[Bintan] 2. Akhirnya... Keliling Bintan Naik Motor

Sunday, September 04, 2011


Sambungan dari [Bintan] 1. Rencana yang Buyar Gara2 FTZ

Hari kedua - 26 Juni 2011

Menikmati Pagi di Tanjungpinang

Matahari masih belum menampakkan dirinya ketika kami melangkah keluar dari penginapan pagi itu. Kami masih ingin menikmati sejenak udara sejuk pagi itu dengan berjalan-jalan di sekitar pelabuhan. Sudah tidak nampak meja-meja dan kursi yang semalam memadati ruas jalan di tepi laut tersebut.

Kami berhenti di monumen perjuangan Raja Haji Fisabilillah, yang berdiri tak jauh dari pelabuhan. Sayang sekali, bangunan yang sejatinya didirikan untuk mengenang perjuangan seorang pahlawan dari tanah Melayu itu diajdikan sebagai media penyaluran bakat yang keliru oleh mereka yang tidak bertanggung jawab. Tembok dan lantai monumen itu penuh berisi coretan. Belum lagi sampah bekas makanan yang dibiarkan semakin menumpuk di sekitar monumen. Benar-benar merusak pemandangan. 

 
Kami melanjutkan perjalanan mengitari Taman Bestari, sebuah taman kota yang letaknya tak jauh dari monumen perjuangan Raja Haji Fisabilillah dan Melayu Square. Pohon-pohon yang rimbun di sekitar taman menambah kesan sejuk pada pagi hari itu. Beberapa orang tampak memanfaatkan area taman untuk berolahraga.

Kami memilih duduk-duduk di pinggir pantai, sekedar menikmati udara sejuk pagi itu diantara orang-orang yang berolahraga. Di depan kami berdiri monumen Gurindam Dua Belas. Sebuah monumen yang berisi gurindam atau syair gubahan Raja Ali Haji. Seorang budayawan di gerbang abad ke-20. Beliau dinobatkan sebagai Bapak Bahasa Melayu Indonesia. Gurindam Dua Belas ini adalah hasil karya beliau yang terkenal, yang akhirnya menjadikan Tanjungpinang dikenal sebagai kota Gurindam.

Sudah lewat jam 6 pagi. Sudah waktunya untuk bergerak melanjutkan perjalanan menyusuri sisi timur dan utara pulau Bintan untuk menikmati keindahan pantainya.

Jangan dikira kami berdua sudah hafal jalan disini. Ini juga baru pertama kalinya kami menyusuri jalan-jalan di Tanjungpinang dengan sepeda motor. Banyaknya persimpangan tanpa penunjuk arah di kota ini cukup membingungkan juga. Jadi, beberapa kali kami berhenti untuk bertanya pada orang yang kebetulan lewat, sekedar untuk memastikan bahwa kami tidak salah jalan.

Di daerah batu 14*, sebuah wihara yang mengingatkanku pada bangunan-bangunan kuil Shaolin tampak menarik perhatian. Bangunannya yang tampak megah selalu menarik perhatianku setiap melewatinya. Tapi karna sebelumnya aku cuma bisa melihat dari dalam angkot, jadi baru kali ini aku punya kesempatan untuk mampir sebentar dan melihat-lihat kuil ini dari dekat.
* di Tanjungpinang menggunakan istilah batu untuk menyatakan kilometer.
Jadi 1 batu = 1 km.


Vihara Avalokitesvara Graha nama kuil megah tersebut. Setelah melewati singa penjaga yang diam saja sewaktu kami lewat, mata kami langsung disambut oleh hamparan kebun yang ditanami sayuran. Karena masih sepi kami terus saja masuk melihat-lihat bangunan kuil. Bangunan kuilnya masih tertutup rapat, tapi ada celah sedikit di pintu gerbangnya yang memungkinkan kami untuk melongkok sedikit keadaan di sekitar. Dan tampaklah patung-patung penjaga yang berjejer rapi di sepanjang jalan menuju bangunan utama kuil. 




Karena gak ada seorangpun yang bisa ditanyai tentang bangunan kuil tersebut, kami memutuskan untuk pergi melanjutkan perjalanan ke arah pantai Trikora. Dari hasil googling aku baru tau, kalau di dalam bangunan utama kuil tersebut ada sebuah patung Dewi Kwan Im dalam posisi duduk yang tingginya mencapai 16,8 meter. Pantes aja kalo dijadiin patung Dewi Kwan Im terbesar di Asia Tenggara. Patung yang dibalut warna emas itu didatangkan langsung dari China.

Di tengah perjalanan kami mampir di sebuah warung nasi. Sepiring nasi uduk dengan lauk ayam bumbu menjadi pilihan kami. Segelas teh hangat menjadi pelengkap yang sempurna menu sarapan kami pagi itu.

Pantai Trikora yang Eksotis

Setelah dua jam perjalanan, tampaklah pohon-pohon kelapa yang melambai menyambut kami di pantai Trikora. Normalnya perjalanan dari Tanjungpinang ke pantai Trikora hanya satu setengah jam, tapi karena kami berenti-berenti setiap ngeliat sesuatu yang bagus, jadilah kami memerlukan waktu dua jam untuk sampai disini. Inilah enaknya jalan-jalan naik sepeda motor sendiri. Kami bisa berhenti dimanapun kami mau. Setiap ada tempat cantik, kami sempatkan berhenti sejenak untuk sekedar mengabadikan pesonanya sekalian untuk memuaskan hasrat narsis yang terpendam. Halah.... 




Melewati penginapan-penginapan yang sudah terkenal seperti Bintan Agro (km 36) dan Yasin Bungalow (km 38). Juga pondok-pondok backpacker seperti Shady shack (km 41) dan Pondok Susy (KM 42).

Sekedar saran, kalau kamu mau berlibur sambil menikmati keindahan pantai di Bintan, lebih baik menginap di daerah Trikora. Harganya lebih masuk akal dibanding dengan menginap di kawasan Lagoi. Favoritku sampai saat ini sih Yasin Bungalow. Tapi setelah menyusuri pantai Trikora sampai ke ujung dan aku menemukan kenyataan bahwa, semakin ke utara pemandangannya semakin cantik, sepertinya lain waktu aku akan mencoba menginap di tempat lain...

Di salah satu tempat yang pemandangannya bagus kami berhenti lagi. Dengan iseng, aku memotret cincin kami berdua diatas pasir. Baru nyadar, ternyata jamnya sama seperti waktu pertama kali cincin itu terpasang di jari manis kami, tepat setahun yang lalu. Happy 1st Anniversary for us... 


Pantai Trikora empat. Demikian orang-orang sini menyebutnya. Pantai Trikora yang membentang sepanjang 25 km di sebelah timur pulau Bintan itu memang dibedakan menjadi Trikora 1, Trikora 2 dan seterusnya sampai Trikora 4. Tapi sepanjang jalan aku tidak menemukan penanda apapun yang menjelaskan, bahwa ini sudah masuk kawasan Trikora berapa? Sepertinya hanya Tuhan dan penduduk setempat yang tau batasanya. Halah... 

Balik lagi ke pantai Trikora 4, disini ombaknya cukup besar. Pantai ini jadi terlihat sedikit berbeda dengan pantai Trikora lainnya yang terkesan tenang. Suasananya juga lebih ramai. Pondok peranginan di tepi pantai semua terisi penuh. Sebagian besar pengunjungnya adalah murid sekolah. Mungkin mereka sedang memanfaatkan hari terakhir liburan sekolahnya. 




Puas menikmati suasana disitu, kami melanjutkan perjalanan lagi. Semakin ke utara menuju Berakit. Sampai di persimpangan menuju Tanjung Uban, kami belok ke arah barat. Tujuan kami selanjutnya adalah kawasan wisata Lagoi.

Perjalanan melewati jalur ini yang terasa paling menyiksa bagi kami. Bukan karna kondisi jalan yang rusak, bukan karna pemandangan yang jelek. Sebaliknya malah, jalan yang kami lalui mulus beraspal, hamparan kebun sawit membentang sejauh mata memandang. Tapi sungguh, pemandangan yang monoton ini justru membuat kami berdua seperti kesirep. Ngantuk banget... Susah payah rasanya memaksa agar mata ini tetap melek. Sepanjang jalan, gak satu kendaraanpun yang berpapasan dengan kami. Bener-bener serasa in the middle of nowhere jadinya. 

Pengen rasanya berenti sebentar di pinggir jalan untuk sekedar memejamkan mata. Tapi kami malah takut kebablasan, bisa-bisa malah gak nyampe ke Lagoi. Lagipula kami berdua juga gak tau, masih seberapa jauh lagi perjalanan itu. Jadi perjalanan tetap dilanjutkan. Kami memaksa untuk terus ngobrol sepanjang jalan, biar salah satu gak ada yang kebablasan merem...

Sebenarnya perjalanan melewati hamparan sawit itu gak terlalu jauh, hanya sekitar 30 menit aja. Tapi karena pemandangan yang monoton tanpa selingan pemandangan lain, membuat perjalanan itu terasa sangat panjang. Dan begitu ketemu perkampungan penduduk, kami serempak menghembuskan napas lega. Walaupun dari sini perjalanan masih cukup jauh, tapi setidaknya pemandangan di sekitar sudah berubah.

Kawasan Wisata Lagoi yang Eksklusif

Setelah satu jam perjalanan, akhirnya sampai juga kami di gerbang masuk kawasan wisata Lagoi. Disini kami hanya dikasih karcis parkir. Ongkos parkir sepeda motor Rp 1.000. Dari gerbang masuk ini, kami masih harus menempuh perjalanan selama sekitar 30 menit lagi. Jalanan sudah mulus beraspal. Dengan pemandangan hutan di kiri kanan. Gak perlu khawatir salah jalan walaupun disini banyak persimpangan, karena penunjuk arahnya jelas. 




Tujuan kami adalah Nirwana Garden. Menurut info seorang teman yang pernah tinggal di Bintan, hanya Nirwana Gardenlah yang bisa dinikmati oleh pengunjung umum. Sudah lama aku penasaran ama tempat wisata yang satu ini, yang disebut-sebut sebagai kawasan wisata eksklusif. Gimana gak eksklusif kalo untuk menginap di kawasan ini kita harus mengeluarkan duit jutaan rupiah. Belum lagi seluruh transaksi yang menggunakan mata uang dollar, baik dollar Singapur maupun dollar US. Kawasan ini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas mewah. Seperti lapangan golf yang diakui sebagai yang terbaik di Asia Tenggara. Semua itu ada di Indonesia, tapi sayang hanya wisatawan asinglah yang bisa menikmati itu semua.... Kalaupun ada pendududk lokal yang bisa menikmatinya, bisa dipastikan mereka itu dari golongan pejabat maupun pengusaha.

Setelah 30 menit, akhirnya sampai juga kami di pos security Nirwana Garden. Disini KTPku di tahan dan ditukar dengan selembar visitor card. Dari sini masih perlu waktu sekitar 10 menit lagi untuk mencapai pantai. 


Kami memilih melihat-lihat koleksi binatang yang ada di mini zoo dulu. Lumayan juga koleksinya. Mulai dari kakatua jambul kuning, burung nuri, burung elang, kasuari, buaya muara sampai ular jenis phyton reticulatus dan king cobra




Memasuki kawasan pantainya, ternyata kawasan yang disediakan untuk pengunjung lokal cuma sebagian kecil aja. Sedangkan sisanya untuk mereka, para tamu yang menginap disana. Ternyata pantainya memang indah, tampak bersih dan terawat. Walaupun pasirnya tidak seputih yang aku bayangkan. Tapi sayang banget, toilet umumnya justru malah jorok banget. Air menggenang sampai keluar, beberapa toilet malah ada ranjaunya. Hiii... Sayang banget kan, kawasan wisata elit kok toilet umumnya kayak gini. Padahal, untuk masuk toilet ini aja ditarik bayaran Rp 3.000 loh. Sayang gak sempat kepoto, soalnya waktu aku masuk toilet, HP ama kamera dibawa mas Anang yang nunggu diluar, mau masuk lagi bawa kamera ogah ngeluarin duit Rp 3.000 lagi...

Balik lagi ke pantai, disini jadi keliatan banget perbedaan antara wisatawan lokal dan wisatawan asing. Kalau wisatawan asing datang ke pantai biasanya sendiri atau paling tidak berdua pasangan. Di pantai mereka memilih berjemur sambil membaca buku atau tiduran di kursi malas. Sedangkan kalau wisatwan lokal yang datang ke pantai, biasanya datang berombongan, milih duduk di bawah pohon, langsung buka bekal. Piknik deeeh... 


Mas Anang malah langsung tidur begitu selesai menggelar ponco. Lumayan juga bisa tidur setengah jam. Sementara aku yang gak bisa tidur lebih memilih untuk main air sambil jepret sana-sini.


Waktu lagi main-main dipantainya kami nemu sesuatu, aku bilang sesuatu karna kami memang gak tau benda itu sebenernya bekas tumbuhan atau binatang laut. Warnanya putih dengan corak bunga berkelopak lima yang seolah diukir diatasnya. Mulanya aku mengira itu adalah hiasan kalung yang tercecer. Tapi ternyata, banyak banget benda seperti itu bertebaran di pantai. Unik. Langsung deh kami kumpulin beberapa untuk dibawa pulang. 


Hari sudah sore ketika kami berdua beranjak meninggalkan pantai Lagoi. Perjalanan kami untuk kembali ke Tanjungpinang masih jauh. Pulangnya kami gak lewat Trikora lagi, kami memilih jalur lain lewat Cikolek dan Toapaya. Sampai di Tanjungpinang, masih sempat untuk menikmati senja di cafe outdoor sekitar pelabuhan Sri Bintan Pura. Dan berakhirlah perjalanan keliling Bintan hari itu. Finally... jadi juga kami keliling Bintan naik sepeda motor, walaupun motor sewaan...


Rincian pengeluaran hari kedua :
  • Bensin (2x ngisi) = Rp 13.000
  • Sarapan nasi uduk = Rp 26.000
  • Camilan di Trikora = Rp 12.000
  • Masuk Lagoi = Rp 1.000
  • Toilet di Lagoi = Rp 3.000
  • Makan siang = Rp 27.000
  • Hotel (nambah semalem lagi) = Rp 65.000
  • Capucino+ camilan = Rp 17.000
  • Makan malam = Rp 14.000

Total = Rp 178.000

* semua rincian biaya adalah untuk 2 orang


Bersambung ke [Bintan] 3. Penyengat... Sebuah Mahar Pernikahan

You Might Also Like

15 komentar

  1. Lumayan murah ya sewa sepeda motornya karena dapet motor bagus. Aku kalau mudik juga sering sewa sepeda motor meskipun bukan resmi. Banyak temen2ku yang bersedia meminjamkan motor untukku buat disewa. Tapi kadang was2 kalau motornya terlalu bagus, takut dimalingin. Mendingan motor yang rombeng sekalian kayak motornya Ahmad Yunus.

    ReplyDelete
  2. Mb Evia : biasanya kalo nyewa motor di kota yg emg tujuan wisata lbh murah lg mbak. Spt di Jogja ato Lombok. Cuma 50rb rupiah/24 jam udh dpt motor yg bagus..
    Motor rombeng asal sehat mbak, klo motor rombeng tp bentar2 mbengkel ya bikin gondok jg :-D

    ReplyDelete
  3. itu bintang laut yang bulat loh.. jadi karang..

    ReplyDelete
  4. Mb Niez : kan ini emg edisi another honeymoon mbak.. Halah..

    ReplyDelete
  5. mbak deeeeee,,,,
    nice trip story ;-)

    gambarnya bikin mupeeeenggggg

    ReplyDelete
  6. Mb Tintin : oh, jd itu bintang laut bulat ya mbak? Trus si bintang lautnya nempel diatas bulatan putih itu ya? Keren bgt.. Bentuknya jd spt diukir ya mbak...

    ReplyDelete
  7. Raya : mudik story nya Raya jg seru bgt.. :-)

    ReplyDelete
  8. wuih...lengkap dengan itenerary-nya ;-)

    ReplyDelete
  9. Mas Dedy : skalian nyolong start buat kampanye thn dpn mas.. Halah..

    ReplyDelete
  10. Kok aku ga keliatan jurnalnya. Cm rincian biaya tok...*dr hp

    Sabtu kmrn km brgkat. Dr rmh jam 7 mayan bs nyebrang sak mobilnya jam 9. Udah capek minggunya sy plg dr tj pinang sm anak2, bpknya sendiri ke uban. Dapet no antre 95 utk nyebrang balik hari ini. Alhasil, mobil ditinggal, babeh plg naek speed. Smp skrg blm dijemput lg xixixi

    ReplyDelete
  11. Mb Wik : kmrn jadinya nginep dmana mbak?

    ReplyDelete
  12. Pernah ke tj.pinang, bkan bwt jalan2, dinas. Jd gak bsa keliling. Inget bwa oleh2 otak2, yang dibakar subuh2 trus dianterin ma penjualx krn pake pesawat pagi,hehe. Air di sana rasanya agak2 beda, apa karena tanahnya bnnyk m'andung tmbng kali ya?

    ReplyDelete
  13. Pia : kalo buat orang yang pertama kali minum air di Pinang ama di Batam, memang agak sedikit aneh rasa airnya... tapi karena aku udah biasa (udah 6 tahun di Batam...) jadinya ya udah terbiasa... :)

    ReplyDelete