[Dieng] 4. Kawah, Telaga dan Rambut Gimbal

Thursday, October 27, 2011


Kawah Sikidang

Saatnya melanjutkan perjalanan. Tujuan kami selanjutnya adalah kawah Sikidang. Menurut coret-coret yang dikasih ama mas Dwi, jarak dari museum Kailasa ke persimpangan kawah Sikidang dan telaga warna hanya 1,3 kilometer. Tapi setelah saya melewatinya sendiri, kok rasanya ini lebih jauh dari 1,3 kilometer ya? Hehehe… Dengan berjalan santai sambil sesekali berhenti untuk mengambil foto, 20 menit kemudian baru kami sampai di persimpangan jalan antara kawah Sikidang dan telaga warna. Kami memilih ke kawah Sikidang terlebih dahulu, karena jalur ke telaga warna searah dengan jalur untuk kembali ke penginapan Bu Jono.


Di pintu masuk kawah Sikidang kami menunjukkan tiket yang tadi kami beli di kawasan kompleks candi Arjuna. Setelah bagian tiket yang bertuliskan kawah Sikidang dirobek oleh petugasnya, kami pun melangkah masuk. Dari pintu masuk ini kami masih harus berjalan selama 10 menit melewati jalan beraspal untuk menuju kawah Sikidang. Semakin mendekati areal kawah, bau belerang sudah mulai tercium walaupun tidak terlalu menyengat. 


Kawah ini mengeluarkan uap panas yang disertai semburan air mendidih berwarna kelabu. Dan uap panas yang keluar itu selalu berpindah-pindah dan melompat seperti seekor kijang (kidang). Karena itulah tempat ini dinamakan kawah Sikidang.

Ada sebuah legenda yang berkembang di masyarakat sekitar tentang terjadinya kawah Sikidang ini. Begini ceritanya (udah kaya nenek-nenek mau ngedongengin cucunya aja nih…) Pada zaman dulu di dataran tinggi Dieng terdapat istana milik seorang ratu yang sangat cantik, yaitu Ratu Shinta Dewi. Pada suatu hari, sang ratu dilamar seorang pangeran yang konon tampan dan kaya raya, yaitu Pangeran Kidang Garungan. Namun, Ratu Shinta Dewi kecewa karena pangeran tersebut tidak setampan seperti yang diceritakan. Pangeran Kidang Garungan ternyata berbadan manusia dan berkepala kijang. Cara untuk menolak lamaran itu, Ratu Shinta Dewi mengajukan syarat untuk dibuatkan sumur yang besar dan dalam. Ketika sumur hampir selesai dibuat, Ratu Shinta Dewi dan para pengawalnya menimbun sumur tersebut dengan tanah saat Pangeran Kidang Garungan masih berada di dalamnya.

Ketika sang pangeran berusaha untuk keluar dari sumur itu dengan cara mengerahkan segala kesaktiannya, sumur itu tiba-tiba menjadi panas, bergetar, dan meledak-ledak. Pangeran itu hampir saja keluar dari sumur, namun ratu dan para pengikutnya terus menimbun sang pangeran hingga tidak dapat keluar. Sang pangeran kemudian marah, lalu mengutuk Ratu Shinta Dewi dan keturunannya kelak akan berambut gembel. Bekas sumur Pangeran Kidang Garungan itulah yang kemudian menjelma menjadi Kawah Sikidang.


Puas poto-poto narsis di sekitar kawah, kami pun menuju ke deretan warung yang ada disitu. Mata saya langsung tergoda oleh sebuah tulisan yang ada di salah satu warung “es dawet ayu Banjarnegara” Tapi sayang sekali, saat itu bakul dawetnya lagi gak jualan. Terpaksa deh batal menikmati es dawet ayu langsung di daerah asalnya. “Adhem-adhem ngene kok nggolek es tho mbak, niki lo unjuk’ane sing anget-anget.” Seorang ibu yang berjualan minuman hangat menawarkan dagangannya. Saya hanya tersenyum sambil berlalu menuju musholla yang berada tak jauh dari situ. 


Jam di HP saya menunjukkan pukul 1.20 pm. Saat itu juga matahari sedang bersinar dengan cerahnya. Tapi tetap saja, saya merasa seperti berwudhu dengan air es. Dan sehabis sholat, kami duduk-duduk sejenak sambil istirahat di teras musholla. Duduk diam tanpa melakukan aktifitas apa-apa seperti itu langsung membuat tubuh kami menggigil kedinginan. Sehingga kami memutuskan untuk secepatnya melanjutkan perjalanan. Sasaran berikutnya adalah telaga warna.

Telaga Warna 


Dalam perjalanan menuju ke telaga warna, di persimpangan tak jauh dari gerbang masuk kawasan kawah Sikidang, kami melihat satu lagi bangunan candi. Ternyata itu adalah candi Bima. Mumpung disitu sekalian deh mampir bentar di candi Bima, buat poto-poto narsis tentu saja.


Eh ternyata ketemu persimpangan lagi, kalo belok ke kanan ke Dieng plateu theatre, kalau belok kiri ke telaga warna. Dieng plateu theatre letaknya agak diatas bukit. Kami memilih belok kiri aja, ke telaga warna. 


Waktu bayar tiket masuk ke telaga warna, petugasnya menyarankan kepada kami untuk naik ke atas bukit, yang belakangan kami tau bernama bukit Sidengkeng, untuk mendapatkan hasil foto yang bagus, apalagi saat itu cuacanya sedang cerah. “Ikuti jalan yang di paving, nanti ada jalan ke kiri yang keluar ke arah jalan raya, dari situ keliatan jalan setapak. Naik aja terus sampe ke puncak bukit. Cuma sekitar 300 meter kok.” Begitu informasi yang kami terima dari bapak petugas.

Wuiih… mata saya langsung tak berkedip menatap hamparan telaga yang ada di depan kami itu. Airnya berwarna hijau tosca kebiruan, dan dikelilingi oleh bukit hijau yang seolah menjadi pagar hidup bagi telaga tersebut. Kabut putih yang turun perlahan dari balik bukit menambah sempurna lukisan alam itu. Langsung deh, jeprat-jepret dari berbagai sudut. 


Puas poto-poto disekitar telaga, kami coba untuk mengikuti anjuran bapak yang bertugas menjual tiket tadi. Tidak sulit menemukan jalur yang dimaksud. Yang lumayan sulit adalah jalan mendaki ke puncak bukitnya. Jalurnya sempit, kalo jatoh ke sebelah kiri maupun kanan bakal sama-sama apes. Kalo jatoh ke sebelahkiri bakal langsung nyamoe di jalan raya, kalo jatoh ke sebelah kanan bakal langsung nyebur ke telaga. Disinilah tongkat bambu pringgodani itu menunjukkan perannya. Berguna bo’ buat pegangan…

Setelah cukup menggos-menggos dan sempat diserbu segerombolan nyamuk, sampe juga kami di atas bukit. Dari tempat kami berdiri, telaga pengilon yang berada di seberang telaga warna juga terlihat dengan jelas. Keren banget. Terbayar capeknya naik ke atas bukit tadi dengan pemandangan indah ini…



Manisan Carica dan Bocah Berambut Gimbal

Ogah berlama-lama di atas, karena anginnya cukup kencang, kamipun segera turun. Kali ini langsung keluar ke jalan raya. Mendadak saya membayangkan sebotol pocari sweat dingin. Hmm.. pasti seger banget rasanya minum pocari apalagi sehabis menggos-menggos naik bukit barusan. Dan bayangan yang menggoda itu akhirnya membawa kami ke salah satu warung yang ada di depan telaga warna. Pas banget ada pocari yang walaupun gak pake es, tapi rasanya dingin dan seger banget…

Sambil menikmati pocari sweat (sumpah saya gak lagi ngiklan..!!) kami duduk-duduk di warung itu sambil ngobrol dengan penjualnya. Ketika beliau menawarkan manisan carica, saya jadi penasaran juga. “Rasanya kaya apa sih pak? Pepaya?” tanya saya. Tiba-tiba pak Parno, sang penjual itu mengambil satu botol manisan carica dagangannya, membuka tutupnya, mengambil sendok. “Coba dulu. Kalo enak dan suka, monggo dibeli, kalo nggak enak gak usah dibayar.” Kata pak Parno sambil menyerahkan manisan carica itu pada saya.

Saya mencoba satu sendok. “Enak pak..” ucap saya jujur. Pak Parno tersenyum, dan bilang manisan yang itu boleh saya habiskan. Gratis katanya. Dan dengan tanpa malu-malu, sebotol manisan carica itu saya abisin beneran. Hehehe.. Jadi tertarik beli untuk oleh-oleh orang di rumah nih. Satu botol manisan carica itu harganya Rp 10.000. Kalo beli satu kotak isi 6 botol, pak Parno ngasih harga Rp 50.000. Akhirnya kami beli 1 kotak deh… Cuma Rp 50.000 ditambah gratis 1 botol manisan yang saya abisin saat itu juga. 

Pohon carica
Sambil menghabiskan manisan carica, pak Parno banyak cerita tentang masyarakat Dieng, salah satunya adalah cerita tentang anak berambut gimbal. Jujur aja, sepanjang jalan tadi mata saya terus jelalatan mencari sosok bocah berambut gimbal, tapi gak ketemu. Menurut pak Parno, bocah berambut gimbal memang tak banyak jumlahnya, dalam satu kampung mungkin hanya ada tiga atau empat anak saja. Bocah-bocah tersebut tidak berambut gimbal sejak lahir. Sewaktu lahir mereka memiliki rambut seperti bayi pada umumnya. Sebelum sang bocah tiba-tiba berambut gimbal, biasanya ditandai dengan panas tinggi selama beberapa hari. Setelah panasnya turun, tiba-tiba saja rambut sang bocah sudah berubah menjadi gimbal.

Untuk memotong rambut gimbal tersebut, ada sebuah ritual tersendiri yang harus dilakukan. Biasanya anak yang akan di ruwat itu mengajukan suatu permintaan yang harus dituruti pada saat proses ruwatan. Dan permintaan itu harus dipenuhi semua, tidak boleh kurang. Karena kalau kurang, rambut anak tersebut akan menggimbal kembali. Benar-benar budaya yang unik, yang mungkin tidak bisa diterima dengan logika. Tapi begitulah kenyataannya. Dan bocah-bocah berambut gimbal itu adalah bagian dari budaya di daerah Dieng. Terlepas dari benar atau tidaknya legenda tentang Ratu Shinta Dewi yang dikutuk oleh Pangeran Kidang Garungan, bagi saya, bocah-bocah berambut gimbal itu adalah bocah istimewa.

Ludes sudah sebotol manisan carica di tangan saya, dan berakhir pula cerita pak Parno tentang bocah berambut gimbal. Kamipun berpamitan pada pak Parno sambil mengucapkan terimakasih atas manisan carica dan kisahnya tentang bocah berambut gimbal. Dan tak lupa kami mengabadikan pertemuan singkat itu dalam satu jepretan kamera sekedar untuk kenang-kenangan.


Dari telaga warna kami memutuskan untuk kembali ke penginapan yang jaraknya sudah tidak jauh lagi dari situ. Hanya sekitar 1,4 kilometer saja. kami berjalan santai sambil menikmati udara sore di Dieng. Ketika sedang asyik memotret masjid jami’ Baiturrohman Dieng, seorang bocah berambut gimbal lewat di depan kami sambil makan es krim. Saya hanya berhasil memotret bocah itu dari belakang. Tapi saya sudah cukup senang, karena bisa melihat langsung salah seorang bocah istimewa itu. 

Masjid Jami' Baiturrohman
Bocah berambut gimbal

Malam hari udara di Dieng semakin dingin. Kami memilih nongkrong sambil makan di warung belakang penginapan. Saya memesan nasi goreng jamur dan mas Anang memesan nasi campur dengan lauk ikan goreng dan telur dadar. 



Rincian Pengeluaran Hari Kedua :
  • Gorengan dan teh anget di simpang Dieng = Rp 4.000
  • Mikro bis ke Dieng = Rp 20.000
  • Tiket masuk candi Arjuna dan kawah Sikidang = Rp 20.000
  • Lunch dan souvenir di candi Arjuna = Rp 34.000
  • Tiket masuk museum Kailasa = Rp 10.000
  • Tiket masuk telaga warna = Rp 10.000
  • Manisan carica + pocari sweat = Rp 60.000
  • Dinner nasgor n nasi campur = Rp 33.000
Total = Rp 191.000
* semua rincian biaya adalah untuk 2 orang


Bersambung...


You Might Also Like

35 komentar

  1. Itu foto pangeran dan baru keluar dari sumu berarti ya? heheh

    ReplyDelete
  2. hehehe... salah nempatin poto ya.... :)))

    ReplyDelete
  3. Sangat menarik cerita terjadinya kawah dan cerita perjalanannya seru banget.Tfs ya mba.

    ReplyDelete
  4. jadi manisan caricanya rasanya sama dengan manisan pepaya kah?

    ReplyDelete
  5. hehe, pengilon... udah lama gak denger kata itu... jadi kangen alm. mbah putri...

    ReplyDelete
  6. Wuih, keren diksh rincian biayanya juga.
    Eh aq jg pny temen asli wonosobo, teman di forum penulis pas di HK dlu :D

    ReplyDelete
  7. Mana Chapter 5?? Harus malam ini ....
    *pembaca kompor meleduk*

    ReplyDelete
  8. kalau jadi buku.... judulnya apa, mbak?

    ReplyDelete
  9. photo sikidang yg bukit itu baru terbentuk dari letusan di tahun 2009. Pernah aku tulis..

    Sayang ga liat theathernya ya.. Ada peristiwa mengharukan di film itu.

    ReplyDelete
  10. trewelu: manisan carica ini dipack dalam botol (ada juga yang botol plastik) dan terendam air gula. Kalo manisan pepaya kan kering ya.
    Selain rasa biasa (gula putih dengan warna bening) ada juga yang dalam rendaman ungu dari buah kemar (terong belanda).

    ReplyDelete
  11. eh ku dengernya ga gitu cerita rambut gimbal.. ini versi sakit ya.. tapi iya soal ruwatan..

    ReplyDelete
  12. waaaa....dari jam 10-an sampe' sore ?
    beneran wisata jalan2 menikmati udara segar dan pemandangan indah yo mbak ...asyik...pengeeenn....

    ReplyDelete
  13. saya kalo manisan pepaya gak suka mbak..., tapi kalo yang ini tuh seger banget rasanya....

    ReplyDelete
  14. katanya pengilon itu artinya cermin ya mbak....

    ReplyDelete
  15. tar honeymoon ama mas narsis kesini aja Von... :))

    ReplyDelete
  16. cuekin pembaca yang satu ini..... :D

    ReplyDelete
  17. rencana sih judulnya sama ama judul blog saya aja mas... :)

    ReplyDelete
  18. eh kemaren saya gak nemu yang ini... yang dijual disana cuman yang warna kuning itu aja pak... enak gak yang warna ungu?

    ReplyDelete
  19. kalo yang mbak Tin denger versinya kayak gimana mbak?

    ReplyDelete
  20. iya Una..., telaga warnanya emang bagus banget...

    ReplyDelete
  21. lumayan bikin gempor juga mbak.... :))
    tapi itu aja masih banyak tempat yang kami lewatin... masih pengen balik kesana utk nyambangin semuanya... :)

    ReplyDelete
  22. dimana ini mbak..?
    *sy bacanya blm siap dink,,heheh

    ReplyDelete
  23. tapi masih awam daerah sana mbak, rencana pengen ke Jogja-Solo hehehe

    ReplyDelete
  24. di Dieng Ler....
    *makanya baca dari atas... hehehe...

    ReplyDelete
  25. bukannya lebih seru kalo explore daerah yang belum kita kenal Von...? dari Jogja cuman 3 jam looh...
    *kompor... kompor... :D

    ReplyDelete
  26. nah...disini lmyn murah drpd ciwidey...

    ReplyDelete
  27. di Ciwidey katanya yang mahal itu buat parkir mobilnya mas? nyesel dulu gak sempat mampir kesana, padahal udah deket banget kan dari Ranca Upas...

    ReplyDelete
  28. nah baru ada penjelasan jalan kaki disini hehehe

    ReplyDelete
  29. Mb Niez : maap.. maap.. Karena ceritanya dipotong2 jd bikin bingung :-)

    ReplyDelete