Tentang Rindu di Pulau Penawar Rindu

Friday, May 17, 2013



Sabtu siang itu kami berdua sama-sama sedang memanfaatkan aji mumpung. Dalam artian mumpung tidak sedang lembur di kantor,  mumpung tidak ada rencana untuk bepergian, mumpung lagi males berdiam saja di dalam rumah, mumpung  cuaca sedang cerah, dan mumpung Lala masih aman di tempat penitipannya. Jadi kami ingin memanfaatkan sedikit mumpung yang ada itu untuk menikmati our quality time
Ke mana? Gak jauh-jauh kok… Ke Pulau Belakang Padang aja :) Gak ada alasan khusus kenapa kami memilih mengunjungi pulau ini. Idenya pun terlontar begitu saja, ketika kami sedang makan gado-gado di sebuah warung di bawah pohon keres di daerah Sekupang. Such a romantic lunch, right? Kami berdua memang sama-sama suka spontan. Melakukan perjalanan tanpa rencana itu sensasinya luar biasa! Tak percaya? Coba dan buktikan sendiri… :)

Jadilah siang jelang sore itu, setelah menghabiskan masing-masing seporsi gado-gado, aku dan suami melaju ke arah pelabuhan Sekupang. Tujuan kami adalah pelabuhan kecil yang dikhususkan untuk kapal-kapal pompong. Setelah membayar tiket seharga 10 ribu rupiah per orang, duduklah kami bersama calon penumpang lain menunggu pompong yang akan membawa kami ke Pulau Belakang Padang. 

Pompong yang kami naiki langsung bergerak menjauhi dermaga, tak lama ketika penumpang terakhir menduduki bangku kayu yang tersisa. Perlahan terpal yang terpasang tepat di atas kepala kami digulung turun hingga kami –para penumpang pompong- tidak leluasa menikmati pemandangan sekitar.
Aku dan suami merasa salah tempat. Seharusnya kami memilih duduk di bangku paling depan, agar mata kami masih leluasa memandang berkeliling. “Nanti waktu pulang, kita duduk di depan ya..” suamiku berbisik lirih, yang hanya kubalas dengan anggukan. 

Setelah terombang-ambing di lautan sekitar 10 menit, sampailah kami di tujuan, Pulau Belakang Padang yang dikenal dengan nama Pulau Penawar Rindu. Entah kenapa dijuluki begitu… yang jelas, pulau Belakang Padang ini dulunya digunakan sebagai pusat kecamatan untuk pulau-pulau kecil di sekitar Batam. Tetapi karena luasnya terbatas -hanya seluas 68.4 km²- akhirnya pusat kecamatan dipindahkan ke Pulau Batam yang lebih besar. 

 
Pulau Belakang Padang sebenarnya bukanlah tempat tujuan wisata, meski sebenarnya sangat berpotensi untuk itu. Setiap tahun, digelar Sea Eagle Boat Race di sini. Sebuah event berskala internasional yang selalu menarik minat  wisatawan domestik maupun mancanegara. Di belakang pulau ini, jadi di belakangnya Pulau Belakang Padang, ada sebuah pantai berpasir putih yang cocok untuk jadi tempat kemping. Pantai Indah namanya. Aku pernah kemping di sana sama teman-teman kantor beberapa waktu yang lalu. Kemping di Pantai Indah ini membuat kita serasa sedang kemping di Singapura. Apa pasal? Selain bisa menikmati kerlip lampu-lampu di Singapura pada malam hari dengan begitu jelasnya, berada di pantai ini jaringan seluler kita otomatis berubah menjadi jaringan seluler milik Singapura. 

 
Trasportasi utama di Pulau Belakang Padang adalah becak beroda tiga seperti yang umum kita lihat di daerah Jawa. Tapi siang jelang sore itu kami lebih memilih berjalan kaki untuk berkeliling pulau kecil ini. Setelah puas berkeliling, kami kembali ke dermaga. Para pemilik warung di sekitar dermaga mulai menata lapaknya, bersiap menunggu pembeli yang akan menikmati santap malam berteman debur ombak. 

 
Dengan berbekal seplastik gorengan dan sebotol air mineral, kami duduk di sebuah bangku taman, yang berhadapan langsung dengan Pulau Sambu, yang merupakan salah satu pemasok minyak bumi terbesar di Kepulauan Riau. Kami duduk di situ bukan sedang membahas tentang kapan terminal minyak Pertamina di Pulau Sambu itu dibangun untuk pertama kalinya? Bukan juga untuk membahas sejarah Pulau Belakang Padang. Kami hanya mengobrol ringan. Seringan kudapan yang menemani kami sore itu. 
 
Beberapa pasang mata melirik kami sambil senyum-senyum tak jelas, ketika mas Anang membiarkan aku membersihkan remah-remah gorengan di sudut bibirnya. Atau ketika tangan mas Anang dengan mesranya melingkar di pundakku. Sungguh, tak ada niatan untuk pamer kemesraan. Kami hanya ingin berbagi cerita bahagia pada sepotong sore yang cerah. Bahagia yang sederhana, sesederhana cara kami menikmatinya. 

 
Hari semakin sore, camilan yang menemani kami juga sudah ludes. Saatnya kembali ke Batam. Ketika sedang menunggu pompong, ada satu pemandangan yang mengganggu kami. Sampah! Tadi sewaktu baru sampai di dermaga kami tak melihat sampah-sampah itu. Tapi sekarang, rombongan sampah beraneka jenis itu mengapung dengan santainya di permukaan laut, seolah sedang berlayar menuju Singapura. Sungguh, keberadaan sampah-sampah itu bukanlah penawar rindu yang ingin kami temui di pulau ini. 

 
Kedatangan pompong yang akan membawa kami kembali ke Batam seolah tak mengijinkan kami terlalu lama ‘menikmati’ sampah-sampah yang bertebaran di laut itu. Tak ada waktu untuk menelusuri, dari mana sampah-sampah itu berasal. Kami bergegas melompat ke dalam pompong. Dan seperti yang sudah kami sepakati ketika berangkat tadi, kali ini kami memilih duduk di bangku paling depan. Tertawa-tawa ketika sesekali percikan air laut mengenai wajah kami. Ternyata, kebahagiaan kecil seperti inilah yang kami rindukan.  


You Might Also Like

12 komentar

  1. kabarnya pulau indah mw di bangun resort mbak, blm sampe kesana.
    waktu dian ke blakang padang, mampir ke pantai pasir putih dan ternyata bisa di bilang bukan pantai hihi

    ReplyDelete
  2. Dian ke pantai pasir putih yg mana? yang di Belakang Padang?
    Kalau Pantai Indah yang aku maksud itu di Pulau Lengkana, belakangnya Belakang Padang.

    ReplyDelete
  3. Belakang Padang emang jorok Dee, apalagi dekat2 pasar itu. Dah lama pengen bersih2 pantai di sana tapi belum teralisasi. Perlu dukungan pasukan yang solid. Sempat ke TPSnya nggak? Beuuh luar biasa deh. TPSnya kan terletak di tepi laut jadi kalau air pasang berton-ton sampah mengambang. Belum ada solusi. Dulu cuma pemetaan aja, ngasih data ke orang2 dari kementrian Lingkungan hidup. Habis tuh gak ada kelanjutannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kemaren itu sebenernya gak terlalu merhatiin, teh... cuman ya itu pas mau pulang, langsung deh keliatan itu ratusan sampah mengapung di laut seolah keluar dari bawah pelantar tempat saya berdiri...

      Delete
  4. Wah di Batam ya? Saya dulu ke Batam ga sempat ngapa-ngapain, hujan mulu tiap hari. Akhirnya di rumah aja melepas kangen dengan orang tua yg kebetulan sedang di Batam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. heheehe.. hujan di Batam emang gak kenal musim.. jadi emang kudu sedia payung atau raincoat kalo lagi jalan.. :)
      Nanti kalo ke Batam lagi, coba jelajah pulau deh... :)

      Delete
  5. Mbak Dee.............aku juga rindu pulau ini..:-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayo kapan liburan ke batam? ajak aqila juga.... :)

      Delete
  6. Nama kapalnya unik pompong ya Mba ? Tapi sayang pantainya kenapa kotor gitu ya ? Apa pemerintah daerah sekitarnya tidak memperhatikan hal ini ? Apa karena mereka teralu sibuk sampai permasalah ini tidak mau menjadi perhatiannya serius ?
    Mudah-mudahan bapak-bapak yang terhormat di sana yang memiliki tnggung jawab akan hal ini. melakukan tindakan nyata dan bukan hanya sekali saja ya Mba. Hm.....


    Salam,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas, di sini disebutnya pompong :) ada yang bilang sih, dinamain pompong karena suara mesin perahunya kalo jalan bunyinya pom.. pom.. pong.. pong.. pong.. jadi deh dinamain pompong.. :))

      Sayang banget ya mas, kebiasaan masyarakat yang menjadikan laut sebagai tempat sampah raksasa harus segera diubah, kalo kita gak mau semua pantai di Indonesia ini menjadi tempat sampah :(

      Delete