Sepenggal Kisah Dari Negeri Para Dewa

Thursday, January 31, 2013



Sore itu, tanggal 19 September 2011. Saya dan suami baru saja turun dari puncak bukit Sidengkeng untuk memotret landscape telaga warna Dieng. Ketinggian yang hanya mencapai 300 meter itu cukup melelahkan juga. Terutama bagi orang yang jarang berolahraga seperti saya ini. Yah, lumayanlah, saya anggap ini sebagai pemanasan sebelum besok pagi kami mendaki ke puncak Sikunir yang ketinggianya mencapai 2500 mdpl... 
Legenda Kawah Sikidang

Sambil masih berusaha mengatur napas, saya membayangkan sebotol minuman dingin. Hmm.. pasti seger banget rasanya. Dan bayangan yang menggoda itu akhirnya membawa kami ke salah satu warung yang ada di depan telaga warna. Saya mengambil sebotol minuman dan langsung meneguknya. Terasa dingin dan segar walaupun tanpa es batu. Udara dingin di Dieng ini sudah cukup menjadi lemari es alami bagi minuman-minuman dalam botol itu. 

Kami berdua duduk-duduk di warung itu sambil menikmati minuman dan ngobrol dengan penjualnya. Saya selalu menikmati suasana seperti ini. Duduk di warung dan mengobrol santai dengan pemilik warung atau pengunjung yang kebetulan mampir. Biasanya banyak informasi dan cerita-cerita menarik yang akan saya dapatkan. Seperti tadi ketika saya sedang berada di kawah Sikidang. Saya mendapat sebuah cerita menarik tentang legenda kawah Sikidang dari seorang bapak yang kebetulan juga sedang beristirahat di musholla. 

Menurut cerita beliau, ada sebuah legenda yang berkembang di masyarakat Dieng tentang asal mula kawah Sikidang. Pada zaman dulu di dataran tinggi Dieng terdapat istana milik seorang ratu yang bernama Ratu Shinta Dewi. Pada suatu hari, sang ratu dilamar oleh seorang pangeran yang konon berwajah tampan dan kaya raya, yaitu Pangeran Kidang Garungan. Namun, Ratu Shinta Dewi kecewa karena pangeran tersebut tidak setampan seperti cerita yang ia dengar. Pangeran Kidang Garungan ternyata berbadan manusia dan berkepala kijang. Untuk menolak lamaran itu, Ratu Shinta Dewi mengajukan syarat agar dibuatkan sumur yang besar dan dalam. Ketika sumur hampir selesai dibuat dan Pangeran Kidang Garungan masih berada di dalamnya, Ratu Shinta Dewi dan para pengawalnya menimbun sumur tersebut dengan tanah.

Sang pangeran berusaha untuk keluar dari sumur itu dengan cara mengerahkan segala kesaktiannya, tapi sumur itu tiba-tiba menjadi panas, bergetar, dan meledak-ledak. Pangeran itu hampir saja keluar dari sumur, namun ratu dan para pengikutnya terus menimbun sang pangeran hingga tidak dapat keluar. Sang pangeran kemudian marah, lalu mengutuk Ratu Shinta Dewi dan keturunannya kelak akan berambut gimbal. Bekas sumur Pangeran Kidang Garungan itulah yang kemudian menjelma menjadi Kawah Sikidang.

Manisan Carica

Saya masih menikmati minuman ketika Pak Parno, sang pemilik warung menawarkan manisan carica, saya jadi penasaran juga. “Rasanya seperti apa sih, Pak? Pepaya?” tanya saya. Tiba-tiba Pak Parno mengambil satu botol manisan carica dagangannya, membuka tutupnya dan mengambil sendok. “Coba dulu. Kalo enak dan suka, monggo dibeli, kalo nggak enak gak usah dibayar.” Kata Pak Parno sambil menyerahkan manisan carica itu pada saya. 

Saya mencoba satu sendok. “Enak Pak..” ucap saya jujur. Pak Parno tersenyum, dan bilang manisan yang itu boleh saya habiskan. Gratis katanya. Dan dengan tanpa malu-malu, sebotol manisan carica itu saya habisin beneran. Hehehe.. backpacker pantang menolak rejeki. Saya jadi tertarik membeli untuk oleh-oleh orang di rumah. Satu botol manisan carica itu harganya Rp 10.000. Kalau beli satu kotak isi 6 botol, Pak Parno ngasih harga Rp 50.000. Akhirnya kami beli 1 kotak. Cuma Rp 50.000 ditambah gratis 1 botol manisan yang saya habisin saat itu juga. 

Carica yang mempunyai nama latin Carica pubescens atau lebih dikenal dengan nama Mountain Papaya adalah tanaman sejenis papaya yang tumbuh subur di dataran tinggi dan memerlukan temperatur yang cukup dingin. Tak heran apabila tanaman ini dapat tumbuh dengan subur di dataran tinggi Dieng. Buah carica yang sudah diolah menjadi manisan dan dikemas dalam botol menjadi oleh-oleh khas Dieng yang cukup digemari.

Rambut Gimbal

Sambil menikmati manisan carica, saya asyik menyimak cerita Pak Parno tentang masyarakat Dieng, salah satunya adalah cerita tentang bocah berambut gimbal. Jujur saja, seharian tadi, sepanjang jalan mata saya terus jelalatan mencari sosok bocah berambut gimbal, tapi tidak ketemu. Menurut Pak Parno, bocah berambut gimbal memang tak banyak lagi jumlahnya, dalam satu kampung mungkin hanya ada tiga atau empat anak saja. Bocah-bocah tersebut tidak berambut gimbal sejak lahir. Sewaktu lahir mereka memiliki rambut seperti bayi pada umumnya. Sebelum sang bocah tiba-tiba berambut gimbal, biasanya ditandai dengan panas tinggi selama beberapa hari. Setelah panasnya turun, tiba-tiba saja rambut sang bocah sudah berubah menjadi gimbal. 

Untuk memotong rambut gimbal tersebut, ada sebuah ritual tersendiri yang harus dilakukan. Biasanya anak yang akan diruwat itu mengajukan suatu permintaan yang harus dituruti pada saat proses ruwatan. Dan permintaan itu harus dipenuhi semua, tidak boleh kurang sedikitpun. Karena kalau kurang, rambut anak tersebut akan menggimbal kembali. Benar-benar budaya yang unik, yang mungkin tidak bisa diterima dengan logika. Tapi begitulah kenyataannya. Dan bocah-bocah berambut gimbal itu adalah bagian dari budaya di daerah Dieng. Saya jadi teringat tentang legenda kawah Sikidang. Terlepas dari benar atau tidaknya legenda tentang Ratu Shinta Dewi yang dikutuk oleh Pangeran Kidang Garungan, bagi saya, bocah-bocah berambut gimbal itu adalah bocah istimewa. 

Ludes sudah sebotol manisan carica di tangan saya, dan berakhir pula cerita Pak Parno tentang bocah berambut gimbal. Kamipun berpamitan pada Pak Parno sambil mengucapkan terimakasih atas manisan carica dan kisahnya tentang bocah berambut gimbal. Dan tak lupa kami mengabadikan pertemuan singkat itu dalam satu jepretan kamera sekedar untuk kenang-kenangan. 

Kami memutuskan untuk kembali ke penginapan yang jaraknya sudah tidak jauh lagi dari situ. Hanya sekitar 1,4 kilometer saja. Kami berjalan santai sambil menikmati udara sore yang sejuk di Dieng. Ketika sedang asyik memotret masjid jami’ Baiturrohman Dieng, seorang bocah berambut gimbal lewat di depan kami sambil makan es krim. Saya hanya berhasil memotret bocah itu dari belakang. Tapi saya sudah cukup senang, karena bisa melihat langsung salah seorang bocah istimewa itu


Tulisan ini menjadi pemenang pertama dalam lomba Catatan Perjalanan yang diselenggarakan oleh Gol A Gong.

You Might Also Like

4 komentar

  1. Fotonya keren banget mbak. *Merinding

    ReplyDelete
    Replies
    1. tempat yang selalu bikin kangen, mbak.... negeri di atas awan... :)

      Delete
  2. Fotonya keren bgt mbak, apalagi yg pertama,,

    Aaiiss,, jd pengen mendaki #ngayal.com :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayo ke gunung yang deket-deket Batam aja... Gunung Daik, saya juga belum pernah ke sana... Teh Lina tuh yg udah... :)

      Delete