tak terdengar. 

Aku hanya bisa diam. Aku bisa merasakan segores luka pada tatapan matanya. Tentulah perih ketika harus menyaksikan bahwa rumah tempat dulu ia tinggal bersama keluarga kini telah rata dengan tanah. Bukan hanya harta benda yang terkubur di sana, tapi juga segudang kenangan manis. 

Beliau, juga para tukang ojek, tukang parkir, maupun para pedagang yang tadi menawarkan jasanya kepada para pengunjung memang merupakan para korban selamat dari bencana tahun 2010 yang lalu. Mereka yang dulunya adalah petani, dan peternak sapi perah, kini beralih profesi menjadi tukang ojek merangkap pemandu wisata. 

Ada jeda cukup lama yang tercipta di antara kami. Sebelum akhirnya mengajakku beranjak dari tempat itu untuk menuju rumah almarhum mbah Maridjan. 

Memetik Hikmah

Sebuah spanduk bertuliskan “Selamat Datang di Rumah Almarhum Mbah Maridjan” terbentang di hadapan kami. Di tempat ini, aku tak lagi menemukan wujud sebuah rumah seperti sebagaimana mestinya. Hanya ada empat tiang yang menopang atap. Tanpa dinding. Bangunan ini hanyalah tetenger atau penanda, bahwa di tempat inilah dulu rumah mbah Maridjan berdiri. Dan di tempat ini pulalah sang kuncen Merapi itu menghembuskan napas terakhirnya. 

 Bekas rumah almarhum mbah Maridjan

Tak jauh dari penanda tempat di mana dulu rumah mbah Maridjan berada, ada sebuah museum. Museum ini berbeda dari museum pada umumnya. Kalau biasanya museum menyimpan benda-benda peninggalan di dalam sebuah ruangan, kali ini benda-benda peninggalan tersebut diletakkan di tempat terbuka. 

Benda-benda yang masih bisa kita lihat adalah dua buah bangkai sepeda motor dan sebuah mobil APV yang merupakan satu-satunya mobil yang digunakan untuk mengevakuasi warga Kinahrejo pada saat terjadinya erupsi. Mobil APV ini akhirnya terbakar di terjang awan panas di halaman rumah mbah Maridjan. Melihat kondisi bangkai mobil dan sepeda motor yang ada di situ, aku langsung bergidik membayangkan bagaimana dahsyatnya bencana yang terjadi waktu itu.

Selain dua buah sepeda motor dan sebuah mobil APV, masih ada seperangkat gamelan milik almarhum mbah Maridjan. 

 Bangkai mobil dan motor

 Gamelan milik almarhum mbah Maridjan

Di area ini juga didirikan sebuah gardu pandang berwarna biru yang memungkinkan pengunjung untuk bisa menikmati pemandangan sekitar Dusun Kinahrejo dengan lebih leluasa. Untuk naik ke atas gardu pandang dipungut biaya sebesar 3 ribu rupiah. 

Di belakang gardu pandang ada sebuah warung milik putra dan putri mbah Maridjan. Selain menjual makanan ringan, juga terdapat aneka souvenir Wisata Volcano Merapi, seperti kaos, foto-foto, dan VCD. 

 Warung milik anak cucu mbah Maridjan

Salut. Warga dusun ini tidak menjadikan musibah sebagai ajang untuk terus menguras air mata dan peratapan nasib. Tapi mereka bangkit dan berinisiatif menjadikan musibah yang melanda dusun mereka menjadi ladang untuk meraup rejeki yang halal dari berbagai sisi. Mulai dari menjual makanan, dan souvenir yang berhubungan dengan erupsi Merapi, maupun menjadi tukang ojek merangkap pemandu wisata. 

Perlu diketahui, bahwa sebagian hasil penjulan souvenir tersebut akan dikumpulkan untuk membiayai pembangunan Dusun Kinahrejo melalui Paguyuban Masyarakat Kinahrejo. Paguyuban ini didirikan untuk mempermudah penyaluran bantuan dan organisasi dalam pembangunan pasca bencana. 

Bencana itu sudah berlalu. Meski luka akibat kehilangan itu tak akan pernah bisa sembuh, warga Kinahrejo tak ingin larut dalam duka. Bersama-sama mereka membangun kembali puing-puing reruntuhan dusun mereka menjadi sebuah ladang rejeki baru bagi mereka semua. 

Seperti pepeling yang diucapkan oleh mbah Maridjan, “Ajining menungso iku gumantung ana ing tanggung jawabe marang kawajibane.” Yang artinya, kehormatan seseorang itu dinilai dari tanggung jawab terhadap kewajibannya. Ya, itulah teladan yang aku petik dari kehidupan warga Kinahrejo. Bertanggung jawab pada hidup dan tanah yang mereka tempati. 


Perjalanan ini sungguh bukan perjalanan biasa buat aku. Banyak hikmah yang bisa aku petik dari perjalanan ini. Tentang perjuangan dan kegigihan tekad untuk bangkit dari musibah dan mengubahnya menjadi sebuah berkah, tentang amanah dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas yang diemban, seperti yang ditunjukkan oleh mbah Maridjan. 

Bukankah, kegigihan tekad dan semangat berjuang seperti ini yang juga ditunjukkan oleh pahlawan bangsa ini dalam merebut kemerdekaan Indonesia? Ya, jaman memang boleh berubah. Tapi semangat juang dan kegigihan tekad ini harus terus ada dalam diri kita, seluruh bangsa Indonesia. Inilah salah satu bentuk Mahakarya Indonesia yang harus terus kita jaga, sampai kapanpun. 

Dan rasanya, aku jatuh cinta untuk yang kesekian kalinya pada dusun kecil nan bersahaja ini. Pada kesederhanaannya, pada keramahannya, pada semangatnya, pada kegigihan tekad para penduduknya, juga pada keangkuhan Merapi-nya.

Terima kasih Kinahrejo. Heningmu melangitkan syukurku pada-Nya. Bahwa di tanah subur ini, Tuhan telah memberikan anugerah bagi mereka yang gigih  berusaha untuk bangkit dari keterpurukan. 

You Might Also Like

19 komentar

  1. Bergidik liat bangkai mobil dan motornya, bukti kedahsyatan awan panas Merapi.
    Salut dengan mereka yang pernah jadi korban, tetap tegar, bangkit dan terus melanjutkan hidup.

    Oh iya, aku belum pernah ke Merapi lho mbak D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, dari penampakan bangkai mobil dan motor itu aja kita udah bisa membayangkan gimana dahsyatnya awan panas waktu itu. Innalillahi...
      Sama mbak.. aku juga belum pernah naik ke Merapi.. beberapa kali mau ke sana gagal mulu :)

      Delete
  2. Salut buat warga Kinahrejo, semoga selalu diberikan keberkahan. Kabar terakhir gimana sekarang Dee?
    Sukses juga buat lombanya, aku mau ikutan masih belum sempat neh eksekusi ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Wan.. aku juga salut ama kegigihan dan kesabaran mereka. Yuk ikutan juga, deadline masih tanggal 3 Juli kok...

      Delete
  3. awan pyroclastic gunung api memang ngeri, pernah lihat di natgeo gitu. Makanya mobil sama motor bisa jadi kayak gitu. Belom pernah kesini deh aku, kalau kesini pengen cobain naik jeep atau motor trailnya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngeliat tayangannya gitu cuma bisa istighfar berkali-kali ya, Mi... Next time klo ke sana lagi aku juga pengen coba naik jeep-nya.. :)

      Delete
  4. Kalau ingat kisah bagaimana kecintaan Mbah Marijan pada merapi, aku bergidik. Begitu beraninya beliau...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Zahra... aku juga sampe merinding kalo ingat kisah beliau... mungkin itu cara beliau menjaga amanah dan tanggung jawab terhadap tugas yang diemban..

      Delete
  5. Wah, jadi terkenang masa sekitar 8 tahun lalu. Klo ga salah beberapa bulan setelah merapi meletus n ada yg tersekap di bungker itu loh...Waktu itu medanya, booo... pake mobil kijang pula, walhasil penumpang ajrut"an :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngeliat lewat TV aja udah bikin bergidik ya, Ceuosi... apalagi kalo ngeliat langsung

      Delete
  6. Terakhir kesini bulan 2012, Ada keluarga jauh yang kena dampak merapi sekalius jalan jalan. Hebat mereka tetap kembali dan mengembangkan usahanya, Keluarga juga tetap setia menjadi petai salak pondoh di kaki gunung Merapi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak Zulfa.. salut ama kegigihan mereka yang bisa cepat move on.

      Delete
  7. wiiii kalau kesini lagiii kabari ya mba Dee,,,, iya, daerah2 di sana sekarang sudah kembali hijau.. ada berkah dalam musibah ya semoga.. aamiinnn

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insya Allah, mbak Imaaa.... kalo ke Jogja atau sekitaran Jateng lagi pasti aku bakal colek-colek mbak Ima deeh :) *Insya Allah Agustus jadi kita ya mbaaaak...

      Delete
  8. Makjleb rasanya membaca penuturan sang tukang ojek yang menunjuk rumahnya yang sudah tidak ada :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Qy.. aku juga langsung makjleb pas denger itu.. Sampe gak tau lagi mau ngomong apa..

      Delete
  9. Huaaaa... serem ngeliat bangkai mobil itu. Betapa manusia emang sangat sangat lemah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak Ira.. ngeliat bangkai mobilnya kayak gitu langsung gak berani ngebayangin gimana dahsyatnya awan panas waktu itu....

      Delete
  10. Mudah-mudahan bisa ke sini. Kalau nggak tahun ini tahun depan pun nggak apa-apa :D

    ReplyDelete