Lombok Trip | 5. Mengenal Lebih Dekat Suku Sasak

Saturday, November 30, 2013



Day 5 – 30 Juni 2010

Keesokan harinya, sebelum matahari menampakkan sinarnya kami berdua sudah berjalan-jalan di pantai. Kali ini kami bisa lebih menikmati keindahan pantai ini, tanpa gangguan para pedagang. Kabut tipis perlahan pergi digantikan hangatnya sinar mentari pagi. Kameraku benar-benar bekerja keras disini, karena kemanapun mata ini memandang, selalu saja ada keindahan yang ditawarkan.

Hari itu rencananya kami akan menyewa sepeda motor. Karena masih banyak pantai di wilayah selatan pulau Lombok ini yang sayang untuk dilewatkan, kami juga ingin mengunjungi dusun Sade, sebuah dusun tradisional suku Sasak yang ada di desa Rambitan. Untuk mengunjungi tempat-tempat itu menyewa sepeda motor adalah pilihan yang paling tepat. Kebetulan penginapan kami menyediakan jasa penyewaan sepeda motor seharga 40 ribu rupiah per hari.

Setelah dapet motor, tujuan pertama kami adalah Praya. Loh kok balik ke Praya..?! hehehe… persediaan duit cash di dompet menipis, dan ternyata di Kuta gak ada ATM. ATM terdekat adanya di Praya,  jadi mau gak mau ya kami harus ke Praya. Dalam perjalanan ke Praya, kami mampir di terminal Sengkol buat beli nasi bungkus murah meriah seperti yang kemarin kami makan. Kami menghabiskan waktu 2 jam untuk perjalanan dari Kuta – Praya – Sade. Itupun sudah kepotong makan di terminal Sengkol, antri ATM di Praya, dan poto-poto di jalan

Mengenal Lebih Dekat Suku Sasak


Tujuan kami selanjutnya adalah dusun Sade. Seorang lelaki suku Sasak bernama pak Jali menemani kami berkeliling dusun Sade, sebuah dusun tradisional suku Sasak yang berada di desa Rambitan. Sambil berkeliling, pak Jali meniceritakan banyak hal menarik tentang suku Sasak. Salah satunya adalah tradisi kawin culik. Seorang lelaki yang ingin menikahi gadis disana, harus menculik atau membawa lari gadis tersebut tanpa sepengetahuan orang tuanya. Bila sehari semalam tidak ada kabar, maka dianggap gadis itu telah menikah. Menculik gadis yang akan dinikahi dianggap lebih ksatria dibandingkan dengan meminta langsung kepada orang tuanya. Wow... coba saja kalau ada yang berani ngelakuin kawin culik di daerah lain, boro-boro bakal dianggap ksatria, yang ada si lelaki bakal dilaporin ke polisi karena telah menculik anak gadis orang. hehehe...

Selain tentang tradisi kawin culik, pak Jali juga menunjukkan bahwa semua rumah yang ada di dusun Sade menggunakan kotoran kerbau atau sapi untuk mengepel lantai dan dindingnya. Tradisi unik ini masih terus digunakan oleh suku Sasak hingga kini, karena mereka meyakini bahwa lantai dan dinding yang dipel menggunakan kotoran sapi atau kerbau yang dicampur dengan air akan membuat lantai jadi kesat, mengkilap dan terhindar dari lalat dan nyamuk. Selain itu, bila sering dipel dengan kotoran sapi atau kerbau yang dicampur air akan membuat rumah adat suku Sasak yang disebut Bale Ratih ini menjadi dingin di musim kemarau dan hangat di musim penghujan.

Tradisi membersihkan rumah dengan kotoran sapi atau kerbau ini dilakukan sebulan sekali oleh kaum perempuan suku Sasak yang telah berkeluarga. Selain untuk membersihkan rumah, kotoran sapi atau kerbau juga dimanfaatkan untuk menjadi bahan campuran untuk membuat lantai rumah adat, yang fungsinya hampir sama dengan semen, yaitu sebagai bahan perekat. Dengan adanya campuran kotoran sapi atau kerbau tersebut lantai rumah akan menjadi lebih kuat dan tidak mudah retak. Ada yang berminat menjadikan kotoran sapi atau kerbau untuk membersihkan lantai...?!

Di dusun Sade kami juga diajak melihat langsung proses pembuatan kain tenun khas Lombok. Semua masih dikerjakan secara manual. Benang-benang aneka warna itu dalam waktu sebulan akan berubah menjadi kain tenun yang sangat cantik. Sayang harga kain yang ditawarkan di dusun Sade ini jauh lebih mahal daripada yang dijual di kedai-kedai souvenir di depan penginapan kami. Bisa sampai 5 kali lipat harganya. Sebuah taplak meja yang bisa dijadikan hiasan dinding di Sade ditawarkan seharga 200 ribu rupiah. Sedangkan di Kuta harganya cuman 40 ribu rupiah.


Seorang pedagang menceritakan kepada kami, hanya mereka yang berduit yang bisa menyewa kios di Sade, karena harga sewa kios di Sade cukup mahal. Sehingga untuk menutupi biaya sewa kios, mereka menjual kain tenunan itu dengan harga yang lebih mahal daripada di tempat lain. Sedangkan mereka yang tidak mempunyai banyak uang untuk menyewa kios di Sade memilih menyewa kios di tempat lain yang harga sewanya lebih murah. Sehingga barang yang dijual bisa lebih murah. Kebanyakan wisatawan yang datang ke dusun Sade adalah wisatawan asing, sehingga mereka tidak terlalu peduli dengan harga yang lebih mahal. Beda kalau yang datang adalah wisatawan lokal, apalagi yang jenis backpacker kere seperti kami ini.

Tak Ada Yang Biasa Karena Semua Luar Biasa


Setelah puas berkeliling dan mendapatkan bermacam kisah menarik tentang tradisi suku Sasak kami kembali melanjutkan perjalanan. Masih banyak pantai-pantai cantik di bagian selatan pulau Lombok yang belum kami kunjungi.

Dengan menggunakan sepeda motor sewaan memungkinkan kami untuk mencapai daerah-daerah yang sulit dijangkau dan memang tidak dilewati oleh angkutan umum. Kami bebas menentukan tujuan. Dan benar saja, bukan hanya satu pantai cantik yang ada di bagian selatan pulau Lombok ini. Semua pantainya cantik dan menawarkan pesonanya masing-masing. Mulai dari pantai Tanjung Aan, pantai Gerupuk, pantai Mawun, Pantai Are Guling sampai pantai Selong Belanak. Semuanya luar biasa. Subhanallah… Rasanya memang indah, menikmati semua yang luar biasa itu bersama sesorang yang juga luar biasa.

Rincian biaya hari kelima :
·         Bensin = Rp 15.000
·         Makan di terminal Sengkol = Rp 8.000
·         Tips guide di dusun Sade = Rp 15.000
·         Makan siang di Kuta = Rp 32.000
·         Camilan = Rp 8.000
·         Makan malam di Kuta = Rp 15.000

Total : Rp 93.000
·         semua rincian biaya yang tercantum adalah untuk 2 orang
·         note : bawa duit cash yang cukup kalau mau ke Kuta, karena disana gak ada ATM

You Might Also Like

4 komentar

  1. Menganal lebih dekat dengan suku Sade Lombok membuat kita lebih membuka wawaan suatu budaya masayrkat di sna yang masih kental memegang tradisi kehiduan di kawasan tersebut, apalgi bila kita dapat mengenal lebih jauh dan dekat dengan kehidupan masyarakat di daerah Sade tersebut.

    Salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak kearifan lokal yang bisa kita petik dari kehidupan mereka, mas Indra... Kita gak akan bisa tau kalau tidak mengunjunginya dan berinteraksi langsung dengan mereka kan?

      Delete
  2. Enaknya nginap di Sade mbak...lain kali klo k sade,,nginap ya di rumah ibu angkat aku disana...suasana malemnya nenangin banget dah..:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah beneran?! Ini mah tawaran yang menarik buanget! Pengen banget bisa ngerasain langsung tinggal di Sade... :)

      Delete