Liburan Luar Biasa di Pantai Trikora

Friday, August 29, 2014



Cuaca pagi itu cukup bersahabat. Matahari bersinar cerah. Secerah hati kami yang sudah bersiap memanggul ransel untuk memulai perjalanan hari itu. Aku dan suami akan berlibur di Pulau Bintan, pulau terbesar di wilayah Kepulauan Riau ini. Dengan sepeda motor butut, kami berboncengan menuju Pelabuhan Punggur. Waktu tempuh yang normalnya hanya 45 menit dari tempat tinggal kami di kawasan Batuaji, molor menjadi 1 jam. Ternyata si motor butut cukup kewalahan menunaikan tugasnya.

Jalan menuju Pelabuhan Punggur memang berbukit, meskipun tak terlalu terjal, tapi tetap saja medan seperti itu akan membuat si motor butut kewalahan melewatinya. Sepanjang jalan kami disuguhi pemandangan bukit yang semakin gundul. Di beberapa tempat, bukit-bukit itu sudah berganti menjadi pemukiman penduduk dan kawasan industri. Mungkin beberapa tahun lagi kawasan itu akan semakin dipenuhi oleh bangunan batu. Gak akan ada lagi bukit yang hijau. Sejauh mata memandang hanya gedung dan kompleks perumahan yang tampak.

Sesampainya di Punggur kami urung masuk ke dalam pelabuhan ASDP dan langsung menuju pelabuhan ferry yang terletak di sebelahnya. Kami memutuskan untuk menitipkan si motor butut di tempat parkir. Buyar sudah rencana membawanya touring keliling Bintan. Dari pada nantinya malah merepotkan kami, lebih baik dia dititipkan saja di tempat yang aman, tempat parkir. Dan kami akan tetap melanjutkan perjalanan ke Bintan melalui Pelabuhan Sri Bintan Pura, Tanjungpinang.


Suasana di dalam pelabuhan benar-benar ramai. Rupanya banyak warga Batam yang ingin menghabiskan waktu libur kali ini dengan menyeberang ke Tanjungpinang. Suara teriakan para penjual tiket makin menambah ramai suasana di pelabuhan pagi itu. Di counter-counter tiket, para penjualnya teriak-teriak menawarkan tiket sambil menjulurkan kepala dan tangan dari jendela loket. Persis seperti kenek angkutan umum. Suara teriakan mereka menambah meriah suasana pelabuhan pagi hari itu. 


“Pinang.. Pinang..!! Baruna.. Baruna..!!”
“Bang, Pinang Bang..!! Citra.. Citra..!!”


Akhirnya kami membeli 2 buah tiket PP ferry Baruna seharga Rp 78.000/orang ditambah seaport tax seharga Rp 7.000/orang. 


Sampai di dalam kapal tengok kanan tengok kiri. Wuiih…, semua bangku terisi penuh. Kenapa sih hari ini semua orang berniat menyeberang?! Mana bawaannya seabrek-abrek lagi. Mulai dari travel bag, kardus-kardus sampai mesin cuci. Iya.., mesin cuci yang gede itu di dorong-dorong masuk ke dalam kapal, ikut ngantri di antara para penumpang. Akhirnya kami turun dan memutuskan untuk menunggu kapal berikutnya. 


Heran juga ama mereka yang tetap memaksa masuk meskipun sudah jelas-jelas tidak ada tempat lagi di dalam kapal itu. Kalau alasannya karena takut tidak kebagian kapal itu jelas gak mungkin, karena kapal tujuan Tanjungpinang akan berangkat setiap 30 menit sekali. 


Tak lama setelah kapal yang penuh sesak itu meninggalkan Pelabuhan Punggur, datang kapal berikutnya yang membawa penumpang dari Tanjungpinang. Setelah menurunkan semua penumpang di Batam, kapal ini akan berangkat kembali ke Tanjungpinang. Begitu juga sebaliknya. Kapal ferry dari Batam ke Tanjungpinang beroperasi setiap hari mulai jam 8 pagi sampai jam 6 sore. Jadi seharusnya tidak perlu sampai berebutan naik bahkan berdesak-desakan dalam satu kapal, bukan? 


Karena kapal masih kosong, kami leluasa memilih tempat duduk. Dan seperti biasa, aku memilih tempat duduk di samping jendela. Mencari tempat terbaik untuk menikmati 60 menit terombang-ambing di atas kapal, sebelum akhirnya menjejakkan kaki di Tanjungpinang.


Welcome to Tanjungpinang


Cuaca cerah menyambut kami di Tanjungpinang. Kami berjalan santai keluar dari pelabuhan, sambil menghindar dari sopir taxi dan tukang ojek yang langsung mengerubuti kami. Kami tidak sedang terburu-buru. Jadi kami ingin menikmati perjalanan ini dengan naik angkot saja. 


Aroma otak-otak yang sedang dibakar langsung menyambut begitu kami keluar dari pelabuhan. Karena tidak tahan godaan, aku mampir untuk membeli beberapa buah otak-otak. Harganya murah, hanya Rp 500 sebuah. Otak-otak khas Tanjungpinang ini terbuat dari daging ikan atau sotong yang digiling halus dan dicampur dengan bumbu-bumbu kemudian dibungkus daun kelapa, setelah itu dibakar di atas bara api. Rasanya enak banget, perpaduan rasa gurih dan sedikit pedas. Paling enak dimakan hangat-hangat sewaktu baru selesai dibakar. Hmmm.. yummii…


Kalau masih pagi begini tak perlu khawatir, karena masih banyak angkot yang ngetem di sekitar pelabuhan. Kami mencari angkot yang tidak terlalu penuh agar bisa memilih tempat duduk yang nyaman. Perjalanan dengan angkot dari Pelabuhan Sri Bintan Pura ke Bintan Center akan memakan waktu sekitar 20 menit, dengan jalur yang didominasi oleh pertokoan dan pemukiman penduduk. Tarifnya Rp 5.000/orang. 


Tak sampai 20 menit kami sudah sampai di Bintan Center. Dari sini kami harus ganti angkot tujuan Berakit. Di Bintan Center, angkot yang ngetem tidak sebanyak di Pelabuhan Sri Bintan Pura, malah kadang gak ada sama sekali. Tapi hari itu kami cukup beruntung, karena kebetulan ada dua angkot yang sedang menunggu penumpang. 


Tak lama setelah kami duduk dengan manis, angkot itupun berangkat. Angkot di sini memang gak pernah ngetem lama-lama, tak peduli meskipun penumpangnya belum penuh, kalau pak sopir mau berangkat ya berangkat aja :) Tarif angkot dari Bintan Center ke tempat tujuan kami, yaitu Pantai Trikora adalah Rp 15.000/orang. Sementara waktu tempuhnya sekitar 30 menit. Pemandangan di kanan kiri mulai bervariasi. Tak lagi hanya deretan ruko dan pemukiman penduduk, tapi sudah diselingi dengan pemandangan bukit gundul, perkampungan nelayan sampai akhirnya terlihat hamparan pantai begitu memasuki daerah Kawal. 


Pantai Trikora merupakan salah satu pariwisata andalan Pulau Bintan. Keindahannya membentang sepanjang 25 km di sisi timur Pulau Bintan. Pasirnya putih dan halus dengan air yang berwarna biru kehijauan. Di beberapa lokasi pantai, sudah ada penduduk lokal yang mengelola. Kawasan pantai yang sudah dikelola biasanya ditandai dengan adanya sarana-sarana penunjang seperti pondok peranginan, warung dan toilet umum. Pondok-pondok peranginan di tepi pantai itu disewakan seharga Rp 25.000 - Rp 30.000. 


Here We are...


Hari sudah menjelang siang ketika kami sampai di Nostalgia Yasin Bungalow. Yuppss.., di sinilah kami akan menginap. Hostel cantik hasil browsing di Om Google. 



Penginapan yang beralamat di Jl. Pantai Trikora km 38, Teluk Bakau - Bintan ini cukup popular. Apalagi setelah mendapat penghargaan dari Hostelbookers.com-London 2008 sebagai The Most Valuable Resort pada tahun 2008 yang lalu. 


Nostalgia Yasin Bungalow ini satu management dengan Bintan Agro Beach Resort yang beralamat di Jl. Pantai Trikora km 36, Teluk Bakau - Bintan. Jadi tamu-tamu yang menginap di Nostalgia Yasin Bungalow bisa memanfaatkan fasilitas dari Bintan Agro Beach, seperti kolam renang dan berbagai macam pilihan sea sport. Karena itulah, Nostalgia Yasin Bungalow selalu menjadi pilihan aku dan suami kalau ingin menikmati private beach dengan fasilitas resort mewah tapi dengan harga yang cukup ramah di kantong. *grin



Aku membuka lebar-lebar pintu kamar yang menghadap ke laut. Huaaaa…., nikmatnya bisa bersantai sambil menatap hamparan laut dan mendengarkan suara deburan ombak. Kami memang sengaja memilih water bungalow. Sesuai namanya, bangunan berdinding kayu dengan interior ruangan yang semuanya juga terbuat dari kayu ini memang dibangun di atas air. Untuk water bungalow, tarifnya Rp 225.000/malam. Harga tersebut tidak termasuk sarapan pagi, cuma dapet welcome drink berupa 2 botol air mineral ukuran tanggung. 


Seperti kata Trinity, enjoy the art of doing nothing. Yup.. dalam setiap perjalanan, aku selalu menikmati saat-saat seperti ini. Duduk diam tanpa melakukan apapun. Hanya menikmati apa yang telah semesta sajikan di depan mata.  Hamparan laut, pasir pantai yang putih dan halus, hembusan angin yang sepoi-sepoi, dan langit yang berwarna biru cerah. Semua ini selalu sukses membuat aku semakin jatuh cinta pada karya-Nya. 


Air laut sudah memanggil-manggil sejak tadi. Dan sebelum angin yang bertiup sepoi-sepoi ini sukses membuat aku tertidur, lebih baik aku mulai saja acara bermain airnya. Sunbathing time…. :)


Pantai Trikora memang cantik. Pasirnya putih dan halus. Airnya juga jernih. Apalagi ditambah dengan batu-batu alaminya yang berukuran besar. Mengingatkan aku pada lokasi syuting film Laskar Pelangi di Pulau Belitung sana. 
Menurut cerita masyarakat setempat, nama Trikora ini berasal dari seorang bule yang berkunjung ke pantai ini puluhan tahun yang lalu. Karena merasa belum mengenal daerah yang dikunjunginya, bertanyalah si bule kepada salah seorang warga yang kebetulan ditemuinya. Entah apa yang ditanyakannya, yang jelas pertanyaannya mengandung kata “three corals”. Karena merasa asing dengan kata “three corals” warga tersebut kemudian menyebarkan kata “three corals” kepada penduduk yang lain. Karena salah pengucapan, akhirnya kata “three corals” berubah menjadi Trikora. 

Versi lain menyebutkan bahwa nama Pantai Trikora ini dihubungkan dengan Tri Komando Rakyat yang dikumandangkan oleh sang proklamator, Bapak Presiden Republik Indonesia yang pertama, Ir. Sukarno, sehubungan dengan konfrontasi Indonesia dengan Malaysia pada tahun 1961. Yang dilatarbelakangi oleh ketidaksetujuan Indonesia dengan rencana penggabungan antara Brunei, Sabah dan Serawak oleh kolonial Inggris. Pada saat itu Kepulauan Riau menjadi basis pertahanan laut terbesar. Dan sepertinya versi inilah yang lebih banyak dianut, karena dianggap lebih memiliki semangat nasionalisme. 

Terlepas dari perbedaan versi mengenai asal usul nama Trikora, pantai yang terletak di Desa Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang ini tetap memiliki pesonanya tersendiri yang sayang untuk dilewatkan keindahannya. 
  
 

Di seberang terlihat jelas dua buah pulau, yang dari penampakannya aku sudah bisa membedakan, mana yang Pulau Beralas Pasir dan mana yang Pulau Beralas Bakau. 



Suasana pantai yang sepi benar-benar membuat kita serasa berada di pantai pribadi. Yang bermain di pantai ini memang hanya tamu-tamu yang menginap di Nostalgia Yasin Bungalow, dan semuanya adalah wisatawan asing. Aku perhatikan, siang itu hanya aku dan suami saja tamu lokalnya. 


Berbanggalah kita sebagai orang Indonesia. Karena kita memiliki kekayaan alam yang begitu indah. Sehingga banyak wisatawan asing yang ingin  menikmati pesonanya. Tapi kenapa justru wisatawan asing ya yang lebih suka menikmati keindahan alam Indonesia…?! Sementara kebanyakan orang Indonesia sekarang lebih bangga kalau sudah bisa traveling ke luar negeri.


Puas bermain air, tiba-tiba aku merasa lapar. Tepok jidat..!! Kami kan memang belum makan siang. Pantas aja kalau sekarang aku merasa lapar. Kami segera memesan makanan. Sebenarnya tak jauh dari penginapan ada sebuah warung makan, tapi kami sudah terlanjur lapar, jadi kami memutuskan lebih baik makan di sini saja. Pilihan menu di sini cukup bervariasi dan harganya juga masih masuk akal bagi kami. 


Kami memilih duduk di bangku kayu di pinggir pantai sambil menatap lautan ditemani fresh coconut yang benar-benar fresh karena baru dipetik dari pohonnya. Tak lama kemudian nasi goreng pesananku dan chicken curry pesanan suamiku datang. Kami juga memesan 1 kaleng Liang Teh Cap Panda, buat jaga-jaga supaya gak kena panas dalam. Total kerusakan untuk semua makanan dan minuman itu adalah Rp 48.000. Jarang-jarang nih bisa seperti ini, makan nikmat di tengah alam yang cantik dan ditemani oleh orang tercinta. Sungguh, aku merasa dimanja oleh semesta.

***

Malam itu kami memilih makan di alam terbuka, menikmati full moon light dinner. Chicken satay dan lagi-lagi fresh coconut dan Liang Teh Cap Panda menjadi pilihan kami. Total kerusakan kali ini adalah Rp 30.000. Acara makan malam kami menjadi lebih lengkap karena ditemani deburan ombak, kelap-kelip lampu dari perahu nelayan dan taburan bintang di langit. Romantis banget kaaan..?! 


Cuma Naruto yang menjadi satu-satunya perusak suasana malam itu. Siapa sih Naruto…?! Naruto itu anjing kecil kepunyaan penjaga penginapan. Naruto kecil yang bandel itu mondar-mandir terus di sekitar kami. Mungkin dia juga ingin ikut menikmati indahnya suasana malam itu. Tapi maaf ya Naruto, kami hanya ingin menikmati malam ini berdua saja. Jadi gak ada tempat untuk orang ketiga. *grin…


Sisa malam itu kami habiskan dengan berjalan menyusuri pantai. Kami bertemu beberapa lelaki penduduk setempat yang sedang mencari ketam, atau yang biasa kita kenal sebagai kepiting. Bermodalkan ember kecil, jaring dan senter mereka berjalan menyusuri pantai mencari ketam yang memang banyak berkeliaran di situ. Tadi sore saja dalam perjalanan menuju pulau kosong di seberang penginapan, beberapa kali kami berpapasan dengan si ketam. 


Sewaktu kami balik ke kamar, kami melihat pasangan suami istri dari Jerman yang menjadi tetangga sebelah kami sedang asyik tiduran di teras bungalow. Sepertinya boleh juga tuh idenya… :) Akhirnya aku dan suami juga ikut-ikut tiduran di teras bungalow beralaskan sleeping bag yang memang sengaja kami bawa dari rumah. Hehehe…. Jangan salah, biarpun niatnya nginep di bungalow, tapi kami sengaja bawa sleeping bag. Buat jaga-jaga aja, siapa tau kami gak dapat penginapan dan terpaksa harus tidur di pelabuhan. *grin…


Tetangga sebelah cuma senyum-senyum aja ngeliat kami akhirnya ikut tiduran di teras bungalow. Suasana malam itu memang mendukung banget buat romantis-romantisan seperti ini. Tidur beratapkan langit yang bertabur bintang sambil mendengar suara debur ombak yang menghantam tiang penyangga bungalow itu sensasinya memang luar biasa. 


Rupanya cukup lama juga kami tertidur di teras. Jam di HP ku sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Akhirnya kami memutuskan untuk pindah ke dalam, karena anginnya juga sudah semakin kencang. Kalau diteruskan bisa-bisa nanti pulang liburan kami malah masuk angin. Gak asyik banget kan.. :)

***

Keesokan harinya, sebelum matahari muncul, kami berdua sudah lebih dulu menyapa pantai. Niatnya sih ingin menyambut sang mentari pagi dan mengabadikannya dalam jepretan kamera, tapi apa daya, mataharinya malu-malu dan ngumpet di balik awan. Gagal deh menikmati sunrise.

Pagi itu, mumpung jalanan masih sepi, kami berdua bisa jogging santai sampai ke perkampungan penduduk. Saking sepinya, kami berdua bisa main lompat-lompatan di tengah jalan. Jump..!!!  
Hehehe.. Sampai-sampai kami berdua jadi tontonan bocah-bocah yang sedang asyik bermain sepeda. Kami pun mengajak bocah-bocah itu berfoto.
Setelah jogging dan main lompat-lompatan, sekarang waktunya main air di laut. Suasana di sekitar penginapan masih sepi. Pagi itu, pantai dan sekitarnya serasa milik kami berdua. Yang lain dilarang sirik…!
Jogging, kemudian lompat-lompat, dan dilanjutkan dengan main air di laut memang bikin lapar. Jadi sebelum balik ke kamar, lebih baik kami makan dulu. Kami memesan sandwich, omelet dan teh yang tidak telalu manis, karena kami berdua merasa sudah manis. Jadi gak perlu lagi makan yang manis-manis. *grin… Total kerusakan untuk menu sarapan ini adalah Rp 24.000.
Seharian itu, sambil menunggu waktu untuk check out, kami puas-puasin menikmati art of doing nothing. Leyeh-leyeh di kursi malas sambil menatap hamparan lautan. Waktu dua hari rasanya masih kurang untuk menikmati suasana seperti ini.

Jam 1 siang kami check out dari penginapan. Total pengeluaran kami untuk kamar dan makan selama di penginapan ini adalah Rp 327.000. Untuk sebuah bungalow dengan suasana dan fasilitas seperti yang kami dapat, harga segitu bisa dibilang masih cukup murah.

Daripada berdiri bengong menunggu angkot yang lewat di pinggir jalan, kami memutuskan berjalan kaki saja. Kebetulan cuaca siang itu cukup bersahabat. Karena keasyikan jalan, tau-tau kami sudah sampai di pintu gerbang Bintan Agro Beach Resort. Berarti kami sudah berjalan kaki sejauh 2 kilometer dan tak satupun kami melihat ada angkot yang lewat. Waduh, masa kami harus berjalan kaki sampai Bintan Center..?!

Akhirnya kami berdiri bengong juga di pinggir jalan, dan angkot yang ditunggu tak kunjung lewat. Beberapa kali hanya truk besar yang lewat di depan kami. Sepertinya seru juga menumpang truk. 
***

Belum lagi tuntas impianku membayangkan serunya menumpang truk, ketika tiba-tiba sebuah truk besar berhenti di depan kami. Truk itu mengantar rombongan warga yang akan menuju Pelabuhan Kijang. Pak sopir menawari tumpangan kepada kami, katanya, kalau kami ingin pergi ke Pelabuhan Sri Bintan Pura, nanti kami bisa turun di salah satu simpang yang akan dilewatinya. Waaaahh… angkot dinanti, truk pun tiba, nih… Tanpa berpikir panjang lagi, kami berdua segera melompat ke bak belakang truk, yang ternyata sudah dipenuhi orang. Mereka adalah penduduk Kijang yang baru saja pulang dari rekreasi di Pantai Trikora. 


Selalu ada kejutan tak terduga dalam setiap perjalanan. Seperti kali ini, sebelumnya kami tak pernah menyangka bahwa liburan romantis kami ke Pantai Trikora akan ditutup dengan menumpang truk.
Sampai di sebuah persimpangan yang mereka sebut dengan simpang Batu 18, Pak Sopir menurunkan kami diiringi lambaian tangan teman seperjalanan kami. Oiya, yang dimaksud dengan ‘batu’ di sini adalah kilometer. Jadi kalau batu 18, itu artinya kilometer 18. Hari sudah semakin sore, kami harus mengejar ferry terakhir yang berangkat pukul 18.00 WIB.

Dari batu 18, kami masih harus naik ojek untuk menuju Pelabuhan Sri Bintan Pura. Ketika kami sudah duduk di boncengan ojek masing-masing, langit yang mamang sudah berwarna kelabu perlahan-lahan mulai menumpahkan gerimis. Begitu tau, kalau kami sedang mengejar ferry terakhir, kedua tukang ojek itu langsung mengeluarkan aksinya. Ngebut di jalanan seperti layaknya Dani Pedrosa. Aku hanya bisa pasrah dan berdoa dalam hati. Rupanya petualangan hari ini belum berakhir…

Untungnya sebelum jantung kami benar-benar copot, kami sudah sampai di Pelabuhan Sri Bintan Pura. Setelah mengucapkan terima kasih dan membayar Rp 5.000 untuk masing-masing ojek, kami segera berlari masuk ke dalam pelabuhan. Karena kemarin kami sudah membeli tiket ferry PP, jadi kami hanya perlu membayar seaport tax-nya saja, sebesar Rp 5.000/orang.

Aku menghembuskan napas lega setelah kami berdua duduk di dalam kapal. Acara jalan-jalan kali ini memang luar biasa…. 
***
Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Contest "Travelogue Wisata Pantai di Indonesia"

You Might Also Like

19 komentar

  1. Pantai trikora memang indah banget, apalagi kalau bisa main di atas batu-batu itu dan menginap di sekitarannya dengan pemandangan alam yag indah sekali.

    Salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener mas Indra... Bangun tidur sudah disambut pemandangan pantai yang cantik... :)
      Suasananya bikin betah....

      Delete
  2. Pengen ikut makan otak2nya... :) ira

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo main ke sini mbak Ira, ntar kutraktir otak-otak sampe puas deh.... :)

      Delete
  3. Semoga ada ksempatan bwt ke sini...

    Mampir jg y gan http://gubugkecilsangentung.blogspot.com/2014/08/17-agustusan-di-pantai-klayar-banyu.html

    ReplyDelete
  4. rame sekali yang jalan-jalan ke pantai trikora ya... heboh. (sambil titip lapak deh http://fxmuchtar.blogspot.com/2014/08/serasa-memiliki-pantai-pribadi-di-liang.html )

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kebetulan ketemu ama rombongan yang abis pulang dari Pantai Trikora... Mereka emang pergi rame2 sekampung :)

      Makasih ya udah mampir :)

      Delete
  5. aku nggak kesini mbk,yang agak kesanaan lagi..soalnya yang spot ini pas ruwame bangettt....seru bgttttt :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang di Lagoi ya mbak? Kalo di sana emang lebih sepi....

      Delete
  6. Pantainya cantiiiik ya...saya sempat mampir ke Tanjung Pinan untuk urusan pekerjaan tapi tidak sempat ke Pantai Trikora...TFS et good luck kontesnya yaaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, pantainya emang cantik bangeeet... Kalo dari Tanjungpinang masih lumayan jauh juga siih... :)

      Delete
  7. keren pantai dan bungalownya...
    *mupeeeeng -_-

    ReplyDelete
  8. halo Mbak Dian, boleh minta kontaknya Yasin Nostalgia? Makasih :)

    ReplyDelete
  9. The cheap and best hollyday I have ever know to both of you...be happy always yaa

    ReplyDelete
  10. Happy couple and salute to both of u

    ReplyDelete