[Jelajah Pulau] From the Bridge to the Bridge

Wednesday, June 22, 2011


Prolog

Kalau minggu kemarin aku menjelajahi pulau-pulau di Batam dengan menggunakan pompong sama temen-temen kerja, minggu ini aku menjelajah pulau lagi naik motor ama suami tercinta. Menyusuri jembatan demi jembatan yang terkenal dengan nama jembatan Barelang. Jadi perjalanan hari ini aku kasih judul From the Bridge to the Bridge aja ya...

* * *

Jembatan demi Jembatan

Hari masih pagi ketika aku dan suamiku mulai melaju diatas roda yang akan membawa kami menyusuri pulau-pulau dari Batam sampai ke pulau Galang Baru. Cuaca hari ini cerah, bikin jadi tambah semangat untuk segera memulai perjalanan ini. Tapi ini Batam sodara, cuaca disini gak kenal musim. Paginya cerah, tiba-tiba turun hujan deras, abis tu cerah lagi... Namanya aja daerah kepulauan. Tapi asyiknya... aku jadi sering ngeliat pelangi di sini.

Di pom bensin daerah Tembesi, tanki sepeda motor kami isi penuh, cuman perlu 1 liter lagi aja. Sengaja kami mengisi penuh tanki sepeda motor, karena gak ada pom bensin di sepanjang jalur yang akan kami lewati nanti. Ada sih penjual bensin eceran, tapi jarang banget. Gak kebayang deh kalo sampe kehabisan bensin di tengah jalan...


Ada 6 jembatan yang akan kami lewati. Jembatan-jembatan yang menjadi icon kota Batam ini menghubungkan pulau Batam dengan pulau-pulau besar lainnya sampai ke pulau Galang Baru. Nama Barelang diambil dari nama pulau besar yang dilewati oleh jembatan ini, yaitu BAtam, REmpang dan gaLANG.

Masing-masing jembatan itu memiliki nama yang diambil dari nama pahlawan di wilayah Kepulauan Riau.

Nama-nama jembatan tersebut adalah :
  1. Jembatan 1 : Jembatan Teuku Fisabilillah. Menghubungkan pulau Batam dengan pulau Tonton.
  2. Jembatan 2 : Jembatan Nara Singa. Menghubungkan pulau Tonton dengan pulau Nipah.
  3. Jembatan 3 : Jembatan Ali Haji. Menghubungkan pulau Nipah dengan pulau Setoko.
  4. Jembatan 4 : Jembatan Sultan Zainal Abidin. Menghubungkan pulau Setoko dengan pulau Rempang.
  5. Jembatan 5 : Jembatan Tuanku Tambusai. Menghubungkan pulau Rempang dengan pulau Galang.
  6. Jembatan 6 : Jembatan Raja Kecil. Menghubungkan pulau Galang dengan pulau Galang Baru.

Walaupun masing-masing jembatan memiliki nama, tapi masyarakat Batam lebih senang menyebut jembatan satu, jembatan dua dan seterusnya. Lebih praktis dan gampang diingat mungkin ya..

Jembatan satu Barelang setiap Sabtu sore maupun hari libur selalu ramai dipadati pengunjung. Sekedar menghabiskan waktu sambil menikmati jagung bakar ataupun udang goreng tepung yang memang banyak dijajakan disana. Bagi wisatawan yang berkunjung ke Batam, rasanya belum afdhol kunjungannya kalau belum berfoto dengan latar jembatan Barelang. Sampai-sampai ada sebuah olok-olok seperti ini, “jangan ngaku pernah ke Batam kalau belum menginjakkan kaki di jembatan Barelang”. Hal ini cukup wajar, karena jembatan Barelang ini memang merupakan ikon kota Batam, seperti halnya jembatan Ampera di Palembang ataupun jembatan Mahakam di Samarinda.



Jembatan 1 Barelang

Sekitar 30 menit kemudian, kami sampai di jembatan satu Barelang. Karena masih pagi, suasana di sekitar jembatan juga masih sepi. Kami memilih menikmati sarapan disitu. Segelas bubur kacang ijo dan beberapa gorengan yang tadi kami beli di jalan.

Gak berlama-lama disitu, kamipun segera melanjutkan perjalanan. Perjalanan kami masih panjang, masih ada lima jembatan lagi yang harus kami lewati.

Jarak dari jembatan 1 ke jembatan 2 kemudian ke jembatan 3 tidak terlalu jauh, masing-masing hanya memerlukan waktu sekitar 5 menit untuk sampai ke jembatan berikutnya. Dari jembatan 3 ke jembatan 4 memerlukan waktu sekitar 10 menit. Mulai dari jembatan 4 inilah perjalanan akan mulai terasa panjang. Rasanya lamaaaa banget baru ketemu lagi ama jembatan selanjutnya.

Untungnya pemandangan di kanan kiri jalan gak bikin bosen. Kadang terlihat laut dengan warna birunya yang menggoda, dengan perahu-perahu nelayan yang melintas diatasnya. Kemudian pemandangan itu berganti menjadi bukit yang mulai tampak pitak di beberapa bagian. Perkebunan buah naga juga tampak mendominasi, terutama setelah memasuki pulau Setoko.

Jalan yang dilalui

Jalan yang dilalui naik turun dan berkelok-kelok, tapi tidak terlalu ekstrem. Cukup nyaman untuk dilalui karena jalannya sudah diaspal.

Di ujung jalan ini

Jam di HP ku menunjukkan pukul 10.53 WIB ketika akhirnya kami sampai di pantai Galang Mas. Pantai ini terletak di ujung pulau Galang Baru. Total sekitar 2 jam perjalanan yang kami tempuh untuk sampai di tempat ini.

Setelah membayar ongkos masuk Rp 5.000/orang ditambah Rp 2.000 untuk parkir sepeda motor kami mulai memasuki areal pantai. Pemandangan air laut yang surut menyambut kami disini. Ternyata dalam rentang waktu satu tahun, cukup banyak perubahan yang terjadi pada pantai ini. Salah satu perubahan yang langsung tampak dimataku adalah hilangnya pondok di ujung jembatan yang dulu biasa kami jadikan tempat nongkrong sambil mancing.

Pantai Galang Mas setahun yang lalu (130510)

Pantai Galang Mas sekarang (190611)

Banyaknya pepohonan membuat pantai ini cukup teduh. Disini juga ada beberapa pondok dari kayu yang memang disediakan untuk tempat bersantai. Pantai ini juga dilengkapi oleh fasilitas penunjang lainnya, seperti barbeque pit, warung, toilet dan mushola.

Suasana pantai saat itu cukup sepi, sehingga memungkinkan bagi kami untuk bernarsis-narsis ria. Bermacam gaya diabadikan, dibantu oleh sebuah tripod yang selalu setia menemani perjalanan kami.

Thanks to tripod

Dari pantai Galang Mas perjalanan kami lanjutkan kembali. Tujuan kami selanjutnya adalah bekas camp pengungsi Vietnam yang ada di pulau Galang. Di tengah perjalanan aku melihat sebuah plang bertuliskan Penyeberangan ke Dabo Singkep. Terdorong oleh rasa penasaran, aku dan suamiku memilih untuk berbelok dan menyusuri jalan tanah menuju pelabuhan tersebut.

Plang di pinggir jalan

Bangunan pelabuhan

Bangunan pelabuhan itu tampak masih baru, lengkap dengan sebuah coffee shop di bagian depan. Penyeberangan ini belum lama dioperasikan. Sebelumnya, kita harus menyeberang dulu ke Tg. Pinang baru kemudian melanjutkan penyeberangan ke Dabo. Sayangnya waktu itu pelabuhannya tutup, sehingga aku gak bisa memperoleh informasi apapun tentang penyeberangan langsung dari Batam ke Dabo.



Masih di dorong oleh rasa penasaran, aku mencoba bertanya tentang jadwal penyeberangan ke Dabo kepada seorang bapak yang aku temui di depan bangunan pelabuhan. Tapi jawaban beliau cukup membuat aku kaget "tak ada penyeberangan ke Dabo yang lewat sini. Kalau mau ke Dabo lewat Pinang". Lah trus kenapa plang itu dipasang di depan kalau memang penyeberangannya bukan lewat sini..?! Malas rasanya bertanya lebih lanjut kepada bapak yang tampaknya ngotot menyatakan kalau tidak ada penyeberangan ke Dabo lewat situ, akhirnya kami memilih untuk melanjutkan perjalanan saja ke pulau Galang.

Menelusuri Jejak Pengungsi Vietnam

Bekas camp pengungsi Vietnam ini terletak di desa Sijantung kecamatan Galang. Ongkos masuknya Rp 3.000/orang dan Rp 5.000 untuk sepeda motor. Jadi total kami harus membayar Rp 11.000.

Tujuan pertama kami adalah pagoda Quan Am Tu, salah satu pagoda yang terletak di atas bukit. Hamparan bukit yang menghijau menjadi pemandangan yang mempesona dari atas sini. Bener-bener bikin mata jadi seger. Di halaman pagoda terdapat patung Dewi Kwan Im yang besar.

Patung Dewi Kwan Im di halaman pagoda

Hujan turun rintik-rintik sewaktu kami meninggalkan pelataran parkir pagoda Quan Am Tu. Kami masih meneruskan perjalanan menelusuri jejak para pengungsi Vietnam.

Di tempat ini dulu mereka pernah tinggal. Bekas-bekas peninggalan mereka dulu masih bisa kita saksikan disini. Beberapa masih terawat dengan baik, tapi beberapa bagian sudah mulai rusak dimakan usia.

Salah satunya adalah kapal yang mereka gunakan dulu, tahun 2006 waktu aku pertama kali mengunjungi tempat ini, ada 4 kapal peninggalan mereka, tapi kemarin kapalnya tinggal 2. Yang 2 lagi udah ancur tinggal puing-puingnya aja yang masih tersisa.

Bangunan peninggalan lainnya seperti barak, rumah sakit, gereja dan kuil semua masih ada. Sedangkan barang-barang peninggalan mereka yang lain dikumpulkan di dalam museum. Kami memilih berteduh di dalam museum sambil melihat-lihat benda-benda peninggalan para pengungsi. Foto-foto, peralatan rumah tangga, hasil kerajinan yang mereka buat selama di lokasi pengungsian semua masih tersimpan rapi. Benda-benda itu menyimpan banyak cerita.


Foto2 di dalam museum

Benda-benda peninggalan

Hujan sudah reda ketika kami keluar dari museum. Jadi kami langsung meninggalkan tempat itu dan menuju pantai Mirota.

Berjemur di Pantai Mirota

Pantai Mirota ini juga terletak di desa Sijantung kecamatan Galang. Harga tiket masuknya Rp 3.000/orang.

Dari jumlah kendaraan yang terparkir di areal parkirnya sudah bisa dibayangkan seperti apa crowdednya suasana di dalam. Parkiran mobil dipenuhi oleh bis-bis berukuran besar yang membawa rombongan anak-anak SMU yang mungkin sedang menikmati liburan kenaikan kelas atau bahkan perpisahan sekolah.

Benar saja, sesampai di dalam semua lapak sudah terisi. Kalo aku bilang, lautnya udah jadi kayak dawet aja, saking banyaknya orang yang berenang disana

suasana pantai yang rame

Aroma ikan bakar langsung mengusik indra penciuman, beberapa rombongan yang datang rupanya sedang mengadakan barbeque party disana.

Kami berdua memilih berjalan agak jauh, ke tempat yang tidak terlalu ramai. Namanya juga mau mojok... hehehehe...

Begitu nemu tempat yang lumayan, lumayan jauh maksudnya... Kami segera membuka bekal makan siang yang sengaja kami bawa dari rumah. Sengaja, biar ngirit...  Menu makan kami siang itu adalah tempe kecap aroma ikan bakar... Lumayanlah, bisa ngincipin aromanya dikit...:D

Matahari siang itu bersinar sangat garang, padahal baru beberapa menit yang lalu turun hujan. Tetapi seperti yang sudah aku singgung di awal tadi, cuaca di Batam bisa berubah tiba-tiba. Bajuku yang sempat basah gara-gara kehujanan tadi langsung kering. Bener-bener berjemur kalo begini caranya. Kulitku udah makin gosong aja niih...

L O V E

Melihat hamparan laut yang begitu menggoda, mas Anang langsung menceburkan diri. Aku sih tetep memilih duduk-duduk aja menikmati keramaian yang ada. Di pantai ini ada fasilitas banana boat seharga Rp 25.000/orang. Disini juga ada pondok yang bisa dipakai untuk menginap. Harga sewanya sekitar Rp 200.000 - Rp 300.000.

Habis berenang mas Anang menemani aku duduk-duduk berjemur di pantai. Rombongan siswa SMA yang heboh berfoto di depan kami menjadi tontonan menarik, jadi inget jaman SMA dulu...

Rombongan anak SMA yang heboh banget

Puas berjemur di pantai, kami segera beranjak pulang. Hari juga sudah beranjak sore. 

Dalam perjalanan pulang, kami mampir di agrowisata buah naga di daerah Rempang Cate. Disana aku beli jus buah naga seharga Rp 5.000/gelas. Beli buahnya sebiji aja, cuman buat obat pengen aja kok... 


nampang ama si buah naga

Eh taunya pas mbayar, kami dikasih dua potong buah naga ama yang jual. Seger banget rasanya makan buah naga plus minum jus di tengah cuaca yang lagi panas-panasnya gitu... (D)


Rincian Budget :
  • Bensin 1 liter = Rp  4.500
  • Gorengan + kacang ijo = Rp  8.000
  • Tiket masuk pantai Galang Mas = Rp 12.000
  • Tiket masuk ex Camp Vietnam = Rp 11.000
  • Tiket masuk pantai Mirota = Rp   6.000
  • Beli manisan mangga di Mirota = Rp 5.000
  • Buah naga + jus = Rp 14.000
Thanks to :

  • Allah SWT atas segala nikmat dan anugerah yang tak terhingga ini
  • My beloved husband, Anang Setiawan.... I Love u full
  • Tripod, yang selalu setia menemani aksi-aksi narsis kami

You Might Also Like

11 komentar

  1. enaknya jalan berdua suami... :)
    jembatan barelangnya bagus, ambil pict nya pas view nya

    ReplyDelete
  2. Mb Eva : itu ngambil gb barelangnya pas ditengah2 jembatannya mbak.. Kliatan kayak pagar ya :-)

    ReplyDelete
  3. duh.. iri banget.. kapan ya .....
    btw kk ga tau lho klo di batam ada objek wisatanya hehe.. kirain cuma kota dan persinggahan aja gitu :)

    ReplyDelete
  4. wah, ternyata bea masuknya mahal juga ya dibandingkan di sini.. Ke pantai gratis, museum cuman 3 dirham alias 7rb rupiah.. Tapi jajannya yang bakal bikin mahal :D

    ReplyDelete
  5. Halo, it was years ago that I went to Dabo Singkep, an island south of it is name Penuba and we lived there for 9 months in 1946.

    ReplyDelete
  6. Kaklist : di Batam sebenernya bnyak tempat wisata yg belum terekspos..

    Mas Rifky : yang mahal tetep makanannya ya mas.. :-)

    Mb Rinda : pdhl kalo di Indonesia harga segini udh cukup murah ya mbak.. Jd inget tempat2 wisata di Singapore yg sebagian besar gratis...

    Aunty Eugenie : waah.. Sudah lama, saya belum pernah ke Dabo Singkep, aunty..

    ReplyDelete
  7. Iya Dee, Saya juga pernah berdua sama suami lebih dari 3 tahun yang lalu menyusuri jembatan demi jembatan Barelang. Kalau setahun lalu sama Sierra cuma sampai jembatan 4 saja, kasihan kejauhan. Lumayan kuat untuk golongan bayi hehe..tapi seru juga!

    ReplyDelete
  8. Teh Lina : iya teh, kita aja ngerasa pegel kalo kelamaan duduk di atas motor, apalagi anak kecil yaaa....

    ReplyDelete
  9. Foto-fotonya keren semua, Disana banyak sekali pemandangan yg indah-indah, Kapan ya aku bisa kesana?

    ReplyDelete
  10. Klo suatu saat aku traveling k pulau2 dsna bisa dong jdi pemandu ny nya..??
    Ampe k dabo deh..natuna..pkok ny pulau2 d sekitaran kepri lah.. 😅😅😅

    ReplyDelete