Lonely Trip to Karimun

Thursday, January 15, 2015


Tiket ferry Penaga Ocean seharga Rp 110.000 sudah di tangan. Saya segera membaurkan diri dalam antrian calon penumpang yang sebagian besar adalah warga Tionghoa. Sambil senyum-senyum sendiri saya membayangkan, kira-kira apa yang akan saya lakukan sesampainya di tujuan nanti? Kejutan apa yang sudah menanti saya di sana? Dan masih sambil senyum-senyum sendiri saya mengambil paspor yang saya simpan di kantong celana dan memindahkannya ke dalam ransel. Saya tidak memerlukan paspor itu saat ini.

Sebenarnya, hari ini saya akan berangkat ke Singapura. Tapi ketika memasuki Pelabuhan Sekupang dan melihat antrian yang cukup panjang di pelabuhan domestik, saya pun segera berbelok dan tanpa ragu ikut mengantri di deretan calon penumpang yang membeli tiket tujuan Karimun. Bukan Karimun Jawa, tapi sebuah pulau yang ada di provinsi Kepulauan Riau. Ya, ke sanalah saya akan pergi.

Inilah yang paling saya suka dari perjalanan solo backpacking. Saya bisa bebas mengubah rencana, bahkan di detik-detik terakhir seperti sekarang ini. Dan ini bukan unplanning trip pertama yang saya lakukan. Saya selalu excited membayangkan kejutan apa yang akan saya temui di tempat tujuan nanti.

Saya memilih duduk di bangku paling ujung dekat jendela, di deretan paling belakang. Tempat yang menurut saya paling strategis untuk mengamati seisi kapal. Kapal ferry Penaga Ocean ini terlihat meriah dengan hiasan dan lampion yang didominasi warna merah. Bersiap menyambut tahun baru Imlek.

Satu setengah jam kemudian kapal merapat di pelabuhan Tanjung Balai Karimun. Saya dan beberapa penumpang bergegas turun karena kapal akan melanjutkan perjalanannya ke Dumai.
 
Saya menyapukan pandangan ke sekeliling. Menikmati langit mendung yang menyambut kedatangan saya di pulau ini. Saya benar-benar tidak mempunyai gambaran, apa yang akan saya lakukan di tempat ini. Karimun bukanlah sebuah tempat tujuan wisata. Saya tidak tau tempat menarik apa yang bisa saya kunjungi di sini. Apalagi perjalanan ini adalah tanpa rencana sebelumnya, sehingga saya tidak mempersiapkan diri dengan informasi-informasi penting tentang tempat ini. Lantas, apa yang membuat saya sampai nekat datang ke Karimun? Ketidaktahuan itulah yang membuat saya tertarik untuk mengunjugi tempat ini.

Saya berusaha membongkar file-file yang ada di dalam memori otak saya. Mungkin saja pernah ada terselip sedikit informasi tentang Karimun. Ahaa…!! Sebuah nama terlintas, Pantai Pelawan. Saya pernah membaca tentang pantai ini di salah satu surat kabar. Dengan percaya diri saya bergegas menuju pangkalan ojek.

First Destination : Pelawan

“Lima puluh ribu, mbak.” Jawab bapak tukang ojek, sewaktu saya menyebut Pantai Pelawan sebagai tujuan.
“Tiga puluh ribu ya, Pak.” Saya mencoba menawar lebih dari setengah harga.
“Waduh, itu sudah harga biasanya, Mbak. Lagipula Pantai Pelawan itu jauh, di Meral sana. Ada sekitar 30 km dari sini.” Jawaban bapak tukang ojek itu membuat saya tidak punya pilihan selain menyetujui harga yang ditawarkan.

Setelah melewatinya sendiri, barulah saya sepakat dengan bapak tukang ojek yang tidak sempat saya tanyakan namanya, bahwa harga lima puluh ribu itu cukup pantas untuk perjalanan yang kami tempuh menuju Pantai Pelawan. Apalagi ditambah dengan kondisi jalan yang rusak parah.

Empat puluh lima menit kemudian sampai juga saya di Pantai Pelawan. Rupanya pantai ini menjadi salah satu tujuan favorit warga Karimun untuk berlibur. Pantainya cukup bersih. Dengan pasir yang berwarna putih kekuningan dan dikelilingi oleh hutan bakau.
 Pantai Pelawan


Saya menikmati keramaian pengunjung sambil menikmati kesendirian saya. Setelah puas mengabadikan suasana Pantai Pelawan melalui jepretan kamera, saya pun mengeluarkan notes dan pulpen dari dalam ransel.

Pantai Pelawan
Yang tak lagi perawan
Butuh kesabaran
Melewati jalur edan
Agar sampai di tujuan
Niat mencari keheningan
Ternyata yang ada di hadapan
Justru keramaian
Sebelum saya bosan
Mari kita jalan

Tulisan singkat yang iseng banget. Sesingkat dan se-iseng perjalanan saya ke tempat ini.

Hari sudah sore ketika saya sampai di Tanjung Balai. Saya langsung mencari tempat untuk menginap. Dan pilihan saya jatuh pada Hotel Holiday Karimun. Saya mengambil kamar yang tarifnya Rp 140.000 per malam. Kamar mandinya dilengkapi dengan bathtub. Yess..!! Saat ini saya memang sedang ingin memanjakan diri.

Setelah memanjakan diri dan pikiran dengan berendam air hangat, kini saatnya saya memanjakan perut. Kebetulan di samping hotel tempat saya menginap ada sebuah pujasera yang dari tadi bau masakannya mengganggu indra penciuman saya. Dan ke sanalah saya akhirnya melangkahkan kaki.

Menikmati Malam di Karimun

Saya memesan satu porsi sotong goreng tepung, setengah porsi kepiting lada hitam dan satu porsi kangkung belacan. Untuk minumnya saya memesan es teh manis, yang kalau di wilayah Kepulauan Riau berubah nama menjadi teh obeng.

“Nasinya berapa, Kak?” tanya pelayan yang mencatat pesanan saya.
“Satu piring aja.” jawab saya.
“Loh, temannya tak makan nasi?” tanya pelayan itu lagi.
“Teman? Teman yang mana, Kak? Saya sendirian kok…” jawab saya tanpa merasa berdosa.
“….” mbak pelayan pun bengong.
“Saya lapar, Kak.” jawab saya sambil tersenyum manis, setelah melihat mbak pelayan itu terperangah menatap menu pesanan saya yang tadi dicatatnya.

Ketika pesanan saya sudah tersaji lengkap di atas meja, saya menyantapnya dengan nikmat. Tak peduli dengan berpuluh pasang mata yang menatap saya dengan pandangan yang sulit untuk diartikan. Hehehe….

Saya bukan sedang kalap ataupun sedang stress dengan memesan makanan begitu banyak. Kali ini saya hanya ingin menikmati kesendirian dengan memanjakan diri, memanjakan pikiran dan memanjakan perut. Lagipula, perut saya belum terisi makanan sejak siang tadi. Jadi, makannya saya rapel sekalian dengan makan malam. *grin…

Setelah semua pesanan saya ludes, kini saatnya jalan-jalan menikmati suasana malam di Karimun. Saya baru saja melangkahkan kaki keluar dari area pujasera, ketika sebuah becak menghampiri saya.
“Saya cuma mau jalan-jalan di sekitar sini, Pak.” jawab saya ketika beliau menawarkan becaknya.
“Saya antar keliling, Mbak. Kasih dua puluh ribu saja.” tawar beliau lagi.

Kali ini, tanpa menawar lagi, saya langsung melompat ke atas becak. Biarlah dua puluh ribu rupiah itu menjadi rejeki beliau malam ini. Becak di Karimun adalah jenis becak kayuh samping. Hal ini memudahkan saya untuk mengobrol dengan bapak penarik becak yang mengaku bernama Pak Buyung itu.

Malam itu Karimun tampak meriah dengan hiasan lampion yang terpasang di sepanjang jalan utama. Klenteng-klenteng pun tampak ramai mempersiapkan perayaan Imlek nanti malam. Di Karimun ini masyarakat Tionghoa populasinya cukup banyak. Sebanding dengan masyarakat Melayu. Dari yang saya perhatikan, jumlah klenteng di pulau ini lebih banyak daripada jumlah masjid.
 Suasana malam di Karimun

Sepanjang jalan, ada hal lain yang menarik perhatian saya selain lampion dan klenteng. Yaitu hotel. Karimun bukanlah sebuah tempat tujuan wisata seperti halnya Jogja. Tapi yang namanya hotel, bertebaran di sini. Hal ini sempat saya tanyakan pada Pak Buyung.

“Orang Singapura dan Malaysia kan sering datang ke sini.” Pak Buyung menjawab pertanyaan saya.
“Berlibur atau bisnis, Pak?” tanya saya lagi.
“Cari perempuanlah…” jawab Pak Buyung lempeng.
“Ooo..” dan saya tak bertanya lebih jauh lagi.

Setelah berkeliling Karimun, Pak Buyung mengantar saya sampai ke depan hotel.

Malam itu saya sudah akan beranjak tidur ketika saya mendengar ada keributan yang suaranya datang dari klenteng yang tak jauh dari hotel tempat saya menginap. Suara genderang bersahutan dengan suara kembang api dan petasan. Saya pun bergegas memakai jaket, jilbab dan menyambar kamera.

Saya tak ingin melewatkan kesempatan menyaksikan perayaan tahun baru Imlek di Karimun. Hujan yang turun rintik-rintik tak mengurangi kemeriahan perayaan Imlek tersebut. Ketika hujan semakin deras dan masyarakat Tionghoa semakin asyik berpesta mearayakan tahun baru mereka, saya memilih untuk kembali ke hotel.

One Day Tour with Angkot

Keesokan paginya setelah sarapan, saya berjalan keluar penginapan. Hanya ingin menghirup udara pagi sambil menyaksikan geliat pagi masyarakat Karimun. Saya melihat ada sebuah angkot yang mangkal di depan hotel. Saya mengobrol dengan supirnya. Bang Yus, namanya.
 Angkot Bang Yus

Ketika mengetahui saya belum mempunyai rencana untuk hari itu, Bang Yus menawarkan untuk mengantar saya keliling Karimun dengan angkotnya. Saya setuju. Tawar menawar antara saya dan Bang Yus akhirnya berhenti di angka seratus ribu rupiah.

Setelah deal, bergegas saya naik ke kamar untuk mengemasi barang-barang. Karena rencananya saya akan check out pagi itu juga. Dan setelah berkeliling Karimun, saya akan langsung kembali ke Batam.

Pantai Pongkar dan air terjun Pongkar menjadi tujuan utama kami pagi itu. Lumayan jauh juga jaraknya. Pantai Pongkar terletak di Kecamatan Tebing. Dari hotel tempat saya menginap di Tanjung Balai Karimun, memerlukan waktu sekitar 30 menit untuk sampai di pantai ini.

Pantainya masih sepi ketika saya sampai di sana. Butiran pasirnya lebih halus dan lebih putih dibandingkan pasir di Pantai Pelawan. Yang menarik adalah pohon cemara yang berjajar di tepi pantai.
 Pantai Pongkar

Dari Pantai Pongkar perjalanan kami lanjutkan ke air terjun Pongkar. Namanya memang air terjun Pongkar, tapi jangan membayangkan air terjun seperti pada umumnya ya. Dan yang sangat disayangkan, kawasan air terjun ini tidak terawat dengan baik. Jorok dan penuh coretan dimana-mana.
 Jalur menuju air terjun

 Ketemu pengunjung yang minta difoto

 Air terjun Pongkar

 Penuh coretan

Narsis dulu ^_^

Setelah puas berkeliling, Bang Yus mengantar saya ke pelabuhan Tanjung Balai Karimun. Dan berakhirlah unplanning trip saya kali ini. Walau unplanning, tapi saya tetap menikmatinya.


:: tulisan lama dari perjalanan ke Karimun, 25-26 Januari 2009.

You Might Also Like

18 komentar

  1. uwah,aku kalau mau ke Siak pasti lewat karimun,penasaran juga soalnya ada kayak gunung gitu,sempat kepikiran mampir,penasaran sama karimun^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku malah pengen lanjut ke Siak, mbak.. :)

      Delete
  2. Waini daerah yang kurang populer di telinga ternyata punya buanyak tempat keren... Karimun sudah jadi incaran lama nih, kebetulan punya teman yang tinggal di sana juga. Baca di sini ternyata harga makan dan penginapan juga tidak terlalu mahal. Ahh tambah bikin mupeng hehehe.
    Omong-omong air terjunnya cuma satu aja ya? Lumayan kecil ya hehehe
    Salam kenal ya kak ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang sepertinya Karimun udah makin rame, apalagi sejak PT. Saipem dibuka. Kalo harga makanan sih kurang lebih aja ama harga di Batam..

      Iya, air terjunnya emang cuma itu. Lumayan rame juga pengunjungnya..
      Salam kenal juga ya, makasih udah mampir sini.. :)

      Delete
  3. Dari dulu pengen kesini, tapi setiap ngajak temen bilangnya "mau liat apa di karimun, nggak ada apa2", mau solo trip masih nggak punya nyali mbak hihi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lumayan juga kok yang bisa diliat di Karimun, ada pantai ama air terjun itu.. hehehe... Penduduknya cukup ramah kok :)

      Delete
  4. Waaahpengen ke karimun. Karimun bedakah dg karimunjawa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beda... Karimun yang ini ada di Provinsi Kepulauan Riau :)

      Delete
  5. Oh catatan lama ya, kirain baru, pantesan enjoy banget travelling sendirian, apa nggak ingat Lala di rumah :D
    kalau bekpeker sejati mah pasti malah lebih asyik travelling sendirian ya Dee.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehe.. iya, tulisan lama... dulu di MP pernah tayang foto-fotonya aja.. :)
      Sebenernya, jalan sendiri, berdua, atau rame-rame itu sama-sama ada enak gak enaknya, Wan :) Tapi iya sih, kalo aku pribadi jujur lebih enak jalan sendiri :)

      Delete
  6. suka banget sotong kayaknya mbak :D
    saya ga berani solo trip seperti itu, ketakutan lebih banyaj mendominasi, hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Lu.. aku suka banget ama sotong..
      Sekali-sekali coba deh ber-solo trip.. setidaknya sekali sebelum menikah dan punya anak... :)

      Delete
  7. Itu Makanan bikin ngiler. Coba Dee An ajak aku Mbolang Pasti tak bantuin Habisin :) Tak Kira Karimun Jawa eh ternyata beda. Nambah wawasan.

    Aku pingin Ke Singapur Naik kapal..... Sampe sekarang belum keturutan. InsyaAllah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo ayo, mbak kita mbolang bareng... ke Ladakh yooo... :)
      Ayo wes kalo mau ke Singapur naik kapal, tak temenin...

      Delete
  8. Baru tau kalo ada air terjun di karimun,,,

    ReplyDelete
  9. Wowww tak bisa berkata apa2 lagi....trip solo yg bisa jadi panutan saya niii...l

    ReplyDelete