[Bintan] 3. Penyengat... Sebuah Mahar Pernikahan

Wednesday, September 07, 2011


Hari ketiga - 27 Juni 2011

Hari terakhir di pulau Bintan. Sebelum pulang kami mau nyebrang dulu ke pulau Penyengat. Mas Anang kan belum pernah ke pulau Penyengat, jadi biar gak penasaran lagi ama pulau kecil ini, kami sempatin untuk mampir...

Menikmati Pagi Terakhir
Selepas sholat shubuh seperti biasa kami berjalan-jalan menikmati udara pagi. Rutenya gak jauh-jauh, cuman lewat masjid raya Tanjungpinang trus muter kearah pelabuhan. Niatnya pengen cari sarapan, tapi kok gak nemu sesuatu yang menggugah selera ya? Jadinya abis jalan-jalan langsung balik lagi ke hotel. 


Abis mandi rencana mau langsung jalan menuju Penyengat. Tapi lah kok malah kebablasan tidur sampe jam setengah 9. Terbangun gara-gara ngerasa laper. Coba kalo gak laper, pasti udah bablas sampe siang aja tuh... Langsung deh, buru-buru keluar. Gak perlu mandi lagi, soalnya tadi kan udah mandi sebelum akhirnya ketiduran... 

Dari hotel cuma perlu jalan kaki sekitar 10 menit ke dermaga penyeberangan pulau Penyengat. Sampe di pelabuhan, bayar tiket pompong Rp 5.000/orang. Tapi kami gak bisa langsung nyebrang saat itu juga. Karena pompong baru akan jalan kalau penumpangnya udah 12 orang. Jadi mau gak mau kami harus nunggu juga.

Pompong adalah perahu motor kecil yang terbuat dari kayu dan menggunakan mesin tempel. Alat transportasi seperti ini lazim digunakan di daerah kepulauan, sebagai alat transportasi sehari-hari.


Cukup lama juga kami menunggu kedatangan calon penumpang lainnya. Mungkin karena ini hari Senin dan tidak bertepatan dengan hari libur, jadinya jarang orang yang menyeberang ke Penyengat. Kami terpaksa sabar menunggu, karena pompong ini adalah satu-satunya transportasi untuk menuju pulau Penyengat. Gak mungkin kan kami berenang kesana...?!

Setelah 30 menit menunggu, akhirnya lengkap juga 12 orang teman seperjalanan kami yang sama-sama akan menuju pulau Penyengat. Perjalanan ke pulau Penyengat cuma 10 menit, jadi lebih lama nunggunya ya daripada perjalanannya 

Dari kejauhan, sudah terlihat bangunan masjidnya yang berwarna kuning. Itulah masjid raya Sultan Riau, atau yang lebih dikenal dengan nama masjid Penyengat. Dilihat dari laut begini, bangunan masjid itu tampak megah, keempat menaranya terlihat anggun menjulang. Menyambut hangat para pengunjung yang datang.

Sebuah Mahar Pernikahan

"Saya terima nikahnya Engku Putri Raja Hamidah binti Raja Haji Fisabilillah, dengan mas kawin sebuah pulau beserta isinya dibayar tunai..."

Kira-kira begitu kali ya, ijab qabul yang diucapkan Sultan Mahmud sewaktu menikahi Engku Putri Raja Hamidah pada abad ke-18 yang lalu.

Ya, pulau kecil yang menjadi salah satu tujuan wisata religi dan sejarah di Kepulauan Riau ini adalah sebuah mas kawin dari Sultan Mahmud kepada Engku Putri. Mas kawinnya sebuah pulau nek... 



Sampai di pulau Penyengat, tujuan kami langsung nyari warung makan. Harapannya bisa nemu makanan khas yang biasa jadi menu sarapan disini. Tapi kok gak nemu ya? Karena udah terlanjur lapar, akhirnya pilihan jatuh pada sepiring gado-gado. Yang bikin beda, gado-gado di pulau Penyengat gak pake lontong, tapi pake mi. Penampilannya jadi mirip ama spaghetti. hehehe....

 

Abis makan kami langsung menuju masjid Sultan Riau. Inilah masjid Penyengat yang terkenal itu. Yang penampakannya gak cuma mempesona waktu diliat dari laut aja. Diliat dari deket masjid inipun tetap tampak mempesona kok. Apalagi warna kuningnya yang khas itu. 




Masjid ini menjadi salah satu bangunan yang istimewa di pulau Penyengat. Keistimewaan itu terlatak pada bahan yang digunakan untuk membangun masjid tersebut. Masjid ini dibangun dengan menggunakan campuran putih telur untuk memperkuat dinding kubah, menara dan bagian lainnya.

Masid ini berukuran 54,4 x 32,2 meter. Bangunan induknya berukuran 29,3 x 19,5 meter, disangga oleh empat tiang. Di halaman masjid terdapat dua buah rumah sotoh, yang biasa digunakan sebagai tempat singgah bagi para musafir dan berfungsi juga sebagai tempat musyawarah. 




Sayangnya kita gak diijinkan untuk memotret bagian dalam masjid, padahal banyak yang menarik di dalam masjid ini. Salah satunya adalah sebuah mushaf Al Qur'an yang ditulis tangan oleh Abdurrahman Istambul, seorang putra Riau yang dikirim belajar ke Turki pada tahun 1867. Mushaf Al Qur'an ini diletakkan dalam sebuah kotak kaca.

Keliling Pulau Penyengat

Setelah puas melihat-lihat bagian dalam masjid Penyengat, kini saatnya kita keliling Penyengat. Untuk mengelilingi pulau seluas 240 hektar ini hanya diperlukan waktu kurang lebih 1 jam aja. Gak perlu takut gempor dan nyasar kalo mau keliling disini, karena udah ada bemor alias becak motor yang bisa nganter kita keliling pulau Penyengat. Tarifnya Rp 25.000/bemor. Dan 1 bemor muat untuk 2 orang. 


Bemor di pulau Penyengat ini sudah mempunyai rute khusus yang menjangkau semua situs bersejarah di pulau ini. Jadi gak perlu bingung-bingung lagi buat nentuin tempat mana dulu yang harus dikunjungi. Supir bemornya juga merangkap guide, jadi sambil keliling naik bemor, kita bisa tanya-tanya tentang bangunan-bangunan bersejarah yang kita kunjungi. Mulai dari kompleks makam raja-raja, bangunan kantor, balai adat, gedung mesiu sampai ke bukit kursi. 

 
Yang unik di pulau Penyengat ini, hampir semua bangunan bersejarahnya berwarna kuning. Mulai dari masjidnya, komplek makam raja-rajanya sampai istana kantornya juga berwarna kuning. Hanya balai adat melayu saja yang tampak full colour. Di dalam balai adat ini kami sempat iseng berpose di atas pelaminan yang full colour itu. hehehehe...




Terakhir, kami menyempatkan untuk naik ke puncak bukit kursi. Jangan ngebayangin sebuah bukit yang tinggi tinggi sekali ya, bukit kursi ini tingginya hanya sekitar 150 meter diatas permukaan laut. Tapi inilah titik tertinggi di pulau Penyengat. Pemandangan dari puncak bukit ini indah banget. Bukit kursi ini, pada masa penjajahan dulu merupakan benteng bagi pejuang Indonesia untuk mempertahankan diri dari serangan penjajah Belanda.



Di puncak bukit kursi masih terdapat sejumlah meriam dan parit yang digunakan sebagai jalur untuk menyuplai bubuk mesiu bagi meriam-meriam tersebut. Tepat di bawah bukit kursi ada sebuah bangunan yang dinamakan gedung mesiu. Di tempat inilah bubuk mesiu untuk keperluan perang disimpan.


Disini kami berkenalan dengan Pak Bobi, penjaga bukit kursi. Pak Bobi bercerita, belakangan ini bukit kursi sering dijadikan tempat nongkrong para pemuda pulau untuk minum minuman keras dan membuat kerusakan disana. Huuhhh... Lagi-lagi cerita tentang para pemuda yang tidak bisa menghargai benda-benda peninggalan sejarah.

Waktunya Pulang...

Hampir dua jam kami berkeliling pulau Penyengat, sudah waktunya untuk balik ke Batam. Tapi sebelumnya kami harus balik ke hotel dulu untuk mengangkut ransel-ransel kami sekalian check out.

Sebelum pulang kami beli otak-otak dulu buat oleh-oleh temen kantor. Otak-otak ini salah satu makanan khas Tanjungpinang. Otak-otak Tanjungpinang berbeda dengan otak-otak bandeng di Jawa Timur, walaupun keduanya sama-sama berbahan dasar ikan. 


Otak-otak Tanjungpinang terbuat dari daging ikan atau sotong yang digiling halus dan dicampur dengan bumbu-bumbu kemudian dibungkus daun kelapa setelah itu dibakar di atas bara api. Rasanya enak banget, perpaduan rasa gurih dan sedikit pedas. Paling enak dimakan hangat-hangat sewaktu baru selesai dibakar. Murah meriah, harganya cuman lima ratus perak. Kami beli sekotak, isi 50 otak-otak.

Segini aja deh cerita jalan-jalan di Pulau Bintannya.

Rincian pengeluaran hari ketiga :
  • Pompong Tg.Pinang - Penyengat = Rp 10.000
  • Sarapan di pulau Penyengat = Rp 28.000
  • Bemor keliling Penyengat = Rp 25.000
  • Camilan = Rp 10.000
  • Pompong Penyengat - Tg.Pinang = Rp 10.000
  • Otak-otak = Rp 25.000
  • Tax pelabuhan = Rp 10.000
  • Parkir motor di Punggur = Rp 10.000

Total = Rp 128.000
* Semua rincian biaya adalah untuk 2 orang

Thanks to :
  • Allah SWT yang masih memberi nikmat sehat buat kami berdua, sehingga kami berdua masih bisa menikmati keindahan negeri ini.
  • Anang Setiawan, makasih udah jadi teman seperjalanan terbaik yang pernah aku punya.
  • Mas Hendrik, resepsionis Hotel Surya yang udah bantuin nyari motor sewaan.
  • Rini, yang udah meluangkan waktu buat ketemuan sambil ngobrol di Bata Merah.
  • Pak Ali, sopir bemor di Penyengat yang udah nganter kami keliling-keliling.
  • Dan buat semua yang kami temui selama 3 hari 2 malam kemaren.

Tamat

You Might Also Like

21 komentar

  1. rasanya enak mbak... cuma penampilannya jadi gak kaya gado-gado ya.. :)

    ReplyDelete
  2. catatan perjalananya detail n runtut banget, lengkap dengan biayanya, makin mantap neh. ga rugi kemarin aku vote kamu ;-)
    btw itu fotonya ngedit pake apa Dee?

    ReplyDelete
  3. Ihwan : masa kalah ama km yg tetep narsis :-)
    Itu ngeditnya ada yg pake picasa, ada yg pake photoscape

    ReplyDelete
  4. ini kan demi penggalangan kekuatan buat ajang MPID Award 2012 hohohoho

    ReplyDelete
  5. Makanya.. Ini jg sekalian nyolong start kampanye kok.. Hahahahahaha...

    ReplyDelete
  6. ku makan tuh gadogado sampe lupa sama alergi kacang.. emang beda.. berasa makan spageti saus kacang.. abis itu biduran..

    asik ya jalanjalan berasa bulan madu, apalagi ke pulau yang jadi mahar itu.. eh ada loh temenku dikasih pulau buat mahar.. *lirik someone, online ga dia?

    ReplyDelete
  7. Ihwan : hehehe...
    Mb Tintin : oh mbak Tin alergi kacang ya? Eh siapa yg dpt mahar sebuah pulau mbak? MPers jg kah?

    ReplyDelete
  8. otak2nya seperti otak2 yang pernah kubeli di Pekanbaru. Persis kayak gini. Cocolannya saus merah, bukan saus kacang.

    ReplyDelete
  9. nyebelinnn nyebelin..gambarnya keren2..
    ah subhanalloh pokona mah.. hehe

    ReplyDelete
  10. Mb Evia : kalo otak2 yg ini makannya gak pake saus mbak, digadoin gt aja.. Aku pernah makan otak2 di rmh makan Palembang, bentuknya mirip otak2 ini, tp rasanya beda. Dicocolnya pake saus kacang. Kira2 yg di Pekanbaru rasanya gmana ya?

    ReplyDelete
  11. Teh Ayu : tumben.. Biasanya komen makanannya teh :-D

    ReplyDelete
  12. hihi sebenernya yg dipelotonin mie nya heuheuehu..

    ReplyDelete
  13. iya..kayak spaghetti
    harganya berapa?

    ReplyDelete
  14. Jelas aja maharnya pulau, org yg disunting anaknya yg pny barelang xixixi

    *smp hr ini babeh blm ambil mbl k uban lho mbk, keknya mblnya kerasan dsn

    ReplyDelete
  15. Mb Zen : 2 porsi gado2, 2 es teh, 3 krupuk = 28rb

    Mb Wiek : mobilnya pgn jd warga Bintan kali mbak :-)

    ReplyDelete
  16. Ternyata tahun 2011 Becak motornya berbeda dengan yang aku lihat baru-baru ini. Sama-sama menggunakan papan kayu, hanya saja sekarang lebih tertutup.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Becak motornya sekarang motornya bagus-bagus :D

      Delete
    2. Becak motornya sekarang motornya bagus-bagus :D

      Delete