[Dieng] 5. Berburu Sunrise di Sikunir

Sunday, October 30, 2011


Day 3 – 20 September 2011

Berburu Sunrise di Sikunir


Jam 4 subuh alarm di HP saya sudah berbunyi. Masih malas rasanya beranjak dari tempat tidur. Kalau saja tak ingat bahwa 30 menit lagi kami sudah harus meninggalkan penginapan untuk berburu sunrise di gunung Sikunir, ingin rasanya saya melanjutkan tidur.

Kemarin sore, sepulang dari jalan-jalan keliling Dieng, kami ngobrol-ngobrol dengan mas Dwi merencanakan perjalanan berburu sunrise ke Sikunir hari ini. Mas Dwi bersedia mengantar kami. Semula rencananya mas Dwi akan mengantar kami naik sepeda motor ke Sikunir. Dengan 2 sepeda motor tentunya. Ongkos ojek plus guidenya disepakati Rp 70.000/orang.

Mas Dwi juga nawarin, kalau kami mau sekalian explore tempat-tempat wisata yang ada di sekitar telaga Cebong dan gunung Sikunir. Biayanya Rp 120.000/orang dengan 5 tujuan wisata, yaitu gunung Sikunir, kawah Sileri, sumur Jalatunda, pemandian air panas Pulosari dan telaga Merdada. Tawaran yang cukup menggiurkan sebenarnya, kalau saja uang di dompet kami masih cukup. Terpaksa dengan berat hati kami cuma memilih untuk menikmati sunrise di gunung Sikunir aja. Semoga masih ada kesempatan di lain waktu untuk bisa mengunjungi semua tempat-tempat menarik yang ada di Dieng.

Malam harinya, seorang bule dari Australia bernama Daniel check in di penginapan Bu Jono dan tertarik untuk ikut berburu sunrise bersama kami. Jadilah mas Dwi mencarikan mobil untuk kami bertiga, dan biayanya tetap Rp 70.000/orang.

Air wudhu yang masih saja seperti air es cukup membantu untuk mengusir kantuk yang masih tersisa. Kami bergegas turun setelah selesai menunaikan sholat subuh berjamaah di musholla yang ada di belakang kamar kami. Teh hangat sudah tersaji di atas meja. Sambil menunggu mobil, kami menikmati teh hangat sambil berbincang ringan dengan Daniel, teman sebelah kamar yang hari itu akan menjadi teman seperjalanan kami berburu sunrise di Sikunir. Daniel saat itu sedang menikmati very long long holiday nya. Perjalananya dimulai dari Australia, lanjut ke Sumbawa, Lombok, Bali, Sulawesi lalu terbang ke Jakarta karena dia harus memperpanjang visanya. Dari Jakarta perjalanannya dilanjutkan ke Jogja kemudian ke Dieng. Dari Dieng rencananya Daniel akan melanjutkan perjalanannya ke Sumatra. Hohoho…, cuman bisa ngiri dotcom deh…

Ketika jam menunjukkan pukul 4.40 am, mobil yang kami tunggu akhirnya datang juga. Dan lengkaplah rombongan kecil kami yang hanya berjumlah 5 orang ini berangkat menuju gunung Sikunir. Perjalanan dari penginapan ke Sikunir memakan waktu sekitar 30 menit. Di beberapa titik laju mobil agak tersendat, karena jalanan yang rusak. Sampai di Sikunir, teman mas Dwi tidak ikut naik ke puncak dan memilih untuk menunggu di mobil. Jadilah hanya kami berempat (saya, mas Anang, mas Dwi dan Daniel) yang melanjutkan perjalanan menuju puncak.

Satu langkah, dua langkah, lima langkah, sepuluh langkah, dua puluh langkah, masih baik-baik saja. Belum sampai langkah ke seratus nafas sudah mulai ngos-ngosan. Gunung Sikunir bukanlah sebuah gunung dengan medan yang ekstrem. Jalur menuju puncaknya cukup bervariasi, mulai dari jalur dengan batu-batu yang sudah tertata, kemudian jalan setapak yang pastinya cukup licin bila dilewati pada musim hujan. Hanya ada satu atau dua tanjakan yang cukup terjal ketika sudah mendekati puncaknya.

Sebenarnya selain dari puncak Sikunir, ada lagi tempat yang lebih rendah untuk melihat sunrise. Istilahnya puncak bayangan.  Tentu saja kami memilih untuk menyaksikan sunrise dari puncak tertinggi di Sikunir. Demi sebuah negeri di atas awan yang udah saya bayangin jauh-jauh hari sebelumnya, saya rela deh menggos-menggos. Hehehe…

Factor U (umur) dan factor B (berat) emang gak bisa boong ya. Mungkin, kalau saya melewati jalur ini 15 tahun yang lalu, seperti saat pertama kali saya bergabung dengan kelompok pecinta alam di SMA saya, saya akan melewati jalur ini dengan berlari. Tentu saja, 15 tahun yang lalu berat badan saya juga belum seperti sekarang. Dan sekarang, ketika factor U dan factor B sudah berubah, jangankan berlari, bisa berjalan tanpa berhenti setiap 5 menit sekali aja itu udah bagus banget. hehehe…

Amazing Golden and Silver Sunrise

Akhirnya…  perlahan tapi pasti, berhasil juga saya menjejakkan kaki di puncak gunung Sikunir yang memiliki ketinggian 2500 mdpl. Tepat ketika sang mentari pagi menampakkan dirinya.

Subhanallah… inilah negeri di atas awan yang selama beberapa hari kemarin selalu bermain di benak saya. Hari ini saya menginjakkan kaki di atasnya. Dan melihat lautan awan seperti itu membuat saya membayangkan sebuah kasur empuk, bagaimana ya rasanya tidur di atas awan?


Saya benar-benar berada di atas awan. Beruntung banget cuaca hari itu sedang cerah. Sehingga gunung Sindoro terlihat jelas berdiri dengan angkuhnya. Nun jauh disana, gunung Merapi dan Merbabu pun menampakkan dirinya. Sementara di sisi lainnya, penampakan telaga cebong dan perkampungan penduduk juga tak kalah indahnya.


Takjub. Perasaan seperti ini yang selalu saya rindukan, perasaan yang membuat saya selalu ingin kembali mencumbui puncak-puncak gunung. Tidak membuang kesempatan, kami langsung mengabadikan keindahan itu dari berbagai sudut. Dibidik dari sisi manapun, pemandangan dari atas sana tetap mempesona. Puas deh bernarsis-narsis ria di atas awan.



Pagi itu puncak Sikunir bukan hanya jadi milik rombongan kecil kami. Ada 2 rombongan lain yang juga berburu sunrise seperti kami. Dua-duanya rombongan turis asing. Yang satu rombongan turis dari Thailand, yang satu lagi gak tau dari mana, gak sempat kenalan ama rombongan yang satu ini.

Beberapa menit kemudian, matahari yang sebelumnya menyerupai bola emas, tiba-tiba berubah menyerupai bola berwarna silver. Woooww… rupanya inilah yang disebut-sebut sebagai silver sunrise itu. Amazing… Akhirnya kami bisa melihat golden sunrise dan silver sunrise secara bersamaan dari puncak Sikunir ini. Benar-benar sebuah lukisan alam yang indah karya sang Maha Sempurna.


Sekitar pukul 7 pagi ketika matahari sudah semakin tinggi kami pun bergegas turun. Total ada 296 foto dalam memori kamera saya yang merekam keindahan dari puncak Sikunir. Itu belum seberapa, karena kenangan yang tersimpan dalam memori otak saya Insya Allah jauh lebih banyak.

Turun dari puncak Sikunir, kami disambut oleh suatu pesona keindahan yang lain lagi. Ternyata lokasi parkir mobil kami tadi subuh itu berada tepat di pinggir telaga cebong ini. Tadi subuh gak keliatan apa-apa saking gelapnya. Sekarang baru deh keliatan, kalau ternyata pemandangan di telaga cebong ini juga tak kalah cantiknya. Kata mas Dwi, kalau bertepatan dengan hari libur, ada perahu yang bisa disewa untuk mengelilingi telaga cebong. Dan hari itu, karena bukan merupakan hari libur, sekali lagi kami tidak beruntung. Jadi kami harus cukup puas untuk menikmati keindahan telaga cebong dari tepinya saja. Waktunya kembali ke penginapan. Kami berdua akan melanjutkan perjalanan ke Jogja hari ini juga.

Telaga Cebong
Sampai di penginapan kami memesan kentang goreng dan nasi goreng telur untuk sarapan. Sementara itu kami berdua langsung packing. 15 menit kemudian kami turun, ternyata sarapan pagi pesanan kami sudah terhidang di atas meja. Aroma kopi susu sudah memanggil-manggil untuk segera disruput.

Dalam perjalanan pulang dari Sikunir tadi, kami sempat membahas tentang tanaman kentang di Dieng. Kentang memang merupakan salah satu tanaman primadona di Dieng. Sehingga seperti yang kami lihat sendiri, saat ini hampir seluruh lahan di Dieng ditanami kentang. Menurut keterangan dari mas Dwi, pesaing utama kentang dari Dieng saat ini adalah kentang dari Jawa Barat dan Medan. Tapi kentang dari Dieng tetap memiliki kelebihan, yaitu rasanya yang lebih tasty. Dan pagi ini saya membuktikannya sendiri. Kentang goreng yang saya nikmati pagi itu memang terasa lebih enak, walau dimakan begitu saja tanpa tambahan apapun.

Setelah menyelesaikan sarapan, saatnya kami menyelesaikan urusan pembayaran. Mulanya saya mengira kami akan dikenai tambahan charge untuk kamar, karena kemarin waktu kami check in masih jam 7.30 pagi. Setau saya biasanya jam check in dipenginapan dimulai jam 12 siang. Tapi rupanya jam check in itu tidak berlaku di penginapan Bu Jono. Sehingga saya hanya harus membayar biaya menginap selama 1 hari, yaitu Rp 50.000. Dan dua gelas teh manis hangat yang kami dapat selama dua hari itu ternyata juga free.

Untuk bekal kami ke Wonosobo, mas Dwi juga sudah menyiapkan coret-coret yang menunjukkan lokasi mie ongklok Longkrang sampai ke travel agent tujuan Jogja yang sudah kami pesan kemarin. Sebelum kami pamitan, mas Dwi meminta kami membubuhkan tanda tangan dalam buku koleksi tanda tangan miliknya.

Bye Dieng....

Waktunya pamit. Mas Dwi ikut mengantar kami sampai ke depan penginapan, bahkan membantu menyetopkan mikro bis yang akan membawa kami ke Wonosobo. Makasih banget ya mas Dwi, atas keramahan dan bantuannya selama kami di Dieng..


Satu setengah jam kemudian mikro bis yang kami naiki berhenti di depan sebuah rumah makan bertuliskan mie ongklok. Kamipun bergegas turun. Kami memang berpesan kepada keneknya untuk diturunkan di depan warung mie ongklok Longkrang. Tapi rupanya sang kenek hanya mendengar kata mie ongkloknya saja. Karena setelah kami amati, rumah makan tempat kami berdiri saat itu tidak seperti warung mie ongklok yang digambarkan mas Dwi tadi. Sudah terlanjur. Kebetulan saat itu ada dokar kosong yang melintas di depan kami. Langsung saja kami minta diantar ke warung mie ongklok Longkrang. Tidak terlalu jauh sebenarnya dari tempat kami berdiri tadi, sekitar 2 kilometer lah. Kalo naik dokar sih cuma 5 menit.

Akhirnya sampai juga kami di warung mie ongklok Longkrang. Langsung pesen 2 porsi mie ongklok, seporsi sate sapi dan dua gelas teh anget. Sebenernya udah sejak kemaren pengen makan mie ongklok ini, waktu jalan keliling Dieng kemaren juga smepat nyari-nyari tapi gak tau kenapa semua warung mie ongklok yang ada pada tutup. Dan atas saran dari pak Parno juga mas Dwi, kalo mau cari mie ongklok yang enak di Wonosobo aja. Dan keduanya menyarankan kami mencoba mie ongklok Longkrang yang beralamat di jalan Pasukan Ronggolawe ini.

Mie ongklok memang merupakan makanan khas Wonosobo. Terbuat dari campuran mie rebus, kubis, daun kucai dan disiram dengan kuah kental berwarna kecoklatan. Pendamping setia mie ongklok adalah sate sapi dan tempe mendoan, yang oleh masyarakat Wonosobo disebut tempe kemul. Soalnya penampilan tempenya seperti dikemuli (diselimuti) oleh tepung. Jadi mereka menyebutnya tempe kemul. Seporsi mie ongklok hangat memang pas banget dimakan di tengah dinginnya udara Wonosobo. Rp 22.000 yang harus kami keluarkan untuk dua porsi mie ongklok, seporsi sate sapi dan dua gelas teh anget. Cukup murah…


Waktunya melanjutkan perjalanan kembali. Tujuan kami adalah Rahayu travel yang ada di jalan Ahmad Yani. Kami memilih untuk berjalan kaki saja. Sebuah pesan dari seorang sahabat yang dulu pernah bersama-sama melewati jalan ini, mampir di halaman facebook saya “Kalian emang adventure team banget… Jadi keinget memori Surabaya-Wonosobo.” Kami hanya senyum-senyum membaca pesan itu. Tapi memang benar, perjalanan melewati alun-alun Wonosobo ini mengingatkan saya pada kejadian 11 tahun yang lalu. Waktu itu kami, dan 3 orang teman lainnya pernah sama-sama nggembel dari Surabaya ke Wonosobo, pulangnya disempatin dulu main ke Jogja, numpang nginep di rumah salah seorang teman. Ahhh… sudah 11 tahun ternyata…

Dan kali ini, bukan suatu kebetulan kalau kami berdua memilih untuk mampir dulu di Jogja sebelum kami pulang ke Surabaya. Karena kami memang ingin mengenang lagi perjalanan itu. Sebuah perjalanan yang membuat kami semakin dekat, karena kami berlima mempunyai kesamaan waktu itu, sama-sama kehabisan uang.

Setelah melewati hotel Kresna, alun-alun Wonosobo dan taman plaza, sampailah kami di jalan Ahmad Yani. Langsung menuju ke Rahayu travel. Kemarin sore kami sudah membooking lewat telepon, jadi sekarang tinggal membayar saja. Rp 40.000/orang untuk travel dari Wonosobo ke Jogja. Kami memilih naik travel karena setelah kami bandingkan ongkos naik angkutan umum yang ngoper-ngoper dari Wonosobo ke Jogja, selisihnya tidak terlalu jauh dibandingkan dengan naik travel. Selisihnya hanya sekitar Rp 10.000. Jadi tak ada salahnya kalau kami sedikit memanjakan diri dengan duduk nyaman di dalam travel.

Tepat jam 12 siang mobil yang kami naiki bergerak meninggalkan Wonosobo. Bye Wonosobo… Terimakasih untuk keramahanmu. Keramahan yang masih sama seperti dulu, ketika kau menyambut kami, 11 tahun yang lalu.

Rincian Pengeluaran Hari Ketiga :
  •     Penginapan Bu Jono = Rp 50.000
  •     Transport + guide to Sikunir = Rp 140.000
  •     Sarapan pagi di Bu Jono = Rp 33.000
  •     Mikro bis to Wonosobo = Rp 16.000
  •     Dokar = Rp 5.000
  •     Mie ongklok Longkrang = Rp 22.000
  •     Travel to Jogja = Rp 80.000

Total = Rp 346.000
* semua rincian biaya adalah untuk 2 orang

Sekedar tips buat yang pengen jalan-jalan ke Dieng :

  • Bawa uang tunai secukupnya, karena di Dieng tidak ada ATM.
  • Jangan lupa bawa jaket.
  • Gak usah kuatir gak dapet penginapan selama di Dieng, karena sampai saat ini total ada 67 penginapan yang tersebar di Dieng plateu.
  • Kalau mau ngirit, untuk keliling kawasan Dieng 1 bisa dengan jalan kaki, trus ke kawasan Dieng 2 nya baru sewa ojek.

Thanks to :
  • Allah SWT yang masih memberi nikmat sehat kepada kami berdua, sehingga kami masih bisa menikmati keindahan negeri ini.
  • Anang Setiawan, teman seperjalanan terbaik yang pernah saya punya..  I Love you..
  • Mas Dwi, atas keramahan dan bantuannya selama kami di Dieng.
  • Pak Parno, makasih carica gratis dan kisah tentang rambut gimbalnya.
  • Pak Miskam, yang udah nemenin kami keliling museum Kailasa.
  • Daniel, yang jadi teman seperjalanan kami menuju Sikunir.
  • Dan semua yang kami temui, yang telah berbagi senyum dan sapa selama kami di Dieng.

Hotel & Restaurant Bu Jono
Jl. Raya Dieng km.27 Dieng Wetan, Kejajar, Wonosobo.
No telp : 085310791967 (mas Dwi)

Mie Ongklok Longkrang
Jl. Pasukan Ronggolawe no 14. Wonosobo

Travel Rahayu Persada
Jl. Jend. A.Yani no 95. Wonosobo
No telp : (0286) 321217

Tamat

You Might Also Like

2 komentar

  1. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai pariwisata dengan sejumlah wisata yang menarik. Sangat bermanfaat untuk dapat mengetahui tempat wisata yang menarik dan penuh dengan suasana baru.Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai pariwisata yang bisa anda kunjungi di www.pariwisata.gunadarma.ac.id

    ReplyDelete