Lombok Trip | 3. Gili Meno. Edisi Penuh Cinta

Saturday, November 30, 2013


Day 3 – 28 Juni 2010 
Gili Meno Emang Cocok Buat Honeymoon 
Keesokan harinya, sebelum matahari menampakkan dirinya di ufuk timur, kami sudah lebih dulu menyapa pantai. Berjalan bergandengan tangan menikmati riak-riak air yang menjilati kaki-kaki kami. Dan ketika mentari pagi sedikit demi sedikit menampakkan dirinya, kami pun sudah siap untuk mengabadikan pesonanya. Bukan hanya dari balik lensa kamera, tapi juga dihati ini. Ingin kupenuhi hati dan jiwa ini dengan berbagai pesona dan keajaiban yang disuguhkan-Nya melalui alam ini.
Kami masih bergandengan tangan menyusuri pantai. Menikmati saat-saat terindah dalam hidup kami. Kami ingin menikmatinya dengan nyata, sebelum semua ini hanya bisa kami kenang melalui file-file berformat jpg di komputer. Gradasi warna laut yang tercipta dari karang-karang di bawah sana, langit yang cerah tanpa awan, juga pasir putih yang halus ini benar-benar membuat kami betah berlama-lama menikmatinya. Karena tidak tahan godaan, mas Anang langsung menceburkan diri sambil menikmati pemandangan di bawah sana. Sementara aku?! aku cuma menceburkan diri di bagian yang tidak terlalu dalam. Karena aku memang gak bisa berenang. Jadi aku cuman dapet ceritanya aja dari mas Anang, kalau pemandangan di bawah sana jauh lebih cantik. Huhh...!! nyesel kan gak bisa berenang...?!


Kami benar-benar menikmati suasana di Gili Meno. Bukan hanya karena pemandangan alamnya yang mempesona, tapi juga karena keramahan penduduknya. Kami berkenalan dengan seorang pembuat kerajinan khas Lombok, Bapak Botol namanya. Entah siapa nama asli beliau, yang jelas beliau memperkenalkan dirinya sebagai Bapak Botol. Istrinya yang seorang tukang pijat tradisional dikenal dengan nama Mamak Botol. Aku menyimpulkan sendiri, mungkin nama 'botol' yang mereka pakai itu dikarenakan sang istri yang berprofesi sebagai tukang pijat tradisional itu selalu membawa botol berisi minyak gosok kemana-mana. "Kalau datang ke Meno lagi, jangan lupa dengan Bapak Botol ya" begitu pesan beliau sebelum kami berpamitan. Tentu Pak, kami tak akan pernah melupakan semua yang ada disini, sampai kapanpun. Karena Gili Meno telah menjadi saksi awal yang indah dari cinta kita. Semoga awal yang indah ini akan tetap indah sampai ke akhir nanti. Amiin...

Yang Menarik di Gili Meno

Turtle sanctuary adalah salah satu tempat yang menarik perhatian kami di Gili Meno. Ya, sebuah tempat perlindungan dan pengembang biakkan kura-kura yang dikelola oleh seseorang bernama Boulong. Dalam sebuah papan yang ada disana tertulis ajakan dari Boulong untuk menyelamatkan dan melindungi kura-kura agar tidak punah dari muka bumi ini. Suatu bentuk kepedulian yang harus kita dukung tentunya. Dengan harapan semoga anak cucu kita nanti bukan hanya mengenal yang namanya kura-kura dari cerita-cerita kita saja.

Tempat menarik lainnya yang ada di Gili Meno adalah bird park dan sebuah danau alami berair asin. Ada sebuah kepercayaan yang beredar tentang danau ini. Konon katanya danau di Gili Meno dapat memberi pertanda mengenai panjang pendeknya umur seseorang. Apabila seseorang melihat danau ini sangat luas, maka umurnya akan panjang, demikian juga sebaliknya. Namanya juga legenda yang beredar di masyarakat, boleh percaya boleh tidak. Kalau aku sih lebih memilih untuk tidak percaya. Dan terlepas dari cerita di balik itu semua, danau ini merupakan sebuah ekosistem bagi mangrove yang sayang untuk dilewatkan kalau kita berkunjung ke Gili Meno.

Lalu bagaimana dengan Gili Meno Bird Park nya?! Maaf, kami udah minggir duluan begitu melihat harga tiket masuk ke taman burung ini. 50 ribu rupiah per orang. Mungkin buat sebagian orang, harga segitu cukup murah, tapi untuk backpacker kere seperti kami, harga segitu tentu saja kemahalan. Duitnya dibuat beli makan aja deh... Jadi kami harus cukup puas dengan hanya berfoto di depannya saja.

Oiya, dalam kunjungan pertamaku ke Lombok setahun yang lalu, aku sempat penasaran ama pizza khas Lombok yang dimasak pakai oven berbahan bakar kayu. Waktu itu gak keturutan, Alhamdulillah akhirnya keturutan juga makan pizza itu di Gili Meno. Rasanya lumayan juga, rasa rotinya jadi seperti naan, roti khas India yang biasa dimakan pake kari itu.

Malam itu purnama bersinar dengan indahnya. Sinarnya terpantul jelas di permukaan laut yang tenang. Menemani kami menikmati makan malam terakhir di pulau itu. Bukan candle light dinner lagi namanya kalau seperti ini, tapi full moon light dinner. Sepasang kakek nenek yang duduk di bangku sebelah tersenyum melihat kemesraan kami. Mungkin mereka terkenang masa-masa indah saat mereka berbulan madu dulu. "Gantian ya Grandpa..., sekarang biar giliran kami yang mesra-mesraan begini..."

Rincian biaya hari ketiga : 
·         Sarapan di warung deket dermaga = Rp 39.000
·         Makan siang di Yaya warung (recommended) = Rp 24.000
·         Camilan = Rp 5.500
·         Pizza di Malias child (must try) = Rp 66.000
·         Makan malam di Yaya warung = Rp 15.000

Total : Rp 149.500
·         semua rincian biaya yang tercantum adalah untuk 2 orang



You Might Also Like

0 komentar