Bintan Trip | 2. De Bintan Villa, Ini Baru Refreshing....

Friday, July 04, 2014


De Bintan Villa namanya. Pertama kali saya mengetahui tempat ini dari sebuah foto yang diposting seorang teman di halaman facebook-nya. Dan sejak itu saya jadi penasaran dengan tempat ini. Saya menunjukkan foto-foto yang ada di gallery website De Bintan Villa kepada suami. Alhamdulillah.. Saya tidak penasaran sendirian.. :D Suasana De Bintan Villa yang kami lihat di website itu persis seperti gambaran tempat yang kami cari untuk refreshing.
Jadi, begitu ada kesempatan untuk berlibur di tengah-tengah hari kejepit nasional, tanpa ragu kami memutuskan untuk mencoba menginap di De Bintan Villa. Kangen suasana pegunungan euy...
Katanya sih, De Bintan Villa ini mirip ama Kampung Daun yang ada di Bandung. Tapi berhubung saya belum pernah ke Kampung Daun, jadi saya tidak bisa membandingkan keduanya :)

Hari Pertama, 27 Mei 2014

Ketika kami sampai di pintu gerbang De Bintan Villa, suasana adem dan sejuk khas daerah pegunungan langsung terasa. Apalagi siang itu langit Bintan diselimuti mendung. Menambah kesan adem...

Saya segera check-in. Beberapa hari sebelumnya saya memang sudah booking kamar via website. Kami memilih type kamar Superior Couple dengan room rate Rp 400 ribu/malam. Harga segitu sudah termasuk sarapan pagi untuk 2 orang. Tak menunggu lama, saya pun mendapat kunci kamar bernomor 107. Sebelum kami meninggalkan meja resepsionis, tiga gelas welcome drink berupa sirup berwarna  merah disajikan. Alhamdulillah....

Karena ini pertama kalinya kami kemari, staff De Bintan Villa mengantarkan kami sampai ke atas. Terima kasih, Pak Awal... :)
Kamar-kamar di De Bintan Villa memang terletak di atas bukit. Sementara recepsionis dan restorannya ada di bawah. Jadi kalo mau makan ya kudu turun lagi... Lumayan bisa olah raga, meskipun abis makan pasti bakal laper lagi... hehehe..

Suasana kamarnya cukup menyenangkan. Dengan dinding dan interior yang full terbuat dari kayu. Fasilitasnya cukup lengkap, ada LED TV, kulkas, ketel pemanas air, bathroom dengan shower lengkap dengan sabun, shampoo dan sikat giginya. Di terasnya ada sepasang kursi rotan dengan meja yang enak banget buat duduk-duduk sambil ngeteh di sore hari. View dari teras juga menyegarkan mata. Di sebelah kiri terlihat Gunung Bintan yang berselimut kabut. Pohon-pohon rindang mengelilingi villa. Teduh banget jadinya. Ada pohon durian, juga pohon pepaya. Pohon duriannya pas lagi berbuah, udah mateng-mateng.. Tinggal nunggu jatuhnya aja. Hehehe.. Ngeri juga sih kalo sampe ketiban buah durian :D  But overall, I really love this place! 


Pas banget kami sudah ada di dalam kamar, ketika tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Jadilah sepanjang siang itu kami bertiga cuma bermalas-malasan di kamar sambil nonton TV dan ngemil keripik kentang. Hujannya lumayan awet, sampe akhirnya kami bertiga tertidur juga... Bangun-bangun udah sore, dan mulai terasa lapar... Kalo gak karena lapar, sepertinya mungkin kami masih akan meneruskan tidur siang yang nyaman di situ.. hehehe... Lagipula hujan juga sudah berhenti.

Tanpa merasa perlu untuk mandi-mandi cantik, kami bertiga segera meninggalkan kamar. Suami mengajak kami untuk jalan-jalan dulu menikmati suasana di sekitar villa. Maklum, tadi begitu sampai sini kami belum sempat melihat-lihat.

Rupanya hari itu, tamu di De Bintan Villa hanya kami sekeluarga dan seorang pemuda yang menginap di villa yang lebih tinggi dari tempat kami menginap. Tempat ini memang belum sepopuler resort-resort yang ada di kawasan Lagoi maupun Pantai Trikora. Atau mungkin juga karena hari itu bukan bertepatan dengan weekend yaa... Tapi apapun itu, yang jelas saya pribadi merasa lebih nyaman dengan suasana yang seperti ini. Lebih tenang dan damai rasanya, hehehehe....

Tak jauh dari kamar kami, ada tempat karaoke dan tempat bermain bilyard. Tempat karaoke dan bilyard-nya juga di gazebo. Jadi bukan di dalam ruangan tertutup yang kedap suara. Karena tempat karaokenya open, ada maklumat dari pihak De Bintan Villa, bahwa batas akhir karaoke adalah jam 10 malam. Hal ini diberlakukan agar tamu-tamu lain tidak merasa terganggu.

Sebenarnya kami ingin melanjutkan naik ke gardu pandang yang ada di puncak bukit. Gardu pandang itu merupakan titik tertinggi di De Bintan Villa. Sepertinya asyik menikmati matahari tenggelam dari atas sana. Tapi kami sudah keburu laper.. Jadi acara ke gardu pandang-nya dipending sampai besok pagi... Kami langsung bergegas turun menuju restoran. Di samping restoran ada air terjuan buatan. Di bawahnya ada kolam ikan. Si Lala seneng banget....

 
Pilihan makanan di De Bintan Villa cukup beragam. Mulai dari nasi goreng, ayam gulai, ayam penyet, sayuran, sampai aneka seafood yang dimasak dengan berbagai macam cara. Pilihan minumannya juga banyak. Dan harganya, masih masuk akal bagi kami. Sore itu kami cuma memesan nasi goreng dan bihun goreng. Hehehe.. nasi goreng tuh makanan orang putus asa banget ya, biasanya kalo udah bingung mau makan apa, pilihan pasti jatuh ke nasi goreng... :D Tapi buat saya, nasi goreng itu merupakan syarat perbandingan. Kalo nasi goreng di resto itu enak, biasanya makanan lainnya juga enak. Ini hasil survey saya pribadi aja sih, bukan berdasarkan survey-nya Cak Lontong, hehehe... Untuk minumnya kami memesan teh o dan jus kedondong. Katanya siiih, jus kedondong ini adalah minuman favorit di sini. Makanya saya penasaran...


Nasi goreng dan bihun gorengnya enak. Porsinya juga bikin kenyang. Dan jus kedondongnya ternyata emang juara! Enak bangeeet... Seger! Highly recommended! Makan sore sambil menikmati panorama Gunung Bintan, Rasanya super sekali! Si Lala juga lahap banget makannya. Padahal Lala ini tergolong anak yang susah makan, tapi Alhamdulillah.. kali ini makannya lahap. Mungkin juga terbawa suasana ya.. Habis makan di situ, kami minta sebungkus nasi goreng lagi buat dibawa ke kamar. Buat jaga-jaga kalo kelaperan malam nanti. Males banget kalo nanti pas laper kudu turun lagi ke resto...

Keputusan kami untuk gak mandi dulu tadi sebelum makan rupanya merupakan keputusan yang tepat. Soalnya abis makan di resto, ditambah tadi sebelumnya kami udah jalan-jalan keliling kawasan villa, jadinya balik ke kamar udah keringetan lagi.

Abis mandi-mandi cantik kami bertiga cuma duduk-duduk santai aja di teras kamar sambil minum teh. Sayang arena outbound dan kolam renang di villa ini masih dalam tahap pembangunan. Coba kalo ada, pasti si Lala bisa main-main air sepuasnya.


Kali ini memang kami niatkan untuk bersantai dan refreshing. Menikmati the art of doing nothing... Jadi ya seharian kegiatannya cuma males-malesan, nonton TV, santai, dan gak ngapa-ngapain... hehehe.. Sampe akhirnya si Lala tidur karena kecapekan main, nari-nari, dan loncat-loncat di kamar.

Malamnya kami sempat ngerasain listrik padam. Kawasan De Bintan Villa mendadak gelap gulita. Kami pikir, ah biasa aja, mungkin ada pemadaman bergilir, dan gensetnya belum dihidupin. Jadi inget ama pengalaman kami di Lombok beberapa waktu yang lalu. Di Lombok, yang namanya listrik padam udah biasa, apalagi kalau menginap di penginapan murah yang tidak mempunyai genset... Jadi kami ngerasanya juga biasa aja.

Sekitar 15 menit kemudian, lampu-lampu taman, lampu penerang jalan, juga lampu dari arah kantor resepsionis sudah nyala. Suami langsung menelepon pihak security. Si penerima minta maaf, dan bilang kalau bagian teknisinya sudah dihubungi, tapi mungkin agak lama, karena yang bersangkutan sedang ada di Kota Tanjungpinang. Oke, kami pun menunggu dalam gelap.

30 menit kemudian terdengar suara langkah-langkah orang menuju ke arah villa kami. Dari suaranya kami menduga itu mungkin teknisi yang tadi dimaksud oleh bapak security. Tak lama, suara-suara itu pun menjauh, dan langkah kakinya tidak terdengar lagi. Kami bingung. Kok gak dibenerin, tapi malah ditinggal pergi? Setelah menunggu sekitar 10 menit lagi, suami kembali menelepon pihak security. Ternyata, kata beliau, tadi teknisinya sudah naik... Jadi kami diminta menunggu lagi. Si Lala udah mulai rewel, karena karena kepanasan...

Gak lama kemudian, terdengar lagi suara langkah-langkah kaki di luar kamar. Suami langsung keluar dan menemui langsung sang teknisi. Rupanya tadi terjadi miss communication, menurut laporan yang diterima si teknisi, yang padam cuma lampu di luar kamar, jadi cuma lampu di luar kamar itu yang dibenerin. Yang di dalam kamar gak dibenerin, karena dikira gak ada masalah. Gak sampai 2 menit akhirnya lampu di kamar kami menyala lagi. Rupanya tadi voltasenya turun... hehehehe...

Alhamdulillah, setelah itu kami bisa tidur dengan nyenyak sampai subuh...

Hari Kedua, 28 Mei 2014

Selepas subuh, saya membuka pintu teras lebar-lebar. Membiarkan udara pagi masuk ke dalam kamar. Suasana di luar sana sepi dan tenang. Sesekali terdengar suara jangkrik. Suasana pagi seperti ini yang selalu saya rindukan. Sayang pagi itu matahari malu-malu memunculkan sinarnya. Jadi pupuslah harapan kami untuk menikmati sunrise cantik yang muncul dari balik Gunung Bintan.


Lala masih lelap dalam tidurnya. Padahal saya sudah ingin berjalan-jalan menikmati udara pagi. Akhirnya suami mengalah, dan mengijinkan saya jalan-jalan sendiri. Sementara dia menemani Lala di kamar.

Tujuan saya pagi itu adalah gardu pandang yang ada di atas bukit. Saya ingin menikmati pagi. Menikmati pesona Gunung Bintan di pagi hari. Ada jalan pintas menuju gardu pandang yang tak jauh dari kamar kami. Melewati celah batu-batu besar, puluhan anak tangga, hingga akhirnya sampai di gardu pandang. Saya benar-benar sendirian di pagi itu. Puas rasanya bisa memandang sampai ke kejauhan sana. Sayang kamera yang saya bawa kurang begitu maksimal menangkap keindahan yang ada di sekitar saya.


Saya masih betah berlama-lama di gardu pandang, sampai matahari pagi semakin meninggi. Saya berjalan kembali ke kamar dengan perasaan segar. Ini adalah olahraga yang menyenangkan...

Sesampai di kamar, ternyata dua orang tercinta saya masih lelap dalam tidurnya. Saya memilih nongkrong di teras menikmati pagi. Sampai akhirnya satu per satu terbangun karena merasa lapar. Hahaha.. Bapak-anak ini emang kompak banget deeehh... :D

Gak perlu mandi-mandi cantik, cukup cuci muka dan gosok gigi. Kami bergegas menuju resto. Waktunya sarapan. Pilihan menu untuk sarapannya adalah nasi goreng, bihun goreng, bihun kuah, mie goreng, atau mie kuah. Kami memesan nasi goreng (lagi?) dan mie goreng. Ini beneran putus asa atau emang doyan ya? huehehehe... Sementara minumnya kami memesan teh o dan ovaltine hangat. Seandainya pilihan menu untuk sarapannya lebih beragam, seperti aneka toast, pancake, atau bubur ayam, tentu lebih sipp..

 
Masih seperti kemarin sore, nasi goreng dan mie gorengnya enak. Si Lala juga lahap banget makan nasi gorengnya. Alhamdulillah...

Balik ke kamar kami masih meneruskan aktivitas seperti sebelumnya, menikmati the art of doing nothing... Duduk-duduk aja di teras sambil minum teh, menikmati pagi di Gunung Bintan.


Jam 11 siang kami check out. Setelah melunasi semua bill, kami memesan lagi jus kedondong buat dibawa pulang. Hehehe... ketagihan ama jus kedondong ala De Bintan Villa nih...

Lumayan seger deh rasanya bisa bener-bener refreshing di sini. Kalau nanti kami kangen lagi ama suasana pegunungan, De Bintan Villa pasti jadi tujuan. Semoga kalau nanti kami datang lagi ke De Bintan Villa, kolam renang ama arena outbound-nya udah selesai :)

Pulaaang...

Perjalanan kembali ke Tanjung Uban Alhamdulillah lancar. Cuaca juga cerah banget. Tapi begitu kami naik ke atas kapal, hujan turun cukup deras.  Kami memilih duduk di kelas bisnis. Meskipun AC nya jadi gak terlalu dingin gara-gara orang keluar masuk, tapi lumayan lah... Kursinya lebih empuk, hehehehe....

 
Sampai di Telaga Punggur langitnya cerah, gak ada hujan. Alhamdulillah sampai di Batam dengan selamat.

You Might Also Like

2 komentar

  1. Okeh..catettttt...smg kl pulang ke batam suami mendadak ngajak hanimun kemarih xixixi aamiin.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asssiiiikkk... Tempatnya cocok mbak buat hanimun :)

      Delete