[Bintan] 1. Rencana yang Buyar Gara2 FTZ

Thursday, August 25, 2011


Ini adalah catatan perjalanan waktu ke Bintan beberapa bulan yang lalu. Karena beberapa kesibukan, akhirnya baru sempat ditulis sekarang...

Hari pertama - 25 Juni 2011

Siang itu sepulang dari kantor, kami bergegas menuju pelabuhan telaga punggur untuk mengejar kapal roro yang akan berangkat pukul 15.00 nanti. Rencananya kami ingin membawa sepeda motor ke pulau Bintan, jadi kami langsung menuju pelabuhan ASDP.

Sampai di pelabuhan punggur, rupanya ada perubahan jadwal penyeberangan. Kalau semula dalam sehari hanya ada dua kali penyeberangan dari Batam ke Bintan, sekarang jadwalnya ditambah jadi tiga kali sehari. Yaitu pukul 10.00, pukul 14.00 dan pukul 17.00. Kami terlambat mengejar kapal yang pukul 14.00. Sehingga mau tidak mau kami harus menunggu kapal terakhir yang akan berangkat pukul 17.00 nanti.

Ketika kami akan membeli tiket, petugasnya meminta kami untuk mengurus surat jalan terlebih dahulu. Surat jalan tersebut bisa di peroleh di kantor polisi yang ada di pelabuhan itu juga. Kantor polisinya kosong.  Mungkin nanti baru akan buka menjelang kapal berangkat, begitu pikir kami. Masih ada waktu dua jam. Kami segera keluar dari pelabuhan dan mencari warung nasi. Cacing-cacing di dalam perut kami sudah mulai berontak, karena kami terlambat memberinya makan.

Di sekitar pelabuhan punggur banyak terdapat warung nasi. Pilihan kami jatuh pada sebuah warung nasi Padang. Aku memilih dendeng paru dan teri balado sebagai lauk, sedangkan mas Anang memilih udang balado dan teri balado. Makanannya enak. Rp 34.000 untuk dua piring nasi dan dua gelas teh obeng. Pengeluaran pertama kami untuk hari itu.

Kelar urusan perut, kami kembali lagi ke pelabuhan punggur. Semakin banyak calon penumpang yang berdatangan. Kami perhatikan, para calon penumpang yang mengendarai sepeda motor itu bisa langsung membeli tiket tanpa harus menunjukkan surat jalan dari kepolisian.

Beberapa saat sebelum mendekati jadwal keberangkatan kapal, aku melihat seorang petugas polisi yang berdiri tak jauh dari bangku-bangku ruang tunggu pelabuhan. Aku hampiri beliau dan bertanya tentang surat jalan. Beliau menyarankan aku untuk langsung membeli tiket, sementara suamiku bisa mengikuti beliau ke kantornya untuk mengurus surat jalan.

Tiket untuk dua orang plus sepeda motor seharga Rp 57.200 itu sudah berpindah ke tanganku. Aku segera menyusul suamiku ke pos polisi. Tapi rupanya, petugas polisi tersebut tak bisa mengeluarkan surat jalan untuk kami saat itu, karena sepeda motor kami ternyata termasuk yang mendapat fasilitas FTZ (free trade zone) Jadi sepeda motor kami itu hanya bisa dipakai di wilayah Batam saja. Bisa dibawa keluar dari Batam, asalkan kami sudah melunasi pajak FTZ yang harganya sekitar 10% dari harga sepeda motor kami.

Kami cuma melongo mendengar penjelasan dari petugas polisi tersebut. Selama ini kami gak pernah tau, kalau ternyata sepeda motor kami termasuk salah satu yang mendapat fasilitas FTZ itu. Sempat bingung juga, gimana nih, tiket sudah terlanjur kami beli, sedangkan sepeda motor kami tidak diijinkan keluar dari Batam. Atas saran dari petugas polisi tersebut, akhirnya kami mengembalikan tiket yang tidak sempat kami pakai itu. Uang kamipun kembali 100%.

Karena sudah terlanjur niat jalan, maka kami berdua memutuskan untuk menuju pelabuhan ferry yang terdapat di sebelah pelabuhan ASDP ini. Kami tetap akan ke Bintan walaupun tanpa sepeda motor. Huaaaa... gagal deh keliling-keliling Bintan naik motor... 

Setelah memarkir sepeda motor, kami langsung menuju konter penjualan tiket. Dapet tiket PP Baruna seharga Rp 78.000/orang. Tak perlu menunggu lama, 15 menit kemudian kapal ferry yang kami naiki itu bergerak meninggalkan pelabuhan punggur.

Di tengah-tengah perjalanan, hujan turun dengan derasnya. Langsung ambil position di dalem ferry dan zzzzz.... langsung terbang ke alam mimpi gak peduli lagi ama tetangga kanan kiri. Bangun-bangun ferry udah merapat di pelabuhan Sri Bintan Pura, Tanjungpinang. Dan ternyata hujan sudah berhenti, hanya menyisakan sedikit mendung di ufuk barat. Gak bisa menikmati sunset deh....  

Karena tidak merasa perlu untuk buru-buru, maka kami menikmati perjalanan sore itu dengan langkah santai. Pasang muka tembok untuk keluar masuk penginapan yang banyak berjejer di sekitar situ cuman buat nanya harga kamar termurah. hehehe...

Di jalan Bintan kami berbelok, di jalan ini juga ada beberapa penginapan. Di depan hotel Surya, kami hanya berhenti. Dari luar penampilannya kok terkesan suram ya...?! Langsung nyamperin penginapan di sebelahnya, hotel Laguna. Penampilan hotel ini tampak paling mencolok di jalan Bintan. Apalagi open air cafe nya yang ada di lantai teratas bangunan hotel ini udah keliatan dari jauh. Tapi sayang, karena harga kamar termurah di hotel ini adalah Rp 250.000 semalam, jadi kami langsung menyingkir.

Persis disebelah hotel Laguna, ada sebuah hotel lagi. Namanya hotel Surya (juga). Tapi karena hotel Surya yang ini penampilannya gak sesuram hotel Surya yang sebelumnya, jadi kami berdua melangkah masuk dan kembali meneruskan misi mencari  kamar dengan harga termurah

Mungkin in hanya masalah feeling ya, begitu masuk ke hotel Surya ini kami disambut suara gemericik air yang ternyata berasal dari air terjun buatan yang ada di tengah hotel. Suasana di dalem hotel jadi terasa adem... Dan kok ya pas banget, harga termurah di hotel itu adalah Rp 65.000 semalem. Langsung deh kami berdua sepakat mengambil kamar tersebut. 

Iseng-iseng mas Anang nanya ke receptionis hotel, dimana ada persewaan sepeda motor? Ternyata mas Hendrik, sang receptionis hotel bersedia mencarikan pinjaman sepeda motor. Katanya sih milik tukang ojek yang biasa mangkal di sekitar hotel. Mereka memang biasa menyewakan sepeda motornya seharga Rp 100.000 / 24 jam. 

Karena memang rencana kami semula pengen keliling Bintan naik sepeda motor, jadi kami langsung setuju untuk menyewa sepeda motor tukang ojek yang ditawarkan mas Hendrik. Lebih mahal memang dari harga sepeda motor yang biasa kami sewa di daerah lain. Tapi tak apalah, toh kami sudah mendapat kamar dengan harga yang cukup murah. Jadi rasanya balance lah...

Setelah sholat maghrib, mulai deh kami keliling kota Tanjungpinang. Yihaaaa... jadi juga deh, keliling Tanjungpinang naik motor, walaupun motor sewaan Gak tau mau jalan kemana, pokoke ngikutin jalan aja... hehehe.... Memasuki daerah Pamedan, kami langsung cari warung makan. Pilihan jatuh pada Rumah makan Bata Merah.

Langsung sms temen SMP ku yang lagi tugas di Tanjungpinang dan kebetulan tinggal di daerah Pamedan. Gak nunggu lama, karena ternyata tempat tinggalnya gak jauh dari tempat kita makan.

Rini namanya, temen sekelasku waktu di SMP dulu. Setelah lulus dari SMP, kami gak pernah ketemu lagi. Eh taunya malah ketemu di Tanjungpinang. Thanks to FB deh, yang akhirnya bisa menghubungkan aku ama temen-temen lama. Ada sekitar 15 tahun berarti ya kami gak ketemu. Gak ada yang berubah dari Rini, masih tetep imut seperti dulu. 


Sambil makan kami ngobrol macem-macem, mulai dari ngomongin temen-temen SMP dulu sampe ngobrolin masalah kerjaan. Si Rini ini kerja di Departemen Kehutanan, dan baru beberapa bulan ini dipindah tugaskan ke Tanjungpinang. Keenakan ngobrol, gak kerasa udah makin malem aja. Akhirnya pamitan deeh.. Sebelum pamit, disempatin poto bareng dulu biar gak dibilang hoax...

Kami berdua masih ingin menikmati suasana malam Minggu di kota Tanjungpinang. Lewat jam 10 malem jalanan di kota ini masih ramai. Melewati tepi laut Tanjungpinang, dimana masih berjajar cafe-cafe outdoor yang suasananya mengingatkan aku pada daerah tepian sungai Mahakam.

Aku tergoda untuk ikutan nongkrong disitu, sambil menikmati segelas besar capucino. Sedangkan mas Anang lebih memilih segelas bandrek. Aku iseng aja menamakan tempat ini cafe outdoor. Karena tempatnya memang di desain seperti layaknya cafe dengan suasana outdoor. Dengan bangku-bangku plastik yang disusun di pinggir jalan. Jadi bisa dipastikan kalau hujan turun, para pengunjung dan penjual langsung bubar jalan... Lokasinya mulai dari depan pelabuhan Sri Bintan Pura sampai ke seberang Melayu square, sebuah pusat kuliner di kota Tanjungpinang. 

Semakin malam suasana di cafe outdoor semakin ramai. Tepat jam 12, waktunya Cinderella pulang kerumah. hehehe... Kami memilih balik ke hotel, karena rencananya besok pagi-pagi sekali kami akan mulai perjalanan menuju pantai Trikora dan kawasan Lagoi.

Rincian pengeluaran hari pertama :
  • Lunch di punggur = Rp 34.000
  • Parkir motor di Punggur = Rp 10.000
  • Tiket ferry Batam-Tg.Pinang PP = Rp 156.000
  • Tax di pelabuhan Punggur = Rp 14.000
  • Hotel = Rp 65.000
  • Sewa motor = Rp 100.000
  • Dinner di Pamedan = Rp 44.000
  • Ngopi di cafe outdoor = Rp 19.000

Total = Rp 442.000
* semua rincian biaya adalah untuk 2 orang.
Bersambung ke 


[Bintan] 2. Akhirnya... Keliling Bintan Naik Motor dan
[Bintan] 3. Penyengat... Sebuah Mahar Pernikahan

You Might Also Like

27 komentar

  1. jiahhh.....mimpi apaan tuh?
    naik motor di laut?
    :)))

    ReplyDelete
  2. kayaknya kemarin juga nginep di sini :)
    dibeliin ama perush man power yg membawa kami ke bintan. ;gs kepikiran kl perush itu gak bonafid.
    mana gak dikasih makanan tuk buka ama saur...
    bosnya, yg ikutan satu rombongan, malah dg cueknya membayar makanan punya dia saja. padahal kita rame2 ke warunng...ckckckck

    ReplyDelete
  3. hotelnya asik juga ya murah meriah tapi keren..

    ReplyDelete
  4. hehehehe... aslinya lebih milih tidur karna masih gondok gak bisa bawa motor mas...

    ReplyDelete
  5. ketahuan bgt pelitnyaaaaa........

    ReplyDelete
  6. hehehe... pasti karena diinepin di hotel yang paling murah ya... :)))

    ReplyDelete
  7. ya paling lumayan lah mbak, dibanding hotel2 lain yg kami masuki.... harganya paling murah... hehehhee...

    ReplyDelete
  8. mupeng :I

    br tau kl ftz kyk gitu..

    ReplyDelete
  9. Mbak Liese : sy jg baru tau mbak, selama ini sy taunya yg gak boleh nyebrang itu kndaraan plat X..

    ReplyDelete
  10. liese jg gak boleh ke bintan...soalnya wajahnya ada X-nya
    :)))

    ReplyDelete
  11. dg atau tanpa motor.... tetep jalan-jalan :)

    ReplyDelete
  12. mas Suga: haha, bukan cuma kaki yang bisa X, wajah juga ternyata :D *bisa di tipe-X kan? Hueee :P

    ReplyDelete
  13. Lebaran pengen kesana skalian k penyengat. 5 th d btm blm pernah k tj pinang sedih banget kan ya. Tp kyknya kasian tyo kl dbw jln jauh, ya mbk

    ReplyDelete
  14. hayo, rame2 ke penyengat...ajak liese ama dien
    tyo titipin ama lerie aja
    \:)))

    ReplyDelete
  15. Wah ternyata hidup di Kepri ribet amat ya mbak? Ngurus segala macam surat dan pajak hanya untuk ke luar kota dalam satu propinsi, alamak!

    BTW saya senang di Bintan Resort, berasa sepiiiiii.... bersih menenangkan jiwa saya.

    ReplyDelete
  16. Saya nunggu petualangan esok harinya :D

    Ih, kok saya jadi laper lagi ya liat sotong bakar itu? :p

    ReplyDelete
  17. maksudnya pake tattoo huruf X gitu...?!

    ReplyDelete
  18. masalahnya udah terlanjur packing dan udah terlanjur apply cuti mas... :)

    ReplyDelete
  19. bukannya lebih jauh naik kapal ke Medan mbak...?! dedek Tyo udah menter tuh naik kapal, lah baru berumur seminggu aja udah diajak naik kapal laut... :)

    ReplyDelete
  20. pasti lerie kesenengen banget.... :)))

    ReplyDelete
  21. iya bunda..., selama ini saya taunya cuman kendaraan plat X aja yg gak bisa keluar Batam, ternyata ada juga kendaraan fasilitas FTZ yang gak boleh keluar Batam, sebaliknya juga gitu di Bintan. Jadi kendaraan fasilitas FTZ itu cuman bisa dipake di dalem kota aja... :((

    saya belum pernah kalo nginep di Bintan resort, kalo di tetangganya Bintan resort pernah.., di Yasin bungalow. enak disana... seras di pantai pribadi ya bunda... :)

    ReplyDelete
  22. gak mau nunggu yang versi lebih lengkap lagi.... :)
    aku gak sabar nunggu yang versi lengkap... hehehehe...

    ReplyDelete
  23. Lies, oir saman, akbp pd mudik. Tinggallah kita mas suga, leri, mb dian...gmn kl kt kesana rame2 mbk. 2 hari. Patungan penginapan. Kan mb dian dah tau lokasi...krn kl Lerie ikut sy ga kuatir pegel ada yg gantiin gendong xixixi

    ReplyDelete
  24. teh obeng itu apa? trus kategori FTZ itu yang gimana?
    Kalau pake motornya Ahmad Yunus lolos kali ya. Sepeda motor rongsok, dilirik maling aja kagak. hahahaha...

    ReplyDelete
  25. Mb Wiek : udah pulang dari Bintan mbak...?!
    Mb Evia : teh obeng itu kalo di tempat lain namanya es teh mbak... :)
    saya kurang tau pasti, apa aja yg masuk kategori FTZ itu, tapi yang jelas sepeda motor buatan tahun 2010 keatas (motor2 baru) itu sudah pasti masuk kategori FTZ. Iya bener mbak, harusnya pake motor kayak punya Ahmad Yunus aja yaaa... :)

    ReplyDelete
  26. lain kali ke ke pinang sebut nama sy di pelabuhan ya mba dian hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaha baiklah mbak Ana.. akan saya ingat baik-baik hal ini :D :D

      Delete