[Dieng] 2. Dieng Plateu... I'm Coming...

Tuesday, October 25, 2011



Day 2 – 19 September 2011

Next… Wonosobo

Jam 2 dini hari saya terbangun, ternyata kami sudah memasuki wilayah Purwokerto. Cepat juga, kalau begini bisa-bisa sebelum subuh kami sudah sampai di Wonosobo. Dan benar saja, tepat jam 4 subuh kami sudah menginjakkan kaki di Wonosobo. Kami turun di simpang Dieng, sebuah tempat yang memang biasa dijadikan pangkalan mikro bis tujuan Dieng. Hawa dingin langsung menyambut kami. Belum ada satupun kendaraan yang mangkal di simpang itu. Kehidupan di Wonosobo belum dimulai. Para penduduk mungkin masih asyik melungker di balik selimut tebal mereka. 


Kepada seorang bapak yang kebetulan melintas kami bertanya dimana letak mushola atau masjid terdekat? Rupanya tak terlalu jauh dari tempat kami berdiri ada sebuah mushola dan agak naik sedikit di ujung jalan ada sebuah masjid. Masjid itulah tujuan kami. Adzan subuh berkumandang tepat ketika kami sampai di masjid, sehingga kami masih kebagian sholat subuh berjamaah. Air wudhu yang bagaikan es itu seketika menghilangkan kantuk yang masih tersisa. Asli seger banget. Senyum dan sapa ramah dari penduduk setempat meyambut kami mengawali hari di Wonosobo.

Perjuangan Demi Menuntaskan Hasrat

Sebagai manusia normal dengan system pencernaan yang bekerja dengan baik, setiap pagi tentu ada panggilan alam yang tidak bisa ditinggalkan. Urusan yang satu ini tidak bisa ditunda, harus segera dituntaskan saat itu juga. Tapi rupanya, kami harus bisa menahan diri karena toilet masjid yang semula menjadi satu-satunya harapan rupanya terkunci. Oke, kami harus mencari tempat lain.

Kembali kami berdua memanggul ransel dan menyusuri jalan menuju ke simpang Dieng. Masih sepi. Kami mencari warung nasi disekitar situ, karena biasanya warung nasi juga menyediakan toilet. Tapi sepagi itu belum ada warung nasi yang buka. Seketika kami teringat, semalam sebelum kami turun di simpang Dieng, kami sempat berhenti di pom bensin untuk menurunkan penumpang lain. Dan pom bensin itulah tujuan kami sekarang. Semalam waktu naik bis, rasanya pom bensin itu dekat saja, ternyata jauh juga ya. Apalagi sambil menggendong ransel yang lumayan juga beratnya, ditambah dengan kondisi perut yang menuntut untuk segera dikosongkan. Sungguh, pom bensin itu semakin jauh saja rasanya. Doa kami hanya satu, semoga di pom bensin tersebut ada toilet, dan semoga toiletnya tidak terkunci.

Alhamdulillah, di pom bensin itu ada toilet, dan toilet itu tidak terkunci. Segera saja kami bergantian memenuhi panggilan alam yang sudah tidak mungkin ditunda lagi. Pffiuuhh… Lega rasanya ketika hasrat itu tertuntaskan. Hahahaha… Gak nyangka, hari pertama liburan kami ini diwarnai dengan perjuangan mencari toilet umum.. :D

Setelah selesai dengan urusan maha penting yang satu itu, kamipun segera kembali berjalan kaki ke simpang Dieng. Kali ini langkah kaki terasa jauh lebih ringan. Tampak mikro bis tujuan Dieng sudah mulai berjajar disana. Sebelum naik ke salah satu mikro bis, kami sempatkan membeli gorengan dan teh anget untuk mengisi perut yang baru saja dikosongkan.

Yes.., kami berdua kebagian tempat duduk di depan, sebelahan ama pak sopir. Bakal puas menyaksikan pemandangan indah yang akan menyambut kami sepanjang perjalanan menuju Dieng nanti.

Dieng Plateu… I’m coming…


Dari simpang ini, kami masih harus menempuh perjalanan selama kurang lebih dua jam lagi untuk bisa sampai di Dieng. Tapi selama dua jam perjalanan itu mata kami benar-benar dimanja. Arsitektur alam yang berpadu dengan geliat kehidupan pagi itu sungguh merupakan harmoni yang terjalin sempurna.

Sejauh mata memandang yang terlihat hanya hijau, hijau dan hijau. Hamparan sawah, bukit, dan pepohonan. Di sebelah kanan tampak gunung Sindoro seperti berlari mengikuti kami. Sesekali gunung Sumbing juga menampakkan diri dari balik angkuhnya punggung Sindoro. Benar-benar pemandangan yang cantik.


Pak sopir menunjuk sebuah bukit di depan kami. “Dieng ada di balik bukit itu mas.” Kami berdua hanya manggut-manggut. Semakin tak sabar rasanya ingin segera menyaksikan seperti apa negeri para dewa yang ada di balik bukit itu. 


Mikro bis yang kami tumpangi merangkak mendaki jalan berliku memutari bukit. Takjub. Itu kesan pertama yang kami rasa ketika memasuki kawasan dataran tinggi Dieng. Hawa dingin semakin terasa menusuk. Di sepanjang jalan yang kami lalui, kami menyaksikan penduduk Dieng membungkus tubuhnya dengan jaket maupun kain sarung yang ditudungkan sampai ke kepala.

Mikro bis berhenti di sebuah pertigaan jalan. Pertigaan inilah yang dikenal dengan nama pertigaan Bu Jono. Karena tak jauh dari situ terdapat sebuah penginapan yang sudah cukup terkenal di kalangan para backpacker yang berkunjung ke Dieng. Penginapan itu bernama penginapan Bu Jono, dan kesanalah kami menuju.

Kalau lagi jalan, kami memang tidak pernah melakukan booking hotel sebelumnya. Karena biasanya kami memilih bepergian saat low season, sehingga tidak akan kesulitan mencari tempat menginap. Begitu juga kali ini. Kami memilih penginapan Bu Jono tak lebih hanya karena ingin merasakan menginap di salah satu tempat yang banyak di rekomendasikan oleh teman-teman yang sudah lebih dulu mengunjungi Dieng. 

Seorang lelaki menyambut kami dengan ramah. Mas Dwi namanya. Beliau mengantar kami untuk melihat-lihat kamar yang ada. Karena sedang low season, kamar dengan kamar mandi di dalam ditawarkan dengan harga Rp 80.000. Sedangkan kamar tanpa kamar mandi ditawarkan hanya Rp 50.000. Setelah melihat-lihat kamarnya, kami berdua sepakat memilih kamar yang tanpa kamar mandi dan letaknya paling depan. Alasan sederhana, kamar yang kami pilih ini mendapat sinar matahari yang cukup banyak dari jendela yang ada di bagian depan dan samping kanan. Dan sinar matahari yang masuk itu cukup menghangatkan tubuh kami yang mulai menggigil merasakan sambutan udara selamat datang dari Dieng. Asli…, dingin banget euy.

Setelah deal dengan kamarnya, saya memilih untuk turun ke bawah ngobrol-ngobrol dengan mas Dwi tentang tempat-tempat menarik yang bisa kami kunjungi di Dieng. Mas Dwi memberi saya sebuah peta lokasi buatan sendiri. Di atas peta itu juga mas Dwi menambahkan keterangan-keterangan penting seperti berapa kilometer jarak yang harus kami tempuh dari satu tempat ke tempat lain, sampai dengan ongkos masuk ke tempat-tempat wisata yang ada. Semua dituliskan oleh mas Dwi dengan detail. Atas saran dari mas Dwi juga, kalau kami ingin lebih menikmati Dieng, lebih baik kami berjalan kaki saja mengunjungi tempat-tempat wisatanya. Menarik sekali. Segala info yang berhubungan dengan meminimalisasi budget tentu sangat menarik, apalagi bagi backpacker berdana cekak seperti kami. Kalau kita bisa dapat kepuasan lebih dengan budget yang jauh lebih murah, kenapa tidak? Lagipula, peta dan coret-coret dari mas Dwi itu sudah cukup jelas bagi saya. 


Mas Dwi juga menyiapkan teh hangat untuk kami, yang langsung saya sruput saat itu juga untuk mengusir hawa dingin. Ketika saya meyerahkan fotocopy KTP saya dan mas Anang, mas Dwi langsung minta maaf, rupanya dari tadi mas Dwi mengira saya dan mas Anang hanya ‘teman’ dan bukan suami istri. Hehehe… dimaafin mas, mas Dwi bukan orang pertama kok yang menuduh kami masih pacaran

Kelar urusan KTP dan merasa sudah memiliki cukup bekal untuk keliling Dieng, saya kembali ke kamar. Rupanya mas Anang tertidur pulas sambil melungker di balik selimut tebal. Sewaktu saya bangunin, mas Anang minta waktu setengah jam lagi. Saya lihat jam di HP masih menunjukkan jam 8 pagi. Okelah, setengah jam lagi akan saya bangunkan. Sayapun ikut tiduran disebelahnya. Niat semula hanya ingin baring-baring sekedar meluruskan punggung. Eh lah kok saya ketiduran juga. Bangun-bangun sudah jam setengah 10 Buru-buru kami bangun. Dan bergegas keluar penginapan. Waktunya explore Dieng…

Bersambung...

You Might Also Like

76 komentar

  1. Cepat upload yg Chapter 3 !!!
    *pembaca tak tau diri hihihi*

    ReplyDelete
  2. wkwkwkwkwk...itu pasti tidurnya pulessssssssss

    ReplyDelete
  3. iyaaa bener cepet seleseinnn..sudah gak sabarrr

    ReplyDelete
  4. sesok ae tak lanjut nulis nang kantor...
    *huehehe... pegawai kurang ajar....

    ReplyDelete
  5. gimana gak pules mbak..., hawanya mendukung banget mbak... :))

    ReplyDelete
  6. ni gara2 mbak Niez tadi pamer poto mi ayam jadinya saya malah asyik berburu mi ayam daripada nerusin nulis... :)))

    ReplyDelete
  7. yeeee....mie ayam disalahin...

    hemmm aslinya sih mbak...denger dieng itu kuping langsung naik...
    gimana tidak...tiga kali rencana, tiga kali gagal pulak...
    pasrahhhhh..makanya ini postingan tak tunggu, mau ngeblas kapan2 :-)

    ReplyDelete
  8. kalo mau kesana, pastiin pas cuaca disana lagi cerah mbak... swear, pemandangannya bener2 keren...
    *sengaja... biar makin mupeng... :)))

    ReplyDelete
  9. padahal sekarang dah masuk musim ujan yahhh :-(

    ReplyDelete
  10. kalo mau sekitar bulan Juli-September mbak...

    ReplyDelete
  11. kesuwen mbakkkkk...maunya sebelum akhir tahun sudah kesana

    ReplyDelete
  12. coba aja hubungi yang tinggal di Dieng mbak, minta dikabarin kalo pas cuaca cerah, jadi mbak Niez bisa langsung berangkat... :)

    ReplyDelete
  13. iya lebih deket khan dari jakarta daripada dari batam hahahha

    ReplyDelete
  14. dan tentunya lebih murah, karena gak pake tiket pesawat.... :(

    ReplyDelete
  15. musim hujan tanjakannya pada licin hihihi

    ReplyDelete
  16. huh..bahagia di atas penderitaan orang lain
    bener2 deh Dieng til Dying banget :-(

    ReplyDelete
  17. menunggu postingan selanjutnya..., tracking jalannya susah ga..? Ga terlalu nanjak/malah nanjak betul?

    ReplyDelete
  18. dapat air terjun ga?
    Harus lewat sirangkel. :D

    ReplyDelete
  19. mbak Di...sekalian tanya dong, penginapannya family friendly gak ?
    maksutnya kalau bawa anak2 kira-kira banyak asap rokok gak ?

    ReplyDelete
  20. gak disaranin nyewa ojek ya ? biasanya kalau saya baca2 catper dieng, banyak yg sewa ojek untuk nganterin ke berbagai tempat wisata :)

    ReplyDelete
  21. namanya juga pegunungan, banyak bgt yang nanjak jalanannya mas hihihi... kalo bawa mobil, gak disarankan kesitu pas musim hujan yah, banyak tanjakan lebih dari 45 derajat yang licin, dan pas di tikungan nanjaknya, kalau kurang kontrol kemudi bisa mundur lagi... begitu juga jalan2 masuk area wisatanya, misalnya ke sumur jalatunda, parkir mobil saat masuk mungkin mudah, baliknya ke jalan raya cukup merepotkan kalau pas hujan turun, ngosongin isi mobil dulu biar gak mundur lagi mobilnya karna licin jalanan

    *sampe ngilu inget pengalaman2 yang lalu hihihi*

    ReplyDelete
  22. sekarang banyak penginapan disitu kog shant, mau yang family friendly sih ada juga yang kamar kelas 3, sedia air panas juga... kalo penginapan bu jono aku kurang saranin ya buat anak2 kecil, selain kamarnya sempit yang 40 ribuan, kasurnya juga tipis, bertingkat gitu, kalo yang sakit pernapasan bisa agak merasa pengap, maap hehe

    ada sih yang kamar lebih mahal, lebih luas, gatau ya sekarang udah dibenerin apa belum tapi tiap kali aku nginep di kamar itu dindingnya masi lembab ajah ada yang bocor keknya

    sori bu jono hehe

    ReplyDelete
  23. kalo bawa mobil sendiri ya lebih enak shant... ada tiket terusan juga untuk beberapa obyek wisata, hemat ongkos ojek juga, karna letaknya jauh2an gitu... kalo aku sih gak saranin naik ojek, karna cape, makan waktu, ongkos jadi lebih besar juga... mending sewa mobil sekalian kalo sekeluarga sih... obyek wisatanya lebih dari 12 shant!

    ReplyDelete
  24. Beneran ada yg ngajak perang, awas aja ntar kalo kesana gw pamerr....

    ReplyDelete
  25. emaaap mb dee...
    eike nyamber aajaaaaaaa...

    *kabur*

    ReplyDelete
  26. ah lupa...
    jangan harap mereka gak merokok shant hihihi...
    namanya udara dingin pasti banyak alasan untuk itu dweh... makanya pilih penginapan yang rapi aja xixixixix

    ReplyDelete
  27. *mrengut*

    *sms temen yg kmaren ngajak ke dieng*

    ReplyDelete
  28. wah...kangen pengen jalan2 kesna lagi.kangen mau naik gunung lg...

    ReplyDelete
  29. thanks infonya... wahhh, ngga bisa buat wisata keluarga dunk nih saya ke sana (bawa anak keucil)...
    ada tempat wisata alam yg rekomended lainnya..?

    iseng2 browsing, ada review ttg bu jono yg ngga enak euy...
    http://www.tripadvisor.com/ShowUserReviews-g1137819-d2033608-r98882968-Bu_Djono_s-Dieng_Central_Java_Java.html
    :hmmm:

    ReplyDelete
  30. kalo bawa mobil sendiri sih rekomen mas hehe...
    udah banyak hotel yang bagus kog disana... buat anak2 juga asyik bisa main di pelataran candi, bisa nonton teater, makan jagung di kawah sikidang, cari obyek yang gampang terjangkau aja gak usah semuanya hehe

    tempat wisata yang dicari daerah mana?
    mungkin bisa aku bantu?

    seputar jateng itu banyak lho tempat wisatanya...
    kalo di sepanjang jalur selatan aja dari arah jogja ke bandung, ada goa jatijajar, waduk sempor di Gombong, benteng Van Der Wijk di Gombong (ini keren banget, cocok bgt buat pengalaman, pengetahuan dan wisata anak2), pantai Ayah di Kebumen, Karang Sambung, wisata purba di Kebumen, dll masi banyakkkkk bangettttt

    ReplyDelete
  31. hehehe seperti yang aku bilang...

    As we were getting ready to go to bed later that night, I noticed that there was a slight leak from the ceiling and drops of water were falling on to the edge of the bed. We moved the bed a few inches and that solved that problem.

    penginapan bu jono cocoknya hanya buat backpacker atau petualang yang gak terlalu peduli kenyamanan, tapi buat keluarga terutama anak2, aku kurang rekomen yaaaa... sebelahnya bu jono ada hotel yang lumayan kog, tarif perkamar 150 - 200 ribu per malam, tapi bangunannya udah modern dan ada air panasnya

    ReplyDelete
  32. hahaha disangka pacaran.. wuih.. ku malah ketahuan kalu lagi jalanjalan pasti disangka suami istri..

    wedew samasama molor ternyata.. cape lah maklum..

    ReplyDelete
  33. Wih, ketemu mas Dwi juga... minta anter dia aja keliling Dieng... jago dianya!

    ReplyDelete
  34. Waaaahhhh.... Ceritanya dipotong... Padahal udah asyik nongkrong di jurnal ini.

    Tapi, beneran deh! Tiba-tiba pengin ke sini. Huwaaaa... Saya masih mentok Trawas sama Batu.

    ReplyDelete
  35. subhanalloh gunungnya cantik sekali..

    ReplyDelete
  36. iya, maksudnya sewa ojek itu buat yg orang dewasa bekpekeran gitu
    kalau keluarga ya rugi sewa ojek jadi banyak dong motornya ....hihihi
    m Alan belum berani tuh nyupir sendiri ke Dieng, makanya harus nunggu supir langganan longgar jadwalnya :-D

    ReplyDelete
  37. nah...itu dia Ri...aku tahunya cuma hotel Kresna apa ya yg di Wonosobo
    pengennya nginepnya di Dieng, biar deket kalau mau jalan2
    belum nemu catper keluarga yg nginepnya di Dieng, makanya tanya2 ...hihi

    ReplyDelete
  38. ada rekomendasi penginapan selain yg bu Jono ini ? tengkyu review-nya ya Ri ....
    sepertinya letak penginapan bu Jono ini sangat strategis ya, banyak catper bekpekeran ke Dieng yg pada nginep di sini :)

    ReplyDelete
  39. hotel sebelahnya bu jono lumayan kog shant...
    ada juga penginapan bagus yang dikelola pemda disitu, tapi aku belum pernah masuk ke dalamnya...

    penginapan bu jono letaknya persisssss di pertigaan deket ojek2, pintu masuk dieng plateu kalau dari arah wonosobo, jadi bener2 strategis shant hehe

    ReplyDelete
  40. hehehehe... udah rame... :
    maap maap baru bisa onlen.... ;)

    ReplyDelete
  41. eh bagus tuh dijadiin judul cerita kalo mbak Niez pulang dari Dieng nanti... :)

    ReplyDelete
  42. udah dijawab ama mbak Ari kan mas... :)

    ReplyDelete
  43. enggak pak... kemaren cuma ke candi, museum, kawah, telaga ama sikunir aja...

    ReplyDelete
  44. kemaren waktu awalnya, waktu saya ngobrol2 ama mas Dwi.. saya pengen nyewa ojek, tapi mas Dwi malah nyaranin saya untuk jalan kaki aja.. katanya biar lebih puas explore Dieng. Toh jarak dari satu tempat wisata ke tempat wisata lain juga gak jauh...
    Katanya kalo naik ojek, tergantung ojeknya juga sih... kadang ada yang betah nemenin kita berlama-lama menikmati satu tempat, kadang ada yang pengen buru2 ngajak pindah tempat aja...
    Dengan alasan itu juga, akhirnya saya milih untuk jalan kaki aja... lebih bebas, lebih santai... :)

    ReplyDelete
  45. makasih udah dibantuin jawab mbak Ari... :)

    ReplyDelete
  46. kemaren kami nginep di kamar yg 50 ribu itu kasurnya spring bed tebel kok mbak...

    makanya kemaren kami milih kamar yang paling depan, soalnya diantara kamar2 lain, cuma kamar itu aja yang sepertinya mendapat sinar matahari cukup... kalo kamar yang 80 ribuan itu, yang pake kamar mandi di dalem, kami agak kurang sreg... mungkin karena tempatnya di belakang ya, jadi gak ada sinar matahari yg masuk... ya terkesan lembab gitu deh... (mungkin kamar itu ya yg dimaksud ama mbak Ari... )

    ReplyDelete
  47. iya bener... banyak banget... kemaren aja gak sampe ngunjungin semua... masalah dana... hehehehe...

    ReplyDelete
  48. nunggu cerita2 dari mbak Niez kalo pulang dari sana ahh... :)

    ReplyDelete
  49. hehehe.. gpp mbak Ari... saya malah makasih banget dibantuin jawab... :)

    ReplyDelete
  50. eh brati kemaren saya emang beruntung banget yaaa... waktu nginep disana gak ada tamu yang ngerokok looh... :)

    ReplyDelete
  51. kalo di Jawa mah enak mas... banyak pilihan kalo mau naik gunung :)

    ReplyDelete
  52. seeprti yang udah dijawab ama mbak Ari juga mas..., sepertinya kalo penginapan Bu Jono emang lebih pas untuk bekpekeran..
    Tapi dari apa yang ditulis di review itu alhamdulillah saya gak ngalamin hal kayak gitu...malah kalo saya bilang, kemaren itu pelayanannya memuaskan bgt...
    contohnya aja, waktu baru dateng kami langsung disediain teh panas, trus besoknya juga waktu kami mau ke Sikunir, teh panas udah tersedia di meja dan itu semua free...
    Waktu pesen makan untuk sarapan juga gitu, kami pesen nasi goreng ama kentang goreng trus kami naik ke atas buat packing. Kami packing gak sampe 20 menit lah, pas turun makanan udah siap di atas meja... (padahal ini rencana baru mau saya tulis di catper berikutnya... hehehe)

    Itu masalah pelayanan, belum lagi masalah informasi seperti yang udah saya tulis di cerita saya... mas Dwi malah nyaranin kami untuk jalan kaki aja explore Diengnya. Dan beliau ngasih keterangan dan infonya jelas banget kok...

    Ini sama sekali gak ada unsur saya belain penginapan Bu Jono loh ya, toh say ajuga bukan siapa2nya mereka.. Ini yang saya tulis cuma berdasarkan pengalaman yang saya rasain kemaren aja... :)

    ReplyDelete
  53. huhuhu... Jawa Tengah itu emang gudangnya tempat wisata... banyak banget kalo mau di list... :)

    ReplyDelete
  54. yang mbak Ari maksud ini mungkin Homestay Dieng pass yaaaa.. sepertinya penginapan yang ini emang masih baru, keliatan dari bentuk bangunannya... hehehehe...

    ReplyDelete
  55. makanya kalo kami kemana-mana pasti bawa copy surat nikah mbak... takut tar tiba2 digrebek, disangka pasangan mesum.. hehehehe....

    ReplyDelete
  56. iya mas, ketemu mas Dwi.... kami dianter mas Dwi waktu ke Sikunir aja, sisanya kami jalan sendiri.. tapi infonya dari mas Dwi juga... hehehe...
    iya, kemaren digambarin peta ama mas Dwi jelas banget... sampe2 waktu kami mau balik ke Wonosobo, digambarin lagi peta untuk ke mi ongklok Longkrang :)

    ReplyDelete
  57. hehehe... sabar ya Tah.... kalo diterusin kepanjangan, tar yang baca juga eneg... :)))
    ayo kapan kita jalan kemana...? ehmmm.... tapi tunggu sampe aku lahiran dulu ya... :)

    ReplyDelete
  58. asli lebih enak jalan kaki aja mbak.... :)
    tapi kalo untuk wisata yang agak jauh seperti gunung Sikunir, sumur jalatunda, kawah sileri dan tempat wisata yang disekitar situ sangat tidak dianjurkan utk jalan kaki.... bisa gempor mbak... :)

    ReplyDelete
  59. sampe-sampe sopir mikro bis pada tau ya mbak, kalo kita bilang mau turun di simpang Bu Jono... saking udah melekatnya nama Bu Jono dengan simpang itu... :)

    ReplyDelete
  60. aih aku menang di air terjun aja ya..

    ReplyDelete
  61. mb Diiii.....tengkyu ya infonya, ayo terusin ceritanya ....bikin penasaran :)

    ReplyDelete
  62. menang di air terjun, jalatunda, menjer, somay, juga pindah tidur dan makan popmi di puncak sikunir... :))

    ReplyDelete
  63. hehehe... ini lg ditulis mbak, abis banyak bgt yang pengen diceritain... :)

    ReplyDelete
  64. ayo!!! saya pengin belajar survive di alam pegunungan :))
    selamat menanti kelahiran bayi pertama :)
    Semoga sehat selalu.

    ReplyDelete
  65. Rinjaniiiiii...... :))
    kalo kehabisan dana bisa numpang makan di rumahnya Fatah... :)))

    ReplyDelete