[Dieng] 3. Candi Arjuna dan Museum Kailasa

Thursday, October 27, 2011


Peta dan coret2 dari mas Dwi *klik untuk memperbesar gambar

Kompleks Candi Arjuna


Kami memilih kawasan kompleks candi Arjuna sebagai tujuan pertama. Karena dari peta yang dibuatkan oleh mas Dwi, tempat ini letaknya paling dekat dengan penginapan. Jadi keluar dari penginapan, kami mengambil jalan ke kanan.

Kami melewati sebuah gapura berwarna biru. Rupanya ini gapura yang tadi sempat disinggung oleh mas Dwi sebagai batas antara wilayah kabupaten Wonosobo dan kabupaten Banjarnegara. Jadi, kawasan Dieng plateu ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu Dieng wetan yang masuk kabupaten Wonosobo dan Dieng kulon yang masuk kabupaten Banjarnegara. Kedua wilayah ini dipisahkan oleh sebuah kali atau sungai yang bernama kali Tulis. Dan gapura berwarna biru inilah tanda pembatasnya.



Gak usah takut salah jalan, karena di setiap persimpangan ada signboard yang bisa dijadikan petunjuk. Dari gapura biru itu kami belok kiri, menuju kompleks candi Arjuna. Tiket masuk kawasan candi Arjuna adalah Rp 10.000/orang. Simpan baik-baik tiket ini, karena tiket masuk kawasan candi Arjuna ini juga termasuk tiket masuk kawasan wisata kawah Sikidang.

Tiket masuk sudah ditangan, sebelum explore candi lebih baik kita explore makanan dulu. Laper euy, tadi pagi kan cuma diisi gorengan ama teh anget aja. Kebetulan di depan kompleks candi banyak warung. Satu persatu kami samperin, gak ada yang jual nasi. Padahal di spanduknya tertulis jual nasi juga, ada yang bilang habis, ada yang bilang belum mateng, intinya gak ada nasi. Yang banyak cuma mi instan, bakso ama kentang goreng. Kalo perut saya sih, udah biasa gak makan nasi. Beda ama mas Anang, bagi dia, selain nasi itu brati cemilan.

Untungnya, warung terakhir yang kami samperin jual nasi. Jadilah kami makan disitu. Lauknya ayam goreng, sayur tempe dan sambel. Karena penjualnya lagi sibuk ngelayanin pembeli yang mau beli oleh-oleh khas Dieng, jadinya kami disuruh ngambil sendiri lauknya di dapur. Boleh ngambil banyak-banyak lagi. Hehehe… Saya ngambil lauknya dikit aja, tapi ngambil sambelnya yang banyak. Sambelnya enak sih… 


Warung ini memang menjual berbagai macam oleh-oleh khas Dieng, seperti kripik jamur, manisan carica dan purwaceng. Carica adalah buah pepaya khas Dieng, bentuk pohonnya pun seperti pohon pepaya pada umumnya. Tapi ukuran buahnya kecil-kecil. Sehingga orang biasa menyebutnya dengan small papaya atau pepaya gunung. Sedangkan purwaceng adalah tanaman legendaries yang dipercaya bisa menambah stamina dan vitalitas. Bahasa kerennya, traditional Viagra 


Info gak penting : saya hamil bukan gara-gara mas Anang minum purwaceng loh ya, soalnya kemaren kami emang gak beli purwaceng, jadi gak tau gimana khasiatnya. hahaha… bener-bener info gak penting... :D

Oiya, di warung ini juga kami sempat beli sesuatu buat kenang-kenangan. Tongkat bambu yang kata penjualnya adalah bambu pringgodani. Iseng aja sih, abis keliatan bagus, harganya juga cuman lima ribu rupiah. Lumayan buat main pedang-pedangan. Hahahaha… Dan sekarang, tongkat bambu itu udah nangkring dengan manis di tembok rumah, dijadiin pajangan. Jangan dilihat dari bentuknya, jangan dilihat dari harganya, tapi lihatlah perjuangan kami membawa bambu sepanjang itu dari Dieng ke Jogja, ke Surabaya trus sampe ke Batam. hehehe…

 
Balik lagi ke kompleks candi Arjuna. Yang bakalan kita lihat pertama kali adalah sebuah bangunan dengan batu-batu bertumpuk. Dari tulisan yang ada di papan informasi, bangunan itu adalah rekonstruksi Dharmasala. Dan dari informasi yang saya dapat di museum, Dharmasala Dieng adalah tempat beristirahat para peziarahdan persiapan upacara agama pada masa lalu. Dulunya merupakan bangunan panggung yang terbuat dari kayu. Tapi saat ini hanya tinggal pondasinya saja. 


Kompleks candi Arjuna terdiri dari 5 candi. 4 candi berderet yaitu candi Arjuna, candi Srikandi, candi Puntadewa dan candi Sembadra. Sementara candi Semar letaknya berhadapan dengan candi Arjuna. Kompleks candi ini diresmikan oleh pak Jero Wacik pada tanggal 28 Juli 2008. 


Saya benar-benar menikmati berada di tengah-tengah kompleks candi yang luas ini. Bukan karena candi dianggap sebagai kahyangan, yang mana candi adalah replica dari gunung yang merupakan tempat tinggal dewa dan dewi. Tapi lebih karena pemandangan cantik yang saya dapatkan di tempat ini. Bayangin aja ya, kompleks candi ini dikeililingi oleh bukit yang hijau dengan kabut tipis yang turun perlahan menutupi puncak-puncak bukitnya. Hanya satu kata yang tepat untuk menggambarkannya, cantik. 


Museum Kailasa Dieng 


Puas berpose dengan aneka gaya dan mengambil gambar candi dari segala sudut, kami melanjutkan perjalanan ke museum Kailasa. Sebenarnya masih ada kompleks candi Setiaki dan telaga Balaikambang yang bisa dikunjungi. Tapi kami memilih lanjut ke museum aja. Jalurnya gak susah kok, tinggal ikuti jalur utama yang sudah di paving aja, dari situ bangunan museumnya udah keliatan. Sebelum sampai ke museum kita bisa olahraga sedikit dengan menaiki beberapa anak tangga.

Bagi anda yang membawa mobil atau motor, bisa parkir langsung di depan museum ini. Tempat parkirnya luas kok. Di sekitar situ juga terdapat banyak warung nasi dan penjual oleh-oleh khas Dieng. 


Sampai di museum, saya sempat ragu karena suasana museumnya tampak sepi sekali tanpa pengunjung. Pintu museumnya pun tertutup rapat. Tapi tak urung kami tetap melangkahkan kaki ke museum itu. Ketika kami sedang melihat-lihat peta jalur wisata Dieng plateu yang ada di depan museum, seorang lelaki yang memperkenalkan diri sebagai pak Miskam menegur kami “Mau lihat-lihat isi museum mbak? Kalau mau saya ambilkan kuncinya sebentar.” Tentu saja kami tidak menolak. Ternyata museum itu sengaja dikunci karena sepi pengunjung. Saat itu memang hari Senin, dan bukan bertepatan dengan hari libur nasional. Jadi tempat-tempat wisata yang ada di Dieng juga terlihat sepi pengunjung.


Pertama-tama kami diajak masuk ke sebuah ruangan yang tidak terlalu luas yang di dalamnya terdapat peninggalan peradaban Hindu Jawa kuno pada abad ke 7 sampai ke 8. Setelah melihat-lihat koleksi di ruangan ini kami pindah ke bangunan lain di seberangnya. Di bangunan yang ini terdapat artefak dan informasi tentang keadaan alam Dieng termasuk flora faunanya. Keseharian masyarakat Dieng meliputi pertanian, kepercayaan dan kesenian mereka. Juga banyak informasi menarik tentang bangunan candi yang ada di Dieng. Di museum ini juga ada teater untuk melihat film documenter tentang arkeologi Dieng. Sayang banget karena hari itu pengunjungnya cuman kami berdua, kami gak bisa nonton film di teaternya. Karena teater hanya akan dibuka kalau pengunjungnya minimal 10 orang. Huhuhu… ada enak gak enaknya ya jalan-jalan di waktu low season kayak gini. 




Setelah puas melihat-lihat semua isi museum baru kami membayar tiket masuknya. Cuma Rp 5000/orang. Kebalik yah, harusnya tiket masuk dibayar di awal, lah ini udah keliling baru bayar tiket masuk. Hehehe.. Sebelum pamit, kami sempatkan untuk berpose bersama pak Miskam di depan bangunan museum. Makasih ya pak, udah menemani kami keliling museum.


Di seberang museum terdapat satu lagi bangunan candi, yaitu candi Gatotkaca. Sekalian aja kami mampir sekedar untuk poto-poto narsis berdua. Tak lupa bergaya dengan tongkat bambu pringgodani. Karena menurut kisahnya, Gatotkaca itu kan satria dari Pringgodani ya? Jadi, tongkat bambu pringgodani ini masih ada hubungannya kan ama Gatotkaca… hehehe… sumpah ini cuma teori mekso dari saya aja kok



Bersambung...


You Might Also Like

25 komentar

  1. Wah catatan tripnya menggiyurkan

    ReplyDelete
  2. samperin kesana kalo mudik nanti Moes... :)

    ReplyDelete
  3. disebut tongkat pringgodani soalnya dari pring... hahaha

    ReplyDelete
  4. wealah, ada cobeknya juga... makanya kok ada yang cerita ketahan di imigrasi gara2 cobek batu dianggap barang peninggalan purbakala..

    ReplyDelete
  5. aku dan rombongan, kalo masuk kompleks gratis karena supirku orang sana asli. Penjaga musium, candi, tukang warung saudaranya semua.

    ReplyDelete
  6. aku bayangin enaknya karena meskipun cerah ceria gitu mataharinya, pasti sejuk ya mbak ?
    beda sam explore prambanan/borobudur, gosoooongggg .....:)))

    ReplyDelete
  7. hehehe... iya kali mbak... atau bisa jadi, asal kata pring itu yang berasal dari kata pringgodani... huehehe... ngawur...

    ReplyDelete
  8. mungkin petugas imigrasinya berpedoman, semua benda yang terbuat dari batu adalah benda peninggalan purbakala... :)

    ReplyDelete
  9. saya juga pernah denger pak..., rata2 tukang ojek juga supir disana seperti itu, kalo masuk tempat wisata bisa gratis... karena biasanya emang masih kerabat ama petugas2nya... jadi kita bayar ongkos ojek atau guide itu udah termasuk biaya masuk tempat wisata...

    ReplyDelete
  10. masih buka mbak.... walaupun terlihat sepi, karena emang bukan hari libur ya..

    ReplyDelete
  11. iya mbak Shant, udaranya sejuk banget.... saya jalan kaki keliling2 disana itu gak sampe keringetan nggobyos gitu..
    coba kalo di prambanan/borobudur, selain gosong, bisa dipastikan baju saya basah kuyub ama keringet... hehehehe...

    ReplyDelete
  12. bukannya meski sejuk, tetep gosong ya? biasanya kalo ke gunung kan gitu... gak kerasa karena dinginnya, tapi begitu sampe rumah, melepuh...

    ReplyDelete
  13. kalo saya kemaren itu jadi gosong gara2 perubahan cuaca yang ekstrem mbak... dari Batam yang panas ke Dieng yang dingin trus langsung ke Jogja yang juga panas.. Jadinya pas sampe di Surabaya, kulit muka saya jadi blang blonteng (mblodhoki... hehehehe...)

    ReplyDelete
  14. mba itu dari penginapan cuma jalan saja?

    ReplyDelete
  15. iya mbak, cuma jalan kaki aja... jaraknya gak terlalu jauh kok... bisa diliat di peta yang dari mas Dwi itu...

    ReplyDelete
  16. makin mantep nih kayaknya.... :)

    ReplyDelete
  17. nunggu cerita versi mbak Niez... yang judulnya Dieng till Dying... :)

    ReplyDelete
  18. wkwkwkwwkwk....itu judul sudah terngiang2 lama

    ReplyDelete
  19. ntar yang seru pasti cerita dibaliknya mbak... yang bagian 3 kali gagal kesana itu... :)

    ReplyDelete