Lombok Trip | 2. Honeymoon ala Backpacker Kere

Saturday, November 30, 2013



Day 2 – 27 Juni 2010

Honeymoon Backpacker
Setelah menghabiskan nasi goreng jatah sarapan dari hotel kami langsung check out. Kami berdiri di pinggir jalan, menunggu angkot buat ke terminal bus Mandalika. Sampai di terminal Mandalika kami cari angkutan lagi buat ke Bangsal. Kebetulan ada sebuah bison tujuan Bangsal yang lagi ngetem menunggu penumpang. 

Maka bergabunglah kami sambil berdesak-desakan dengan penumpang lain. Bison itu masih betah berlama-lama ngetem disitu, padahal bangku-bangku yang tersedia sudah terisi semua. Tapi pak supir rupanya masih akan menambah penumpang lagi. Dan benar saja kami yang sudah berdesakan didalam masih harus rela berbagi tempat dengan penumpang lain yang baru datang. Yang penting penumpang bisa masuk, masalah kenyamanan dan keselamatan, itu urusan nomer tujuh belas mbak!  Walhasil, sepanjang perjalanan dari terminal Mandalika sampai Pemenang via Pusuk, kakiku kesemutan gak bisa digerakin…
Begitulah potret nyata kehidupan di jalanan. Demi sesuap nasi terkadang mereka justru mengabaikan urusan keselamatan. Kalau masalah kenyamanan jangan lagi ditanya, semua yang memutuskan untuk naik angkutan umum tentu sudah membuang jauh impian tentang kenyamanan. Begitu juga dengan kami. 

Kami berdua memang sengaja memilih bepergian dengan cara seperti ini. Sekalian bernostalgia, karena jaman kuliah dulu kami juga sering melakukan perjalanan murah meriah seperti ini. Gerbong-gerbong kereta api, lantai-lantai dingin stasiun dan terminal, juga bak-bak dari truk sayur itu menjadi saksi bisu indahnya persahabatan kami dulu. Rinai hujan dan debu jalanan pun bergantian menyapa, seolah melengkapi canda dan tawa yang hadir diantara kami. 
Jadi dalam perjalanan honeymoon kali ini, kami sengaja menyingkirkan jauh-jauh promo paket honeymoon yang menjanjikan kenyamanan dan berbagai macam fasilitas. Karena kami ingin menikmati perjalanan ini dengan cara kami sendiri. Honeymoon ala backpacker kere. 

Jam di HP ku menunjukkan pukul 12 WIB, berarti udah jam 1 siang di Lombok. Kami turun di perempatan Pemenang. Dari sini kami naik cidomo ke Bangsal. Kalau mau jalan kaki sebenernya juga bisa, jaraknya sekitar 1-2 km lah. Tapi kami ogah jalan kaki sejauh 2 km sambil nenteng carrier yang beratnya lumayan juga… Jadi mending ngeluarin duit Rp 10.000 buat naik cidomo. 

Sampai di Bangsal kami langsung menuju tempat penjualan tiket. Tujuan kami adalah Gili Meno. Salah satu dari tiga gili yang terkenal di Lombok. Karena udah siang, public boat sudah tidak ada. Jadi kami naik shuttle boat yang akan berangkat jam 2 nanti. Harga tiket shuttle boat Rp 20.000 per orang. Sedangkan kalau untuk public boat harganya cuman Rp 9.000 per orang. 

Karena masih ada waktu 1 jam, sambil menunggu kami memilih untuk nongkrong di warung yang tak jauh dari tempat penjualan tiket. Tergoda juga akhirnya melihat bakso yang mengepul dari mangkuk tetangga sebelah. Beli deh… Aku dan suamiku emang sama-sama suka njajan. Jadi tiap jalan, pengeluaran terbesar itu pasti untuk makan dan ngemil.

Matahari sudah tinggi ketika kami menjejakkan kaki di Gili Meno. Rasanya perlu berisitirahat sejenak setelah baru saja kami mengalami sensasi yang luar biasa terayun dan terhempas di dalam kapal yang membawa kami dari Bangsal ke Gili Meno ini. Baju yang kami pakai sudah basah semua, begitu juga dengan ransel-ransel kami. Untung aja rain cover ransel kami terpasang sempurna, sehingga barang-barang kami aman di dalam sana.

Seorang bule dari Jerman yang menjadi teman seperjalanan kami merekomendasikan Ko Uchi bungalow untuk tempat menginap kami selama di Gili Meno. Bahkan dia langsung memperkenalkan kami pada penjaganya. Bule Jerman itu memang telah lama menetap di Gili Meno, jadi gak heran kalau dia begitu mengenal pulau itu beserta para penduduknya. Dan apa yang direkomendasikan olehnya ternyata gak salah. Penginapan seharga 100 ribu rupiah semalam itu begitu nyaman dan asri. Lokasinya pun tak terlalu jauh dari pantai.


Menikmati sore pertama di Gili Meno

Sorenya kami berjalan kaki mengelilingi Gili Meno. Pulau kecil berpenduduk 579 jiwa itu benar-benar terasa damai dan tenang. Sambil menikmati senja yang mulai beranjak pergi. Kamipun berhayal betapa damainya bila kami bisa menghabiskan hari tua di tempat seperti itu, dimana hanya ada debur ombak, desah angin dan orang terkasih yang selalu setia menemani. Aiiih..... bawaan orang yang lagi honeymoon itu emang selalu indah-indah begini ya. Apalagi kalau suasana dan tempatnya mendukung kayak gini.

Setelah memutari sekitar separuh pulau, kini kami berada di bagian pulau yang menghadap ke gili Trawangan. Kami berhenti di salah satu warung, laper euy… Kebetulan penampakan sunset dari tempat cantik banget. Jadilah senja itu kami berdua menikmati nasi goreng sambil menatap sang mentari yang semakin bergerak menuju peraduannya.

Rincian biaya hari kedua :
·         Angkot dari depan hotel ke terminal = Rp 6.000
·         Bison dari terminal ke Pemenang = Rp 30.000
·         Cidomo dari Pemenang ke Bangsal = Rp 10.000
·         Shuttle boat dari Bangsal ke Gili Meno = Rp 40.000
·         Bakso di Bangsal = Rp 17.000
·         Penginapan utk 2 malam = Rp 200.000
·         Makan malam = Rp 49.000
·         Camilan + air mineral botol = Rp 24.000

Total : Rp 376.000
·         semua rincian biaya yang tercantum adalah untuk 2 orang

You Might Also Like

0 komentar